

Malam yang damai adalah impian semua orang, begitu pula dengan gadis muda yang sudah memiliki seorang suami. Setelah dipermainkan oleh perasaannya sendiri, malah tidak terjadi apapun.
Justru malam ini adalah yang sangat menegangkan.
"Yoona-ya." Panggil Taehyung
Seketika lamunan dirinya menghilang begitu saja.
"Hmm?." Yoona masih setia dengan pandangan kosong yang terlihat begitu bayak pikiran.
"Aku minta maaf." Taehyung duduk di sebelah Yoona sambil menggenggam jari jari tangannya.
Gadis itu terkejut dengan perubahan sifat Taehyung yang secepat itu. Ia justru menautkan kedua alis mata seolah bertanya 'mengapa?'.
"Seharusnya makan siang ini adalah hal yang romantis, ditambah lagi dia adalah temanku. Tapi.. semuanya diluar perkiraan, aku benar benar minta maaf." Jelasnya panjang lebar.
Yoona yang mendengarnyapun merinding seketika. Seolah yang Taehyung katakan benar benar tulus dari dalam hati.
Saat ingin angkat bicara, Yoona kembali membalas genggaman tangan suaminya itu. Ia berkata dengan sangat lembut.
"Gwenchana-yo," Hanya itu yang bisa ia katakan. Selebihnya ia tak tau apapun setelah kehilangan semangat saat Taehyung membentaknya tadi.
"... dan aku minta maaf lagi... karena sudah membentakmu tadi... aku menyesal. Padahal kau tidak terlibat didalamnya."
Tak ada lagi yang bisa Yoona katakan. Ia hanya menganggukkan kepalanya pertanda faham dengan semua.
Namun raut wajah Taehyung sama sekali belum merasa puas. Dengan sigap ia mengambil keputusan untuk menebus kesalahannya.
"Yoona-ya." Panggilnya lagi
"Ya." Menoleh dan menatap wajah Taehyung dengan sendu.
"setelah kau selesai ujian akhir, bagaimana kalau kita pergi berlibur?."
Saat itu juga raut wajah yoona berseri dan berbinar.
"AAA! JINJJA?! Yeeah! Gomawoyo oppa!."
Rasa senangnya tak dapat terbendung. Setelah sekian lama mendiami rumah sebagai pasangan yang sah, mereka sama sekali belum pernah keluar untuk sekedar berlibur. Akhirnya peristiwa yang ditunggupun akan segera datang.
Senyum lebar berkembang dikedua ranum mereka. Dengan penuh kegembiraan dan ketulusan lahir batin.
"Baiklah, mulai besok rajin rajinlah datang ke sekolah. Jangan pergi membolos!." Perintah Taehyung
"Awae?! Karna kau aku jadi menambah total absen!."
"Kenapa jadi aku?!."
"Ya jika bukan karena persiapan pernikahan yang kau buat, lalu apa lagi?!."
"Yaak! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?!."
"Eoh? masih tidak mau mengakuinya?." Sindir Yoona yang membuat Taehyung menjadi salah tingkah.
"Anio!." Tolak Taehyung dengan mengangkat angkuh kepalanya dan melipat kedua tangan di dada.
"Dasar ahjussi tua! Pantas saja kau lupa ingatan, usiamu saja jauh dariku." Ejek Yoona sambil mengeluarkan lidah.
Taehyung yang melihat itupun langsung merasa geram dengan tingkah Yoona. Ia sesekali mendengus kesal dan mencoba untuk menahan emosi yang sudah diujung tanduk.
Dia baru berusia 24 tahun dan hal itu sudah dikatakan tua?
Lalu bagaimana dengan usia kedua orang tuanya?
Beginilah kehidupan rumah tangga yang kadang manis, dan kadang juga pahit. Atau keduanya juga datang bersamaan. Justru hal itu yang membuat berbagai macam rasa dalam kehidupan.
Benar bukan?
Tak henti hentinya mereka tertawa sambil saling mengejek satu sama lain.
Taehyung yang bersifat dewasa, dan Yoona yang bersifat remaja.
