
Jangan lupa vote dan komennya~
πππ
Jam telah menunjuk pada pukul 3 pagi dini hari. Tetapi gadis bernama Park Yoona sangat membutuhkan segelas susu apabila ingin menjemput alam mimpinya.
Ia berjalan menelusuri anak tangga, sambil melebarkan jarak pandang pada tataan rumah tersebut.
Sangat bagus, baru kali ini ia melihat dekorasi yang cukup sempurna. Dengan lantai yang terbuat dari kayu tua mengkilat.
Sofa berwarna merah maroon, dan banyak hiasan lampu lampu kecil di setiap sudut ruangan.
Ia bahkan tak habis fikir, berapa biaya pembuatan rumah sebesar ini?
Tapi yang sudah pasti, ini sangat mahal.
Begitulah pikiran sederhana gadis remaja yang baru saja menyelesaikan ikatan janji suci dengan seorang pria pilihan orang tuanya.
Saat tiba di dapur, ia melihat tak ada lagi warna putih yang menyelimuti benda benda di sana.
Bersih mengkilat, dan harum.
"Siapa yang membersihkannya?" Seakan dirinya sendiripun bingung.
Tapi ia tak mengambil pusing akan pikiran itu, gerak cepat membuat segelas susu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.
Dengan sekali pembuktian, dua tiga pulau dilewati.
Yoona menenggak habis susu itu dan mengelap sisanya pada lengan baju yang ia kenakan.
"Sepertinya ajusshi sudah membelikan susu yang pas untukku. Padahal baru kemarin Dia tidak menyimpan susu sama sekali." Keluhnya sambil berjalan menuju sofa ruang tamu untuk menikmati pencernaan cairan yang baru saja ia konsumsi.
Yoona duduk pada sofa panjang, merenggangkan otot dan syaraf syaraf pada kakinya.
Terasa begitu melelahkan hari ini.
Tamu kehormatan keluarga Kim dan keluarga Park benar benar tak terhingga. Padahal mereka berencana mengadakan acara tertutup. Tapi kenyataannya malah berbalik arah dengan semua yang terjadi.
Mulai dari media sosial, hingga semua acara dapat ter-ekspos dengan mudah.
Dunia bahkan terasa ikut menggema akibat salah satu pangerannya mulai meninggalkan para putri bangsawan lain, dan telah memilih putri terbaik.
"Haah~ benar benar acara yang melelahkan." Ucapnya yang dilanjutkan dengan mengingat sedikit memori kecil di kepalanya. Perlahan lahan, ia bergerak menuju bantalan sofa empuk.
Ia mengernyit heran, mengapa kepalanya terasa sangat mengganjal?
Apa sofanya rusak?
Benar saja, saat membalikkan arah pandang, ia telah melihat sesosok makhluk yang teramat menyejukkan hati.
Orang orang yang melihat ini pasti akan merasakan ketenangan. Hanya dengan melihat betapa damainya mata itu jika tertutup.
'Tapi bagaimana jika tertutup untuk selamanya?'. Pikiran sekilas itu telah membuat terbit sedikit senyum iblis di sana.
'Waah~ jika dilihat dari dekat seperti ini, bahkan aku benar benar tidak percaya. Bahwa telah menikah dengan salah satu pangeran yang ada di surga.' Bisiknya pada hati terdalam
Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, masa pengenalan mereka tidak terlalu berjalan dengan lancar.
Akibat musuh Taehyung yang bertebaran, hingga mereka harus menyamar saat ingin bertemu.
Dan justru itu telah membekas di benak Yoona kecil. Itu sangat unik baginya, dan itu adalah untuk pertama kali dalam seumur hidup.
"Wajahnya terlihat lelah sekali, apa dia yang melakukan semuanya? Sangat bersih. Aku akui itu." Pujinya hingga tanpa ia sadari, bahwa tangan dan jari jari nakal telah bergerak mengelus kepala Taehyung.
οΏΌ
Rambutnya yang klimis dan halus, ditambah pahatan pahatan pada wajahnya yang teramat sempurna.
"Kiyowo~β€"
Namun semua manusia tidak ada yang memiliki kesempurnaan. Sama seperti dirinya, kesempurnaan itu tertutupi oleh sifat yang terkadang baik dan buruk secara bersamaan.
