MY INNOCENT LITTLE WIFE

MY INNOCENT LITTLE WIFE
- Chapter 2



Mengapa di dunia ini harus ada kabar baik dan kabar buruk?


Mengapa tidak semuanya adalah kabar baik?


Siapa yang dapat menjawab pertanyaan ini?


Ntahlah.. akupun juga tidak tahu, Sungguh


* * *


Ia tiba di rumah sekitar pukul 23:50 mnt. Pertama kali yang ia rasakan saat pulang adalah, PENING. Bagaikan dihantam batu besar, kepalanya terasa sangat berat.


Sepertinya akibat kelalaiannya dalam berpakaian. Ia memutuskan berada di luar selama itu. Masih dengan seragam sekolah kotak kotaknya.


Pening terus menghantam dirinya, kini kepala pelayan rumah milik gadis ini sedang duduk pada ujung kasur guna mengecek keadaan gadis remaja pemilik rumah ini.


Ia tak mau berbicara apa apa karena ia tahu bahwa jawaban apapun yang dilontarkan, akan tetap salah di mata keluarga ini.


Gadis berhazel coklat tua itu sedikit mengernyitkan dahi sehingga kedua alisnya hampir bertemu untuk mengerjapkan mata berkali kali.


"Ah! Nona sudah siuman?". Ucap kepala pelayan itu dengan hangat.


Yang pertama kali ia lihat adalah kepala pelayan? Ke mana penghuni rumah besar ini? Apa mereka tidak pulang? lagi?


Setidaknya begitu yang sedang ia pikirkan.


"Nona~ makanlah bubur ini, agar cepat sembuh". Katanya dengan nada khawatir.


 Tak butuh waktu lama, gadis bersurai sebahu itu langsung menangkupkan telapak tangannya pada bawahan mangkuk berisi bubur itu.


 Sebenarnya itu terasa panas tapi, Apa boleh buat jika dia sangat lapar dan membutuhkan asupan gizi yang banyak.


Yoona mengalami demam yang cukup parah sejak pulang tadi. Sekujur tubuhnya melemah dan setibanya ia di kamar, seluruh badannya pun ikut meremang. Menahan aliran darah yang kini ingin menusuk isi sumsum tulangnya.


Sejak tadi ia sudah kehilangan kesadaran. Mungkin itu sebabnya ia menjadi sangat lemah dan lapar sekali.


* * *


Benda berukuran 5×5 cm yang berada pada meja di sisi ranjangnya kini sudah menunjukkan bahwa ia sudah mulai bergerak pada pukul 02:00 pagi dinihari.


Baru 30mnt yang lalu kamarnya terisi dengan suara kepala pelayan WU. Dia menawarkan obat khas Tiongkok kepada gadis yang dia anggap sebagai putrinya ini dengan beralasan agar lekas sembuh.


Ya.. kepala pelayan WU adalah keturunan orang Tiongkok asli. Itu sebabnya ia mencoba untuk menawarkan ramuan khas Tiongkok yang kini telah hilang ditelan ramuan dan obat obatan modern.


Namun bukannya anggukan yang dia lihat, melainkan kepala yang menggeleng dengan lemah ditambah tatapan mata yang seolah mengatakan 'aku tidak percaya itu'.


Tidak masalah, yang penting kepala pelayan WU itu sudah menyelesaikan tugasnya.


Nampak dari raut wajahnya jika ia menahan rasa kecewa. Tapi apa boleh buat, tidak salah juga jika Yoona tidak mau mengikuti saran darinya. Karena Yoona bukan gadis Tiongkok, dia adalah gadis Korea. Secara otomatis pikirannya terbuka saat itu juga dengan melontarkan senyuman polos tak berdosa.


"Haah~". Ia menarik nafas panjang, menahan salifanya untuk tidak tertelan dulu. Seakan ada banyak sekali beban dan pikiran yang saat ini sedang ia emban sendirian.


Dengan perlahan ia mulai menggerakkan badannya yang sedaritadi terasa sangat ngilu. Tulangnya ingin lepas dari susunan persendian. Sedikit ia gerakkan untuk menarik dan menenggelamkan setengah wajahnya pada benda tebal dan halus itu.


"Appa dan eomma masih belum kembali. Apa seberat itu untuk tugas mencukupi kehidupanku?". Ucapnya penuh lirih. Rasanya buku buku pada tangannya sudah memutih pasif di dalam sana. Hatinya terasa hancur berkeping keping. Sesak di dadanya serasa bertambah, dan pelupuk matanya saat itu juga mulai memanas.


Dengan sedikit menggigit ujung pada ranum merahnya guna menahan isak tangis yang mulai terdengar. Sepersekian detik kemudian, terdengar suara patahan knop pintu yang cukup mengagetkan.


