
"Semua yang kau butuhkan ada di kamar"
Via sekali lagi mengangguk mengerti dan berterima kasih pada Sam.
"Lebih baik kau cepat beristirahat. Aku ingin membersihkan dulu luka-luka ini" katanya sembari menunjuk darah yang sudah mengering di tangannya.
Via jadi tak enak hati. Sam sudah begitu baik padanya, tak mungkin dia memalingkan wajah dari luka-luka Sam yang sangat mengerikan.
"Kalau kau tak keberatan. Aku ingin membantumu merawat lukamu. Terutama yang di punggungmu itu" tawar Via.
Tatapan matanya tertuju lurus pada Sam. Tapi Sam tidak bergeming dan diam saja. Memikirkan penawaran Via.
"Tak perlu dipikirkan. Aku-"
Belum sempat Sam menyelesaikan kalimatnya, Via sudah memotong pembicaraan.
"Aku berkeras Sam. Kau terluka karena ku. Setidaknya biarkan aku merawat luka-lukamu" kata Via sedikit menaikkan intonasi nada bicaranya.
Sam agak terkejut mendengar Via berkata seperti itu, tapi akhirnya mengiyakan keinginan Via.
"Baiklah. Terima kasih"
Via tersenyum puas. "Aku akan membersihkan tubuh dulu"
"Ya"
Setelah mendengar Sam mengatakan itu, Via masuk ke kamarnya dan dengan cepat membersihkan seluruh tubuhnya.
Rasanya begitu menyegarkan saat air dingin menyentuh kulitnya. Membuatnya jadi melupakan semua rasa letih yang melandanya.
Via tak menyangka jika pria itu datang kembali. Memang tak ada cara lain untuk membayar hutang keluarganya untuk itulah ayah dan ibunya tega menjualnya pada pria tadi.
Itu juga salah satu hal yang membuat Via akhirnya datang ke Jakarta. Kalau bisa Via tak perlu bertemu lagi dengan kedua orang tuanya.
Rasanya begitu menyakitkan saat kau dijual oleh keluargamu sendiri. Apakah uang memang lebih penting daripada keberadaan seseorang.
Via tak habis pikir lagi dengan perilaku kedua orang tuanya dan Via juga tak mungkin bisa memaafkan untuk hal yang satu itu.
Via merasakan tubuhnya sudah menggigil, dengan cepat ia memakai jubah mandi dan keluar dari kamar mandinya.
Kamar ini benar-benar lengkap, semua sudah tersedia. Namun satu hal yang Via lupa bahwa tidak ada pakaian ganti untuk dirinya.
'Duh. Aku harus memakai apa?' batin Via mendesis
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan cepat Via membuka pintu itu dan memunculkan Sam dari balik pintu.
"Ada apa?" tanya Via terkejut
"Ah... Hmmm" Sam tampak gugup
"Kenapa Sam?" tanya Via lagi tak sabaran
"Aku tau didalam tidak ada baju ganti dan kau pun tidak membawanya. Aku ingin meminjamkan ini padamu" kata Sam tampak salah tingkah sembari menyodorkan sebuah kaus berwarna hitam dan sebuah celana pendek selutut.
Via tersenyum senang. "Terima kasih. Kau begitu perhatian, Sam"
Pujian Via membuat Sam semakin salah tingkah. Reaksinya begitu lucu dan menggemaskan, tak tahan Via ingin mengerjainya lagi.
"Kalau begitu aku akan memakai ini" ujar Via yang dibalas anggukan oleh Sam.
Sam pun segera berlalu dari hadapan Via, kemudian dia menutup pintu dan memakai pakaian yang baru saja diberikan oleh Sam.
Namun sesuai dugaan Via bahwa pakaiannya akan terlihat begitu kebesaran ditubuhnya. Benar-benar tenggelam tubuh Via memakai pakaian Sam.
Tapi tidak apalah, daripada memakai pakaian kerjanya yang sudah lusuh dan tak tau lagi bagaimana bentukannya.
Setelah beberapa saat mematut dirinya dicermin, Via keluar dari kamar. Selanjutnya adalah membantu Sam merawat lukanya.
Via tak bisa membayangkan bagaimana Sam sanggup menahan rasa sakit lukanya yang semakin bertambah.
Karena Sam tidak mengungkit sedikitpun tentang hal itu. Tapi sebenarnya untuk apa juga Sam bertanya, toh hal itu bukan urusannya.
Via berjalan keluar kamar dan menemukan Sam tengah berkutat dengan Kotak P3K dihadapannya.