Keduanya menyatu dalam sebuah ikatan resmi. Namun tentu saja semuanya tak akan berjalan mulus, masih banyak rintangan yang harus mereka jalani. Karena kebahagiaan saat ini masih bersifat sementara.
Mari kita tunggu kebahagiaan selanjutnya, nanti.
💎💎💎
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tak terasa bahwa waktu telah mengantarkan mereka pada kenyataan.
Yoona yang sedang belajar giat karena ujian kelulusan akan segera tiba. Taehyung yang terus menajamkan pandangan pada layar laptop. Pada awalnya ia sudah berpesan bahwa minggu depan akan ada rapat besar besaran bagi para pemimpin. Hingga Yoona harus bisa merawat dirinya sendiri.
Rindu?
Sudah pasti hadir disetiap malamnya. Rapat itu berjalan selama 1 bulan penuh. Mereka hanya bisa mengobrol lewat video call atau hanya sekedar membalas pesan. Setidaknya saling menghubungi.
Yoona yang sedang melangsungkan acara kelulusan, dan Taehyung yang ikut hadir sebagai tamu kehormatan. Sorak dan tepuk tangan begitu memuncak ketika dengan lihainya tangan pemilik perusahaan oneG itu mempersembahkan sebuket bunga untuk Yoona.
Gadis yang baru selesai menerima bunga tersebut ikut menangis haru. Karena merasa sebagai penanggung jawab yang baik, Taehyung mengecup dan memeluk gadis yang ada di hadapannya ini. Sudah pasti semuanya merasa iri dengan posisi Yoona.
Ia memberikan ucapan selamat dengan sedikit membisik ke arah telinga kanan Yoona.
"Walau tubuhmu kecil, tapi prestasimu lumayan juga."
Sindiran itu terhenti saat dengan cepat Yoona mencubit pinggang Taehyung.
"Yak! Kau-"
"Jika ingin mengejekku.. lihatlah situasi!." Gertak Yoona yang berusaha lepas dari pelukan Taehyung.
"Kenapa? Kita kan suami istri." Jawab Taehyung yang mulai mengundang kecurigaan orang orang.
"Ahjussi! Orang orang mulai mencurigai kita! Cepat lepas!." Pekiknya mulai panik.
"Anio!." Namun bukannya menuruti keinginan sang istri, ia malah semakin menenggelamkan tubuh Yoona.
Aroma strowbery segar dari rambut yang mulai terlihat panjang, terkesan alami namun memabukkan. Tentu saja membuat siapapun menjadi betah dalam posisi seperti ini.
"Ekhem!"
Sesuai dugaan Yoona, tak ada lagi sorakan dan tak ada lagi tepuk tangan. Semua mata tertuju pada tingkah laku pria bermarga Kim itu.
"Yaak! Ahjussi!." Panggil Yoona berbisik.
Tapi yang menjadi penyebab masalah tidak menggubris sama sekali. Mata Yoona terasa panas, ia ingin menangis sekencang mungkin. Bagaimana jika semua tau tentang statusnya sekarang? Mereka pasti akan membencinya.
"Tuan Kim!."
Bahkan ia sudah dipanggil berkali kali untuk segera menyudahi acara pelukan selamat. Yang ada malah terdengar suara dengkuran di telinga.
'Astaga! Apa dia tertidur?!!.' Batin Yoona panik saat mulai merasa malu menggerayangi tubuhnya.
Gadis itu tak habis fikir, apa yang telah Taehyung lakukan semalaman hingga bisa tertidur saat dalam acara?
"Maaf, sepertinya Tuan dari perusahaan oneG tertidur." Jelas Yoona.
Tiba tiba semua orang langsung tertawa melihat tingkah laku orang yang paling berpengaruh di korea. Yoona menggelengkan kepalanya, benar benar tak tau harus merespon dengan kalimat apa lagi.
Ia segera menyuruh asistennya untuk membawa Taehyung ke mobil.
"Tolong bawa Tuan kalian ke dalam mobil, dia pasti sangat kelelahan!" Perintah itu langsung dituruti begitu saja.
