MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Mengadopsi Anak?



Sam keluar dari kamar Via, setelah meninggalkan wanita itu agar bisa beristirahat.


Sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Tapi Sam tak kunjung tertidur. Kenapa dia bisa merasa tak enak seperti ini.


Apakah firasatnya ini benar jika akan ada sesuatu yang terjadi pada orang tua Via? Oh Tuhan. Sam kan bukan cenayang. Mana dia tau jika apa yang dia pikirkan saat ini benar kejadian atau tidak.


Tapi dia sejujurnya hanya ingin Via tidak menyesali apapun nanti. Oleh karena itu, Sam bersikeras agar Via menghubungi orang tuanya.


Sekalipun Via sudah begitu membenci orang tuanya, tapi tetap saja mereka itu adalah seseorang yang telah merawat dan membesarkan Via.


Tidak seperti dirinya, yang hidup dan besar di panti asuhan, ketika tau bahwa orang tua Sam telah meninggal jujur saja dia sedih. Dia juga marah dan begitu membenci orang tuanya.


Jika mereka memang waktu itu masih hidup, kenapa membiarkan Sam tinggal di panti asuhan. Kenapa pula Sam bisa berakhir disana.


Makanya saat dia diadopsi oleh kakeknya, sejujurnya Sam tak benar-benar senang. Hanya saja Sam tak tau kepada siapa harus dia lampiaskan amarahnya.


Sam tak ingin mengingat hal itu lagi. Baginya hidup dengan atau tanpa orang tua, akan sama saja.


Tapi Sam tak ingin mempengaruhi Via akan hal itu. Hidup Via tak sama dengan Sam. Via sudah diberikan kasih sayang oleh orang tuanya sejak kecil, oleh karena itu Sam ingin Via lebih memperhatikan lagi tentang orang tuanya walaupun apa yang dilakukan mereka tidak dapat dimaafkan.


Sam menghela napas panjang, berjalan keluar menuju balkon rumah mewah ini. Tempat biasa yang selalu dia datangi jika sedang suntuk dan ingin mencari udara segar.


Ketika Sam sampai di balkon, seketika angin pagi berhembus diwajahnya. Begitu segar udara pagi. Hingga paru-parunya terasa lega. Tidak sesak seperti dia menghirup udara siang hari Kota Jakarta.


Sam duduk dikursi yang ada disana, menyilangkan kakinya dan bersedekap, meletakkan tangannya didepan dada.


Sam belum ada tidur sama sekali. Anehnya dia tidak merasakan kantuk. Mungkinkah karena dirinya terlalu khawatir jadi bisa menekan perasaan kantuknya.


Entahlah, bisa jadi memang seperti itu.


Sam mengalihkan pandangannya menatap tangannya yang dibalut perban. Pikirannya masih berputar-putar memikirkan kejadian yang menyeretnya itu.


Ah sudahlah. Memikirkannya terus hanya akan membuat Sam semakin sakit kepala.


Dia masih harus menemui gadis payung itu. Satu hal yang membuat Sam merasa teduh menatap gadis payung, adalah bola matanya yang begitu indah.


Entah kenapa Sam melihat warna kehijauan pada bola matanya. Begitu cantik, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.


Kapan Sam menemui gadis berusia kira-kira dua belas tahun dengan bola mata secantik itu. Rasa-rasanya tidak pernah kan.


Sam memandangi langit yang masih gelap gulita. Apakah gadis payung kini sudah bangun atau belum. Atau bahkan tidak tidur sama sekali.


Bantuan pasti sudah datang. Mereka tak akan mengeluh tentang kedinginan lagi.


Sejujurnya Sam ada kepikiran, sempat terlintas dalam benaknya untuk mengadopsi gadis payung dan memberikannya kehidupan yang layak.


Sam merasa bahwa gadis kecil itu begitu istimewa, hingga dia rasa Sam akan menyesal jika membiarkan gadis itu hidup seperti itu saja.


Sam ingin memberikan yang terbaik bagi hidup gadis itu. Karena dia berhak untuk mendapatkannya.


Tapi Sam saja tidak tau siapa wali dari gadis kecil itu. Bagaimana dia ingin mengadopsinya.


Sam merasa jika mengadopsi gadis itu merupakan pilihan yang tepat. Sam hanya tak ingin gadis itu menyia-nyiakan hidupnya padahal dia memiliki bakat dan kemampuan.


Ah sial. Bagaimana seharusnya dia sekarang. Keinginan kecil itu jadi memuncak dan segera ingin dilakukannya.


Harus kepada siapakah dia berbicara tentang hal itu? Lagipula bagaimana jika gadis kecil itu tidak ingin tinggal bersamanya?


Sam mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Dia ingin menghubungi asisten pribadinya. Ah walaupun dia seorang pemadam kebakaran tapi tetap saja dia ini cucu pengusaha terkenal dan tajir melintir, jadi wajar jika tetap memiliki asisten pribadi. Membantunya untuk menangani beberapa masalah jika berkaitan dengan perusahaan.


Sam menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu panggilan diseberangnya diangkat.


