MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Begitu Mendebarkan



"Sam, kau bisa membunuhnya"


Satu kalimat dari bibir Via mampu membuat Sam menghentikan aktivitasnya. Dengan napas yang tersengal-sengal dan bibir gemetar penuh amarah, Sam menghajar tanpa ampun si pria yang mengaku sebagai mantan tunangannya Via.


Sam akan menyesal jika membiarkan Via ikut dengan pria ini.


"Lepaskan dia" pinta Via lembut.


Sam mengikuti apa yang Via katakan, melepaskan pria itu yang wajahnya sudah berlumuran darah dan babak belur tak karu-karuan juga sudah terkapar pingsan


Lalu bangkit berdiri dan berbalik menuju Via.


"Jangan mendekat" ujar Via panik.


Sam begitu tertegun mendengar itu lalu berhenti berjalan. Ternyata Via takut pada dirinya. Wajar saja demikian karena Sam tadi tidak segan untuk memukuli pria itu. Bahkan jika bisa dia ingin melenyapkan pria tadi, hilang dari muka bumi ini.


Sam melihat tatapan Via yang memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Darah terus mengucur deras dari telapak tangannya, sela-sela jarinya dan wajahnya yang juga terkena pukulan dari pria tadi saat melawan Sam.


Sam memutuskan untuk melangkahkan kakinya dengan perlahan. Matanya menatap lurus-lurus pada Via yang benar-benar ketakutan.


Bola matanya sibuk berpindah-pindah berharap tak perlu bertatap dengan Sam.


"Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin melepaskan tali yang mengikat ditanganmu" ucap Sam pelan dan lembut, juga penuh pengertian.


Sam berjalan semakin dekat dan dekat hingga tibalah didepan Via, lalu berjongkok dan membawa Via dalam tatapan lembut Sam.


"Percayalah padaku. Aku tidak akan menyakitimu, Via"


Via membalas tatapan Sam dan mengangguk lemas. Bibirnya sudah kelu tak sanggup lagi bicara, rasanya sangat syok melihat aksi Sam tadi.


Sam tersenyum hangat dan menenangkan. Lalu berdiri lagi dan berjalan kearah belakang tubuh Via.


Membuka ikatan yang mengait tangannya.


Setelah ikatan itu terlepas, Sam mengulurkan tangannya agar Via bisa berdiri.


Namun Via hanya menatap kosong uluran tangan Sam yang sudah dipenuhi darah itu. Tatapan keraguan tersirat dalam matanya.


Sam menghela napas, lalu menarik lagi tangannya.


"Maaf"


Hanya itu kata yang bisa Sam ucapkan. Lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal karena rasanya canggung sekali.


Tiba-tiba Via mengulurkan tangannya dan berkata lirih, seolah-olah butuh kekuatan lebih hanya untuk berbicara.


"Tolong bantu aku"


Sam merasa tak enak sehingga dia mengusap tangannya dibaju yang dia kenakan lalu menarik tangan Via.


"Tanganmu jadi ikut terkena darah" kekeh Sam.


Via tersenyum simpul. "Tidak masalah, aku bisa mencucinya nanti"


Sam dan Via sama-sama berjalan keluar dari ruangan itu.


Mereka sudah tidak peduli lagi pada pria tadi yang pingsan setelah terkena pukulan mematikan Sam.


Perlahan-lahan mereka menuruni tangga, hingga akhirnya sampai di lobi hotel. Disitulah mereka bertemu lagi dengan para preman yang sepertinya disewa itu.


Pantas saja saat Sam dengan hebohnya memukuli pria tadi tidak ada satupun anak buahnya yang datang. Rupa-rupanya mereka sedang berpesta alkohol dan obat-obatan terlarang.


"Sungguh menjijikkan" umpat Sam melihat mereka yang dengan santainya mengkonsumsi barang-barang haram tersebut.


Sam mengeratkan tangannya yang menggenggam tangan Via. "Jangan jauh-jauh dariku"


Via mengangguk lesu karena sudah tak berdaya lagi. Bermacam-macam perasaan yang dialaminya hari ini. Nano-nano.


Para preman yang tadi sedang duduk santai dan menikmati barang haram itu langsung berdiri dan mengambil tongkat kayu.


Beberapa dari mereka ada yang terlihat kelimpungan. Sepertinya sudah berdiri diantara batas sadar dan tak sadar, jiwanya terbang jauh, entah kemana.


Dengan sekali hentakan saja, Sam berhasil merobohkan mereka semua.


"Ini sangat mudah sekali" katanya menyombongkan diri.


Via terkekeh-kekeh. "Kau begitu percaya diri, Sam"


Sam hanya mengerlingkan matanya membalas ucapan Via.


