MY INNOCENT LITTLE WIFE

MY INNOCENT LITTLE WIFE
- Chapter 13




Riuh piuh yang terjadi di One G Company sudah terjadi sejak 15 menit yang lalu.


Entah apa yang paling menarik perhatian mereka. Sehingga setiap karyawan yang memasuki ruang kerja pengusaha sukses tersebut, selalu memberikan pujian pujian aneh.


"Yaak! Suga hyung, ini semua gara gara kau!!" Marah Taehyung sambil mengacak acak kepala yang terasa berat.


Ia tak tahu lagi harus memasang raut waja seperti apa.


"Kenapa kau memberikan ku ide bodoh ini, eoh?!!" Ia menggerutu tak habis habisnya kepada pria bermarga Min itu.


Tak ada respon sama sekali dari mulut penista paling kejam, bukankah seharusnya Taehyung bersyukur? Karena jika pria bermarga Min itu membalas perkataannya maka, habis sudah hati dan perasaan Taehyung.


"Kau bodoh hyung! kau bodoh!!"


Benar saja, setelah kalimat itu selesai diucapkan, sorot mata Suga sudah tidak mengarah pada layar laptopnya lagi. Tapi kepada asal muasal suara yang berani mengatakan dirinya 'bodoh'.


"Kenpa kau menatapku seperti pemangsa?!! Kau lihat mereka?! Kenapa kau memberikan ide yang paling bodoh?!!."


Taehyung menghela nafasnya frustasi. Ia biarkan nafas kegusaran itu berawang awang mencampuri udara didalam ruangan miliknya dan Suga.


"Jika aku bodoh, maka kau jauh lebih bodoh." Sindirnya dengan nada yang sangat datar.


Benar bukan? Sudah dikatakan jika Suga kehilangan kesabarannya, ia bahkan tak butuh banyak kalimat untuk membuat sasaran empuk bungkam.


Setelah penuturan kata dari sekretaris kejam itu, sudah pasti apa yang sedang diekspresikan oleh Taehyung. Benar, tanpa kata kata. Sangat menusuk batin, perih karena menahan kejujuran terdalam yang Suga ungkapkan.


"Aaakh! Harusnya mereka tak melihatnya tadi! DASAR BONEKA **** SIALAN!!!." Pecah sudah suara kegusaran yang melanda hati dan jiwa Taehyung.


Ia memukul mukul benda yang bertubuh gempal itu, sesekali menarik narik telinga boneka yang tak bersalah.


Apakah wajahnya yang jelek ini terlalu mencuri perhatian? begitulah apa yang ada didalam pikiran pria muda bermarga Kim. Ia berpikir gara gara boneka jelek ini, ia harus dipermalukan oleh karyawannya sendiri.


Bahkan mereka sampai ingin bertemu dengan orang yang menjadi alasan Taehyung membeli boneka ****.


"Sialan kau! Lihat hidungmu itu! Apa bagusnya kau dengan hidung seburuk-" Tiba tiba perkataan Taehyung terhenti karena Suga menepuk pundaknya sedikit keras.


"Yoona tidak memintamu untuk membelinya. Sudah jelas bukan?." Ia bertanya pada Taehyung namun dengan ekspresi yang sama, datar.


"Iya, Me- memang benar! Apa ada masalah?!."


Suga menatap sedikit kesal ke arah mata Taehyung. Tanpa penyesalan ia kembali meberikan respon yang berhasil membuat atasannya itu bungkam seribu bahasa.


"Jelas kalau kau jauh lebih bodoh!." ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.


"Kau-?!!"


"Hal yang membuktikan bahwa kau sangat bodoh. Pertama, Yoona tidak memintamu untuk membeli boneka jelek ini. Kedua, kau tidak memberikannya langsung. Ketiga, kau memutuskan untuk membawanya kedalam perusahaan dengan bentuk sebesar ini. Keempat,..."


Suga menjeda kalimatnya sejenak sebelum mengatakan niat yang sesungguhnya.


"Pilihanmu sangat jelek." Dilanjutkan degan kembali berjalan menuju meja kerjanya.


Dan orang yang hanya bisa memasang pendengaran yang menyakitkan ini, benar benar kembali terbungkam. Sepertinya ia menyadari bahwa sejak awal pilihannya sangat buruk.


