
Sam masih menepuk punggung Via untuk memberikan rasa tenang pada dirinya. Namun ketika Sam mengalihkan pandangannya menatap wanita itu, Via sudah tertidur.
Tertidur dalam pelukannya ditubuh Sam. Pasti Via sudah begitu lelah menangis hingga membuatnya ketiduran begini.
Tangan Sam yang satu lagi entah mengapa begitu usil menyelipkan sebagian rambut kebelakang telinga yang jatuh meluruh menutup wajah Via.
Wajah tidurnya tampak tenang. Mungkin karena Via sudah membagikan sedikit kisah hidupnya pada Sam, membuatnya bisa melegakan hatinya.
Sam senang Via berbagi cerita dengannya. Tapi Sam tak pernah menduga bahwa orang tua Via rela menjual anaknya sendiri.
Semua itu dilakukannya demi apa? Demi uang dan demi keegoisan masing-masing.
Apa mereka sama sekali tak menyesali tindakannya yang telah menjual Via? Bukankah itu begitu keterlaluan. Bukankah itu membuat mereka terlihat bahwa mereka sama sekali tak pernah menyayangi Via.
Sungguh kenapa Via harus menjalani kehidupan seperti itu.
Sam mengusap perlahan pipi Via yang tadi terkena tamparan itu, juga sudut bibirnya yang meninggalkan bekas luka.
Mengingat itu kembali membuat darah dalam tubuh Sam jadi berdesir hebat. Kemarahannya kembali memuncak, rasanya tak cukup hanya menghajar pria itu seperti tadi.
Astaga. Kenapa Sam jadi luruh begini. Dia tak bisa melihat Via terluka. Rasanya dia jadi ikut terluka.
Sam seketika menghentikan tangannya setelah dia tanpa sengaja menyentuh bibir Via.
Sentuhan itu membuat Sam jadi bergetar hebat.
Ah kenapa rasanya dia merindukan bagaimana sensasi saat mencium seorang wanita.
Sial. Dia jadi teringat lagi kenangan menyakitkan itu.
Batal menikah.
Sam menghela napas untuk meredam keinginannya mencium Via saat ini. Mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih dan tidak kurang.
Tidak mungkin melakukan hal seperti itu, disaat hubungan mereka bukan sepasang kekasih.
Lagipula itu hanya keinginan Sam yang gila saja. Saking dirinya merindukan bagaimana rasanya bibir manis itu.
Sam jadi terlihat seperti predator saat ini. Sial, sungguh menakutkan dirinya ini.
Sam menjauhkan tangannya dari bibir Via yang benar-benar bisa meruntuhkan imannya ini. Sepertinya keputusan salah karena membawa Via ke rumahnya.
'Sialan. Kenapa aku jadi begini' pekik Sam dalam hatinya. Mengumpati diri sendiri.
Dengan perlahan Sam mengangkat tubuh Via, membawanya kembali ke kamar agar dia bisa tidur leluasa diatas ranjang. Tak tega juga Sam membiarkan Via tidur dengan posisi duduk, yang ada leher dan pinggangnya malah sakit nanti.
Sam merebahkan dengan begitu perlahan dan hati-hati kepala Via yang terkulai lemas diatas bantal. Lalu memposisikan tubuhnya agar tidur terlentang dengan nyaman dan aman.
Menarik selimut sampai menutupi lehernya, dan duduk ditepi ranjang Via.
Sam belum ingin beranjak pergi. Entah kenapa dia masih memandangi Via dengan wajah teduhnya.
Jika diingat kembali, Sam belum menceritakan perihal dirinya yang batal menikah pada Via.
Apa Via juga tak ingin menikah dengan orang lain? Maksudnya kini dia telah bebas. Via berhak untuk menemukan cinta sejatinya. Merasa dicintai dan mencintai. Tak peduli masa lalu apa yang menimpa dirinya.
Via berhak untuk itu.
Sebagai teman Sam akan mendukung apapun agar Via merasa bahagia.
Memang tak ada perasaan apapun dihati Sam untuk Via. Tapi kenapa setelah mendengar cerita tadi. Sam tak ingin melepaskan temannya ini.
Apakah tanpa Sam sadari dia sudah jatuh hati pada Via? Sepertinya tidak mungkin.
Astaga. Kenapa Sam jadi berpikiran seperti itu. Dia baru saja patah hati, masih belum siap untuk membuka kembali hatinya agar cinta yang baru bisa masuk dan mengisi kekosongan dalam dirinya.
Sam menggelengkan kepalanya pelan. Memejamkan matanya dan menekan pikirannya agar tak memikirkan kejadian memilukan yang tengah menimpa dirinya.
"Ada apa, Sam?"
Sam memekik kaget saat suara rendah Via mengejutkan dirinya. Lalu memandang Via dengan syok.
"Kenapa kau terbangun?" tanya Sam yang heran. Tadi Via terlihat sangat nyaman dalam tidurnya. Lalu kenapa kini dia tiba-tiba terbangun.
"Aku tiba-tiba bermimpi tentang orang tuaku. Lalu entah kenapa aku tersentak bangun"
Sam mengernyitkan dahinya. "Mimpi seperti apa?"
