MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Pertemuan Yang Mendatangkan Kebaikan



"Terima kasih, Bryan" ucap Via menundukkan kepalanya menatap kakinya yang diberi perban.


'Ini akan memakan waktu kurang lebih 2 minggu' batin Via bicara sendiri.


Bryan memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Mereka masih berada diarea rumah sakit. Tepatnya di taman rumah sakit, dan mereka memilih tempat duduk dibawah lampu taman.


Padahal ini sudah tengah malam. Tapi kan rumah sakitnya buka selama 24 jam.


Mata Bryan menatap kolam air mancur yang terletak tidak jauh dari tempat mereka duduk. Matanya fokus menatap air yang terlihat begitu menyegarkan itu.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Bryan memulai pembicaraan tentang topik yang masih hangat ini.


Bryan memang tak tau siapa pria yang tadi itu. Tapi menurut Bryan, Via sama sekali tidak mengenalnya.


"Apa teman-teman satu rumahmu yang lainnya pergi bekerja dimalam hari? Karena lampu kamar mereka tidak ada yang menyala" sahut Bryan lagi setelah Via tak kunjung bersuara.


Via memandang sekilas pada Bryan lalu kembali memperhatikan kakinya.


"Sepertinya begitu. Sejak aku pulang tadi siang, aku tidak ada keluar kamar lagi"


Oh begitu ya.


"Kalau begitu pria tadi itu-"


"Aku melihatnya. Aku melihatnya bersama kekasihnya yang merupakan teman satu rumahku itu. Mereka berada diruang tengah, bermesraan dan ketika aku melewati mereka, mereka tidak terganggu sama sekali" potong Via cepat.


Seperti itu. Bryan tau mata pria tadi menatap Via dengan ***** yang tak bisa dia alihkan. Matanya membara memancarkan gelora gairah yang menyelimuti dirinya.


"Aku tak bermaksud untuk membuatmu mengingat lagi kejadian buruk itu. Lebih baik malam ini kau beristirahat di hotel saja" usul Bryan.


Bryan merasa seperti lelaki tak beradab jika membawa Via ke rumahnya. Bukannya Bryan tak khawatir meninggalkan Via sendirian di hotel yang bisa saja pria tadi masih begitu menginginkan Via dan memata-matainya.


Tapi Bryan juga tak ingin dicap sebagai pria brengsek. Walaupun niatnya baik, tapi sebaiknya dia membiarkan Via tinggal di hotel.


Karena Bryan sungguh menyadari apa yang akan terjadi jika hanya ada dirinya dan Via di rumah itu. Bisikan-bisikan setan pasti akan mempengaruhinya dan justru Bryan menjadi orang yang menyakiti Via. Tentu dia tak ingin itu terjadi.


Ah tunggu.


Daripada di hotel, lebih baik dia bawa Via ke rumah miliknya yang satu lagi itu saja. Berhubung rumah itu juga tidak dipakai.


Disana juga aman, setidaknya lebih aman jika dibandingkan di hotel. Karena Bryan yakin pria itu tidak akan menemukan rumah miliknya.


"Jika kau begitu takut berada di hotel. Bagaimana jika bermalam di rumah milikku saja?"


Via seketika mendongakkan wajahnya menatap Bryan dengan raut wajah terkejut.


Bryan mendadak salah tingkah, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jangan salah paham. Aku memiliki 2 rumah. Yang satu lagi itu tidak ku tempati. Jika kau ingin, sementara ini kau bisa pindah kesana dulu. Sebelum kau benar-benar menemukan tempat tinggal yang sesuai denganmu" jelas Bryan jadi panjang lebar.


Bola matanya bergerak-gerak cepat karena khawatir Via akan salah paham dengan maksud ucapannya.


"Terima kasih. Kau sudah begitu banyak membantuku. Bagaimana caraku untuk membalasnya?" tanya Via dengan senyuman yang tak dapat diartikan.


Bryan terdiam. Dia tidak bermaksud untuk membuat Via membalas kebaikannya. Karena dia melakukannya juga atas dasar kemanusiaan.


"Tak perlu membalasku. Aku senang bisa membantumu. Seperti yang aku katakan. Teman Sam adalah temanku juga. Jadi jangan terlalu sungkan padaku"


Via menatap Bryan kosong. Teman Sam adalah temannya juga.


Kenapa Bryan begitu baik hati. Padahal mereka juga baru mengenal.


"Ah maaf. Aku sama sekali tak bermaksud untuk menggodamu. Hanya ya begitulah yang aku maksud" lanjut Bryan tiba-tiba yang langsung membuat Via jadi tergelak.


Astaga. Kepercayaan diri seperti apa itu.


"Tenang saja. Aku tidak berpikir seperti itu"


Via tak habis pikir kenapa Bryan dengan begitu percaya dirinya menganggap bahwa dirinya tengah menggoda Via.


