MY LIFESAVER & I

MY LIFESAVER & I
Tempat Tinggal Baru



Via melangkahkan kakinya masuk ke rumah kontrakan yang sudah dia tinggali sejak kedatangannya ke Jakarta ini.


"Itu tadi kekasihmu?"


Sontak Via menghentikan aktivitas berjalannya saat pertanyaan itu terlontar untuk dirinya.


Via menolehkan kepalanya menatap sinis pada wanita yang kekasihnya sedang menggerayangi dia.


"Bukan urusanmu" balas Via pedas lalu segera berlalu dari hadapan mereka berdua.


Begitu menjijikkan. Bagaimana mungkin mereka bisa bermesraan secara terbuka seperti ini. Apa mereka itu tidak malu atau bagaimana.


"Kau terlalu kaku, Via. Cobalah lebih rileks sedikit. Pantas saja tidak ada yang mendekatimu" celotehnya santai sembari membalas perlakuan kekasihnya yang sedang meraba-raba seluruh tubuh wanita itu.


Via tak menoleh melihat lagi kearahnya karena dia merasa matanya akan ternodai jika melihat hal seperti itu.


Namun dia rasa dia harus menyampaikan hal ini.


"Kupikir sebaiknya kau tidak mengekspos hubungan intimmu didepan umum. Kau tau, aku merasa sangat terganggu"


Setelah mengatakan sindiran itu Via naik ke lantai 2 karena kamarnya berada disana. Via tak peduli dengan ucapan tak terima yang terlontar dari wanita tadi.


Tadi beberapa teman yang satu kontrakan dengannya juga melihatnya dengan tatapan tak suka dari balkon lantai 2. Hal itu tertangkap oleh Bryan.


Ah kira-kira apa yang dipikirkan Bryan mengetahui bahwa dirinya tidak tinggal bersama orang tuanya.


Tapi buat apa juga dia peduli tentang hal itu. Tidak ada urusannya dengan Bryan kan.


Via merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi dengan gambar bintang-bintang yang akan bersinar jika lampu dimatikan. Konsepnya seperti glow in the dark


Kepalanya memikirkan kembali ucapan Bryan. Via tak mungkin bisa berbohong jika dia memiliki teman seperti Bryan ini.


Sangat sulit karena Bryan bisa menebaknya jika dia sedang berbohong.


Kenapa dia merasa awas jika berteman dengan Bryan. Dia seperti pria yang berbahaya untuk Via.


Via hanya tak habis pikir jika Bryan dengan mudah menebak perasaannya. Bahkan Sam saja tidak pernah tau.


Mungkin karena Bryan adalah orang yang peka akan sekitarnya. Namun peka Bryan ini seperti sudah melewati batas.


Beruntung hari ini Via sudah meminta untuk libur, jadi dia akan istirahat saja.


Bagaimana Sam saat ini ya.


Dia sedang bersama dengan gadis kecil itu kan sekarang. Kalau Via menghubunginya, mungkin Via akan terlihat seperti mengganggunya.


Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk menghubungi Sam.


Sam saat membicarakan gadis kecil itu kenapa jadi sangat bersemangat ya.


Ah juga tentang keinginannya yang ingin mengadopsi gadis kecil itu.


Via yang hanya berperan sebagai temannya tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam keputusan Sam kan.


Jika memang Sam memiliki niat seperti itu, tentu itu sangat bagus kan. Karena gadis kecil itu akan memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.


Via menutup matanya. Oh iya dia jadi teringat bahwa Sam memintanya untuk menghubungi orang tuanya.


Huh rasanya malas sekali. Mendengar suara mereka saja sudah memuakkan untuk Via.


Via memanyunkan bibirnya karena kesal, tangannya merogoh-rogoh tasnya mengambil ponselnya.


Mencari kontak ibunya dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.


'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan'


Via mengernyit saat operator telepon mengatakan bahwa nomor ibunya sedang tidak aktif.


Wah ini tumben sekali. Karena ibunya itu selalu mengaktifkan ponselnya selama satu hari penuh.


Tapi bisa saja ibunya lupa untuk mengisi daya kan yang menyebabkan ponselnya mati. Atau mungkin ibunya sedang ada kegiatan lain yang mengharuskannya untuk mematikan ponselnya.


Via pun tak ambil pusing dan melemparkan ponselnya begitu saja keatas ranjang. Tidak menaruh curiga sama sekali.


Dia akan menghubungi lagi ibunya nanti.


