
Beri saran (KOMEN) dong~
Srassh~
Suara nyaring yang terpantul dari dalam kamar mandi, mengisi indra pendengaran seorang makhluk yang masih setia dengan selimut tebal.
Kriet..
Ceklek.
"Eoh? Yoona-yaa~ apa kau tidak ingin pergi ke sekolah?".
Taehyung baru saja selesai dengan acara bersih bersihnya. Sedangkan sang istri masih terkapar lemas di atas ranjang besar itu.
"Haish jinjja, dia pasti merasa kelelahan." Ucap Taehyung saat sedang mengambil beberapa setel kemeja kerja hari ini. "Hmm?? Aakh ck. Aku harus mengenakan yang mana?". Mata Taehyung terus tertuju pada beberapa pilihan yang ada di hadapannya sekarang.
"Aigoo~ gunakan saja yang warna biru tua dengan dasi hitam dan jas berwarna hitam itu~ ahjusshi itu sudah besar, kenapa masih harus bingung hanya dengan pilihan bodoh hah? P A Y A H!"
Tiba tiba saja makhluk yang tadinya masih tertidur pulas, kini sudah bangun dan mengomeli Taehyung yang teramat pusing akan pilihan baju kerja.
"Yak yak! Berani sekali kau mengataiku seperti itu eoh?!"
Dengan manik sendu dan tatapan polos seorang yang baru bangun tidur itu terlihat sangat datar dalam menanggapi omongannya Taehyung.
Seolah ia mengatakan, 'Apakah aku terlihat peduli?' Arti yang benar benar bisa dibaca jelas oleh sosok pria di hadapannya saat ini.
"Kau! Aku ini adalah suamimu tidak sepan-"
"Sst ssst sssst. Diamlah! Bertengkar pagi pagi adalah hal yang paling aku benci. Jangan sampai aku juga membencimu, ingat itu ajusshi! Hoooam~" Yoona pergi masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa apa setelahnya.
"Haish~ mimpi apa aku kemarin malam hingga mau menikah dengannya??!"
* * *
Tak tak tak..
Tak ada suara lain kecuali suara peraduan antara piring kaca dan sendok. Jam yang sudah menunjukkan pukul 06:30 bergerak dengan lihainya, hingga ikut serta dalam mengisi susana sepi seisi rumah.
"Aku sudah selesai." Ucap Yoona setelah menengguk habis teh hangat miliknya.
"Hey! Mau ke mana?" Tanya Taehyung yang terkejut saat melihat pergerakan Yoona yang teramat buru buru.
"Mau pergi berburu."
"Eoh? Apa katamu, berburu? Haha yang benar saja?"
Dan setelah kalimat itu, Yoona yang memasangkan wajah datar beserta rasa kesal yang timbul secara bersamaan.
"Ck. Ajusshi ini bodoh sekali!."
Jleb
'Tercipta dari apa mulutnya ini?!' Dengan keterpaksa, hati kecil Taehyung memaki istrinya sendiri.
"Sudahlah, jika tidak ingin mengantar tak masalah. Aku pergi du-"
Grep.
Mengetahui kekesalan yang Yoona tunjukkan, Taehyung langsung menarik tangan kecil istrinya itu.
"Tunggu sebentar! Kunci mobilku ada di kamar."
Entah mengapa rasanya Yoona ingin tertawa sekarang juga. Melihat reaksi Taehyung yang lucu membuat perutnya terasa geli
Beberapa saat kemudian, sosok yang sedang ia fikirkan muncul tepat setelah ia membuka lebar pintu rumah.
"Yak, kajja!"
Ceklek.
Setelah menutup pintu dan menguncinya, merekapun jalan menuju mobil yang sudah terparkir rapi di garasi.
"Apa ada yang ketinggalan?"
"Emm anio."
"Baiklah, kita berangkat."
* * *
Dalam perjalanan juga tak ada sepatah kata yang lolos antara bibir masing masing. Mereka hanya bungkam dan saling fokus pada tugasnya masing masing.
Taehyung yang fokus menyetir mobil, dan Yoona yang fokus dengan ponselnya.
"Haah~ apa kita akan tetap seperti ini?"
Diam, sama sekali tak ada jawaban dari lawan bicaranya itu.
Taehyung yang sudah merasa lelahpun akhirnya menyerah. Sudah beberapa kali niatnya untuk mencairkan suasana, namun hasilnya tetap kosong. Istrinya sama sekali tidak merespon obrolannya. Bahkan ia hanya membalasnya dengan kata 'iya, hmm'. Demi apa itu adalah hal yang paling tidak Taehyung suka.