Memang sih Sam menghubungi seseorang diwaktu yang tidak tepat seperti ini. Tapi kalau menunggu nanti-nanti yang ada dia lupa. Jadi mumpung ingat dia lakukan saja sekarang.


"Halo?" suara serak dan berat seseorang menyapa Sam. Terdengar sedikit kekesalan juga.


"Sedang apa?" tanya Sam basa-basi.


Bryan. Asisten pribadinya saat ini yang juga rangkap jabatan di perusahaan kakeknya, pasti sedang tidur. Tak perlu Sam susah payah berbasa-basi karena memang ini masih pagi. Waktunya tetap berada dalam mimpi.


Oke. Sam dan Bryan sudah begitu dekat. Jadi mereka sama sekali tak asing dan tak keberatan untuk berbicara informal.


"Terserah kau berkata apa. Ada yang ingin kukatakan padamu"


Bryan menghela napas panjang. Sam menduga saat ini pasti Bryan dengan setengah hati bangun dari tidurnya dan memaksakan telinganya mendengarkan apa yang akan Sam ucapkan.


"Awas saja kalau ternyata itu tidak begitu penting. Kau membuang waktu berhargaku. Apa kau tau jika aku lembur kemarin sampai rasanya seluruh tubuhku remuk. Sepertinya aku perlu membuat surat pengunduran diri"


Oke. Sam mulai terlihat kesal. Harusnya Sam yang bercerita, bukan Sam yang mendengarkan cerita. Lagipula sudah tak terhitung berapa banyak Bryan katakan dia akan membuat surat pengunduran diri. Tapi tak pernah dilakukannya.


"Kalau mau melakukan jangan setengah-setengah begitu. Aku sudah lelah mendengarmu terus mengatakan jika kau akan mengundurkan diri. Buatlah suratnya, aku yang akan menandatanganinya nanti" ketus Sam.


Bryan berdehem panjang. "Kau ini. Aku hanya bergurau saja" katanya mengelak. Sepertinya dia tak benar-benar ingin melakukannya.


Sam mendengus. Benar-benar bukan sekali dua kali mendengar Bryan berbicara seperti itu.


"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?"


Sam mengambil napas. Pasti Bryan akan menertawakan dirinya yang bertanya tentang sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.


Sam berdehem singkat. "Bagaimana prosedur jika kita ingin mengadopsi anak?" tanya Sam sembari mempertahankan harga dirinya.


Satu detik dua detik tiga detik empat bahkan lima detik tak kunjung ada jawaban dari Bryan. Sebenarnya Bryan mendengarkan tidak sih.


"Coba kau ulangi lagi tadi? Mengadopsi anak? Yang benar saja" katanya sembari tertawa kencang.


Lihatlah. Sam sudah menduga akan seperti ini. Bryan akan menertawakan dirinya.


"Kau serius melakukannya? Apa yang tengah merasukimu Sam?"


Masih dengan tertawa, Bryan membuat Sam tak berkutik. Sam begitu malu dan hilang wibawanya didepan Bryan.


Bisa-bisanya Bryan dengan lepasnya tertawa seperti itu. Sungguh menyebalkan bukan.


"Aku serius, Bryan. Tolong kau cari tau tentang hal itu ya" pinta Sam menahan wajahnya yang terasa panas karena Bryan masih terdengar cekikikan.


"Pasti gadis kecil itu kan" sahut Bryan.


Sam tidak langsung mengiyakan. Memang benar jika dia telah menceritakan tentang gadis kecil yang ditemuinya itu pada Bryan. Tak ada yang ditutupinya dari Bryan.


"Aku tak mengerti mengapa kau ingin mengadopsinya. Mungkinkah kau mengalami pergolakan batin?" celoteh Bryan menyudutkan Sam.


"Jika kau masih ingin bekerja, lebih baik lakukan saja apa yang aku minta tadi. Jangan banyak bicara" sela Sam tajam.


Tapi Bryan hanya balas mencibir saja.


"Baiklah, aku akan cari tau. Sebaiknya kau tidak melakukan sesuatu dulu. Kalau tidak kau akan mendapat masalah, Sam"


Sam menghela napas panjang. Dia tau betul apa maksud Bryan.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Kau tenang saja" balas Sam malas.


"Aku hanya mengingatkan. Karena aku yang akan direcoki nantinya Sam. Jadi kumohon padamu dengan kerendahan hatiku ini. Tolong jangan bertindak yang aneh-aneh"


"Ya" balas Sam ketus.


Sam mendadak jadi malas dan kehilangan suasana hati memikirkan tentang rencananya itu.


"Baiklah jika begitu. Oh iya kau tidak lupa bukan jika hari ini kau memiliki jadwal makan malam dengan para anggota keluargamu yang lain"


Astaga. Sam benci Bryan mengingatkannya lagi tentang hal itu.


"Berbaik hatilah pada mereka, walaupun sangat menyebalkan. Mereka semakin terang-terangan melawanmu Sam"


"Aku benci kau mengingkatkanku lagi tentang itu, Bryan" ucap Sam langsung memutuskan panggilan.


Malas sekali rasanya dia ikut makan malam itu. Mau makan malam atau apapun itu, untuk apa Sam ikut. Tidak ada gunanya.