Dengan perlahan Via mendekati Sam, dan Sam menyadari kedatangannya.
"Kau tak perlu khawatir" katanya langsung seolah-olah tahu apa yang Via pikirkan.
Via terkekeh-kekeh. "Kau bisa membaca pikiran orang ya?"
"Tak butuh cenayang untuk tahu apa yang kau pikirkan, Via" balas Sam santai.
Via duduk disamping Sam, "Biar aku saja. Aku lebih terlatih daripada kau"
"Baiklah" balas Sam tak ingin mendebat Via
Via mengobati satu persatu luka yang ada ditubuh Sam. Mulai dari telapak tangannya, juga sela-sela jarinya.
Via bergidik ngeri melihat goresan kaca yang membelah telapak tangan Sam. Beruntung tidak begitu dalam.
"Jadi kau ceritanya melarikan diri dari rumah?" celetuk Sam membuka obrolan.
Gerakan Via yang sedang membersihkan lukanya itupun terhenti.
"Ya. Itu adalah salah satu alasan" jawab Via pendek
Sam terlihat tak puas mendengar jawaban Via itu, dia sampai mengernyitkan dahinya.
"Lalu kenapa kau bisa sampai dijual oleh orang tuamu?"
Mendengar pertanyaan itu, Via menahan napasnya.
"Maaf, aku tak bermaksud untuk menyinggung hal itu. Hanya saja-" Sam menggantungkan kalimatnya. Tidak melanjutkan lagi kata-katanya setelah dia melihat Via yang terdiam dan tegang.
Untuk menenangkan Via, Sam mengibaskan tangannya, "Tidak apa-apa. Lupakan saja" ujar Sam tak ingin Via sedih lagi.
Tapi Via justru menggelengkan kepalanya, mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sam jadi tak enak hati. Rasanya ingin ia menarik kembali ucapannya tadi sehingga tak perlu membuat Via sakit hati.
"Kau tau bukan, ayahku sangat suka berjudi. Seluruh harta kami hanya dihabiskan untuk mengikuti judi. Sedangkan ibuku sangat suka berbelanja. Kami awalnya baik-baik saja dalam hal keuangan hingga ayah tak bisa lagi mengontrol keinginan berjudinya"
Via menghembuskan napas panjang dan menatap Sam lalu menyunggingkan senyum menyedihkan.
"Ya. Kau tau lah apa yang terjadi selanjutnya. Karena kesukaannya berjudi, ayahku berhutang pada pria tadi, pun ibuku juga ikut serta menumpuk hutang dan berakhirlah dengan mereka yang menjual ku"
Mata Via yang menatap lurus pada Sam terlihat berkaca-kaca. Entah mengapa rasanya Sam ingin memberikan pelukannya untuk Via, hanya untuk mengatakan pada Via bahwa dia sudah berjuang keras dalam menjalani kehidupannya. Tapi Sam tak bisa melakukannya. Tak mungkin Sam lakukan padahal hubungan mereka hanya sebatas teman saja, karena Sam sama sekali tidak memiliki perasaan untuk Via.
Sam mengangkat tangannya yang bebas lalu menepuk-nepuk puncak kepala Via, menyunggingkan senyuman hangat agar Via merasa rileks.
Tapi justru hal yang Via lakukan selanjutnya sungguh diluar dugaan Sam. Via berhambur masuk kedalam pelukannya.
Padahal Sam tidak bermaksud seperti itu. Tapi mungkin Via membutuhkan seseorang untuk tempat dia bersandar dan berkeluh kesah, menumpahkan segala isi hati yang sudah dipendamnya. Hingga rasanya tak tertahankan lagi.
Sam menghela napasnya, lalu dengan perlahan mengarahkan tangannya ke punggung Via, menepuk-nepuknya dengan perlahan.
"Kau sudah melakukan yang terbaik. Menangislah. Tumpahkan segalanya" ujar Sam berbisik pelan.
Via yang sedang berada dalam pelukan Sam, menangis dengan tersedu-sedu. Dari tangisannya saja, Sam tau jika Via sudah memendam hal ini begitu lama, juga sudah lelah untuk menghadapinya. Tak tau bagaimana lagi ingin menjalani hidup. Sam terkesan bagaimana Via mampu menahan ombak besar yang datang dalam hidupnya.
4 tahun berlalu sejak mereka terakhir kali bertemu, dan semenyakitkan ini yang dilalui oleh Via.
Sama seperti Gadis Payung.
Ah. Lagi dan lagi selalu terlintas dalam pikirannya tentang gadis kecil itu.