
Bryan tak hentinya menatapi Via yang tengah menghidangkan secangkir kopi untuknya.
"Jadi kau temannya Sam?" tanya Bryan lagi yang sudah jelas sekali saat Sam memperkenalkan keduanya.
Via menatap Bryan dengan senyuman manis diwajahnya. Dia memang sudah tak takut lagi setelah tau bahwa Bryan adalah asisten pribadinya Sam.
"Ya" balas Via pendek
Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah kenapa dadanya membuncah perasaan senang yang tak bisa dijelaskan.
"Kau tak takut padaku, bukan? Maksudku apa yang tadi dikatakan Sam hanya omong kosong saja"
Via mengernyit heran. Dia tidak takut sebenarnya, hanya tadi dia pikir jika Bryan adalah orang jahat. Oleh karena itu dia langsung memasang bentuk pertahanan diri. Namun dia salah sangka.
"Tidak" jawab Via singkat, padat dan jelas.
Via kemudian berdiri dan langsung beranjak pergi ke dapur. Sementara itu Sam sudah selesai berbenah diri setelah dirinya berolahraga.
"Apa yang membuatmu datang? Tak bisakah kau beritahu aku dulu jika kau ingin datang?" celoteh Sam yang bahkan dia saja belum duduk disofa.
Bryan menaikkan sebelah alisnya. "Kau sedang memarahiku? Biasanya aku tak apa jika datang tanpa pemberitahuan. Apa karena kau mengkhawatirkan Via?"
Jawaban Bryan tak diduga-duga oleh Sam. Ya bukan hanya itu saja. Tapi rasanya akan sia-sia jika Bryan datang tapi Sam tak ada di rumah.
"Apa maksudmu. Aku hanya tak ingin kau membuang waktu, saat kau datang tapi aku tak ada di rumah" terang Sam sedikit meninggikan suaranya.
Bryan cengengesan. "Baiklah. Aku akan menghubungimu jika aku ingin datang"
Sam tersenyum simpul.
"Tapi dia itu hanya benar temanmu saja kan?" bisik Bryan sambil celingak-celinguk memantau apakah Via tengah mendengarkan pembicaraan mereka atau tidak.
"Kenapa? Kau tertarik padanya?" tantang Sam.
Bryan berdehem singkat, merubah raut wajahnya jadi tenang dan tampak tak peduli.
"Bukan seperti itu. Hanya penasaran saja"
Sam mencibir Bryan. "Katakan saja jika kau suka. Aku dan dia hanya berteman baik"
Bryan sekali lagi menaikkan alisnya. Benarkah jika seperti itu? Tapi kenapa dia merasa jika Via memiliki perasaan untuk Sam. Apa Sam tidak menyadarinya ya? Bahkan orang buta pun bisa melihat bagaimana saat Via memandangi Sam dengan penuh perasaan.
"Kau serius? Tidakkah kau menyadari-" Bryan menggantungkan ucapannya.
'Sial. Aku hampir mengatakannya' umpat Bryan setelah dia hampir saja mengungkapkan apa yang diketahuinya.
"Menyadari apa? Kenapa kau menggantungkan kalimatmu, Bryan" ujar Sam tampak tak senang.
Bryan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Lupakan saja apa yang aku ingin katakan tadi" balas Bryan sembari dengan acuh mengibaskan tangannya.
"Ada apa denganmu" sinis Sam benar-benar tak senang.
Sam paling tak bisa jika ada orang yang ingin bicara tapi dia dengan mendadak berhenti bicara. Sungguh membuatnya jadi penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Sudahlah aku datang bukan untuk membahas itu"
Sam masih saja mengerutkan alisnya karena merasa jika Bryan sangat aneh. Kira-kira apa yang akan dikatakannya tadi itu. Kenapa Sam jadi begini penasarannya.
"Kau ingin membahas tentang keinginanku mengadopsi gadis kecil itu kan"
Prangg!!!!
Suara pecahan piring kaca jatuh berkeping-keping, membuat ruangan mendadak jadi riuh penuh kepanikan.
"Astaga. Kau tak apa, Via"
Bryan yang pertama kali bereaksi dan mendekati Via yang tanpa sengaja menjatuhkan piring berisi seperti sandwich, ah tidak memang sandwich. Dengan paniknya dia melihat Via yang mungkin syok mendengar apa yang Sam katakan tadi.
Eh kalau begitu apakah Via juga tau tentang gadis kecil yang dimaksud Sam tapi Via tak tau jika Sam berniat mengadopsi anak itu.
"Jangan sentuh"
Bryan sontak menahan tangan Via yang hendak membersihkan pecahan kaca itu.
Via seketika menatap Bryan. "Duduklah. Biar aku saja" katanya dengan lembut lalu tersenyum, matanya juga ikut tersenyum.
"Tapi-"
"Tak apa" kata Bryan
Via mengangguk dan berdiri lalu duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu itu.
Dilain sisi, jujur saja Via yang menjatuhkan piring kaca tadi membuat Sam begitu terkejut. Berarti dia mendengar tentang rencana Sam itu.
Ya seharusnya tidak ada hubungannya dengan Via kan. Jadi Sam pikir reaksi Via sampai menjatuhkan piring kaca seperti berlebihan. Ah apa Sam salah tanggap ya.
