MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Menyinggung Luka



"Apa kau sudah menghubungi Sam?"


Via tersedak nasi goreng yang tengah disantapnya itu, hingga membuatnya terbatuk-batuk. Mendengar nama Sam disebut sedikit mengejutkan dirinya. Apakah reaksinya berlebihan?


"Pelan-pelan saja. Minumlah dulu"


Bryan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk oleh Via hingga setengah gelas.


Via menarik napasnya perlahan lalu menghembuskannya. Mengatur jantungnya yang rasanya sakit karena terbatuk-batuk.


Setelah melihat Via yang jadi tersedak itu membuat Bryan sedikit tak enak hati. Bagaimana pun Bryan harus tau apakah Via menghubungi Sam atau tidak.


Karena Sam tadi itu kan sedang makan malam wajib bersama keluarganya.


Tapi mengingat jika Via justru menghubungi Bryan itu artinya Via tidak memberikan kabar pada Sam atau mungkin Sam tidak menjawab panggilan dari Via.


"Aku sudah menghubunginya, tapi tak ada jawaban. Saat itu yang terlintas dalam kepalaku adalah menghubungimu. Apa aku tadi sedang mengganggu aktivitasmu?"


Bryan tersenyum kecil. Baru sekarang dia bertanya. Sejujurnya Bryan tidak sibuk tadi. Karena dia tak perlu hadir menemani Sam yang sedang menghadiri agenda rutin keluarganya, Bryan lebih memilih untuk bersantai sembari menikmati secangkir kopi di halaman belakang rumahnya.


Via menyendokkan lagi nasi goreng itu kedalam mulutnya.


'Astaga. Padahal dia memiliki mulut yang kecil, tapi bagaimana bisa dia menyendokkan nasi goreng penuh disendoknya'


Bryan merasa jika Via itu begitu imut. Apalagi melihat raut wajahnya yang tampak bersalah.


'Ah sial. Apa yang sedang aku pikirkan ini' batin Bryan mendumel.


"Aku bertanya padamu. Kenapa kau jadi merenung"


Via menelan nasi goreng itu dengan nikmat namun matanya tertuju lurus pada Bryan yang duduk didepannya.


'Dia sedang melamun' batin Via lalu menjentikkan jarinya dihadapan Bryan melihat Bryan yang tak kunjung sadar.


Bryan terkesiap. Buru-buru memfokuskan kembali perhatiannya pada wanita yang ternyata berprofesi sebagai perawat ini.


"Aku tidak sedang sibuk. Kau sungguh tepat menghubungiku. Karena Sam sedang ada urusan dengan keluarganya" terang Bryan tanpa diminta. Ya hanya mencegah Via agar tidak berpikiran negatif kenapa Sam tidak menjawab panggilan darinya.


Via membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Sambil mengangguk-angguk mengerti. Tak tau urusan apa itu yang jelas Via bersyukur Sam tidak mengangkat panggilannya. Kalau tidak pasti akan membuatnya tak enak karena sudah mengganggu Sam.


"Sebaiknya tak perlu memberitahu Sam tentang apa yang terjadi tadi" usul Via.


Dia tak ingin memperbesar masalah.


Bryan menenggak air putih itu hingga tandas. Nasi goreng miliknya sudah tidak bersisa bahkan sebutir nasi pun.


"Tentu. Aku akan merahasiakannya untukmu" balas Bryan santai.


Bryan mengedarkan pandangannya kesekeliling warung pinggir jalan yang begitu ramai. Ya memang enak sih nasi gorengnya. Sepertinya ini sudah langganan Via.


"Terima kasih. Aku benar-benar harus cari cara untuk membalasmu"


Bryan segera mengibaskan tangannya dengan cepat. "Tidak perlu. Kau tak perlu memikirkan hal itu. Bukankah sudah kukatakan kedepannya aku akan menjadi lebih baik lagi padamu"


Bryan mengatakan yang sesungguhnya. Pertemuannya dengan Via, berharap mendatangkan kebaikan dalam hidupnya.


Lagipun, Bryan seperti merasakan ada benang merah yang menariknya menuju Via dan berharap jika benang merah itu akan mengikatnya.


"Tapi aku tidak enak padamu. Padahal kita baru saja bertemu, tapi aku sudah merepotkan banyak hal"


Via meletakkan sendok dan garpunya dipiringnya lalu menatap Bryan penuh arti. "Setidaknya biarkan aku membalas kebaikanmu"


Bryan menelan ludah. "Dengan cara apa?"


Via menaikkan sebelah alisnya. "Mungkin kau bisa menyewakan rumah itu padaku. Biarkan aku membayar sewanya"


Hmmm...


"Baiklah kalau begitu. Kita akan pergi setelah kau menghabiskan makananmu" ujar Bryan mengiyakan penawaran Via.


Sejujurnya Bryan tak mengapa jika Via tak membayar uang sewa rumah itu. Tapi karena Via terlihat bersikeras ingin membalas kebaikan Bryan. Oleh sebab itu dia pun setuju-setuju saja.