"Yoona." Panggilnya sekali lagi.
"Nee."
"Lain kali, panggil aku V saja" jelasnya pada sosok yang tengah sibuk dengan ponsel.
"Tidak mau." Jawab Yoona singkat.
"Awaeee??" Lama kelamaan kesabaran pria di sebelahnya bisa habis. Dan jika itu terjadi maka Yoona akan dalam bahaya tingkat 10.
"Namaku terlalu panjang saat kau sebut. Jangan panggil aku Taeh-"
"Aku memanggilmu ajusshi bukan?"
Diam. Masih diliatin. Kira kira begitulah pandangan mata Taehyung sekarang.
"Kau jahat sekali Yoona-yaa~" tiba tiba saja Taehyung kehilangan semangatnya untuk mencairkan suasana lagi.
Wajahnya tampak murung, cemberut, dan tampak sangat tidak baik.
Yoona yang menyadari akan perubahan raut wajah suaminya itu sebenarnya sedikit merasa kasihan. Dari kemarin selalu saja ia kasari, padahal Taehyung tidak melakukan kekerasan sama sekali padanya.
"Aish.. baiklah baiklah~ aku akan memanggimu V. Puas?!"
Terlambat, Taehyung sama sekali tidak merespon perkataan sang istri. Tidak, sepertinya dia sudah benar benar marah.
Pada akhirnya Yoona merasa bersalah dan takut. Takut jika sikapnya tidak dapat diterima oleh suaminya itu. Dan Taehyung bisa saja mengancam untuk memulangkannya ke rumah dan mengancam kedua orang tua Yoona.
Ah tidak! Itu tidak boleh terjadi. Yoona sangat menyayangi kedua orang tuanya. Terutama sang Appa!
"Oh! Apa kau tau V?"
"Tidak!" Taehyung langsung menjawabnya saat itu juga.
Tapi Yoona pantang menyerah,
"Kemarin Soobin oppa datang ke pernikahan kita!! Kyaaa aku senang sekali." Jelasnya pada Taehyung yang kini sedang fokus pada jalanan.
Benar benar marah adalah pemikiran Taehyung saat ini. Sepertinya ia juga kesal dengan usahanya yang telah Yoona siasiakan sejak tadi.
"Dia bahkan berpenampilan tampan! Wah, pantas saja semua wanita di sekolahku menyukainya!" Ucapnya sangat antusias pada sosok yang sedang memasang raut wajah acuh tak acuh.
'Ck. Apa dia benar benar marah? Apa yang harus aku lakukan? Aigoo~' ucap Yoona dalam hati.
"Kenapa kau tidak menikahinya saja?"
Deg.
Yoona langsung terdiam saat kata kata itu berhasil lolos dari mulut Taehyung.
"Jika begitu penilaianmu padanya, mengapa kau tidak menikah dengannya saja?"
Tidak bisa berkata lagi, rasa luka itu entah bagaimana bisa tergores lagi. Yoona menyesal sudah mengambil keputusan yang salah. Lawan bicaranya saat ini benar benar sudah marah. Dan lagipula, bukannya dia sudah menikah? Kenapa dia malah menceritakan pria lain kepada suaminya sendiri?
'Kau bodoh Yoona! Bodoh!!'
"Bukankah kau yang memaksaku untuk menikah denganmu?" Kini ia berusaha untuk tidak terbawa suasana.
"Ingatlah! Bukan aku yang ingin menikahimu. Tapi appa mu sendiri yang memaksaku untuk menikah dengan putrinya karena hutang yang terlalu menumpuk. Ingat itu!!"
Deg.
Hening, tak ada kata kata lagi yang keluar dari dalam ranum gadis itu. Ternyata selama ini ia sudah keluar dari zona kenyataan. Salah besar jika ia menganggap bahwa pria itu menyukainya.
Tak ada yang bisa ia katakan lagi, hanya bisa bungkam. Menyesali prilaku yang telah ia lakukan pada Taehyung tadi.
"Baiklah V, aku mengerti. Ah tidak, maksudku.. ajusshi!"
Tepat setelah Yoona mengatakan hal itu, mereka tiba di depan gerbang sekolah. Sebenarnya, saat mereka di rumah sebelum masuk ke dalam sekolahnya Yoona sangat ingin memeluk Taehyung sebentar. Tapi, karena tragedi yang barusan ia alami, pikiran yang semula sudah tertata indah kini menjadi berantakan. Bahkan mungkin hanya angan belaka.
