MY INNOCENT LITTLE WIFE

MY INNOCENT LITTLE WIFE
- Chapter 4



. . .


Jenni yang sedaritadi sudah meluap emosi, bergegas mendatangi kelas Yoona.


Brak!


"Di mana gadis itu?!!" Ucapnya dengan kepala yang sudah mendidih kepanasan.


Teman teman sekelas Yoona tidak menjawabnya sama sekali. Tentu saja ia merasa kesal, dan akhirnya melayangkan pukulan pada meja murid yang paling depan.


"Cepat katakan! Jangan menyembunyikannya dariku!!" Lagi lagi ia meluapkan emosinya pada meja yang tak bersalah.


Melihat tak ada perubahan respon sama sekali, akhirnya ia mendekati salah seorang siswi yang tak jauh darinya.


Lalu melemparkan tatapan sinis ala JenniKim. "Kau! Berani membantahku?!".


Brak!


Ia melempar buku pelajaran milik siswi itu keluar jendela.


"Yaak! Apa urusanmu denganku huh?! Kau berurusan padanya. Jangan melampiaskan padaku dasar wani-".


PLAK!


1 tamparan nyaring terdengar di telinga semua orang yang menyaksikan.


Jenni sudah kehilangan akal sehatnya.


Siswi yang menjadi korbanpun tak tinggal diam. Akhirnya dia membalas perbuatan Jenni dengan menyiram wajah Jenni dengan jus kantin.


"Wanita sialan. Rasakan ini!!"


Byur!


Terbalaskan, merasa terbalaskan akhirnya pertengkaran itu dilajut dengan saling tarik menarik kerah baju hingga jambakan masing masing.


"Yaaak! Kau wanita sialan!!" Ucap siswi yang menjadi korban.


"Kau yang lebih sialan dasar sialan!! Aaakh!!" Ucap Jenni yang tak kalah nyaringnya.


Yaps. Pertengkaran baru telah dimulai.


"Ada apa ini?!" Tanya pak Han yang tiba tiba langsung datang kedalam kerumunan.


 Tak dapat dipungkiri, ternyata sudah sejak awal pak Han melihat kejadian yang mereka ber-dua lakukan. Mulai dari saling membentak, melempar barang, bahkan sampai tarik tarikan kerah baju. Semua disaksikan langsung oleh pak Han dari luar kelas.


Mereka tak dapat berkutik membela salah satunya. Kerena jujur, mereka juga takut terlibat dalam kasus seperti ini. Bukannya tak ingin membela teman sekelasnya, hanya saja lawan mereka saat ini adalah JenniKim. Anak pemilik sekolah Taman Seoul. Saham appa dan oppanya bertaburan dimana mana. Mereka takut jika berurusan dengannya malah membuat keadaan keluarga mereka semakin memburuk.


"Jenni, Minta maaf lah padanya!" Perintah pak Han pada siswi bernama Jenni itu.


Bukannya menuruti perintah pak Han, Jenni malah semakin membara. Kepulan asap putih mendidih berkumpul di atas kepala. Wajahnya yang putih berubah menjadi merah padam guna menahan emosi.


"Jenni?! Dengar yang bapak bilang? Ayo. Minta maaf padanya!" Tekan pak Han sekali lagi.


Pak Han memerintahkan Jenni agar segera meminta maaf karena dia tau bahwa yang memulai pertengkaran ini adalah dirinya sendiri. Itu sebabnya pak Han akan berani mengangkat wajah apabila Jenni mengadukan kasusnya pada kepala sekolah nanti.


Jenni hanya melirikkan sekilas pandangannya pada pria paruh baya itu dengan artian 'apakah harus?' seraya memiringkan kepalanya.


Pak Han menganggukkan kepalanya pelan guna sebagai jawaban 'iya' kepada Jenni.


"Tidak." Kata Jenni dengan jelas, "apa?" Tanya Pak Han merasa tidak percaya. "Aku katakan TIDAK!" sekali lagi Jenni mengeraskan suaranya dengan lantang berharap pak Han mengrti apa yang telah iya ucapkan.


Tanpa basa basi yang panjang, Jenni langsung pergi meninggalkan ruangan kelas itu. Ia pergi dengan berlari sekencang mungkin, berharap tidak ada yang menghalangi jalannya. Semua mata hanya dapat melihatnya dengan tatapan bingung bercampur takut.


* * *


"Hyung, bagaimana perjanjian berikutnya? Apa mereka sudah menerima undanganku?"