Yoona baru menyadari bahwa kalimat tersebut dicerna matang matang oleh penonton lain. Mereka menuju orang yang telah diperintah.
"Itu adalah asisten Tuan Kim, mengapa dengan mudahnya Yoona melakukan hal-"
"Hey diamlah! Ada kalimat tambahan."
Setelah itu ia turun dari panggung setelah selesai mendapat penghargaan siswa dengan prestasi tertinggi. Yah walaupun pada dasarnya Yoona tak percaya hal tersebut. Didukung dengan bolos saat jam pelajaran, menambah jumlah absen saat pernikahan, dan yang lainnya. Mungkin karena ia adalah anak yang baik dimata semua orang, itu sebabnya selalu menjadi pemeran utama.
"Yah baiklah, acara kali ini benar benar yang terunik menurut saya. Karena salah satu tamu kehormatan tertidur dengan pulas di bahu."
Mereka kembali tertawa saat kepala sekolah mengulangi kejadiannya.
"Saya benar benar terhibur, terimakasih untuk hari ini. Semoga kedepannya, kalian menjadi orang yang sama seperti Tuan Kim! Orang yang paling berpengaruh seisi kota dan negara!." Ucapnya lantang.
"Baiklah, kita akhiri sampai disini. Selamat menempuh karier baru bagi siswa dan siswi kami!."
Benda yang penuh dengan warna menembak ke sisi panggung. Mereka bersorak ria atas kelulusan dan prestasi yang mereka raih selama ini
"Wah! Cantiknya.. penuh warna!."
"Kyaaa aku suka sekali suasana harmoni seperti ini!."
Para murid kini sudah berganti status menjadi calon mahasiswa. Mereka terlihat senang saat membahas tentang hal tersebut. Karena menghadapi hal yang baru adalah kesempatan yang paling indah.
"Hai." Sapanya sambil menyerahkan sebuket bunga tersebut.
"U- untukku?." Tanya Yoona mengangkat kedua alisnya heran.
"Ya, tentu." Lalu ia mengulurkan tangan dan berharap agar disambut.
"Terima-"
Namun belum saja ia membalas jabatan tangannya, pria lain datang dan berdiri menghalangi pandangan Yoona.
"Tak perlu sedekat itu, bunganya sudah diterima. Pergi sana!."
Yoona tak habis fikir dengan pria didepan ini. Mengapa harus sekasar itu? Ini bisa dibicarakan baik baik.
"Yah.. aku hanya ingin menyapanya saja." Ia menarik kembali tamgannya.
Yoona tau tatapan dan raut wajah yang kecewa sudah pasti terbesit didalam hati.
Tanpa basa basi pria itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa?." Tanya Yoona dingin.
"Kau tau dia siapa, jadi ikuti apa kata-"
"Aku hanya menerima bunganya saja oppa." Rengeknya pada pria berjas biru dongker.
Ia menghempaskan udara dari dalam mulutnya.
"Soobin!." Pria itu kembali dengan senyum sumringah.
"Ada apa lagi?." Selalu seperti ini, respon yang menyebalakan dari seorang Soobin.
"Aku hanya minta izin padamu, berikan aku satu kesempatan saja. Aku mohon..."
Kemudian Soobin menatapnya lekat lekat, hingga rasa sesak mulai menjalar saat tangannya mengepal erat dibawah sana.
"Oppa.. biarkan saja dia-"
"Cukup! Aku mengerti." Ia pergi tanpa melihat ke arah mereka.
Awalnya semua terasa sangat canggung, saling berdiam diri hingga timbul senyuman yang terasa begitu kikuk.
"Emm.. kau.. itu.."
"Y-ya?"
"Aku cuma mau mengatakan suatu hal yang cukup serius." Tiba tiba ia meraih tangan Yoona. Hal yang paling tak bisa ia sembunyikan sejak dulu.
"Eh? I- itu.. aku.."