Tapi mengapa ia membeli boneka ini kemarin?


Bukankah Yoona tidak menyukinya?


Taehyung mengerutuki nasibnya sendiri dalam pikiran yang bodoh.


"Taehyung." Kembali Suga memanggil Taehyung yang seketika membubarkan pikiran kacaunya.


Sedangkan nama yang dipanggil, menolehkan pandandangan mata menuju asal suara.


Ia berpikir mungkin akan ada kata kata bagus setelah penghinaan itu keluar dari mulut Suga yang pahit, sehingga dengan lapang dada ia mendengar apa yang akan Suga bicarakan


"Yah, aku akui kau 1% jenius."


Yap, sudah pasti ekspresi seperti apa yang Taehyung tunjukkan. Rasa bangga yang teramat berlebihan sebelum 3 kata itu akan kembali menghinanya.


"Setidaknya aku berpikir dengan jenius hyung." Ucapnya dengan sangat bangga tanpa tau kalimat berikutnya.


"99% kau idiot."


Nah, benar bukan? Apa yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Pasti akan ada kalimat yang tak beres kembali memusnahkan kebanggaannya sejenak itu.


"SUGA HYUUUUNG!!!."


👑👑👑


Sudah 2 jam sejak pertengkaran hebat terjadi tepat di dalam ruang dapur. 2 orang gadis dengan rambut yang berantakan, beserta peralatan masak yang bertabur seperti bekas zaman peperangan dahulu kala.


Kini mereka sedang mengatur nafas yang terdengar sangat menahan banyak emosi jiwa. Tapi mereka tidak berhadapan satu sama lain, melainkan memalingkan tubuh serta wajah bersamaan.


Jenni yang menahan banyak emosi, sehingga di telinganya seolah akan mengeluarkan semburan asap panas. Yoona yang menggeretukkan giginya namun masih dapat didengar samar oleh gadis di belakangnya.


"Dia oppaku!" Pekik Jenni hingga membuat Yoona tersentak. Sepertinya kini ia benar benar sangat marah.


Yoona yang mendengar hal itu langsung membalas perkataan yang baru saja ia dengar.


"Tapi dia suamiku!" Balas Yoona.


Karena dengan beraninya Yoona berbicara seperti itu, otomatis tanduk yang awalnya sudah Jenni simpan kini keluar kembali.


"Tidak! Aku tidak mau dia menjadi suamimu!" Jenni tak terima dengan perkataan gadis yang merupakan musuh abadinya itu.


"Tapi aku sudah menikah dengannya.. dududu~" Yoona berusaha menahan emosinya agar tak kehilangan kendali lagi saat berbicara pada makhluk yang lebih kecil darinya itu.


Karena Jenni merasa Yoona telah mempermainkannya, ia kembai melemparkan barang yang berada tak jauh dari sisinya.


"Rasakan ini!!"


Namun percuma saja, usahanya sia sia belaka. Yoona dapat menghindar dengan cepat. Itu karena gerak reflek cukup baik yang pernah ia dan apaanya latih.


"Jika kau tak ingin mendapat banyak masalah lagi, jangan lemparkan barang barang mahal itu padaku. Karena usahamu akan sia sia Jenni-ya~" Ledek Yoona dengan nada yang sengaja ia manjakan.


Kini tanduk Jenni benar benar telah meruncing tajam, soalah. Besiap untuk menohok isi perut musuh abadinya itu.


Jenni hilang kesabaran, ia mulau bergerak untuk menarik rambut Yoona.


"GARA GARA KAU, OPPAKU TAK LAGI PEDULI PADAKU!!." Jenni berteriak sekeras mungkin untuk melepaskan emosinya yang telah menggebu gebu di udara.


"Kau sudah salag sangka padaku Jenni-ya! Aku sama sekali tidak mau menikah dengan oppamu yang mesum itu!!!" Tak kalah juga ia membalas jambakan dari Jenni. Merasa kesakitan, keadaan keduanya malah tambah semakin parah. Hingga sebuah bell berdenting.