"Kau tidak memelukku?"
Deg.
Rasanya ia ingin menangis, tapi bagaimanapun perkataannya berusan adalah fakta di balik semuanya. Sebenarnya dengan berat hati ia menolak permohonan Taehyung itu. Karena pada awalnya itu adalah renca gadis tersebut.
"Jangan bilang jika pelukan itu juga merupakan pelunasan hutang keluargaku."
Ceklek.. baam!
Yoona sengaja membanting kuat pintu mobil itu. Berharap pengemudi tersebut dapat mengerti perkataannya barusan.
"Haaahk.. Taehyung BODOH! BODOH BODOH BODOH!!" Sesalnya yang ia luapkan pada rambut dan stir mobil. Padahal, rambutnya sudah dengan susah payah ia tata rapi dengan sepenuh hati, tapi kini sudah menjadi sarang laba laba.
"SHIT!! padahal sedikit lagi! Sedikiiit lagi dia- aaakh! Memuakkan!"
Bruuum..
Ia menancap kencang kelajuan mobilnya meninggalkan sekolah Yoona.
* * *
Karena kejadian tadi pagi yang membuatnya merasa sangat sakit hati, selama jam pelajaran berlangsung Yoona sama sekali tidak memperhatikan papan tulis. Arah pandang yang selalu menuju keluar jendela. Merasa bahwa itu adalah keputusan yang sangat salah dalam seumur hidupnya.
"Haaah~ menyebalkan sekali!."
Rasa bersalahpun sebenarnya juga ia akui, tapi bukan kata kata seperti itu yang ia inginkan. Seolah Taehyung benar benar terpaksa untuk menjalani perjanjian dengan appa dan eommanya.
"Yoona~"
Sama sekali bukan hal yang baik bagi gadis yang masih duduk di bangku sekolah bukan?
"Yoona."
Bahkan anak anak remaja seusianya belum pernah mengalami hal yang serupa.
"YAK! YOONA-YAA!!"
Brak!
"Ah nee!"
Tiba tiba suasana kelas menjadi sunyi tak bersuara. Kira kira sudah berapa lama ia melamun? dan bisa bisanya ditegur dengan begitu keras oleh guru.
"Ah! Mianhe Mr.."
Benar benar tak ada yang bisa ia fikirkan sekarang. Seolah semua fikiran itu melayang di angkasa. Terbang bebas dan tak ingin kembali.
"Apa yang sedang kamu fikirkan eoh?! BERDIRI DI LUAR!"
Haah~ padahal baru pertama kali Yoona merasakan dirinya tidak berguna, ternyata alam mendukungnya juga.
"B- baik Mr."
Ia pun mengangkat bantalan duduknya menuju keluar kelas. Mau tak mau harus ia lakukan, jika tidak maka Yoona akan kehilangan harga dirinya.
"Haisssh~ mengapa pagi ini aku sial sekali?! Aku benci hari hari seperti ini!."
Dengan berat hati, Yoona menempelkan tubuhnya ke permukaan dinding kelas yang berada di luar. Menatap langit langit koridor, menggerakkan kecil kakinya, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap akan ada keajaiban yang datang membantunya.
"Hoooam~ akhir akhir ini aku lelah sekali. Hmm padahal baru 1 hari kami menikah, dia langsung memarahiku. Bagaimana jika 1 tahun?! Aaakh! Akan kubunuh dia lebih dulu!!."
"Siapa yang ingin kau bunuh?."
'Eh? S- siapa itu?' Dalam hatinya seperti mengenal suaranya.
"Eh! Soob-"
"Ssst... jangan berisik, nanti ketahuan!." Tanpa basa basi, Soobin langsung duduk di sebelah tubuh Yoona. Tampak sekali perbedaan diantara tubuh keduanya. Yoona yang kecil, sangat cocok menjadi makhluk yang pantas dilindungi. Dan Soobin yang besar sangat cocok memjadi perisai pelindung Yoona.
"Emm.. kenapa kau di sini?" Tanya Soobin pada makhluk di sebelahnya.
"Dihukum." Jawab Yoona singkat.
Soobin tahu, pasti karena mood-nya lagi buruk makanya Yoona sedikit menyeramkan.
"Wae?" Tanyanya lagi
"Haah~ entahlah, mungkin karena aku sedang sial saja." Jelasnya dengan malas.