"Wahai gadis bunga sekolah, aku masih mencintaimu sama seperti dulu. Aku hanya ingin, kita bisa tetap bersama setelah menitih karier nanti!." Ucapnya dengan cukup keras hingga mencuri perhatian semua orang.
Ia membungkam mulut Yoona dengan perbuatannya yang diluar dugaan.
"K- kai! Apa yang sedang kau lakukan?!" Pria itu mengeluarkan sebuah kotak kaca berbentuk hati. Ternyata isinya adalah sebuah cincin dengan hiasan berlian di atasnya.
Tanpa segan segan, ia memasangkan benda berkilau itu di jari manis milik Yoona. Sontak hal itu membuat semua menjadi kacau balau. Hati Yoona yang berkecamuk untuk memukul atas tingkah aneh teman prianya ini kembali dibungkam karena Kai berlutut.
"Park Yoona, kau tau sejak dulu aku menyukaimu. Walaupun kau tetap menolak menjadi teman hidupku, tapi kali ini kita sudah mulai beranjak dewasa. Tidakkah kau berfikir untuk-"
"Cukup!."
Entah rasa apa yang kini mendominasi di lubuk hati Yoona. Ia sedih, ia marah, ia juga benci keadaan seperti ini. Keadaan dimana ia selalu merasa terpuruk atas semua keputusan yang akan diambil. Matanya mulai berkaca kaca, tapi bukan berarti ia merasa terharu. Melaikan benci yang mulai terpancar di dalam sana.
Nafasnya kini mulai memburu, ia tak tahan diperlakukan sangat manis. Namun nyatanya ia tak dapat membalas semua.
Gadis yang jahat?
Tentu saja karena itu ia membenci hal yang sedang terjadi. Kai, teman Soobin yang berarti teman dia juga bukan? Tapi kenapa sesama teman saling menyakiti? Kai yang mencintainya, namun kembali pada kenyataan. Yoona sudah memiliki suami. Dan yang lebih membuat ia meraung adalah, ia sangat mencintai pria itu.
Rasa bersalahpun selalu terpikirkan saat ia bersama Kai.
Yoona tak merespon apapun, wajahnya tertunduk hingga rambut menjelaskan semua.
Sedangkan di sisi lain, ada seorang pria yang melihat aksi itu dari kejauhan. Ia memasang senyum penuh arti bak raja iblis. Rasanya penuh dengan kepuasan dan kebanggaan di dalam sana.
"Akhirnya, tinggal sedikit lagi perangkap itu akan menangkap sasaran dengan tepat."
Ia turun dari dalam mobil, menutup pintu dengan cukup keras. Kemudia berjalan melewati lautan manusia yang sedang menjadi saksi atas peristiwa langka.
Setelah berada cukup dekat dengan gadis berhati gundah tersebut, tanpa ragu ia merangkul tubuh Yoona. Kembali mereka dibuat tercengang oleh tingkah tak wajar dari seorang pengusaha besar.
"Kalian semua, dengarlah." Ucapnya dengan raut wajah datar dan nada yang dingin.
Seketika semuanya menjadi hening, suasana seperti film horor terjadi begitu saja.
"Kau!." Jari telunjuk itu mengarah pada pria yang sedang berlutut.
"Berdirilah!." Perintahnya sambil memundurkan Yoona.
"Dengar, jika masih menyayangi nyawa dan keluargamu.. maka jangan coba untuk mengulanginya. Kau mengerti?!" Pekik pria tersebut dengan nada yang mulai meninggi.
Namun bukannya mendengarkan perintah tersebut, Kai malah semakin yakin bahwa keputusannya sudah bulat untuk serius dengan gadis di hadapannya ini.
"Kau salah!" Ucapnya dengan nada menantang.
"Ini adalah keputusanku, kau tidak ada hubungannya dengan DIA." Kai menekankan kata 'DIA' tepat kepada Yoona.
Pria itu tak habis fikir atas perbuatan anak anak remaja yang kini mulai melenceng. Tak seharusnya mereka bertindak sesuka hati karena pengaruh orang tuanya. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Ingin rasanya tinjuan manis mendarat di wajah sok tampannya itu.