"Sedang apa kau?"
Taehyung menarik tangan Yoona yang telah tertangkap basah telah menyentuh kepalanya.
"Ah! Bukan- a- aku hany- hanya- pergi untuk-" Ia gugup sekali sehingga tidak mengerti apa yang ingin dikatakan.
"Sudah tertangkap basah, tapi masih saja ingin mengelak."sindirnya.
"A- aku hanya-"
"Kenapa tidak tidur di kamar?" Tanya Taehyung pada Yoona.
"I- itu- Jenni-"
"Bertengkar lagi?"
"D- darimana kau tau?" Ucapnya yang tiba tiba menundukkan kepala menghadap jari jari kaki.
"Coba ceritakan padaku." Kata Taehyung dengan niatan baik untuk meluruskan kesalah- pahaman mereka berdua.
Lalu dengan senang hati Yoona menceritakan kronologi itu tanpa beban.
Awalnya ia bahkan tidak tau permasalahan apa yang menyebabkan mereka berdua bertengkar. Dan mengapa ia sangat membenci Yoona dari dulu hingga sekarang. Namun sepertinya ia telah mengerti, mengapa kemarin Jenni mendatangi kelasnya lagi.
Mungkin karena ia telah mendengar kabar bahwa oppanya akan menikah dengan gadis bernama Yoona yang merupakan musuh abadi Jenni itu sendiri.
"Baikalah, ayo tidur!"
"A- apa?!"
"Istirahatlah, aku akan membicarakan hal ini besok kepadanya. Tenang saja, ayo tidur!"
"Ta- tapi-"
"Sini sini. Sofanya kita bagi dua."
Tanpa meminta persetujuan Yoona yang kini telah resmi menjadi istrinya, ia menuntun tubuh makhluk mungil itu menuju sofa bagian pojok agar tidak terjatuh.
Dan Taehyung yang menjaga bagian depan untuk berjaga jaga juga bahwa istrinya aman dalam dekapan hangat.
"T- tidak perlu sampai seperti-"
"Ssst.. aku sudah mengantuk sekali, jangan berisik." Ucapnya terlalu dekat dengan wajah Yoona. Itu mengakibatkan dirinya hampir terasa gila.
Ini lebih parah daripada mereka tidur di atas ranjang yang besar itu.
Karena keterbatasan ruang sofalah mereka harus saling memeluk satu sama lain.
'Ini karena ulahmu! Jenni Kim!' Gumamnya yang masih dalam keadaan emosi.
"Karena Taehyung sudah membersihkan dapur akibat ulahku, besok aku akan meminta maaf padanya. Benar! Apapun resiko yang akan aku terima nanti. Pokoknya minta maaf saja, jangan lemah Yoona-ya! Fighting!" Gumamnya sendiri sebelum ia benar benar tenggelam dalam dekapan sang suami, Kim Taehyung.
Sebenarnya perkataan itu masih dapat dengan jelas Taehyung dengar.
Karena ia belum tertidur menjemput alam mimpinya.
'Manis!'
Kalimat penutup dalam hatinya sebelum benar benar ia meninggalkan dunia kenyataan.
Perlahan suasana malam solah olah telah mengangkat jiwanya terbang menuju duia yang paling indah, DUNIA MIMPI.
πππ
Pagi ini Taehyung dan Yoona hanya bisa terdiam sambil saling mencuri pandang.
Yoona yang sebenarnya sangat tidak nyaman dengan atmosfer bumi seperti ini, akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"I-itu.. ajusshi.." gugupnya saat hendak melanjutkan niat malam tadi.
Sebenarnya Taehyung tidak memiliki terlalu banyak waktu lagi, tapi apabila ini demi gadis bernama Park Yoona pasti akan ia lakukan.
Taehyung mencoba untuk membantunya berbicara, namun hal itu selalu gagal dikarenakan raut wajah Yoona yang tidak dapat ditebak secara langsung. Jadi ia hanya bisa melemparkan pandangan hangat bertemankan senyum yang merekah, didalam situasi ini.
Benar saja, membutuhkan waktu beberapa menit bagi Yoona untuk berfikir lebih lama. Dengan susah payah, akhirnya ia kembali membuka mulut untuk menyampaikan isi yang ada di dalam hati.