Setelah para preman berandal itu jatuh dan tak bisa berdiri lagi, Sam dan juga Via segera masuk ke mobil yang tak jauh Sam parkirkan.


"Aku akan langsung mengantarmu. Dimana kau tinggal?" tanya Sam sembari memasang sabuk pengamannya.


Via tampak diam, belum menjawab Sam.


Dirinya sudah lelah dan hanya ingin berbaring diranjangnya yang empuk. Ditambah waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.


Artinya itu kan dijam-jam orang memang beristirahat.


"Aku tak bisa pulang dalam keadaan seperti ini" ujar Via memecahkan keheningan.


Sam menatap lurus jalanan sepi yang ada didepannya, tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Jadi kau ingin kemana?" tanya Sam tak mengerti


"Entahlah aku tak tau. Aku tak punya tempat singgah lain" balas Via sedih.


Sam menghela napasnya. Daripada dirinya pusing memikirkan dimana akan dia turunkan Via, lebih baik Via menginap saja di rumahnya malam ini.


"Kalau kau tak keberatan, kau bisa bermalam di rumah ku dulu" tawar Sam sopan


"Apa itu tidak apa-apa?"


Via memandang Sam dengan raut wajah letihnya


"Ya" jawab Sam singkat.


"Terima kasih"


Via menghembuskan napas lega. Malam ini dirinya tak perlu kembali ke tempat kontrakannya.


Sejujurnya Via ingin pindah dari sana. Suasana kontrakan yang sangat tidak nyaman, juga karena orang-orang yang ikut menempati kontrakan tersebut.


"Kau melamun" timpal Sam


Via gelagapan karena kedapatan tengah melamun.


"Maafkan aku. Apa tadi kau ada bicara sesuatu?"


Sam menggelengkan kepalanya, "Tidak ada"


"Oh begitu" jawab Via lesu


Mendengar nada suara Via yang seperti kecewa, Sam mengalihkan pandangannya menatap wanita yang ada disampingnya ini.


"Kau baik-baik saja? Kau tampak syok karena bertemu dengan pria yang mengaku sebagai mantan tunanganmu itu" tanya Sam hati-hati. Tak ingin perkataannya membuat Via jadi sedih.


Via meremas kedua tangannya lalu mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan.


Bibirnya sudah terbuka sedikit namun belum ada kata yang keluar. Dia menahan suaranya.


"Kalau kau tak ingin jawab, juga tidak apa-apa" lanjut Sam cepat-cepat.


Sam tak ingin Via memikirkan apa yang tadi dikatakannya. Jika hal itu bisa mengungkit kembali kenangan yang Via tak ingin ingat.


Sam berdehem singkat untuk mencairkan suasana yang canggung antara mereka.


Lalu membelokkan mobilnya ke sebuah kawasan rumah mewah.


"Kita sudah sampai. Ayo turunlah" ujar Sam tersenyum hangat.


Via kemudian mengikuti Sam, keluar dari mobilnya dan seketika terdiam melihat rumah mewah Sam.


"Ini rumah peninggalan kakek" celetuk Sam sembari menahan senyumnya melihat Via yang terngaga setelah melihat rumah mewah didepannya.


"Ayo masuk" ajak Sam lalu menarik tangan Via, agar Via bisa mengikuti dirinya.


Via jadi gelagapan karena Sam yang tiba-tiba saja menarik tangannya. Kuat tapi tidak menyakitkan.


Seketika Via merasakan wajahnya memanas. Genggaman tangan Sam begitu hangat dan juga menenangkan.


Via menyukainya. Andai saja Via bisa terus merasakan hal ini, dirinya yakin akan baik-baik saja.


Selama bersama Sam, Via yakin dia akan baik-baik saja. Via melihat tangannya yang berada dalam genggaman Sam.


Seketika terbitlah senyuman disudut bibirnya. Sam masih sama pedulinya dengan yang dulu. Tidak berubah.


"Kenapa kau terus-menerus tersenyum?" kata Sam menyadarkan lamunan Via


"Aku? Benarkah?" sahut Via pura-pura tak mengerti.


Sam mengernyitkan dahinya lalu seketika mendekatkan wajahnya pada wajah Via, membuat Via jadi gugup dan salah tingkah.


"Ini kamarmu" ujar Sam sembari menunjuk sebuah kamar yang ada disamping mereka.


Via tertawa canggung, lalu mengalihkan pandangannya dari Sam dan menghembuskan napas yang sedari tadi sudah ditahannya.


Rasanya begitu mendebarkan.


"Baiklah, terima kasih" balas Via sopan