MY INNOCENT LITTLE WIFE

MY INNOCENT LITTLE WIFE
- Chapter 3



I'm always be happy if you always stay with me.


____________


Pagi yang teramat dingin berhasil membuat gadis bersurai pendek ini akhirnya bertekuk lutut.


Akhirnya ia menyerah dengan menggunakan jaket tebal miliknya. Ia tidak ingin merasakan pening yang telah datang menghampirinya kemarin malam.


 Kali ini dia membalut tubuh rampingnya dengan setelan jaket bulu tebal sepanjang lutut dan berhasil membuatnya tenggelam penuh.


Rambut yang biasanya ia kuncir ala tanduk kerbau itu, kini ia balut rapi dengan topi rajut musim dingin.


"Apa Yoona sudah selesai berpakaian?" Tanya tuan Park pada kepala pelayan WU. "Sebentar tuan, biar saya lihat dulu." Sahut kepala pelayan WU itu.


Tak berapa lama ia menaiki beberapa anak tangga, akhirnya insan yang sedang ditunggu pun akhirnya keluar. Ia berjalan dengan susah payah menuju lantai bawah.


Badannya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya seekor pinguin kutub.


Sedikit sesak, tapi apa boleh buat. Ini ia lakukan demi dirinya sendiri guna menghindari benda yang telah membuatnya sakit kemarin.


"Hah- hah-.." ia bahkan kewalahan mengambil napas. Pakaian yang ia kenakan sangat tebal. Hampir 10cm layaknya busa tempat tidur.


Mata para pelayanpun tak bisa lepas dari pandangan yang menggelikan itu. Menyembunyikan tawa adalah hal yang paling sulit mereka tahan. Hingga gumaman kecil muncul dari balik insan yang sedang kesusahan.


"Ck. Mereka menertawakan ku? Huh, lihat saja nanti" ucapannya yang seperti itu ternyata masih bisa didengar oleh yang lainnya.


Bukannya merasa takut, nona muda di keluarga ini malah semakin menarik perhatian seluruh pelayan maupun kedua orang tuanya.


"Aigoo! Tidak ada yang bisa kalian tertawakan eoh! Apa kalian tidak tahu betapa beratnya ini semua?!" Gadis lugu itu ternyata bisa marah. Sangat menakutkan sebenarnya, tapi dengan gaya marah yang menggeleng gelengkan kepala miliknya, siapa yang tidak gemas melihat tingkah kanak kanak itu?


 Dan mereka semua kembali tertawa puas melihat pribadi yang daritadi sedang berjuang mati matian guna berjalan.


"Aissh.. Siapa yang menertawakan putri ku ini hah?". Ucap tuan Park sedikit membela putrinya. Kasihan juga ia ditertawakan secara bersama sama begitu pikirnya.


Jujur sebenarnya ia juga tak tahan melihat gelagat Yoona ini. Ini benar benar menyiksa dirinya untuk menahan tawa dengan puas.


"Kalian tidak boleh terus menertawakannya. Jika kalian melanggarnya maka.." tuan Park menjeda kaliamatnya.


Ia melihat sekilas ke arah putri tunggalnya itu. Lalu berkata,


"Kalian akan menemani putriku berbelanja". Kata tuan Park dengan menyipitkan kedua matanya.


Oh tidak! Ini adalah hal yang paling mengerikan. Dari sekian banyak hukuman, kenapa harus hukuman ini yang mereka dengar?!


Menemani Yoona belanja, itu sama halnya dengan mengunjungi negara Jepang dan mengelilinginya selama 3hari 3malam dan berhenti pada titik awal mereka datang!


"Aaah.. mianhe mianhe.." penuturan mereka sambil membungkukkan badan guna meminta maaf kepada orang yang telah mereka tawakan sejak tadi.


Senyum puas terbit pada bibir manisnya. Tawa kemenangan akhirnya berpihak pada dirinya pagi ini. Haah.. beruntung sekali jika ia ditemani oleh para pelayan untuk berbelanja.


Mereka akan membantu membawakan barang barangnya ke dalam mobil bukan?


Tapi sebenarnya ada hal yang lebih gila lagi, dan sangat menyeramkan.


Biasanya, setelah mengelilingi 10x supermarket atau mall itu, Yoona bahkan tidak membeli 1 barangpun.


Dan justru ia membeli es cream yang berada pada trotoar kecil di pinggir jalan yang sebenarnya sejak tadi sudah mereka lalui berkali kali.


Cukup! Itu adalah hal yang paling menyeramkan daripada bertemu dengan 100 macam makhluk tak kasat mata lainnya.


Gadis ini licik, niatnya saja yang polos dan lugu. Tapi pikirannya, sudahlah.. kalian pasti akan merasakan itu saat sudah berurusan dengannya N A N T I.


* * *


"Anyeong~" sapaan para anak murid yang datang lebih dulu pada gadis yang sedang berjalan menuju kelasnya. Tak lupa juga ia menerima dan membalas sapaan teman teman yang mengenal dirinya.