Dengan cepat Taehyung memperbaiki posisi duduknya. Memasang kembali pendengaran yang sejak awal belum ia dengar.
"Aku ingin meminta maaf pada ajusshi.." Ucapnya dengan begitu lembut, disertai ekspresi wajah yang terlihat murung.
Awalnya Taehyung hanya menganggap itu hal yang biasa saja, namun semuanya kembali berubah saat ia menangkap satu gambaran yang belum pernah ia lihat sebelum itu.
Ya, Yoona yang mengepalkan kedua tangan seolah benar benar sedang memohon. Itu terlihat sangat menyentuh hati seorang pria tangguh bernama Kim Taehyung.
Karena belum pernah ada yang tulus melakukan hal seperti ini padanya. Mulai dari awal ia hidup, hingga sekarang. Dan justru hal itu ia dapatkan dari sang istri kecil yang bahkan masih belum mengerti apa arti dari sebuah dosa.
Hatinya benar benar tersentuh bukan main, dan lahirlah sebuah senyuman yang sangat menghangatkan tubuh orang yang melihat.
"Aku.. benar benar menyesal akan kesalahan yang kemarin." Ucapnya masih dengan wajah yang teramat lugu. Sehingga tidak bisa membuat pria di hadapannya ini untuk memberikan sebuah hukuman yang berat.
Jangankan sebuah hukuman, bahkan untuk memarahinya saja, rasanya ia tidak sanggup. Pria lain mana yang dapat melakukan hal itu jika disuguhkan raut wajah dan tingkah yang lucu seperti ini?
Namun terdapat satu pertanyaan yang menggejolakkan pikirannya.
Yaitu, kesalahan yang mana?
Benar bukan?
Ada banyak sekali kesalahan yang telah ia perbuat. Bahkan jumlahnya tidak dapat dihitung lagi dengan jari.
Tapi Taehyung tidak ingin memperkeruh keadaan saat ini. Ia ingin masalahnya segera selesai dengan cepat.
Baiklah, ia telah sepakat pada pemikiran sendiri. Bahwa kesalahan apapun yang ingin Yoona akui, maka maafkan saja.
"Aku mohon padamu ajusshi.. aku tidak akan mengulanginya lagi.. jebbal~" Mohonnya pada Taehyung yang masih terdiam kaku melihat kelucuan tingkah sang istri.
Butuh waktu 5 detik untuk menjawab itu semua.
"Baiklah." Jawabnya dengan sedikit berfikir.
"Katakan kesalahanmu yang mana." Lanjutnya dengan mengangkat sebelah alis mata sebagai kode.
Awalnya gadis itu tampak bingung untuk mencerna perkataan Taehyung. Lalu ia melemparkan tatapan memelas itu lagi padanya.
"Semuanya ajusshi.. aku mengakuinya," imbuhnya dengan sangat lembut. Bahkan raut wajah itu tampak benar benar memancarkan ketulusan.
Merasa tidak baik juga terlalu mempermainkan emosi Yoona, akhirnya ia mengangguk sebagai tanda faham.
"Ah! Terimaksih ajussh-"
"Tapi ada syaratnya."
"A- apa?!." Pekik Yoona tiba tiba.
Jelas bukan Taehyung namanya jikaΒ memberikan sebuah kesempatan tanpa ada beberapa syarat tertentu.
Bagi dia itu adalah hal yang penting. Dan mungkin saja jika ada niat orang lain bertujuan untuk menipu dirinya.
Yoona hanya mendengus kasar, tidak percaya akan jawaban dari Taehyung. Padahal bukan ini yang ingin ia dengar.
Dengan niat licik yang telah terlintas di fikiran Taehyung, ia mengatakan beberapa syarat yang harus Yoona lakukan setiap ia memintanya.
Yoonapun hanya bisa memaklumi hal itu bukan?
Dia juga tahu bahwa kesempatan itu sangat mahal. Dan tidak akan pernah datang untuk yang kedua kali.
"Ba- baiklah!" Jawabnya dengan sedikit tidak yakin.
Setelah mendengar hal itu, terbitlah senyuman jahil seorang Kim Taehyung yang benar benar menunjukkan jati diri pengusaha licik.