Di ruangan bernuansa hitam berpadu abu abu, terdapat 2 orang pria yang sedang sibuk berkutik dengan benda yang bernama laptop. Keduanya sibuk menekan nekan papan keyboard masing masing untuk menyelesaikan tugas.


 Salah satu dari mereka duduk pada kursi kebesarannya, dan ditemani dengan secangkir teh hangat ber-aroma melati.


"Sudah, hanya saja-" pria yang disebut sebut sebagai hyung itu menjeda kalimatnya. Ia tampak berpikir sejenak sambil menekan nekan dagunya yang sama sekali tidak memiliki janggut.


"Hanya saja apa?" Tanya pria yang sedari tadi sedang menunggu jawaban darinya.


"Hanya saja, mereka belum membalas E-mail ku". Katanya sambil menoleh ke-arah lawan bicaranya.


Braak


"Apa?! Belum dibalas?!" Katanya sambil menatap tajam ke arah pria yang mengatakan berita itu padanya.


Merasa tahu apa maksud dari lubuk terdalam lawan bicaranya ini, pria yang disebut sebagai hyung itu langsung menyunggihkan senyum miringnya. Berharap lawan bicaranya dapat merasa sedikit tenang, tidak bertindak gegabah.


"Serahkan saja padaku, Taehyung-a"


Ia pergi meninggalkan pria bernama Taehyung itu sendirian di dalam ruangan yang didominasi warna hitam miliknya.


"Sial! Awas jika berani menipuku!"


Braak


. . .


Tok tok


Tak lama setelah Taehyung memukul meja kerja miliknya, terdengar suara ketukan pintu. Menandakan ada seseorang di luar sana yang ingin bertemu dengannya.


"Oppa!"


Ia langsung berlari memeluk insan yang dipanggil dengan sebutan 'oppa' itu.


Tak bergerak sama sekali, Taehyung sudah biasa diperlakukan seperti ini. Ia tak ingin membalasnya, karena baginya itu tak penting.


"Hiks.. oppa jahat! Aku kan sedang menangis, kenapa oppa tega-"


"DIAM!!!"


Deg!


Ucapannya langsung terhenti saat dengan tiba tiba Taehyung membentak. Amarahnya meluap luap tak karuan, rahangnya mengeras bak batu. Giginya bergeretak ke kanan dan ke kiri, berusaha menahan emosi yang sepertinya sudah di ujung tanduk. Melampiaskan kemarahannya pada gadis bersurai coklat di hadapannya.


"Hiks.. oppa jahat! Aku benci oppa!" Ucapnya sambil berlari kencang untuk menghindari tatapan mematikannya Taehyung.


Sebenarnya, gadis itu hanya merasa tidak percaya saja dengan apa yang telah Taehyung lakukan padanya. Ia mungkin hanya merasa Syook dengan kejadian barusan. Makanya ia langsung pergi meninggalkan Taehyung sendirian di ruangannya.Lagi.


"Haaah~" ia membuang napasnya frustasi dengan apa yang barusan ia lakukan tadi. Padahal itu adalah adik perempuan kesayangannya. Mengapa dia bisa tega membentak adik kesayangannya? Jahat, memang benar apa yang adiknya katakan. Dia jahat, jahat sekali hingga tega memperlakukannya dengan kasar.


Taehyung tau sebenarnya ia sudah keterlaluan, tapi adiknya datang di saat yang tidak tepat. Dia datang disaat Taehyung sedang dalam masa naik roller coaster.


Apa yang bisa ia lakukan?


Tidak ada, hanya bisa menyesali perbuatannya.


Ia memegangi pelipis matanya berharap dapat mengurangi rasa pening yang menghantam kepala batunya. Lalu, dengan lemahnya ia daratkan bantalan duduknya pada sofa empuk yang berada tepat di samping ia berdiri.


"Haah~ mianhe.." ucapnya lirih kepada adik kecilnya yang sudah pergi dari tadi.


Lagi lagi ia membuang dalam napasnya, berharap semua beban pikirnya dapat berkurang setidaknya 40% dari dalam dirinya.


Dilanjutkan dengan posisi melintang pada sofa terpanjang miliknya, ia tertidur sambil menutup setengah wajahnya dengan menggunakan tangan kekar miliknya juga. Dengan jas yang langsung ia lemparkan tak tentu arah.


Selang beberapa menit kemudian, dari pergerakannya yang kurang nyaman, ia kembali terduduk di atas sofa empuk miliknya. Ia bergerak merogoh saku celana miliknya, meraba benda berbentuk persegi itu untuk keluar dari dalam sarangnya.


