
Via sedari tadi sudah menghubungi ibunya, tapi entah mengapa ponselnya masih saja tak aktif. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya. Itupun, Via juga sudah menghubungi ayahnya tapi sama, ponselnya juga tak aktif.
Karena hal itu membuat Via jadi tak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Besok dia masih harus bekerja, apalagi dia mendapatkan shift pagi. Kalau dia tidak tidur saat ini, keesokan paginya akan terlihat lingkaran hitam dibawah matanya.
Bukan pemandangan yang bagus bukan.
Via menghela napas panjang. Ada saja hal yang membuatnya jadi kepikiran begini. Apa yang terjadi pada ibunya ya.
Karena sibuk dengan pikirannya, Via tak menyadari jika sedari tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Jantung Via langsung tak karu-karuan. Karena ketukan pintunya jadi semakin keras dan keras. Beruntung Via sudah mengunci pintu.
Via tak tau siapa yang mengetuk. Oke, rumah kontrakannya ini bukanlah tempat yang horror karena Via tak pernah melihat ataupun merasakan adanya makhluk tak kasat mata di rumah ini.
Tapi lalu siapa yang mengetuk pintu itu.
Dengan suara yang gemetar, Via memberanikan dirinya untuk bertanya, "Siapa?"
Via tak bisa mendengar suara itu dengan jelas, karena hanya berupa gumaman saja, Membuat Via jadi rada penasaran.
Siapa kira-kira yang mengetuk pintunya. Astaga, kenapa tubuhnya mendadak jadi merinding.
Via sama sekali tak takut jika itu adalah hantu, yang dia takutkan adalah seseorang yang berniat jahat padanya.
"BUKA!!!!!!!" teriak suara itu akhirnya.
Tunggu. Itu siapa? Suara siapa itu? Jelas suara seorang pria, tapi siapa? Via tak memiliki teman pria lain selain Sam, itupun Sam tidak tau rumahnya dimana. Hanya Bryan yang mengetahuinya. Tapi itu jelas bukan Bryan kan. Tidak mungkin itu Bryan.
"BUKA PINTU INI!!!!" teriaknya lagi sambil menggedor-gedor pintu. Via jadi semakin takut, tangannya gemetar mengambil ponselnya. Dia bermaksud untuk menghubungi Sam.
Via dengan gugup mencari-cari nama Sam dikontak ponselnya. Jantungnya semakin berdetak-detak kencang seperti ketukan pintu si pria misterius itu semakin kencang dan tak sabaran.
Via segera menempelkan ponselnya ke telinga saat dia menemukan nama Sam. Dengan panik Via menunggu Sam untuk mengangkat panggilan darinya,
"Ayolah, Sam. Tolong angkat panggilan ini" lirih Via dengan suara yang gemetar ketakutan.
Namun bukannya Sam yang mengangkat panggilan itu, justru operator telepon yang membalasnya.
"Sialan" umpat Via kesal.
Dia sudah takut, juga frustasi. Sepertinya yang ada di rumah ini hanya dia sendiri saja. Apakah semua kecuali dirinya hari ini sedang bekerja masuk malam? Sehingga tak ada siapapun disini.
Lalu bagaimana pria ini bisa masuk ke rumah ini? Bukankah pintu depan selalu terkunci. Kalau begitu pria itu pasti memiliki kuncinya, dan dia pasti mendapatkannya dari salah seorang temannya disini. Tidak lain pasti salah satu kekasih orang-orang ini.
"KAU MASIH TIDAK JUGA MEMBUKA PINTUNYA!!!" teriaknya lagi kali ini dengan seluruh tenaganya.
Via semakin ketakutan. Tentu dia tak bisa melawan jika sendirian. Via mengedarkan pandangannya melihat-lihat apakah ada sesuatu yang bisa dia pakai untuk pertahanan diri. Seketika matanya menangkap sapu. Buru-buru Via bangkit dari duduknya dan mengambil sapu itu, dia pegang erat-erat, tidak mengendurkan sedikit pun kewaspadaannya.