Dengan menunjukkan smark iblis, membuat bulu di sekujur tubuh Yoona meremang. Pertanda hal buruk pasti akan terjadi padanya mulai hari ini.
"Baiklah, yang pertama. Jangan panggil aku ajusshi lagi! Kau mengerti?!." Ucapnya dengan tegas.
Yoona yang merasa fahampun langsung menganggukan cepat kepalanya.
"Yang kedua," Tiba tiba Taehyung menjeda kalimatnya dan menatap manik coklat milik Yoona dengan niat tertentu.
Baiklah, itu sudah cukup jelas untuk mengetahui apa yang akan ia katakan.
"Cium aku setiap saat!."
Dan sontak saja hal itu membuat Yoona membelalakkan matanya. Bukankah itu adalah hal yang mereka lakukan 3x belakangan?.
Apa baginya itu tidak cukup?
Mau berapa banyak lagi ciuman yang harus ia berikan?
Yoona yang masih dalam keadaan terkejutpun hanya bisa mengangguk pasrah. Karena bagaimanapun, ia tidak akan pernah bisa menghindar.
"Gadis pintar." Pujinya pada Yoona yang tampak sedang menundukkan pandangan ke bawah. Ia merasa sangat malu akan syarat kedua barusan.
"Ada lagi?! Ajusshi-"
"Patuhi aku!."
"Apa?!" Tanyanya yang tiba tiba berdiri dari sofa.
"Sudah, itu saja. Jangan panggil aku ajusshi, cium aku setiap saat, dan patuhi aku. Tidak ada yang aneh, kan?" Jelasnya dengan sangat enteng tanpa harus memikirkan pendapat gadis yang berada di depan ini.
"Bagaimana bisa setiap saat aku menciummu?."
"Itu harus!" Tegas Taehyung padanya.
Yoona sepertinya akan sangat sulit untuk menghindar. Karena Taehyung pasti akan selalu mengintainya kapanpun.
'Ya Tuhan~ syarat macam apa ini? Aku memanglah masih kecil, tapi aku tidak sebodoh itu. Dasar ajusshi mesum!.' Bahkan di dalam hatinyapun mengutuk pemikiran kotor yang sering Taehyung tunjukkan.
"Aku tak butuh kesepakatan darimu. Kau sendiri yang datang padaku, maka kau sendiri yang akan menanggung resikonya." Jelasnya lagi tanpa mempedulikan posisi Yoona saat ini.
Taehyung berjalan untuk berangkat bekerja.
"Tapi ajussh-"
"Hey! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Ingat perjanjiannya?!" Tegasnya kembali.
"Jika tidak maka.."
Tak lama, ia kembali menghentikan langkah kakinya sejenak. Dan berjalan menuju tempat Yoona berada.
Rasa takut dan malu kembali muncul dalam benak terdalam. Ia hanya bisa menundukkan pandangan, berharap Taehyung tidak menghiraukan perkataannya barusan.
"Jika kau tidak mau sepakat, maka syarat berikutnya akan berlaku juga bagimu." Ucapnya dengan sengaja sambil menyentuh anak rambut Yoona, dan menyelipkannya di balik daun telinga.
"Syarat syarat itu berlaku mulai dari..."
Kemudian ia mencondongkan tubuhnya. Taehyung dengan sengaja melibatkan tangan kanan untuk memegang pundak Yoona. Lalu mendekatkan bibirnya pada daun telinga dan membisikkan beberapa kata yang berhasil membuat Yoona terperanjat.
"Sekarang..." godanya dengan suara bariton yang sengaja ia buat sedikit terdengar serak dan membisik.
Benar saja, Yoona membulatkan matanya sempurna. Hatinya bercampur menjadi satu. Antara ingin meledak, dan ingin memukul mulut Taehyung itu.
Ia berkata sesuka hati tanpa mau memikirkan perasaan lawan bicaranya.
Karena ia merasa bersalah juga akan hal hal konyol yang telah dilakukan tanpa merasa berdosa, dengan susah payah Yoona menganggukkan kepala pertanda ia telah mengerti.
"Seperti itu lebih baik." Ujarnya pada Yoona.
"Cium aku."
"A- apa?!"