"ADA ORANG DI LUAAAAR!!" Kata Yoona yang berusaha menghentikan pertengkaran mereka. Tapi Jenni tidak mempedulikannya.


"AKU TIDAK PEDULIIII!!" Teriaknya kembali sambil semakin memper erat genggamannya pada rambut sebahu Yoona.


"Ada orang di dalam?!!" Teriaknya dari luar.


Karena tak ada yang menjawab dari dalam, orang itu langsung mebuka pintu besar yang tak terkunci tersebut tanpa ragu.


"KAU ADIK IPAR YANG DURHAKAAA!!!"


"KAU KAKAK IPAR YANG MENYEBALKAAAN!!!"


"YAAK! KALIAN?! APA YANG KALIAN LAKUKAAAN?!!!"


Seketika aktivitas mereka berdua terhenti karena telah tertangkap basah oleh sekretaris Taehyung, Suga.


"Apa yang kalian lakukan?! mengapa semua jadi berantakan?!." Suga mencoba sabar sedemikian mungkin agar jati dirinya yang asli tidak keluar.


Yoona dengan liciknya mengambil kesempatan emas sebagai tameng pembelaan.


"Hiks.. Oppaaa!" Dia menangis dan berhambur lari memeluk Suga.


Suga begitu terkejut, ia membulatkan matanya lebar lebar. Dengan kurang ajarnya ritme jantuk yang berdetak menjadi tak karuan. Tidak, ini hanya efek terkejut sementara saja.


Apa apaan ini, Yoona hanya memeluknya bagaikan anak yang meminta perlindungan kepada orang yang lebih dewasa saja. Setidaknya itu yang sedang ia fikirkan.


"Hiks.. dia melempariku dengan peralatan dapur.." Rengeknya yang dengan sengaja dibuat semanja mungkin.


Jenni yang mengetahui akan sandiwara gadis licik itu lalu membela diri juga.


"Itu tidak benar!" Pekiknya pada Yoona.


"Dia itu oppaku! kau tidak boleh memilikinya!!" Marahnya dengan api yang menggebugebu.


Sepertinya Suga tau apa penyebab dari pertengkaran ini. Yah, tidak salah lagi karena Taehyung si pria mesum itu.


Suga tau adiknya itu sangat peduli terhadapnya, tapi tidakkah dia berfikir untuk membujuk dan menjelaskan alasan ia mau menikahi teman sekolahnya ini? Keterlaluan!.


"Jenni, dia adalah kakak iparmu. Mau bagaimanapun kau harus belajar menghormati-"


"Tidak! Dia bukan kakak iparku! Irene lah kakak iparku yang sesungguhnya!!"


Suga hanya berpura pura tidak mendengarkannya. Dan entah sejak kapan tangannya sudah bergerak mengelus pucuk kepala Yoona dengan ringannya.


Saat menyadari hal itu, dengan cepat ia memberhentikannya.


"Jenni, itu bukan urusanmu. Dia sudah berlalu, bahkan ia gagal menjalani tantangan dari Taehyung bukan?" Jelas Suga namun menutupi telinga Yoona dengan tangannya. Ia berharap Yoona tak mendengarkan hal ini.


"Tidak! Bagiku dia berhasil, bagiku dia lebih pantas dibanding gadis sialan ini!" Jawabnya dengan nada yang semakin meninggi.


Suga mencoba menahan emosinya dengan beralih memandang gadis yang masih dengan setia memeluk pinggangnya.


'Semoga ia tak mendengarnya' Suga khawatir akan keluguan Yoona yang seakan akan ia akan menjadi korban nantinya. Sehingga dengan susah payah Suga harus melindungi Yoona agar tidak melihat sosok Irene.


"Sudah puas?" Tanya Suga pada Jenni yang masih setia dengan wajah angkuhnya.


"Kami pergi." Pamit Suga setelah tak mendapat respon dari Jenni.


Suga berjalan sambil merangkul bahu nungil Yoona menuju kamarnya.


"Issh!! Sampai kapan Dia merahasiakan sosok Irene?! KETERLALUAAAN!!"


Prang!


Ia membanting mangkuk sup yang berada di atas meja makan.


Kembali pada Suga dan Yoona. Dengan berat hati Suga menatap sendu mata gadis lugu tetsebut.


