
Via sudah ketakutan setengah mati, saat pria jahat itu menghempaskannya ke lantai dengan begitu kasarnya. Kaki Via yang tadi terkilir jadi semakin sakit tak karu-karuan.
Dengan senyum menyeringai penuh kemenangan, pria itu menatap dengan ganas kearah Via. Bahkan membuka beberapa kancing kemeja yang dipakainya.
"Apa kau tau, jika aku begitu bergairah saat melihatmu? Sejak tadi siang saat kita bertemu. Kau sudah menarik perhatianku" katanya lembut ditelinga Via, napasnya menyapu panas dikulit Via yang langsung membuat Via merinding sekujur tubuhnya.
'Ya Tuhan, dimana Bryan' batin Via dalam hati.
Hanya Bryan yang bisa Via andalkan dalam situasi ini. Kakinya sudah tak sanggup lagi jika harus berjalan, bahkan rasanya pun untuk menyeret tubuhnya sudah tak mampu.
"Kau itu terlihat begitu cantik, dan mempesona. Benar-benar sesuai dengan keinginanku" lanjut pria itu sembari memainkan rambut panjang Via.
Via menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik pria itu yang seperti akan melahapnya hidup-hidup. Pancaran mata pria itu terlihat ganas, penuh gairah dan *****.
GUBRAKKK!!!!
Suara dobrakan pintu, mengagetkan Via dan juga pria itu yang langsung membuat mereka melihat kearah pintu. Via tak menyia-nyiakan kesempatan, dia pun mendorong pria itu menjauh dengan sisa-sisa tenaganya. Kemudian menyeret tubuhnya dengan susah payah menjauh dari sana.
Dia yakin tadi itu pasti Bryan.
Pria itu sudah tak lagi memperdulikan Via, karena dia saat ini begitu marah ada seseorang yang berani mengganggu aktivitasnya. Tentu dia tidak akan memberikan ampun pada siapapun yang telah merusak momennya.
"Siapa kau!" kata pria itu pada sosok didepannya, berdiri tegap, dengan badan yang terlihat kekar. Dari bayangannya saja pasti tau.
Bryan, saat ini benar-benar marah. Tapi dia menahan diri karena sudut matanya menangkap bayangan Via yang tengah meringkuk didinding. Walaupun ruangan penuh dengan kegelapan tapi tidak berarti mati total karena lampu teras rumah dihidupkan, jadi masih ada pantulan cahaya dari luar.
"Kau sudah menggangguku kawan, aku tidak mengenal kau siapa.Tapi kuperingatkan kau untuk segera pergi. Karena aku tak akan segan untuk menghajarmu" ujar pria itu dengan nada merendahkan.
Bryan tersenyum simpul, tentu tak bisa dilihat oleh pria itu. "Kau banyak bicara, dasar brengsek!"
BUKK!!!!
Bryan memberikan satu pukulan diperut pria itu tanpa pria itu tau jika Bryan tengah mengumpulkan kekuatannya. Dengan pukulan sekuat tadi, pria yang ingin berbuat jahat pada Via pasti akan mengalami kesakitan yang parah.
Bryan sama sekali tidak memberikan celah padanya untuk membalas pukulan yang dia hantarkan.
"Kau itu bukan tandinganku. Aku bisa mematahkan semua tulang-tulang tubuhmu dengan begitu mudahnya" kata Bryan dingin tepat ditelinga pria itu.
Seketika sensai pembunuh dari aura Bryan mencuat keluar.
Via yang sedang meringkuk didinginnya dinding pun tiba-tiba jadi gemetar ketakutan karena rasanya sama saat dia bersama Sam. Saat Sam menghajar preman-preman yang telah menculiknya itu. Via semakin mengeratkan pelukannya untuk mengurangi ketakutan yang semakin menjadi.
Bryan menghempaskan dengan kasar tubuh pria yang tadi dihajarnya habis-habisan. "Sebaiknya kau pergi sekarang jika kau tak ingin aku menghajarmu lebih banyak lagi" ucap Bryan kejam. Dia saat ini sedang tidak menerima belas kasih karena Bryan benar tak segan untuk membuat pria itu patah tulang ataupun sampai membuatnya kehilangan nyawa.
"Aku akan membalasmu!" balas pria itu dengan penuh penekanan dan ancaman.
Bryan hanya mengangkat bahu tanda tak peduli. "Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan" katanya datar. Pria itu dengan susah payah bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah, tertatih-tatih.
Pria tadi sudah pergi. Kini tinggal Bryan dan Via ditengah ruangan yang gelap itu.
"Aku akan menyalakan lampunya" kata Bryan sembari mencari-cari dimana letak sakelar lampu ruangan ini. Via pasti takut jika Bryan mendekatinya saat ini. Jadi dia pikir lebih baik untuk menyalakan dulu lampu agar Via bisa melihatnya dengan jelas.