"Hallo, bagaimana? Hmm paksa? Oke. Aku harap mereka tidak menyesal nanti. Hyung." Dengan bangganya ia menutup telepon genggam itu. Menunjukkan senyum licik dan devil yang ia punya. Seperti mendapatkan keberuntungan lotre seharga kapal pesiar, senyum remeh nan jahat benar benar menghiasi ranum merah rekah milknya.


"Baiklah, tunggu saja. Aku akan turun tangan." Sambungnya sambil kembali menempatkan posisi tidurnya di sofa. Berharap rencananya dapat berjalan lancar. Kapan? Ntahlah, ia juga tidak tahu.


* * *


Kring kring kring..


Bel pulang sekolah telah berdering ria, anak anak murid lainnya telah mendapatkan kembali nyawa yang hilang dari tadi. Mereka bersemangat sekali hingga ada yang melompat kegirangan.


"Yuhu! Pulang pulang pulang" sambil menari ala jarjid yang mengatakan 'dinding dinding dinding' seperti orang bodoh? Yah~ lebih kurang seperti itu.


"Yoona kecil!" Panggil sahabat dekatnya yang


ternyata sudah berdiri untuk menunggunya. "Yak. Kajja!" Ucap Yoona sambil merangkul tubuh tinggi itu.


"Hiiiy! Ada apa dengan mu? Mengapa jadi-"


"Sst, aku udah menemukan idenya! Yes!!" Katanya setengah teriak.


"Eh sst jangan teriak teriak. Nanti yang lain tau Yoon!" Kata Soobin sambil menutup mulut Yoona yang berusaha berteriak girang.


Setelah kejadian itu, akhirnya Yoona memutuskan untuk mengatakan rencana apa yang akan ia lakukan demi keselamatannya dan keluarga PARK. Yoona menjelaskan secara satu persatu rencananya, yang diikuti oleh kepala Soobin yang mengangguk pertanda faham. Sedikit lucu sih melihat ekspresinya yang berusaha mencerna perkataan Yoona. Dan hampir saja, ia ingin menggigit bibir lucu milik Soobin saat ia mengatakan 'ooo' dengan gemas.


Eits, tentu saja pikiran itu ia buang jauh2. Mana mungkin ia sanggup melakukannya.


"Yoona, aku sudah faham". Kata Soobin yang telah susah payah ia mencerna ide encer Yoona.


Yoona yang daritadi tengah memperhatikan Soobin berceloteh ria sambil sesekali memanggut, membuat pikiran alam bawah sadarnya tertuju pada satu titik terlemah dalam hidupnya. 'Bibir Soobin'


"Yoona!"


Yoona kembali menetralkan kesadarannya. Apa dia sudah gila? Apa yang barusan ia fikirkan? Dasar Yoona bodoh!


Ia mengerjap ngerjapkan matanya berkali kali. Berusaha untuk tidak salah tingkah pada kakak kelas beda tingkatan ini.


"Yoona, gwenchana? Are you okay?" Tanyanya sambil memegang dahi Yoona guna mengecek keadaan suhu tubuhnya.


"A- itu- i- iya- a- aku tidak sakit" ucapnya terbata bata.


Shit! kau Yoona, apa yang kau pikirkan? Ingat! Kau gadis polos(batinnya meronta, merasa tidak terima dengan apa yang baru saja ia alami)


"Baiklah kalau begitu, itukan maksudmu?" Tanya Soobin lagi.


"A- apa? Mak- maksud apa?" Tanya Yoona dengan keadaan masih salah tingkah. Ia berharap semoga Soobin tidak mengetahui apa yang sejak tadi ia fikirkan.


"Hahaha.. aakh kiyowo~ kau habis mikir apa sih Yoona? jawabanya gak nyambung gitu" kata Soobin sambil ketawa geli melihat ekspresi linglung gadis bernama Yoona itu.


"Jadi, rencananya, seperti itu?" Tanyanya lagi dengan melambatkan tempo bicaranya.


"Iya- gitu- maksud aku hehe". Yoona semakin merasa malu pada dirinya sendiri akibat gagal fokus dari tadi.


Setelah berbincang bincang, akhirnya mereka pulang menelusuri terotoar terotoar jalanan sore.


"Hallo, aku melihatnya. Baiklah, segera tuan!"(?)


Pria itu menyunggihkan senyuman miringnya sebelum menancap habis gas roda 4 itu.