"Gwenchana?"


Entah mengapa, matanya terasa begitu panas. Yoona tak ingin orang lain tau tentang kesedihannya. Jika tidak maka orang lain akan tau tentang kelemahannya.


Ia menahan hisakannya, namun ia tida dapat membohongi pria di hadapannya ini.


Dengan memberanikan diri, Suga kembali menatap wajah putih Yoona. Ia tau bawa gadis di hadapannya ini merasa sangat sedih.


"Gwenchana.. keluarkan saja.." Bujuknya sambil mengelus pundak Yoona yang mulai terasa bergerar.


Sial! Mengapa ia jadi terbawa suasana? Seharusnya ia sembunyikan saja. Tidak boleh ada yang tau tentang kelemahannya.


Kalah, akhirnya ia menyerah juga. Benda bening dan menyedihkan hati yang melihat itu mengalir dengan derasnya. Suara dan intonasi bicaranya Suga membuat hatinya merasa sedikit terharu. Apakah tadi ia sedang dibela? Apakah ada orang yang peduli terhadap perasaannya? Ya.. begitu menyedihkan saat ia masih tinggal di dalam kediaman keluarga PARK.


"Aku kembali ke bawah, kau bersiaplah." Perintah Suga kepada Yoona.


Yoona mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Sesekali matanya bergerak ke atas untuk berfikir.


Bagi Suga, tingkah Yoona saat sedang berfikir ini sangat menggemaskan. Tapi tentu saja ia langsung menepis jalan pikirnya dengan cepat. Ia kembali berjalan ke tempat Yoona berdiri.


Ia menarik senyum simpulnya untuk menghilangkan rasa canggung yang luar biasa ini.


"Taehyung mengajakmu makan siang bersama." Setelah mengatakan apa yang perlu ia sampaikan, beberapa detik kemudian Suga keluar dari kamar Yoona.


Yoona terlihat masih saja merasa bingung. Apakah ini nyata? Seorang Kim Taehyung mangajaknya makan siang bersama? Tapi ia mulai tidak mengambil pusing hal itu. Lalu bergerak untuk pergi ke kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Suga berjalan menuruni anak tangga.  Menelusuri ruang tamu yang begitu luasnya. Ia bahkan tak habis fikir, mengapa sahabatnya ini tergila gila dengan harta? Padahal mereka hanya tinggal berdua. Seharusnya rumah minimalis saja sudah cukup.


"Haah.. tidak tau cara berfikir orang idiot itu." Gumamnya sedikit kesal karena ia sudah merasa lelah dengan saran yang ia berikan namun tak pernah berguna.


Setelah tiba di depan sofa, Suga menjatuhkan tubuhnya sehingga terciptalah gerakan memantul dari busa empuk tersebut. Sesekali ia memijat pelipis matanya, berharap rasa pusing yang tiba tiba datang sedikit berkurang.


Apa yang telah ia pikirkan? Entahlah. Biarkan saja dia ternggelam dalam dunia imajinasinya sebentar saja.


"Mengapa kalian menyembunyikannya?"


Baru saja ia merasa sedikit tenang, suara yang memekik telinga membuyarkan segalanya.


Ia tak habis pikir, mengapa hidupnya tak pernah merasa tenang barang semenitpun?


Padahal dunia mimpinya akan tercapai sedikit lagi sambil menunggu pemeran utama selesai bersiap.


"Apa maksudmu?" Akhirnya dengan pasrah ia menanggapi pertanyaan Jenni.


"Dimana Irene? Mengapa kalian menyembunyikannya?" Jenni terus menanyakan pertanyaan itu bertubi tubi.


Suga hanya bisa menghela nafasnya gusar, berharap ia tak menjawab satupun dari peryanyaan adik sahabatnya itu.


"Kenapa kau diam? Jawab pertanyaanku!" Intonasi Jenni sudah mulai meninggi sedikit demi sedikit.


Bukannya Suga tak ingin menjawabnya, hanya saja ini sudah menjadi janji dengan Taehyung sebelum Yoona telah resmi menjadi istrinya.


"Aku tidak tau." Jawabnya tak acuh.


"Kau bohong!"