"Anyeong~" demi apapun


Yoona bersikap sangat manis sekali jika bertemu dengan orang yang tidak terlalu ia kenal. Sangat manis hingga tak jarang juga banyak pria yang tertipu dengan penampilan luar yang sebenarnya ada banyak niat licik di otaknya.


 Setiap hari, dia selalu menebar senyumnya sangat tulus dan mulus. Itu sebabnya rencana yang ia buatpun selalu berjalan dengan lancar tanpa ada kecurigaan sama sekali dari teman temannya.


 Sungguh teman teman yang bernasib malang.


* * *


Setiba di kelas, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok wanita yang tak diragukan lagi kehadirannya setiap pagi.


M.U.S.U.H abadinya J.E.N.N.I.K.I.M


Ternyata ia telah berada di sana selama 10mnt yang lalu.


Saat mengetahui keberadaan insan yang telah ia tunggu datang, secepat itu ia membalikkan tubuhnya guna menghadapi gadis bersurai sebahu itu.


 Jenni menatap lekat hazel coklat milik Yoona. Ia tak tahu rencana apa yang akan Jenni luncurkan untuknya. Lagi.


Ia mendekatkan tungkai kakinya perlahan ke arah Yoona. Tapi Yoona malah melaluinya begitu saja sambil berucap "ini masih terlalu pagi untuk melawanmu. Nanti saja setelah jam istirahat". Ucapnya tanpa perlu ragu.


Disini Jenni merasa sangat dipermalukan. Bukannya meladeni niatnya, ia malah dicueki layaknya tak berbicara pada siapapun.


Ucapan kesalpun ia umpatkan pada gadis yang membuatnya kesal itu. Lantaran sambil berjalan menjauhi kelas Yoona dengan menghentakkan kakinya kuat kuat.


"Ck. Terlalu mencolok jika hanya ingin mendapatkan perhatian semua orang..". Kata Yoona yang sudah merasa tak acuh atau bahkan tak peduli lagi pada gadis bernama Jenni itu.


Saat sedang berlangsungnya kejadian itu, ternyata ada seseorang juga yang telah menyaksikan pertunjukan gratis dari luar.


Siapa?


Ntahlah, Yoona hanya melihatnya sekilas.


Namun setelah itu tak ingin mengambil pusing siapa yang telah melihat kejadian barusan. Ia lebih memilih membaca materi pelajaran yang akan mereka bahas nanti.


Ini adalah saat saat dimana semua murid akan menjadi sangat ****. Ya mau bagaimana lagi, baru masuk jam pelajaran pertama mereka sudah dihadapkan dengan matapelajaran MATEMATIKA.


Oh tidak! Yang paling mengerikannya lagi adalah, ini saatnya ulangan.


Insan yang sedari tadi sedang meremas ujung seragamnya karena merasa cemas. Yoona tidak ingat akan ada jadwal ulangan saat ini.


Ia bahkan tidak belajar atau sekedar membuka bukunya kemarin malam.


'Sial!' Kata kata pengumpatpun langsung keluar dari ranumnya yang merah.


Tapi apa boleh buat, ini adalah kesalahannya sendiri. Terlalu lama menunggu snow kecil yang berakibat fatal itu. Sudah ditunggu malah membuat dirinya sakit kemarin malam.


"Yoona, ini kertasmu. Jawab dengan benar seperti biasanya yah.." ucap pak Han kepada insan yang sedang berada dalam alam pikirnya.


"Ah.. nee~" ucapnya tanpa ragu.


Baiklah, untuk kali ini saja ia akan lengah. Tapi lain kali ini tidak akan pernah terjadi lagi. Tidak akan pernah! Yak.. fighting Yoona-ya~


. . .


Akhirnya bel penyelamat nyawa para siswapun berbunyi ria, pertanda jam istirahat telah tiba.


Merenggangkan otot dan syaraf adalah hal yang paling pertama gadis ini lakukan.


Rasanya sangat nyaman setelah berhasil menghadapi bencana otak beberapa menit yang lalu.


Saat sedang membereskan peralatan tulisnya, ia telah disambut oleh seseorang. Yap, seseorang yang selalu menunggunya di luar kelas dengan Setianya.


"Yoona kecil!" Sapanya dengan begitu jelas.


Sebenarnya tak perlu sampai berteriak seperti itu jika ingin memanggil Yoona. Gadis ini tidak tuli sama sekali. Teriakannya sangat memikat mata mata yang sedang tertuju pada insan yang dipanggil. Mengerikan? Tentu saja, seperti mata beruang kelaparan.


Tak berapa lama, insan yang memanggil itu menghampiri gadis yang masih sibuk dengan barang barangnya.


"Yaak! sudah dari tadi aku memanggilmu. Kajja!". Ajaknya langsung menarik tangan Yoona dengan sedikit memaksa.