"Kalau aku boleh tau, dan jika kau tidak keberatan memberitahuku. Dimana orang tuamu?" tanya Bryan.


Ah sedari tadi Bryan terus mencari alasan atas perbuatannya. Yang inilah yang itulah.


Via menyendokkan nasi goreng terakhir ke mulutnya, mengunyahnya dengan perlahan lalu menelannya, setelah itu dia meneguk air putih itu hingga tandas.


"Orang tuaku berada di Bandung. Aku sedang ada masalah dengan mereka. Memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka dan pergi ke Jakarta" Via mengulas sedikit tentang keluarganya dan apa yang membuatnya datang ke Jakarta.


Bryan terlihat bersimpati pada Via. Tatapannya menunjukkan bahwa dia prihatin pada wanita itu. Memiliki masalah dengan orang tua itu rasanya berat sekali.


Apa kau ingin dicap sebagai anak durhaka jika tak menuruti keinginan mereka. Sudah tak perlu diragukan lagi bahwa karma akan mendatangimu jika kau durhaka pada mereka.


Hanya saja. Kadang mereka terlalu sibuk meminta ini dan itu, menuntut ini dan itu pada anaknya, tanpa tau apa yang dirasakan oleh sang anak.


Membuat sang anak akhirnya lelah dan jengah, hingga memutuskan untuk pergi.


Bryan juga bukan dari keluarga yang harmonis. Ayah dan ibunya bercerai. Masing-masing dari mereka menikah lagi.


Dan sampai saat ini Bryan sama sekali tidak peduli pada apapun yang dilakukan oleh mereka. Tidak sekalipun Bryan mengunjungi mereka.


Saat mereka bercerai apakah pernah memikirkan perasaan Bryan. Lalu saat mereka menikah apakah pernah mereka menanyakan bagaimana pendapat Bryan. Alih-alih mereka kembali bersama malah justru mencari kenyamanan dari orang lain.


Bryan tak tau apa yang terjadi dikeluarga Via. Namun kurang lebih Bryan tau bagaimana perasaannya.


"Baiklah sebaiknya kita tak perlu membahas hal itu lagi"


Via menggeleng. "Aku memiliki ayah yang seorang penjudi berat juga ibu yang begitu kecanduan berbelanja. Aku lelah dengan mereka. Bahkan mereka tak segan untuk menjualku hanya demi kesenangan mereka"


Bryan kehabisan kata mendengar penuturan Via yang begitu mengejutkan ini.


"Yang aku pikirkan hanyalah satu. Berusaha lari sejauh mungkin dari mereka. Aku tidak ingin lagi hidup bersama mereka. Aku tidak ingin lagi mereka memanfaatkanku hanya untuk kepentingan pribadi mereka. Aku juga harus membayarkan hutang mereka yang jumlahnya juga tidak sedikit,"


Mata Via mulai berkaca-kaca.


'Sialan. Aku sudah menyinggung luka dihatinya'


Bryan mengutuk dirinya yang dengan bodohnya malah bertanya tentang orang tuanya Via.


Sungguh itu keterlaluan sekali. Menjual anak sendiri.


"Via. Dengarkan aku. Kita tak perlu lagi membahas ini. Aku minta maaf karena telah menyinggung perasaanmu. Aku tau ini berat untukmu. Lebih baik kita akhiri saja" pinta Bryan lembut.


Demi menghentikan tangis Via yang sepertinya akan pecah lebih baik mereka akhiri percakapan ini.


Via mengangguk lalu menangkupkan wajahnya dikedua tangannya.


"Bersiaplah. Aku akan membayar nasi goreng ini. Setelah itu kita pergi"


Selepas mengatakan itu, Bryan bangkit berdiri menuju tempat si bapak penjual nasi goreng ini. Membayar makanan mereka.


Sesekali matanya masih melihat Via yang terlihat begitu rentan.


Bryan tak bisa membayangkan bagaimana menjadi Via. Itu pasti berat sekali bukan.


Setelah membayar makanan mereka, Bryan kembali ke mejanya.


"Ayo kita pergi"


Via mendongakkan kepalanya menatap Bryan. Dengan senyuman datar diwajahnya, Bryan mengulurkan tangannya.


"Biar aku bantu kau berjalan" katanya sopan.


Via menyambut uluran tangan itu. "Terima kasih"


Dengan bantuan kruk juga tangan Bryan yang membantunya. Membuat Via jadi lebih mudah berjalan.


Tangan Bryan begitu hangat dan besar. Tubuhnya yang tinggi juga tegap benar-benar bisa melindungi Via. Aroma harum yang menguar dari tubuhnya membuat Via jadi sedikit nyaman.


Ketika mereka sampai, Bryan membukakan pintu mobilnya untuk Via. Lalu meletakkan kruk dikursi belakang dan dia pun memutari mobil masuk ke kursi pengemudi.


Mereka dengan cepat meninggalkan warung pinggir jalan yang masih ramai dikunjungi itu.