"Aku sudah mengatakannya dengan jelas bukan? Atau kau mau aku yang melakukannya, hmm? Tinggal pilih chagiya~" Godanya kembali.
Tidak, ini akan menjadi sangat rumit jika ia lakukan. Karena ia sama sekali tidak mengetahui teknik berciuman yang baik dan benar.
Taehyung yang melihatnya hanya bisa menunggu. Mengapa jika dia telat? Tidak masalah. Karena perusahaan itu miliknya. Benar bukan?
Taehyung berfikir bahwa Yoona telah kehabisan kesempatan terakhir, ia tampak sedikit kesal akan sikap istrinya ini yang lamban.
Tidak seharusnya juga ia menikah dengan gadis lamban seperti ini. Tapi entah mengapa, justru kekurangan tersebutlah yang membuat daya tarik tersendiri bagi Taehyung.
'Kiyowo~' adalah pujian pertama yang ia berikan untuk makhluk kecil di hadapannya ini.
"Baiklah, waktumu sudah habis. Aku saja yang melakukannya. Oke?."
"Ah! Tidak!"
"Hey, ayolah.. aku sudah terlambat gara gara hal ini. Kau sudah aku liburkan, jadi bisa beristirahat bukan? Tapi aku tidak." Sindirnya dengan melayangkan tatapan sedikit kecewa karena tidak ada perkembangan sikap dewasa secara cepat pada sang istri.
Tampak dikedua alisnya ingin menyatu. Jelas Ia tampak sedang berfikir keras.
"Ah! Aku sudah tidak tahan! Yoona-ya~ maafkan aku!."
"Mmph!"
Akhirnya Taehyung berhasil mendapatkan hal yang ia inginkan sejak tadi.
"Hah~ mmph"
Dengan perlahan ia *******, menjilat, dan menyesap ranum merah milik sang istri. Tampak sebuah hasrat yang telah ia pendam sendirian akibat jadwal kantor yang tidak terbendung.
"Haah~ " ia melepas sebentar ciuman itu. Lalu menatap kedua bola mata Yoona dengan serius.
"Biarkan seperti ini sebentar saja."
Tanpa basa basi, bahkan tak memerlukan jawaban dari Yoona. Ia langsung menyambar kembali bibir kenyal itu. Hingga terkadang, suara sesapannya menggema di ruang tamu.
"Mmp.. haah~" .
Tak ada yang bisa Yoona lakukan selain membuka dan menutup matanya. Mungkin karena rasa terkejut, hingga reaksinya tidak seperti yang Dia inginkan.
'Bibirnya kenyal sekali, aku bisa gila jika terus terusan seperti ini.' Ucap Taehyung dalam hati.
Jujur, ini adalah yang pertama kali ia begitu menikmati rasa sebuah ciuman.
Selain rasanya yang nikmat, bibirnya juga memabukkan alam sadar.
"Haah~ lagi." Tanpa ia sadari, ia mulai ketagihan untuk ******* dan menyesap bibir sexy yang tebal itu.
'Jangan berhenti, terus seperti ini. Aku tak akan pergi bekerja!' Bahkan di dalam hatinya benar benar seperti sebuah sihir yang nyata.
Padahal jam telah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Mmph- cukup ajuss- mmph!!"
"Sudah aku katakan jangan panggil aku seperti itu! Sekarang terima hukumannya!"
"Mmph!"
Jika seperti ini, Yoona akan mati.
"Hah-!"
"Bernafas saja sesukamu."
"Mmph!"
Lagi? Ini adalah hal paling gila yang pernah ia lakukan.
Apa Yoona adalah seorang penyihir ahli?
Jika tidak, bagaimana mungkin dengan mudahnya seorang bernama Kim Taehyung yang terkenal dengan kesombongannya dapat ia taklukkan.
Yoona tidak habis fikir, jika ia sedang berada di sekolah apa yang harus ia lakukan demi memenuhi syarat ini?
"Tidak cukup! Ayo kita lakukan!" Tiba tiba Taehyung menarik tangan Yoona menuju kamar bagian atas.
"Apa?! Oppa tunggu! Kau harus bekerja!" Tegasnya pada Taehyung. Kini keadaan tubuh mereka telah menjadi sangat kacau. Jas yang sudah terlempar kesembarang tempat, dasi yang miring dan bibir yang sama sama membengkak akibat lumatan yang terbilang agresif tingkat 3 dari 4 nilai.