Bryan seketika memerah. Malu sekali rasanya. Dia seperti sudah terlalu ge-er berpikir jika Via menganggapnya tengah menggoda wanita itu.


Bryan terkekeh malu. Rasanya ingin menghilang saja.


Kruuukkkkk!!!!


Bryan dan Via saling melemparkan pandangannya. Kemudian disusul gelak tawa dari Bryan.


Beruntung diarea sekitar taman tidak ada orang.


Kini bergantian, Via yang harus menahan malu. Bisa-bisanya perutnya berbunyi diwaktu begini.


Tapi ya bagaimana, dia memang lapar. Sedari tadi dia pulang dia langsung mengurung diri di kamar. Tidak keluar lagi bahkan untuk sekedar membeli makan.


"Baiklah" kata Bryan seraya berdiri tegap dan wajah penuh senyum menatap Via.


Via mengernyit, tidak mengerti. Ada apa dengan Bryan.


"Untuk merayakan pertemanan kita. Dan juga untuk kau yang sudah berjuang keras melewati hari ini dengan begitu baik. Aku akan mentraktirmu makan. Ayo" ajak Bryan semangat 45.


Via cengengesan. Astaga apa-apaan Bryan ini.


"Aku sungguh jadi tak enak hati. Kau begitu baik, Bryan"


Bryan menepuk kedua tangannya. "Kedepannya aku akan jadi orang yang lebih baik lagi untukmu, Via. Jadi jangan khawatirkan hal itu"


Ucapan Bryan barusan. Entah Bryan sadar atau tidak saat mengatakannya. Tapi sepertinya dia tidak berbohong.


Karena matanya pun ikut berbicara bahwa dia benar-benar akan berbuat seperti yang dikatakannya.


"Hei, kenapa kau melamun. Tenang saja. Kau boleh makan apapun yang kau inginkan. Aku akan membayarnya. Tapi ingat jika kau harus membayarku kembali"


Via tertawa kencang. "Kau ini yang benar saja. Sengaja membuatku jadi berhutang padamu"


"Aku hanya bergurau saja. Ayo lebih baik kita pergi sekarang"


Via pun tertatih-tatih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Dia harus libur kerja lagi.


Ah bukan sesuatu yang baik, mengingat jika dia masih baru bekerja di rumah sakit itu.


Bryan dengan penuh perhatian memperhatikan langkah Via yang terlihat sulit berjalan.


"Aku baik-baik saja. Jangan terus memperhatikanku" ujar Via yang gerah karena Bryan terus berada disampingnya dan menujukan matanya pada Via.


"Aku hanya khawatir jika kau tersandung" ucap Bryan yang seketika justru dia tersandung oleh kakinya sendiri.


"Sial!" umpat Bryan pelan. Seraya membenarkan lagi posisi berdirinya. Kok bisa ya dia tersandung kakinya sendiri. Sungguh memalukan sekali bukan.


"Sebaiknya kau perhatikan saja langkahmu, Bryan" sela Via sambil cekikikan kecil.


Bryan benar-benar merasa bodoh. Bukan maksud dirinya yang ingin bertingkah konyol tapi ah sudahlah yang penting bisa melihat Via tertawa.


"Terus saja kau begitu" kata Bryan pura-pura kesal. Lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Via.


Via yang masih cekikikan susah payah melangkahkan kakinya mengikuti Bryan yang berjalan semakin cepat.


"Tunggu aku, Bryan. Aku tidak akan menertawaimu lagi. Bisakah kau sedikit memperlambat langkahmu" teriak Via masih dengan cengengesan.


Sedari tadi dia terus tertawa. Itu semua karena Bryan. Mungkinkah pertemuannya dengan Bryan membawa suatu kebaikan dalam hidupnya?


Entahlah, Via tak tau.


Via masih berteriak memanggil-manggil Bryan yang masih saja berjalan dengan cepatnya. Lalu langkahnya berhenti tepat didepan sebuah mobil.


Membukakan pintu samping dikursi penumpang untuk Via.


Via tersenyum dalam hati. Wajahnya Bryan masih masam saja.


Bryan pun mengambil kruk yang dipakai oleh Via dan memasukkannya ke kursi belakang, menutup pintu sedikit kencang sengaja memberikan kesan bahwa dia masih jengkel.


Via kemudian masuk kedalam mobil dan menutup pintu sambil cekikikan lagi melihat tingkah Bryan yang seperti anak-anak.


Bryan pun juga ikut masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit.


"Aku minta maaf. Aku tak bermaksud terus menertawakanmu" ucap Via sambil menutupi mulutnya yang sudah susah payah ditahannya agar tawanya tidak keluar lagi.


Bryan memicingkan matanya, menatap penuh kekesalan pada Via.


"Teruslah tertawa. Kau sepertinya senang mempermainkanku"


DEG!


Via langsung menutup mulutnya rapat-rapat.