"Emm Yoona."
"Nee~"
"Ayo ke kantin!"
Deg.
Tiba tiba Soobin mengajaknya ke kantin.
"Aissh! Kau tidak lihat apa, eoh?! Aku sedang di huk-"
"Banyak stok gula gula loh~ eoh?! Kemana dia?."
"Oppa lama sekali jalannya. Aku lebih dulu,"
Ternyata saat ia berbalik badan, gadis di hadapannya telah menghilang terlebih dahulu.
"Yak! Kau ini, tunggu aku! HEY!."
"Palliwa oppa! Aku tidak ingin kehabisan stok gula gulaku."
Merekapun pergi menuju kantin sekolah, di mana tempat itu adalah inti nyawa semua murid murid di sini.
Yoona berlompat ria sambil bersenandung, sehingga membuat tawa kecil dari balik ranum merah milik Soobin.
"Jalan yang benar Yoona-ya~ nanti kau-"
Bruk!
"Yaak! Kau-?! Akh ck, ayo berdiri!"
"Aaa!! Sakit oppa~"
Bahkan ia belum selesai mengatakan hal itu, tapi semua telah terjadi.
"Ck. Kau ini babbo!"
Ctak!
Satu sentilan lumayan kuat akhirnya mendarat tepat di dahi Yoona. Rasa malu bercampur dengan sakit yang telah bertambah menjadi dua kali lipat.
"Sudah aku katakan, jalan yang benar saja kau bisa terjatuh. Bagaimana jika melompat seperti tadi hah?!"
"Aku hanya ingin-"
"Sudahlah, lupakan saja. Ada hal yang lebih penting ingin aku bicarakan padamu. Kajja. Naik di punggungku!"
Yoona yang merasa yakin itupun akhirnya menuruti perintah Soobin untuk naik di punggungnya.
"Pegangan yang erat, nanti ja-"
"Iya iya! Kau tidak perlu menjelaskannya lagi padaku. Aku sudah mengerti!"
"Haaah, baiklah."
Hanya nafas pasrah saja yang bisa Soobin keluarkan. Selain cerewet, gadis yang ada di punggungnya ini benar benar merepotkan. Terkadang sangat suka membuang buang waktunya saja demi hal yang tidak penting. Ia sangat suka mengalihkan pembicaraan saat Soobin mengajaknya pulang. Ntah apa yang sedang ia inginkan sebenarnya. Soobin pun tidak mengetahuinya.
'Terkadang, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan oppa. Tapi akhir akhir ini aku dan oppa mulai memiliki kesibukan masing masing. Sebenarnya, ingin sekali aku mengatakan bahwa, aku sangat menyayanginya. Dia pahlawanku, dia super heroku, dan dia adalah kapten amerikaku'
'Sakit ini mungkin sangat tak berujung, tapi aku harus bisa mengakhirinya sampai di sini. Dia sudah berkeluarga, dan aku tak ingin menjadi batu di hadapan hubungan rumah tangga mereka. Maafkan aku jika sudah terlambat. Aku tau ini adalah kesalahanku. Seharusnya aku tak membiarkanku dibawa oleh orang itu ke dalam mobil. Dia adalah malaikat kecilku, dia Tingkerbelleku, dia Marriposaku.'
"Turun dan duduklah di sini, oke?"
Anggukan kecil terlihat dari pantulan poninya yang sangat imut itu.
"Akh! Ingin sekali aku menggigitmu. Jangan lakukan itu lag! Kau mengerti?!"
Setelah Soobin mengatakan hal yang aneh, ia langsung pergi memesan makanan.
'Ada apa dengannya?' Gumam Yoona yang tidak mengerti sama sekali perkataan Soobin barusan.
"Dia sedang bersama seorang pria, Tuan. Hmm baiklah, akan aku periksa lagi."
"Ah! Tuan, sepertinya aku mengenali wajah pria itu. Benar! Sepertinya dia yang kemarin. Baiklah Tuan, KERJAKAN!"
Pip.
* * *
16:20 wks
"Suga hyung, aku--"
Saat ini, suasana ruangan bernuansa abu abu gelap sedang dalam masa sama persis seperti warna dasarnya. SURAM.
"Aku mengerti bahwa kau sedang emosi. Tapi bisakah kau tidak mengatakan hal pahit itu?!"
"Yaak! Apa maksudmu eoh? Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnyakan??."
