MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Tertidur Sembari Memikirkan Gadis Itu



Sam menatap ponselnya dengan pandangan bertanya setelah melihatnya mendapatkan 1 panggilan tak terjawab dari Via. Tumben sekali Via menghubungi malam-malam begini. Bukan malam lagi, tapi ini sudah dini hari. Eh tapi jika dilihat dari riwayat panggilannya itu sekitar jam 10-an.


Apakah ada sesuatu yang terjadi ya?


Sepertinya Via menghubungi Sam, saat Sam sedang berada dijalan setelah pulang dari makan malam menyebalkan itu. Sam juga lupa untuk mengaktifkan kembali mode normal ponselnya karena saat makan malam tadi dia menyetel mode hening.


Apa sebaiknya dia menghubungi kembali wanita itu. Siapa tau memang penting sekali tadi


Setelah menimbang dengan sangat lama, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Via. Sam mengangkat ponselnya, mendekatkannya ke telinganya.


Menunggu dengan sabar, sampai panggilan diseberangnya diangkat. Seketika terdengar bunyi bip.


"Halo, Via?" sapa Sam langsung.


"Ada apa, Sam?" tanya Via dengan tenang.


Sam mengernyit, sepertinya tidak ada apa-apa. "Kau belum tidur? Ah, tidak. Aku melihat ada satu panggilan tak terjawab darimu. Apa ada sesuatu terjadi tadi?"


Sam memberikan bertubi-tubi pertanyaan. Ini sudah dini hari, kenapa Via masih terjaga. Ya salah Sam sih, kenapa Sam juga menghubungi Via diwaktu istirahat begini.


Hening sesaat. Via menarik napas lalu menghembuskannya.


"Hanya kecelakaan kecil. Sekarang sudah tidak apa-apa," jawabnya akhirnya.


Sam seketika membulatkan matanya. Astaga, apa yang sudah dilakukannya. Jangan-jangan para preman waktu itu.


"Apa mereka mengganggumu lagi? Maaf aku tadi sedang ada urusan, dan ponselku dalam mode hening" balas Sam memberikan penjelasan.


Sam jadi uring-uringan sendiri. Bagaimana pun, Via telah mengalami banyak kejadian tak menyenangkan. Sebagai teman, Sam hanya ingin membantunya jika dia ada masalah.


"Bukan mereka, Sam. Aku sekarang sudah tidak apa-apa. Tak perlu khawatir. Aku mengerti jika kau sedang sibuk," ujar Via pelan dan mencoba memberikan pengertian bahwa hal ini memang bukan masalah besar.


Sam mengusap kasar wajahnya, entah kenapa perasaan bersalah mendadak terlintas.


"Baiklah, kalau begitu. Maafkan aku. Hubungi aku jika terjadi sesuatu lagi," kata Sam


"Terima kasih, Sam. Apa ada lagi yang ingin kau bicarakan?"


Sam mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar samar-samar suara pria. Apa Via sedang bersama seseorang?


"Apa kau sedang bersama seseorang, Via?" tanya Sam. Ya, aneh saja. Ini sudah dini hari, tapi kenapa Via masih bersama seseorang, terlebih lagi itu pria. Ya bukannya Sam ingin mencampuri urusannya sih. Tapi...


"Aku sedang bersama Bryan," jawab Via datar.


Astaga. Apalagi ini. Sam tidak habis pikir. Untuk apa Bryan ada disana bersama Via.


"Bryan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?" cetus Sam sangsi. Tidak bisa dibiarkan, awas saja jika Bryan melakukan sesuatu pada Via. Sam akan membayarnya jadi 2 kali lipat.


Via terkekeh, "Tidak, Sam. Dia tidak melakukan apapun padaku. Aku sedang mencari rumah, karena aku ingin pindah. Kebetulan dia memiliki rumah yang kosong, dan letaknya ternyata tidak jauh dari rumah sakitku,"


Sam mengangguk-angguk mengerti, bibirnya ber-oh ria dengan panjang. Sedikit tidak masuk akal, karena jika memang Via ingin mencari rumah kenapa tidak besok saja. Tapi sudahlah, Sam tak ingin memperpanjang lagi, kelihatannya Via juga tak ingin membicarakannya lebih lanjut.


"Katakan padaku jika dia melakukan sesuatu padamu. Aku akan memberikan pelajaran untuknya," gurau Sam sambil cengengesan.


Rasanya menyenangkan jika bisa memberikan Bryan pelajaran. Pasti itu seru sekali, kan.


"Baiklah. Jika tidak ada lagi. Akan kututup. Selamat malam, Sam,"


"Selamat malam, Via"


Bip....


Sambungan telepon terputus. Entah kenapa Via dan Bryan menjadi dekat. Tapi Sam kira itu suatu hal yang bagus, mengingat jika Bryan juga bukan orang jahat.


Apa Bryan serius ingin mengejar Via? Ya, dia tadi terlihat tertarik sih dengannya. Baguslah jika memang begitu, Sam turut berbahagia jika Bryan bisa mendapatkan Via.


Saat ini Sam hanya memiliki waktu tiga hari untuk membawa kembali pamannya, Sebastien untuk pulang ke Indonesia.