Bryan. Ya dia sebaiknya menghubungi Bryan meminta pria itu untuk membantunya. Bryan sendiri yang katakan untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Via dengan cepat membongkar isi tasnya dan mencari-cari dimana kartu berbentuk persegi milik Bryan tadi itu sambil matanya terus menatap kearah pintu. Karena pria itu sepertinya sedang berusaha untuk mendobrak pintunya.
Sampai akhirnya dia mendapatkannya. Via segera mengetikkan nomor ponsel Bryan diponselnya. Lalu menempelkannya ke telinga. Harap-harap cemas dia menunggu telepon diseberangnya diangkat.
"Halo?"
Hal yang pertama Via lakukan adalah menghela napas lega.
"Bryan, ini aku, Via. Tolong aku, seseorang sedang berusaha mendobrak pintu kamarku" kata Via dengan keringat yang sudah membasahi pelipisnya karena begitu takut dan paniknya.
"Ada apa, Via? Coba kau jelaskan pelan-pelan" pinta Bryan diujung sana. Bryan sebenarnya terdengar panik, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku-"
Belum sempat Via melanjutkan kata-katanya, pintu kamarnya sudah berhasil didobrak. Memunculkan pria yang sedari tadi dengan rusuh mengetuk pintunya. Via mengenali pria itu. Dia adalah pria yang tadi siang dilihatnya kan. Yang bersama teman satu kontrakannya tadi itu, yang dilantai bawah itu.
Astaga.
Via yakin wajahnya saat ini pucat luar biasa.
"Via..... Via" panggil Bryan.
Via menoleh panik kearah ponselnya, ternyata panggilannya masih tersambung. Ketika Via ingin berbicara, pria itu dengan cepat mengambil ponselnya dan mematikannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Via dengan suara serak yang sudah siap untuk menangis. Tangannya masih menggenggam erat sapu, yang selalu siap untuk dia layangkan pada pria itu.
Pria itu lalu tersenyum mengerikan. Pandangan matanya tampak tak fokus. Sepertinya dia sedang dipengaruhi minuman keras.
"Aku menginginkanmu"
Via bergidik ngeri saat pria itu menatap Via dengan pandangan *****. Lalu pria itu dengan gerakan yang tak dapat Via perkirakan karena dia masih syok, mencengkram lengannya kuat-kuat.
Pria itu mendekatkan wajahnya hendak mencium Via. Mendadak tangan Via yang memegang sapu pun lemas tak berdaya, gemetar membuatnya demikian. Namun hal yang lebih penting dia harus lakukan saat ini adalah menjauhkan wajah pria itu yang memaksa ingin mencium Via.
Via sungguh merasa jijik. Via melihat kearah pergelangan tangan pria itu yang cengkeramannya dilengan Via sudah tak sekuat tadi.
Langsung Via gigit saja pergelangan tangannya yang membuat pegangannya dilengan Via terlepas. Ketika pria itu bangkit berdiri sambil mengeluarkan kata-kata umpatan, tapi Via tak peduli inilah saatnya. Via tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia pun menendang alat vital pria itu yang membuatnya pun spontan mengadu kesakitan dan memeganginya.
Melihat hal itupun Via langsung berdiri dan melarikan diri dari sana, dan ternyata benar saja tidak ada orang di rumah itu. Hanya dia sendiri.
Via buru-buru menuruni tangga namun karena matanya sambil mengawasi kebelakang takut-takut pria itu mengejarnya justru membuatnya jadi tak memperhatikan anak tangga yang sedang dipijaknya, Yang berujung membuatnya jatuh tersungkur karena terkilir.
"BERANINYA KAU, WANITA SIALAN" umpat pria itu sambil menuruni tangga. Ternyata dia masih bisa berjalan. Via sepertinya kurang mengeluarkan tenaganya tadi.
Via terpaksa menahan kesakitan yang luar biasa dikakinya dan memaksa tubuhnya untuk bangkit dan berlari keluar.
Namun karena gerakan Via yang jadi lambat, pria itu sudah kembali menangkapnya. Via dengan sekuat tenaga memukul, menendang bahkan mencakar kulitnya agar bisa melepaskan diri.
Tapi nihil. Karena Via sudah melukainya dibagian alat vitalnya membuat pria itu jadi sepenuhnya sadar. Via jadi semakin ketakuan kala melihat mata menyalak marah dari pria itu.