MY INNOCENT LITTLE WIFE

MY INNOCENT LITTLE WIFE
- Chapter 1



Excessive pleasure will disappear in the blink of eye


Therefore in this world there in always a feeling of pleasure and sadness simultaneously


\* \* \*


Malam ini adalah, malam yang paling dinantikan oleh semua orang. Benda putih kecil bersuhu dingin mulai memperlihatkan keberadaannya di bumi. Ya, butiran snow kecil mulai mengisi seluruh udara di kota ini. Yang pada awalnya bersuhu sedang, lambat laun menjadi sejuk dan dingin.


Menempatkan diri di sebuah bangku taman adalah cara terbaik guna menyambut snow pertama turun. Dengan keadaan lampu taman yang menyala berwarna jingga, suara desiran air pancur, bahkan sesekali angin malam berhembus.


Kini desiran nafas makhluk hidup, telah terpenuhi oleh uap dingin yang mengepul. Seketika suhu udara menjadi sangat rendah. Dimana seharusnya semua orang kembali ke dalam rumah untuk beristirahat, atau hanya mengganti model pakaiannya menjadi ala eskimo agar menghindari dinginnya sentuhan benda putih yang turun.


Tapi itu semua tidak berlaku bagi gadis berusia 18 tahun ini. Ia bahkan tidak bergerak sama sekali untuk kembali ke rumah. Ia malah semakin mengeratkan bantalan duduknya pada kursi taman, dan menggantungkan kaki rampingnya. Seolah sedang bergoyang ria seperti anak kecil yang kakinya tak sampai pada tanah.


Ia menarik simpul kebahagiaannya pada malam hari ini. Memandangi langit yang sudah dipenuhi kumpulan snow kecil. Melayang layang di sana, hingga berhasil membuatnya gemas untuk merasakan benda dingin itu pada alat pengecapnya.


Ia membuka antusias mulutnya, lalu menjulurkan benda merah itu seperti sedang menjilat es cream.


"Uuh~". Ucapnya seraya menggidikkan kepala yang teramat senang dengan kehadiran benda putih yang telah ia tunggu tunggu.


Rasa hati kecil yang teramat dalam miliknya ingin terlontar keluar karena terlalu bersemangat. Ia akhirnya berhasil bertemu dengan snow pertamanya. Dari 1 minggu yang lalu telah terberitakan bahwa 'snow kecil akan turun' membuatnya selalu mencari tempat yang pass guna menunggu kehadirannya.


Rasanya seperti melihat anak berumur 5 tahun yang teramat senang mendapat mainan baru. Begitu pula dengan remaja yang masih belia ini. Ia sangat antusias, bahkan 1 minggu penuh ia sudah berada di sini setiap sorenya. Berharap snow kecil lebih mempercepat kehadirannya.


Seutas senyuman tak pernah putus dari ranum manis itu. Ia selalu mudah untuk mengubah suasana hatinya. Ia bahkan telah berjanji sebelumnya untuk tidak cemberut hingga butiran bersuhu rendah itu datang menghampirinya.


Jujur saja, sebenarnya gadis belia ini sedang dalam masa Broken Home. Di mana sang appa mengalami kerugian pada perusahaannya, dan sang eomma yang sibuk menenangkan jiwa dan pikiran suaminya. Sehingga mereka tidak memperdulikan putri tunggalnya ini sama sekali.


Tapi walaupun begitu, gadis ini benar benar hebat. Dia bisa dengan hebatnya menyesuaikan diri terhadap peristiwa yang sedang ia alami. Contohnya seperti menerima nasihat atau perintah dari appa atau eommanya, ia akan menulikan benda yang menangkap suara itu. Dengan bantuan kapas, tisu, roti, headset, atau bahkan makanan yang sedang ia makan. Maka tak jarang jika ia sering pergi ke dokter THT.


"Aigoo~ kiyopta!" Ia bahkan sambil berteriak girang hingga kuncir tanduk 2 di kepalanya bergoyang ria memantul mantul.


Karena terlalu asik menikmati malam yang penuh dengan udara mengepul itu, hingga ia lupa bahwa benda berwarna merah bulat di tangannya kini telah menunjukkan pukul 23:00 malam.