Sedangkan ayahnya, Via malas jika harus menghubungi ayahnya. Pasti dia saat ini tengah berjudi bersama teman-temannya, mempertaruhkan semua uang yang dia punya.


Sungguh ayah dan ibunya sudah tidak bisa lagi dia selamatkan. Sudah terlalu terjerumus pada permainan dunia yang begitu menggiurkan.


Via tak habis pikir lagi. Beruntung dia juga sudah meninggalkan mereka berdua.


Hidup seperti ini rasanya lebih baik.


Via kembali menutup matanya. Dia ingin tidur. Berbagai hal yang terjadi membuat otaknya lelah mencernanya.


Istirahat sebentar akan membuatnya kembali pulih.


***


Sam tengah berbahagia manakala mendengar bahwa ada seorang dermawan yang begitu baik hati memberikan tempat tinggal untuk korban kebakaran yang saat ini tengah mengungsi.


Disebuah rumah susun yang tidak jauh dari wilayah ini, memang masih banyak kamar yang kosong. Untuk itu pemilik rumah susun itu bersedia memberikan ruang tersebut untuk mereka.


Setidaknya sampai mereka mampu mengumpulkan uang lagi ataupun sanggup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Ya menurut Sam itu juga sudah cukup.


Mereka tidak perlu lagi tinggal diposko ini. Begitu juga dengan Gadis Payung.


Semua menyambut kabar itu dengan begitu gembiranya. Tak menyangka pertolongan Tuhan begitu membuat mereka tersentuh.


Ternyata memang masih banyak orang baik didunia ini.


"Jadi kau akan tinggal disana, bukan?"


Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat.


"Dia akan tinggal bersama kami" sahut seorang ibu-ibu yang sedang berdiri berdampingan bersama suaminya.


"Kita akan tinggal bersama" ujar salah satu teman gadis itu yang merupakan anaknya si ibu sambil menggenggam erat tangan Gadis Payung.


Sam tersenyum begitu tersentuh.


Ah bagaimana ini jika dia mengadopsi anak itu. Sam memang belum menceritakan ini karena Sam tak tau harus bertanya pada siapa.


Gadis itu tidak memiliki wali dan itu akan semakin menyulitkan proses adopsi. Seperti saat ketika dirinya berada di panti asuhan. Kakek dengan mudah mengadopsinya karena ada yang menjadi walinya yaitu Ibu Panti. Toh dapat dikatakan bahwa kakek bukan mengadopsinya tapi mengambilnya kembali.


Mungkin sebaiknya dia juga menunggu informasi dari Bryan terkait hal ini.


Bryan sudah setuju untuk membantunya.


"Kapan kalian akan pindah?" tanya Sam pada ibu-ibu yang tadi katanya akan tinggal bersama Gadis Payung.


Ibu itu tersenyum menanggapi Sam. "Besok. Besok kami akan pindah kesana"


Sam ikut lega mendengar itu.


"Bisa saya bicara dengan kalian?" kata Sam tertuju lurus pada si ibu.


Si ibu dengan suaminya pun mengangguk.


Sedangkan Gadis Payung dan anak dari ibu itu sudah bermain bersama.


"Ada apa?"


Sam tersenyum simpul.


"Jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu nanti, bisakah tolong hubungi saya?"


Ibu dan suaminya itu saling berpandangan. Yah mereka pun juga sudah tak heran karena Sam yang menyelamatkan gadis itu, juga beberapa kali datang ke posko hanya sekedar untuk bermain dengannya.


"Tentu. Kami akan memberikan kabar jika sesuatu terjadi" sahut suaminya dengan senyuman sumringah diwajahnya.


Sam pun mengeluarkan kartu nama dari dompetnya lalu memberikannya pada si bapak.


"Ini kartu nama saya. Langsung saja hubungi saya jika ada sesuatu dan jika Anda membutuhkan bantuan saya. Saya merasa senang karena Anda dengan baik hati membiarkan gadis itu tinggal bersama" suara Sam terdengar parau.


Kenapa hatinya jadi begini lemah ya. Dia pun tak mengerti.


Si ibu tertawa canggung. "Tidak apa-apa. Kami juga mengerti dengan kondisinya saat ini. Menerimanya bukan suatu hal yang berat untuk dilakukan"


Mereka sudah seperti memahami apa yang dirasakan oleh gadis itu. Oleh karena itu mereka tak segan untuk membantunya.


"Terima kasih atas kebaikan Anda"