Selama waktu tiga hari itu, Sam harus dengan baik menggunakan waktunya. Memang, Sebastien, cukup keras kepala, tapi jika Sam yang memintanya, pamannya itu pasti akan setuju.


Setelah membawa Sebastien pulang, Sam tidak akan ada lagi urusannya dengan soalan apapun tentang perusahaan. Kursi Presiden Direktur, Sam yakin akan jatuh ketangan pamannya, Sebastien. Karena pamannya, Scott, tidak akan bisa mempertahankannya.


Sam bukannya tak tau kejahatan apa saja yang telah dilakukan oleh Scott. Karena Sam sudah meminta Bryan untuk menyelidikinya. Beruntung Bryan begitu cekatan, dalam sekejap dia mendapatkan bukti tentang penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Scott.


Ini akan dia gunakan untuk melawan Scott dalam rapat umum pemegang saham nanti. Dengan begitu, Dewan Direksi akan memilih Sebastien sebagai Presiden Direktur selanjutnya. Ya, kecuali orang-orang yang memang sudah disuap oleh Scott, yang akan tetap memilih Scott.


Pertama-tama, pamannya itu pasti akan merasa heran jika Sam mengunjunginya tiba-tiba. Sam akan mencari alasan yang bagus untuk itu. Mungkin jika alasan dirinya rindu pada pamannya, tidak akan membuat Sebastien curiga.


Ah apa Sam langsung katakan saja maksud dan kedatangannya ya. Karena hanya tiga hari waktu yang diberikan oleh Scott.


Ya lebih baik begitu.


Sam mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah bernuansa klasik ini. Apa ya yang disembunyikan di rumah ini. Karena sepertinya tidak ada apa-apanya disini. Tapi kenapa Scott begitu keukeuh ingin Sam pindah dari tempat ini.


Apa mungkin kakeknya ada menyembunyikan sesuatu darinya? Sam penasaran. Rasa penasarannya ini akan mendarah daging jika tak dilampiaskan.


Sam bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar kakeknya yang tidak dikunci itu. Walaupun demikian, Sam selalu minta orang lain untuk membantunya membersihkan rumah, dan Sam sudah berpesan untuk membersihkan kamar kakek juga.


Untuk itu, Sam tak pernah menguncinya.


Sam melangkah masuk ke kamar yang selama ini kakek tempati. Kamarnya masih sama seperti yang terakhir kali ditinggalkannya.


Sam menyusuri setiap sudut kamar ini. Apa kakek menyembunyikannya di kamarnya ya.


Karena ingin cepat, Sam pun mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikannya petunjuk untuk menangkap maksud Scott tadi itu. Sesuatu yang tersembunyi pasti ada di rumah ini.


Tapi setelah beberapa kali mencari dilaci meja, dilemari baju, hingga dibawah bantal pun tetap tidak menemukan apapun.


Apa mungkin bukan di kamar kakek? Lalu dimana? Apa di gudang? Sam memang belum memeriksa secara menyeluruh isi gudang. Toh tidak ada yang perlu diurusnya di gudang itu.


Mungkin jika senggang, Sam akan memeriksa gudangnya.


Seketika Sam menguap lebar, melihat jam ditangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 4 dini hari.


Sam mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya ke seseorang.


Setelah melakukan itu, dia keluar dari kamar kakek, dan berjalan masuk ke kamarnya sendiri.


BRUKK!!!!


Sam dengan leluasa melepaskan kepenatan yang dari tadi melandanya diatas ranjangnya yang empuk.


Pikirannya tiba-tiba terlintas si gadis payung. Ah rasanya begitu merindukannya, Sam ingin pergi melihatnya namun sayang untuk 3 hari kedepan hal itu tak bisa dia lakukan.


Sam sudah memeriksa ponselnya sedari tadi, berjaga-jaga jika ada telepon masuk dari keluarga yang saat ini menampung gadis payung. Tapi ya begitulah, tak ada panggilan masuk apapun.


Kira-kira apa yang dilakukannya saat ini ya. Mengingat ini jam 4 pagi, pasti dia sedang tidur kan. Sepertinya sebelum berangkat menjemput pamannya, Sam bisa menemui dulu gadis itu barang sejenak saja.


Daripada mati penasaran karena memikirkan bagaimana kondisinya.


Sam akan melakukan berbagai upaya untuk mengadopsi dia. Tapi sepertinya itu bukan hal yang mudah.


Sam menghela napas panjang, tangan kanannya dia letakkan diatas keningnya, matanya terpejam. Dalam kepalanya, dia teringat bagaimana gadis kecil itu tersenyum, dan tertawa lalu menangis kemudian tertawa lagi dan berbagai raut wajah lainnya.


Mungkin jika Sam berhasil mengadopsinya, Sam akan membawanya pergi meninggalkan Jakarta. Itu adalah rencananya. Tapi itu jika dia berhasil menjadikan gadis itu sebagai anak adopsinya, juga jika Sam berhasil menjadikan pamannya, Sebastien sebagai Presiden Direktur selanjutnya.


Lambat laun kesadaran Sam menipis, hingga akhirnya benar-benar tak sadarkan diri. Sam tertidur sembari memikirkan gadis itu.