CTAKKK!!!!
Bryan menemukan sakelarnya dan menekannya. Seketika ruangan pun menjadi terang benderang. Bryan menoleh dan mendapati Via tengah bersandar pasrah didinding, wajahnya begitu ketakutan.
Bryan tak berani mendekat. Bahkan selangkah kaki pun tak dia lakukan. Dia hanya memandang datar pada Via yang juga membalasnya. Via tidak mengeluarkan sepatah kata pun, mungkin karena terlalu syok dan takut akan kejadian yang barusan menimpanya.
Bryan pun menyandarkan tubuhnya didinding tapi tidak melepaskan pandangannya dari Via.
"Apa kau ingin pergi dari sini?" tanya Bryan pilu melihat Via.
Detik-detik terlewati. Tapi Via tak kunjung memberikan jawaban. Bryan menghela napas, memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Rasanya ingin memeluk Via saat ini.
"Kau ingin ke hotel? Atau mungkin rumah kerabatmu?"
Via hanya memandangi Bryan saja. Lebih baik memang ke hotel saat ini, karena dia tak punya tujuan lain. Tapi entah kenapa berada dikamar hotel sendirian membuatnya jadi sedikit trauma. Takut jika pria tadi mendatanginya di hotel.
Sedangkan kerabat. Oh tidak. Via kan tidak memiliki kerabat di Jakarta. Via ingin segera meninggalkan tempat ini, tapi dia butuh waktu untuk pindahan.
"Via, bisa kau tolong jawab aku. Katakan kau ingin pergi kemana" ujar Bryan frustasi, dia tampak mengacak rambutnya. Rambutnya dipotong dengan gaya short dan spiky. Yang bagian atasnya dibuat meruncing dan sisi kanan dan kiri dipotong tipis. Untuk memancarkan aura maskulin.
Juga dengan rambut-rambut halus yang mulai tumbuh disekitar wajahnya. Ala-ala David Beckham. Itu membuatnya terlihat begitu manly.
"Via, kenapa kau diam saja?"
DEG!
Via terkejut saat Bryan sudah berhenti didepannya. Kapan Bryan beranjak dari tempat dia berdiri tadi, kenapa Via tidak menyadari jika Bryan berjalan kearahnya. Apa karena Via terlalu fokus memperhatikan Bryan.
Via mendadak menyilangkan tangannya memasang tameng, berjaga-jaga jika ada seseorang yang ingin menyakitinya.
Bryan ingin mengelus dada. Tapi tak dia lakukan.
"Ini aku, Via. Bryan" kata Bryan lembut.
Karen Via tak kunjung menjawabnya membuat Bryan jadi tak sabaran dan mendekati wanita itu, tapi sepertinya Via tidak menyadari dirinya yang berjalan kearahnya.
Via masih mencari-cari bukti dimata Bryan, jika pria itu memang benar Bryan.
Dua hari terakhir ini benar-benar menguras traumanya. Diculik oleh mantan tunangannya lalu hampir dilecehkan oleh pria yang bahkan tak dia kenal.
Tentu membuat Via jadi lebih waspada, walaupun kenyatannya dia mengenal Bryan.
Via begitu lama memandangi wajah Bryan memastikan bahwa itu memang dia. Lalu menghembuskan napas lega saat dia yakini jika itu memang Bryan.
"Maaf"
Satu kata yang meluncur dari bibir Via setelah sekian menit lamanya Bryan menunggunya untuk membuka suara.
Bryan tersenyum lembut dan tampak lega. "Tidak apa, aku mengerti kau pasti syok kan. Katakan kau ingin pergi kemana. Aku akan mengantarkanmu"
Via seketika menundukkan wajahnya, dia bingung harus menjawab apa. Tapi untuk malam ini saja tidak apa kan jika dia menginap di hotel. Pasti tidak akan terjadi apa-apa kan.
"Bawa aku ke hotel saja" balas Via serak.
Bryan mengangguk. "Baiklah" katanya lalu berdiri. Bryan mengedarkan matanya kesekeliling rumah, sepi. Hanya ada Via sendiri pantas saja pria tadi berani masuk.
"Aduhh!" rintih Via saat dia mencoba untuk berdiri dengan menahan tangannya didinding. Kakinya sungguh terasa sakit, berdenyut-denyut.
Bryan yang mendengar itupun sontak melihat kearah Via, terutama kakinya yang jadi membengkak. "Kau terluka. Lebih baik kita ke rumah sakit dulu"
Via menggeleng, "Tidak apa. Aku akan mengobatinya sendiri nanti" tolak Via cepat.
"Itu bahaya, Via. Kita ke rumah sakit sekarang"
"Tidak perlu, Bryan. Tolong bawa aku ke hotel saja"
Bryan menghela napas panjang. "Aku berkeras Via" katanya dengan datar dan tak ingin ada bantahan.