Memunculkan wujud seseorang yang terlihat sedikit khawatir, tapi tidak bagi gadis bernama Yoona ini.


"Aigoo.. wae?". Ucapnya merasa tidak percaya atas apa yang ia dapatkan setelah pulang.


"Appa dan eomma langsung melemas saat mendengar kabar putri kecil appa sedang sakit. Apa kau sudah meminum obat?" Jelasnya dengan panjang lebar.


Jujur saja, bukan respon seperti ini yang Yoona harapkan. Justru sebaliknya, seharusnya mereka tak perlu langsung kembali secepat ini jika hanya mendapat kabar bahwa ia sedang sakit.


Apa boleh buat, ia terpaksa menggelengkan kepala saat ditanya tentang obat. Yah bukannya memikirkan untuk berbohong saja, malah dengan ringannya ia menggeleng.


Dengan memberi alasan untuk tugas, tapi nyatanya bertujuan beda.


Merasa seperti mengetahui sesuatu dari balik selimut tebal milik putri semata wayangnya bergetar, akhirnya berhasil mengatakan yang sebenarnya mereka rencanakan dari kemarin kemarin.


"Sepertinya.. putri appa telah mengetahuinya ya?" Ia menjeda perkataannya dan menarik nafasnya dalam dalam.


Lelaki paruh baya itu berusaha menempatkan posisi yang pass guna mengobrol kepada putri kecilnya.


Ia mulai menepuk halus pucuk kepalanya, dan sedikit membuka selimut yang menghalangi jarak pandang pada putri kecilnya


"Tenang saja.. dia juga setuju, kita tak perlu khawatir lagi" ucapnya sambil membuang nafas dengan lega.


Kita? Bukankah keuntungan ini hanya mereka para pembisnis saja yang merasakannya.


Tapi tidak dengan insan yang sedari tadi dengan mencoba menulikan rungunya. Seolah ia tak mau mendengar apa apa dari balik sana. Kenapa disaat seperti ini tak ada roti yang dapat menyumpal lubang rungunya itu? Atau bahkan serpihan renyah dari snake ringan miliknya? Dia sangat butuh kedua benda itu. Tapi sialnya, kedua benda itu sedang tak ingin dia nikmati.


* * *


Seperkian detik kemudian, ia merasakan dentuman kaki yang mulai berada jauh. Dan hilang dibalik pintu berwarna coklat terang miliknya.


Perasaan gadis belia kecil nampak semakin hancur saat berhasil mendengar kabar buruk itu. Matanya tak tahan lagi untuk menampung panas dari tubuh yang merasa tersakiti ini. Bibirnyapun bergetar hebat, seolah benar benar merasa sangat tidak tahan.


"Hiks..hiks" pecah sudah. Pecah sudah kepercayaan dirinya yang selama ini ia emban sendirian.


Kini ia tidak dapat berfikir apapun, rasanya ia sangat ingin untuk menenggelamkan tubuhnya ini bersama dengan penyesalan yang ia lakukan.


Mengapa secepat ini?


Apa masa remajanya akan hancur?


Apa dia sudah tidak dapat makan permen loli lagi?


Apa dia tidak akan ke toko es cream lagi?


Apa dia tidak dapat memakan snake ringan lagi?


Serius. Hanya perasaan itu yang membuatnya terbebani. Karena sejujurnya, ia benar benar masih sangat rapuh dan belum mengetahui apa apa tentang dunia luar. Begitu lugu dan sesederhana itu pikirannya.


Makanan, mainan, hanya itu.


Hatinya tidak cukup kuat mendengar kabar 'Pernikahan' yang telah dibicarakan pada appa dan eommanya.


Ini gila, bahkan ia belum sama sekali bertemu atau berinteraksi pada calon mempelainya.


Tak dapat berkata kata, hanya isak tangis yang memenuhi seisi ruangannya saat ini.


Rapuh.. hati gadis ini sangat rapuh..


Siapapun.. tolonglah dia..


Baru saja ia merasa senang selama beberapa jam lalu, kini itu semua telah lenyap ditelan banyaknya waktu.


Baru saja ia ingin menyesuaikan sikapnya pada keadaan apapun, kini keteguhan itu telah runtuh.


Ia tidak lagi mempercayai 2 orang yang telah dengan teganya menukar seorang gadis kecil kepada pengusaha sukses. Demi melangsungkan urusan saham keluarga.


Dunia kali ini juga telah berkhianat padanya.


Kecewa.. kecewa sekali..


* * *


Aku mau ngasih tau aja kalau adegan sakitnya itu aku dapat dari pengalaman aku yang kemarin malam tiba tiba menggigil dan masih sempat buat nulis nih cerita :v


Semoga kalian suka~