Bryan sekilas menatap Via. Apakah Via begitu terkejutnya mendengar rencana Sam sampai membuatnya menjatuhkan piring kaca ini.
Sam kemudian datang membawakan sapu juga pengki sapu. Lalu menyapunya dengan perlahan, memastikan serpihan kaca tidak ada yang tertinggal.
Bryan berdiri dan seketika matanya menatap kaki Via yang tergores pecahan kaca.
"Dimana kotak P3K milikmu, Sam?"
Sam memandang Bryan lalu sedetik kemudian menunjuk sebuah lemari yang ada didekat televisi. Tempat dia menyimpan kotak pertolongan pertama itu.
"Maaf. Aku jadi merepotkan" ujar Via sendu, wajahnya ditundukkan, tidak berani menatap Bryan ataupun Sam.
"Tidak apa" balas Sam singkat lalu pergi ke dapur membuang pecahan kaca ini.
Via benar-benar tak sengaja menjatuhkannya tadi. Dia hanya syok mendengar rencana Sam yang ingin mengadopsi gadis kecil yang baru saja Via temui waktu itu.
Entah kenapa, Via rasanya tak rela jika gadis kecil itu merebut perhatian Sam. Astaga, apa yang dia pikirkan. Kenapa dia jadi bertindak egois.
Via yakin jika niat Sam itu baik. Karena memang sayang rasanya jika gadis kecil itu menyia-nyiakan hidupnya begitu saja.
Via meremas jari-jarinya bukti jika dirinya itu sedang gelisah.
"Kakimu terluka. Apa kau keberatan jika aku membantumu mengobatinya?"
Suara berat Bryan membuyarkan lamunan Via.
"Benarkah?" tanyanya seraya melihat kearah kakinya yang benar saja terluka. Bahkan ada serpihan kaca yang menancap dikakinya. Kenapa Via bisa sampai tidak menyadarinya.
Karena begitu syoknya sampai rasa sakitnya tak bisa menyadarkan Via bahwa kakinya terluka.
"Tak apa. Biar aku saja, aku tak ingin merepotkan lagi" balas Via seraya menggeleng sopan. Dia jadi tak enak hati karena sudah menyebabkan kekacauan.
Itu semua karena keteledorannya. Yang berujung pada dirinya merepotkan Sam juga Bryan.
"Tak apa. Santai saja" jawab Bryan lalu berjongkok dan mendekat kekaki Via.
Bryan memandang Via sejenak sebelum menyentuh kaki Via. "Maaf. Aku tak bermaksud lancang" katanya lalu mengambil serpihan kaca yang menancap itu.
Seketika Via berteriak tertahan dan spontan mencengkram pundak Bryan saat tangan Bryan mencabut serpihan kacanya.
Bryan juga jadi melihat Via karena dia takut menyakiti wanita itu. Mereka pun beberapa detik lamanya berpandangan.
Kenapa matanya Via begitu teduh. Membuat Bryan jadi tak ingin melepaskan pandangannya, ingin terus berlama-lama menatap kedua bola mata yang begitu cantik itu.
"Ehem"
Sam berdehem keras, mengangetkan Via terlebih-lebih lagi Bryan.
"Maaf" ujar Bryan singkat lalu sibuk lagi membersihkan luka dikaki Via.
Sam bergantian memandangi Bryan lalu berganti lagi memandangi Via.
Sam menduga jika Bryan ini memang memiliki rasa untuk Via. Tapi Bryan masih menyangkalnya.
"Via. Aku akan pergi sebentar lagi. Kau mau ikut aku pergi ke posko pengungsian gadis kecil yang kemarin itu?" tawar Sam.
Bryan yang sedang memasang plester dikaki Via, mendadak merasakan bahwa Via jadi tegang saat Sam menyebutkan tentang gadis kecilnya.
Bryan rasanya ingin mengutuk Sam yang begitu tidak pekanya terhadap situasi saat ini. Sepertinya benar memang jika Via memiliki perasaan untuk Sam.
Ah kenapa dada Bryan mendadak jadi sesak begini. Apa karena belum apa-apa dia sudah patah hati?
Via memandang Sam yang melihatnya dengan tatapan menuntut jawaban.
"Maaf, Sam. Tapi sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu. Mungkin lain kali aku akan datang dan melihatnya" kata Via sedih.
Via sedih bukan karena tak bisa datang, tapi dia sedih karena hatinya sakit tak tertahankan.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak apa-apa" balas Sam dengan tenang lalu mengalihkan pandangannya menatap Bryan.
"Bisakah kau mengantarnya pulang nanti?"
Bryan yang sadar jika kalimat itu ditujukan padanya, seketika menatap Sam lalu bergantian menatap Via.
"Ya. Bukan masalah untukku" balas Bryan santai sambil cengengesan berharap suasana diantara mereka bisa sedikit mencair.
"Terima kasih. Kau tidak apa kan pulang bersama Bryan?"
Via tersenyum getir. "Ya. Tidak apa"
Oh sial. Dada Bryan semakin sesak karena hal itu. Bryan justru mendengarnya seperti nada keterpaksaan dari Via.