"Sebentar sebentar!" Ucapnya masih sambil meneliti barang barang yang ada di dalam tas berwarna merah miliknya.


Alisnya hampir saja menyatu dengan jelas. Terlihat seperti begitu khawatir dengan apa yang ia cari daritadi.


"Wae? Ada apa?" Tanya insan yang masih setia menunggu gadis bersurai pendek ini.


Yoona masih sangat sibuk merogo dalam dalam tas miliknya.


'Hilang?!' Batinnya sangat panik saat tidak menemukan barang yang sejak tadi ia cari.


"Ada apa?" Yaampuun. Cerewet sekali benda yang sedang berada di samping Yoona ini. Apa dia tidak melihat bahwa Yoona sedang dilanda kegusaran?


"Aigoo~ ceroboh sekali!" Yoona berteriak histeris. Merasa tidak heran dengan mata yang sedang memandangnya. Mereka yang sedang menyaksikan drama klasik itu hanya menolehkan tatapannya sekilas. 'Biasa' seperti itulah Yoona setiap harinya. Jadi mereka tidak merasa terkejut hebat.


* * *


Sepanjang perjalanan menuju kantin, Yoona terus menunjukkan ranum yang melengkung ke bawah. Pertanda bahwa ia sedang dalam proses perubahan mood yang sangat berbahaya.


Peringatan ke 4 adalah tingkatan akhirnya. Semoga tidak ada dari mereka yang mengganggu ketenangan dari serigala betina ini.


'Aigoo.. bagaimana aku bisa mencairkan suasana mood nya saat ini? Bisa bisa.. aku yang ditelan mentah mentah'. Batin teman setia Yoona.


"Yo- Yoonayaa~". Mencoba menggunakan suara yang tenang. Tapi NIHIL! Tak ada sambutan dari kata yang keluar dari mulut gadis bersurai pendek ini.


"Aigoo~ aku tak memiliki masalah padamu. Tapi mengapa kau tidak menjawab-". Tiba tiba ucapannya terputus akibat tatapan srigala betina lapar yang telah siap untuk memangsanya.


Gadis ini hanya memasang bibir yang maju seperti bebek dan pipi yang digembungkan.


Sungguh sangat menggemaskan! Ingin sekali teman setia yang berada di sampingnya ini menggigit pipi gembulnya.


"Soobin-na~..." Akhirnya Yoona membuka mulutnya setelah sekian lama. Dan itu membuat pria yang bernama Soobin itu sedikit merasa lega karena akhirnya temannya ini mau membuka mulut.


"Hmm.." sahutnya dengan hangat.


Percayalah, ntah bagaimanapun rasanya hati Yoona benar benar merasa sedih. Ntah mengapa rasanya ia ingin menangis sekencang kencangnya guna melampiaskan emosi yang telah menguap sejak kemarin.


Gadis berhazel coklat itu sepertinya tak tahan lagi menahan pelupuk matanya yang semakin lama semakin memburam. Pandangannya semakin gusar, dan matanya benar benar panas.


Soobin, teman pria yang berada di sampingnya saat ini terkejut bukan main. "Wae.. wae? Ada apa ini huh?! Kenapa kau menangis? Katakan padaku, katakan! Siapa yang membuatmu menangis?".


Aduh~ mengapa setiap kekhawatiran yang Soobin berikan kepada Yoona malah semakin membuat Yoona merasa bersalah?


Soobin adalah teman terbaiknya. Dia selalu berhasil membuat mood Yoona membaik. Tapi kali ini, ia merasa telah berbohong pada teman setianya.


Benda putih bening itu berhasil mengalir dengan sendirinya. Membasahi pipi gembul gadis bersurai pendek ini.


"Ada apa ini hmm?!.." Suara Soobin yang hangat berhasil membuat Yoona dengan cepat memeluk tubuh tinggi itu.


Ah! Tentu saja pria yang bernama Soobin itu langsung membelalakkan matanya. Karena ini adalah pertama kalinya Yoona yang berinisiatif untuk memeluknya. Biasanya dia sendiri yang memaksa guna memeluk tubuh yang lebih kecil darinya ini.


Yoona tak bisa mengatakan apa apa. Dia hanya terhisak hebat di dalam dekapan Soobin.


Pria yang ia peluk ini merasa lega karena sahabatnya telah memberikan kepercayaan untuk menunjukkan sisi terlemah dalam hidupnya.


"Ayo kita ke taman saja.." ucapnya penuh kehangatan yang disambut dengan anggukan kecil dari insan kecil yang berada di dekapannya itu.


Memang benar, tidak hanya tampan. Soobin adalah satu satunya teman yang Yoona punya selama ini.


Ya, bukannya ia tidak ingin berteman dengan yang lainnya. Yoona bersikap seperti tak acuh pada yang lain pasti ada sebabnya dulu.


Dan, sampai sekarang yang berhasil bertahan adalah 'DIA'


'SOOBIN'