Suga hanya bisa diam menahan emosi yang sebenarnya sudah berada di ujung tanduk. Jika sampai tanduk itu terlihat, maka ia akan kehilangan kendali. Itu sangat berbahaya, karena yang sedang ia hadapi sekarang adalah adik dari sahabatnya sendiri. Bisa saja nyawanya melayang akibat tindakan ceroboh sedikitpun.


"Apa kau tidak bisa bicara eoh?! Apa kau bisu?!" Sindir Jenni kepada Suga yang masih senantiasa memejamkan matanya tak peduli.


"Jika aku bisu maka kau adalah orang paling idiot yang bertanya kepada orang bisu." Ucapnya dengan santai tanpa tau bagaimana ekspresi Jenni saat ini.


Akhirnya unek unek dari dalam hatinya keluar juga. Apakah ia merasa senang? Tentu saja ia menyesal. Pasti sekarang Jenni sudah merasa sangat kesal padanya.


"Aku bertanya padamu tapi seolah kau tidak peduli! Aku tau kau pasti berbohong padaku! Aku hanya ingin tau tentang kabar Irene saja. Apa aku salah?" Suara itu tiba tiba menjadi sangat lemah.


Apa Suga sudah salah dengar? Tidak peduli. Biarkan saja dia, selama rahasia masih terjaga maka semua akan baik baik saja.


Tring.. tring.. tring..


Ponsel berdering dari dalam saku celananya. Dengan gerakan yang terlalu malas ia menekan tombol berwarna hijau itu.


📱: "Dimana dia?"


"Sebentar lagi selesai."


📱 :"Ingat, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jika tidak maka-"


"Iya aku tau."


📱 :"Baiklah, berikan kartu itu pada Jenni. Biarkan dia menghabiskan waktunya untuk berbelanja."


"Iya."


Pip.


Dengan cepat Suga memutuskan sambungan telefon miliknya. Lalu melihat ke arah Jenni berdiri.


Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan benda tipis berwarna hitam dari dalam saku jasnya.


"Ini dari oppamu, pergilah berbelanja." Pesannya telah ia sampaikan dengan baik kepada Jenni.


"Kalau bukan karena pesan oppaku, aku tak akan melepas kalian berdua! Ingat itu?!!" Marahnya pada Suga yang terlihat sangat jelas.


Akhirnya beban itu telah berkurang satu persatu. Ia dapat menyandarkan lagi punggungnya yang seakan akan ingin retak dan patah.


"Oppa, kajja!" Baru saja ia mulai kembali memejamkan matanya, tiba tiba suara lembut memasuki indera pendengaran dengan sangat hangat.


Dengan perlahan ia membuka kedua matanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat tampilan istri dari sahabatnya ini.


'Cantik.' Gumamnya tanpa sadar ternyata dapat di dengar oleh Yoona sendiri.


"Ma- maaf!" Dengan cepat Suga membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf.


"Haha.. ada apa dengan tuan sekretaris ini? Tidak biasanya bertingkah aneh seperti ini. Bahkan tidak pernah sama sekali." Ledeknya.


"Ah! Ma- maaf" Ucapnya sekali lagi merasa malu dengan tingkah aneh yang telah ia perbuat.


"Hahaha kau lucu sekali tuan sekretaris." Tawanya seketika pecah begitu saja dengan suara yang menggema cukup keras. Dan hal itu membuat wajah Suga me-merah seperti kepiting rebus. Rasanya sangat memalukan jika terlihat aneh di depan gadis cantik.


"Hahaha.. baiklah, ayo kita pergi! Aku sudah lapar! Kajja Suga oppa!"


Seketika ia menarik lengan Suga dan merangkulnya dengan sangat erat. Tentu saja itu akan menjadi kesalah pahaman nantinya. Namun ia tak dapat menentangnya, karena jika tidak maka itu akan membuat hati kecil gadis di sampingnya ini merasa sakit.


'Bersabarlah sebentar Suga, ini akan berakhir saat tiba di perusahaan.' Ucapnya dari dalam hati.


"Oppa? Kenapa kau terdiam seperti itu?"


"Ah! Tidak. Ayo berangkat!"


👑👑👑


Jangan lupa vote dan komennya~




Cerita akan direvisi[50%]