Tamu kecil yang ia tunggu ternyata datang lebih lama dari yang diperkirakan. Maka dari itu sebenarnya ia merasa sedikit tidak rela untuk pulang. Ia tidak akan bisa menikmati masa ini lagi. Dimana dia akan selalu bisa menjulurkan lidahnya guna menyentuh alat pengecapnya pada benda bersuhu dingin itu.


Gadis bersurai sebahu itu dengan perlahan menjauhkan bantalan duduknya dari tempat yang telah memberikan sandaran itu. Sandaran hangat yang selalu menghibur dirinya saat sedang dilanda kegusaran jasmani dan rohani.


Perlahan menatap tidak rela pada bangku panjang berwarna coklat tua itu, sedikit menahan nafas lalu membuangnya perlahan.


"Aku pasti bisa menghadapi ini!" Gumamnya dengan nada yang sedikit meyakinkan.


Perlahan, ia mulai menjatuhkan pandangannya ke arah yang berbeda, berbalik arah dan menghadapi secara tegar adalah keputusan terakhirnya.


Perlahan lahan, ia jauhkan tapak kaki mungil itu dari tempat yang menurutnya sangat memberikan kebahagiaan tersendiri.


Ia pergi meninggalkan taman yang berhiaskan lampu berwarna jingga, udara malam yang bersemilir, dan suara yang menenangkan hati (kolam air pancur).


* * *


Tak ada siapapun di luar saat ini. Mungkin mereka sedang menonton siaran tv favorite mereka, atau memakan makanan kesukaan mereka di meja makan, atau minum secangkir coklat panas ditambah dengan susu putih yang hangat.


Itu semua benar benar menggoda selera. Hingga membuat perut kecilnya beberapa kali bergetar.


"Aigoo~ perjalanan kita masih lumayan jauh. Jadi tenanglah dulu cacing pintar". Katanya dengan nada layaknya membujuk anak kecil yang merengek. Ia bahkan berbicara pada perutnya yang sedari tadi menahan lapar dan dinginnya udara di luar.


Tunggu. Gadis ini belum melihatkan gambaran hati yang sebenarnya terjadikan?


Maka jawabannya adalah TIDAK TAHU. Ya, itu adalah jawaban yang selama ini ia pendam. Ia merasa berpura pura tidak tahu tentang apapun. Memaksakan dirinya untuk tidak mendengarkan apa apa. Atau sekedar menodai matanya dengan mengintip atau melihat orang pacaran.


Tidak! Pikirannya tidak menuju ke sana. Melainkan niatnya saja yang ingin membuatnya tetap lugu dan bersifat polos apa adanya.


Dia bahkan belum pernah memikirkan hal hal yang gadis korea pikirkan pada umumnya.


Make up? Tidak! Dia bahkan belum pernah menyentuh sedikitpun. Walau eommanya sangat banyak mengoleksi benda bervarian warna itu.


Salon? Ah! Itu lagi. Tempat yang paling bisa membuatnya mengamuk. Tempat di mana ia meminta cat rambut berwarna merah, tapi bukannya merah yang ia dapat. Melainkan hitam pekat, apa gunanya itu semua? Saat ia melayangkan protes, alasan yang paling masuk akal yang mereka ucap adalah 'anak sekolah tidak boleh memakai cat rambut merah'. Cih! Menyebalkan sekali baginya.


Alasan yang masuk akal, tapi kenyataannya adalah 'Dia harus membayar dengan harga cat rambut merah' aaakh.. sangat memuakkan.


Jadi, apa yang selama ini yang ia pikirkan?


. . .


Tentu saja, lolipop, coklat, gula gula, es cream, hmm yang paling tidak boleh ia lewatkan adalah... kuncir 2 ala tanduk kerbau.


Dan dengan parasnya yang cantik, itu semua juga sangat mendukung bagi dirinya untuk mengatur posisi atau bentuk kuncirannya.


Ia sangat senang benda yang berbau kanak kanak. Bagi sebagian orang itu adalah hal yang sangat tidak dewasa. Atau bahkan tingkahnya tidak sesuai dengan usianya. Tapi dia adalah PARK YOONA, gadis yang mengikuti keinginannya sendiri. Tidak boleh dibantah! Ingat itu.


Tapi percayalah, dibalik karakternya yang seperti itu. Ada hal lain yang sedang ia sembunyikan.


* * *