Brak
"Tolong kau pikirkan sekali lagi Taehyung! Dia adalah anak gadis yang masih sangat lugu. Baginya, perkataan seperti itu adalah hinaan terbesar. Seharusnya kau tau itu Taehyung! Kau melukai perasaannya!!!."
Tiba tiba Sugapun mulai ikut terbawa suasana dalam ruangan kerja mereka. Tangannya mulai terasa panas untuk memukul wajah Taehyung.
"Hahaha. Hyung, apa apaan kau ini eoh? Apa pentingnya itu semua? Dia hanya seorang gadis lugu? Hahaha justru itu adalah peluang terbesarku bukan?."
"Aku akan memulai semuanya dengan perlahan, memenuhi pikirannya hanya tentang diriku, merasa mati tanpaku dan akan jatuh pada-"
Bugh!
"Hah- hah- hah~"
"Hentikan omong kosongmu Taehyung! Aku menyuruhmu bukan untuk merusaknya! Aku menyuruhmu untuk-"
"Kau. Berani sekali memukulku hyung?!!"
"Taehyung. Aku harap kau hanya bisa mengerti perkataanku. Aku tidak bermaksud untuk-"
"Keluar." Ucap Taehyung dengan perlahan.
"Apa?"
"Aku bilang, KELUAR!!!."
Deg.
"Haah~" mendengar itu, Suga hanya bisa menghembuskan pasrah nafasnya ke udara. Bahkan, berkat cuaca dingin ini nafasnya kembali mengeluarkan asap tipis di ruangan itu.
"Pikirkan itu sekali lagi, Taehyung."
Ceklek.
Akhirnya dengan berat hati, Suga pergi meninggalkan ruang kerjanya bersama Taehyung.
"Aaaakh! Sial!!"
Brak!
"Aaakh!"
Prang.
* * *
"Oppa. Di sini saja tidak apa apa,"
Ternyata tujuannya sejak awal adalah,
"One G comphany? Apa dia bekerja di sini?,"
"A- tidak!"
"Lalu? Mengapa kau ingin aku mengantarmu ke sini? Kau ingin menemui siapa?,"
"Ahaha oppa, dia bukan hanya bekerja di sini,"
"Terus?"
"Dia adalah pemilik perusahaan ini."
"APA?!! Maksudnya?!!"
"Haah.. tidak perlu terkejut. Walaupun begitu yang bekerja bukanlah dia."
"Jadi yang bekerja, siapa?"
"CEO-nya, hebat bukan? Walau hanya menjalani amanah saja, tapi dia berhasil membangun gedung sebesar ini. Aku sangat bangga padanya."
"Ahahaha.. jika begitu, mengapa kau tidak menikah dengannya saja?."
Deg.
Yoona terdiam sejenak, lalu sekelebat ingatan tentang kata kata yang sama persis seperti apa yang Taehyung katakan tadi pagi, kembali ia ingat itu semua.
"Ah Oppa! sudah tidak ada banyak waktu lagi. Aku masuk dulu yah. Gomawo~,"
"Nee!."
Teriak Soobin dari balik mobil hitam miliknya.
* * *
Setelah ia menghabiskan waktu sekitar 20 mnt, akhirnya ia bisa menemukan ruang kerja Taehyung.
"Ah~ kakiku ingin patah rasanya. Dari tadi jalan tanpa henti selama 20 mnt. Dan ini adalah lantai ke..."
Saat tiba tepat di depan pintu ruangan itu, ia sedikit menajamkan pendengarannya. Awalnya tidak terlalu dengar, lama lama suara itu semakin jelas dan tertangkap langsung olehnya.
Dari dalam ruangan sang pemilik perusahaan, terdengar suara lembut seorang wanita.
"Taehyung, jangan ditahan lagi chagiya~ sini, lepaskan semuanya padaku. Oke?,"
"Tolong jangan seperti itu, aku sedang tidak ingin melakukannya."
'Eoh?! Apa yang sedang mereka lakukan? Suara wanita? Dan di dalam adalah ruangannya Taehyung?!!'
"Sedang apa kau?!"
Deg.
Terkejut bukan main sang jantung. Ketika tertangkap basah saat menguping pembicaraan seseorang.
"Ehehe, ma- maaf aaa-"
"Sssst! Diamlah!"
"Eoh?!! K- KAU?!!,"
* * *
#uuh~manis bngt sih ciptaan Tuhan~
Tolong kalau udah baca, VOTE yah :). Kalo gak, ntar gua privat nih story. Oke?