Tampak pula sebuah hasrat yang ingin meledak.
"Aku tidak peduli!."
"Yaak! Oppa! Aku masih sekolah!"
Bahkan Taehyung sama sekali tidak menghiraukan perkataan Yoona barusan.
Justru langkah kaki itu semakin cepat hingga tanpa sadar mereka telah sampai di kamar tidur.
"Yaak! Op- oppa mmph!!"
'Lagi! lagi! lagi! Shit! Ini terlalu memabukkan!' Bahkan hatinya sendiri sangat bergejolak untuk bersikeras melakukan hubungan intim saat ini juga.
"Mmph- haah~"
Bahkan akibat permainan liar lidah seorang Kim Taehyung, dengan mudahnya suara sexy milik Yoona menunjukkan wujudnya.
Ini adalah kesalahan Yoona sendiri. Ia begitu ceroboh. Tapi ini adalah hal yang baru pertama kali ia rasakan. Oleh sebab itu ia tak tau harus menahannya dengan cara apa.
"Yeah.. terus seperti itu chagiya~ suaramu itu benar benar.. sssh sexy~"
Lagi, ranumnya yang manis bak sarang madu kembali dipermainkan dengan sedikit ketidak sabaran Taehyung.
'Tidak oppa.. belum saatnya.. hiks'
Air mata yang selama ini ia pendam akhirnya mengalir di pipi bulat nan putih.
Sepertinya Taehyung menyadari hal itu, hingga terasa ada sedikit kelonggaran dalam penyatuan pada bibir mereka.
'Apa dia menangis?' Tanyanya dalam hati.
Tapi bagaimana dengan hasratnya saat ini?
Tidak bisa ia tahan karena si adik kecil sudah menunjukkan ukurannya.
Kalian tahu berapa?
Haaah sudahlah, belum saatnya.
Saat dengan tiba tiba, Taehyung semakin mengeratkan pelukannya pada Yoona. Makhluk yang berada pada dekapan itu, seperti merasakan hal yang aneh di bawah sana.
"Cup.. hah- hah- oppa?"
"Hah- hah- nee.." jawabnya dengan suara yang masih diatur dengan gusar.
"I- itu.. oppa kenapa?"
"Itu apa?"
Lalu dengan lugunya, ia menyentuh bagian sensitif yang berinisial 'itu' tersebut.
Taehyung benar benar tersentak bukan main. Saat melihat Tae Tae Joni sudah seperti sebuah microfon yang biasa ia genggam untuk bernyanyi.
Ceklek.
Benar benar situasi yang mendukung, pintu kamar terbuka tanpa adanya tanda tanda seseorang akan masuk.
Sudah jelas apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?
"KYAAAA!!!"
Bruk.
Taehyung benar benar lupa bahwa sang adik Jenni Kim, masih sedang berada di rumahnya.
Dengan kondisi seperti ini, siapa yang tidak akan pingsan dan malu setengah mati?
"Yoona??"
"Ah! Nee?"
Gila, rasanya ia juga akan pingsan menyusul sang adik . Karena sudah tidak tahan lagi dengan posisi yang masih tetap bodoh seperti ini.
"Oppa kenapa? Gwenchana?"
"Yoona-ya~ i- itu-"
"Itu apa?" Tanyanya semakin bingung.
"I- itu.. tanganmu.." ucap Taehyung begitu lemas. Karena tangan Yoona telah tertangkap basah sedang memegang Tae Tae Joni dengan amat santaiππ.
"Aaaaa!!!" Teriaknya dengan suara yang memekik pendengaran.
"Ya Tuhan~ keluarga kecil macam apa ini?.. hiks." Ucap Taehyung dengan suara yang melemas akibat insiden tersebut. Benar benar ingin mengubur seluruh wajahnya didalam tanah.
πππ
Aaaah apa yang telah aku ketik?!!π
Nc lagi Nc lagiπdengan susah payah aku buat chapter ini tengah malam, rasanya kalau gak ada yang vote dan komen jadi malas.
Biar aku rajin up date~
β¬οΈ
Jangan lupa vote dan komennya~
πππ
οΏΌ
οΏΌ