Via mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya. "Aku juga tak mengerti apa maksudnya"
Sam mengernyit semakin dalam. Apakah mimpi itu merupakan sebuah petunjuk bahwa sesuatu akan terjadi.
"Sam, kau memikirkan apa?" tanya Via mencengkeram pundak Sam setelah dia melihat bahwa Sam diam mematung.
Sam bergumam pelan. Hal yang sama juga pernah dia rasakan. Sebelum kakeknya meninggal, dia juga bermimpi tentang kakek. Dalam mimpinya itu, kejadian begitu cepat terjadi, hingga saat Sam menyadari apa yang terjadi dalam mimpinya, dia sudah terlambat.
Mungkinkah apa yang Via alami kali ini juga akan berakhir sama dengan apa yang Sam alami?
"Sam. Kau kenapa diam saja?" tanya Via lagi mengguncang pundak Sam.
Tiba-tiba Sam menggenggam tangan Via yang berada dipundaknya.
"Cobalah hubungi orang tuamu besok. Aku hanya khawatir sesuatu terjadi pada mereka setelah kau katakan bahwa kau bermimpi tentang mereka" pinta Sam yang disertai dengan guratan kekhawatiran yang Via tak mengerti kenapa Sam begitu.
Via melepaskan tangannya yang ada digenggaman tangan Sam. "Kenapa? Aku sudah bersusah payah menjauh dari mereka. Untuk apa lagi menghubunginya, Sam? Apa kau berniat untuk membuatku kembali pada mereka?"
Sial. Via salah tanggap dengan apa yang dimaksud oleh Sam. Sam hanya berpikir jika mimpi itu sebuah petunjuk. Oleh karena itu, Sam ingin Via memastikan bahwa orang tuanya masih baik-baik saja berada disana.
"Kenapa kau jadi seperti ini? Apa kau tak memahami ceritaku tadi? Apa kau masih ingin melihatku dijual oleh orang tuaku?"
Via yang tadi sudah reda tangisnya, kini kembali menyucurkan air mata.
Dia tak menyangka bahwa Sam memintanya kembali pada orang tuanya.
"Via, dengarkan aku dulu" ujar Sam lembut mencengkeram kedua lengan Via dengan kuat, menatap matanya lurus-lurus, berusaha membuat Via mengerti dengan apa yang akan dikatakannya ini.
"Aku bukannya ingin membuatmu kembali pada mereka. Kau juga tak perlu kembali. Aku hanya ingin kau menghubungi mereka dan mencari tau bagaimana kondisi mereka. Aku punya perasaan tak enak, Via. Aku hanya takut kau akan menyesal sepertiku"
Via tak mengerti. Menyesal? Karena apa? Apa yang harus disesalkan? Kenapa Sam harus menyesali sesuatu?
Segala pikiran berkecamuk dalam kepalanya, bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang maksud perkataan Sam. Berusaha mencari tau, tapi Sam terlihat menyembunyikannya.
"Sam, ada apa? Apa yang kau sesali?" lirih Via sudah tak menangis lagi.
"Via. Aku juga bermimpi tentang kakek sebelum kakek meninggal. Dan aku sangat terlambat untuk menyadarinya. Jadi aku tak ingin kau berakhir sepertiku"
Ha? Apa ini. Via tak percaya. Mana ada orang yang mengaitkan tentang mimpi dengan kehidupan nyata.
"Sam, itu hanya mimpi. Tidak akan ada yang terjadi. Kalau apa yang kau alami itu hanya kebetulan saja. Tenanglah"
Via meletakkan tangannya dikedua pipi Sam. Sam terlihat begitu risau dan khawatir. Pandangannya tak dapat ditutupinya.
"Tidak, Via. Kumohon, aku sungguh tak ingin kau menyesal" ujar Sam dengan sendu dan putus asa.
Via menghela napas panjang. "Sam, tidak akan ada yang terjadi. Itu hanya mimpi saja. Tidak terjadi dalam dunia nyata. Hanya bunga tidur, tidak ada maknanya"
Via tak kuasa melihat mata Sam yang jadi berkaca-kaca. Apakah dia semenyesal itu karena apa yang terjadi pada kakeknya.
Sungguh konyol. Mimpi sama sekali tak ada kaitannya dengan kehidupannya yang penuh dengan hal menyebalkan ini.
"Kumohon. Tolong dengarkan aku, Via" kata Sam serak dan menundukkan wajahnya.
Via langsung memeluk Sam yang entah kenapa jadi terlihat rapuh. Seperti sebuah gelas kaca yang sudah retak dan tinggal kau ketukkan dengan pelan sudah hancur berkeping-keping.
Via mengusap punggung Sam dengan perlahan tidak sampai mengenai lukanya.
"Sam" panggil Via
"Tolong dengarkan aku, Via" pinta Sam dengan sangat.
Perasaan Sam benar-benar tak enak. Seperti sesuatu akan terjadi.
Via menghela napas panjang. "Baiklah. Besok aku akan menghubungi mereka"