"Justru kaulah yang tak ada hubungannya dengan Yoona."
Mereka kembali dibuat bungkam dengan perkataan pria pemilik perusahaan oneG. Semua saling menatap heran tak habis fikir, apa hubungan Yoona dengan dengan pemilik perusahan besar itu? Hingga ia mau ikut serta dalam masalahnya?
"Apa yang kau katakan barusan ahjussi? Aku adalah teman dekatnya, kaulah yang bukan siapa siapa. Kau tidak mengenalnya dan dia juga tidak mengenalmu!." Ucap Kai yang emosi hampir di ujung tanduk.
"Hey Kai!" Tiba tiba Soobin memanggilnya.
"Jangan pernah bermimpi sepanjang hari, dia akan membuatmu jatuh. Percayalah padaku." Kemudian Soobin meninggalkan kerumunan yang menyesakkan.
Kini aksi mereka bertiga adalah sorotan menarik, hingga banyak kamera juga yang mereka pasang.
"Kalian masih sangat kecil, tapi ingin sekali bersikap seolah olah adalah orang dewasa. Sudah aku peringatkan sebelumnya, jika masih menyayangi nyawa dan keluarga.. maka jangan-."
"CUKUP! Aku hanya ingin tau seberapa dekat hubungan kalian hingga kau meremehkan usiaku!." Kai benar benar sudah kehilangan kendali. Ia tidak bisa meredamkan hal tersebut lagi. Kesabaran dan ucapan ucapan kasar mulai terdengar.
Namun pria itu hanya diam tak menggubris apapun. Sedangkan Yoona masih berada di belakang tubuh kekar itu.
"Yoona-ya, bisa kau jelaskan semua?" Ucap Kai dengan tatapan sendu ke arahnya.
"Urusanmu ada apadaku, jangan ganggu dia."
"KAU! PEMILIK PERUSAHAAN BESAR YANG ANEH! BUKANKAH DARI TADI AKU SUDAH BERTANYA PADAMU EOH?! APA JAWABANMU?!" Ia mencengkaram jas Taehyung hendak melayangkan pukulan. Namun tiba tiba hal itu terhenti saat dengan cepat Yoona memeluk pria bertubuh kekar di hadapannya.
Seketika mata Kai terbuka lebar, ia tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Orang orang mulai membuka mulut dan membuat semuanya menjadi bertambah runyam.
Seorang gadis SMA dengan lancang memeluk pemilik perusahaan oneG.
Itu adalah berita yang tepat, perlahan Kai melepaskan cengkraman itu dan berpaling tak percaya apa yang telah ia lihat.
Senyum penuh kemenangan kini kembali terbit pada ranum Taehyung. "Kau sudah melihatnya bukan? Atau masih belum cukup jelas? Hmm?" Sindir Taehyung sambil menarik tubuh Yoona menuju pelukan hangatnya. Berharap ia dapat menikmati hal menarik.
"Apa katamu?! Ini masih bisa menjadi sandiwara! Huh, aku yakin kau akan meminta maaf padanya karena telah berbuat tidak senonoh!." Kai memicingkan matanya sinis saat dengan lihatnya tangan Taehyung mengelus pipi Yoona.
"Yaak!! Apa yang kau lakukan?! Hentikan itu! Kau pria yang tidak sopan!." Ia berusaha memukul wajah Taehyung, namun gagal karena langsung ditepis.
Lalu Taehyung sedikit merendahkan tubuhnya, ia ingin mengatakan sesuatu pada Yoona.
"Yoona-ya.." bisiknya pelan
"Apa aku sudah boleh mengatakannya?." Kemudian gadis itu mengangguk pasrah. Mungkin ini jalan terbaik untuk tidak lagi menyakiti banyak pria.
"Baiklah, semua mohon dengar! Aku, pemilik resmi perusahaan oneG ingin mengumumkan suatu hal yang sangat penting dan mungkin tidak kalian ketahui sebelumnya! Bahwa DIA, Park Yoona, sebenarnya adalah..."
👑👑👑
Jangan lupa vote dan komennya~