My Angel My Love

My Angel My Love
Episode 7



"Untuk apa?"


"Untuk chattinganlah. Apa boleh?"


"Untuk itu, aku tidak bisa. Karena harus minta persetujuan dengannya dulu, aku tidak bisa main sembarangan kasih pada orang"


"Ya sudah, tidak apa apa"


Kemudian mereka pun mengobrol sambil menunggu angel kembali.


Di sisi lain,


Setelah cukup jauh dari mereka, angel langsung mengangkat teleponnya yang ternyata dari alex.


"Hallo daddy"


"Apa daddy mengganggumu honey?"


"Tidak dad, ada apa?"


"Apa bisa nanti sepulang kuliah pergi ke restoran dulu honey?"


"Kenapa memangnya dad?"


"Daddy minta tolong kamu untuk mengecek keuangan bulan lalu. Karena daddy belum sempat mengeceknya"


"Nanti angel langsung ke restoran setelah selesai kuliah"


"Terima kasih honey"


"Iya daddy"


"Ya sudah, daddy tutup dulu teleponnya. Karena daddy harus meeting sekarang"


"Iya dad, sampai ketemu di rumah"


"Iya honey"


Panggilan pun berakhir, angel kembali ke tempat imel, theo dan bara berada.


"Sudah selesai?"


Angel mengangguk,


Kemudian duduk di kursinya, Tapi tiba tiba suara lengkingan perempuan yang cukup keras terdengar seperti memanggil nama seseorang.


"Theo"


"Mak lampir datang"


Siapa lagi kalau bukan naura, yang berjalan menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi makanan.


Sekarang naura sudah berdiri di samping theo.


"Aku cari ke kelas tidak ada, ternyata kamu sudah di sini. Kenapa tidak menungguku?"


"Theo"


"Kamu bisa tidak jangan berisik. Suaramu membuat gendang telingaku pecah"


"Itu bukan urusanku"


"Mak Lampir" ejek bara.


"Apa kamu bilang!!" ucap naura marah, mendengar bara menyebutnya seperti itu.


"Kamu bisa DIAM tidak"


"Tapi,,, bara mengejekku. Dia bilang aku seperti mak lampir"


"Emang iya kok"


"KAU,,," bentak naura.


"Kalau begitu kamu pergi saja dari sini, kamu sangat mengganggu kita yang sedang makan"


"Tapi aku ingin di sini, makan bersamamu. Apa kamu bisa pindah tempat duduk?" tanya naura pada bara yang duduk di samping theo.


"Tidak, ini kursiku. Aku yang lebih dulu duduk di sini. Kamu bisa duduk di sebelah sana" tunjuk bara pada kursi di samping imel.


"Tapi aku ingin dekat theo"


"Tidak mau"


"Cepat pindah"


"Tidak"


"NAURA,,, kalau kamu tidak mau duduk di sana, ya sudah pergi dari sini. Kamu bisa cari tempat duduk yang lain. Dari tadi kamu terus berisik dan mengganggu kita"


"Tapi,,,"


"PERGII" bentak theo.


Mendengar suara theo yang keras dan membentakknya, naura langsung pergi dari hadapan mereka dengan perasaan kesal, marah. Karena merasa di usir.


Orang orang yang berada di sekitar mereka pun ikut menyaksikan kejadian tersebut, di mana mereka melihat theo yang membentak perempuan.


"Bagus, akhirnya pergi juga tuh mak lampir"


"Kamu juga diam"


"Iya, iya, kamu galak sekali"


"Maaf, jadi mengganggu ketenangan kalian yang sedang makan"


"Tidak apa apa"


"Sudah mel"


Kemudian mereka kembali mengobrol sambil menyantap makanan masing masing.


**


Di tempat lain,


Naura sekarang berada di dalam mobil, setelah pergi dari kantin dengan perasaan marah, kesal, jengkel, karena di usir oleh theo.


"Si*l, kenapa selalu seperti ini tiap ingin dekat dengannya. Kurang apa lagi coba, aku ini cantik, kaya, seksi, tapi kenapa selalu di tolak.


Padahal sudah beberapa tahun aku terus mengejarnya, tapi kenapa masih tetap sama seperti itu? Selalu marah, membentak, mengusirku.


Si bara yang selalu menghina, menggejek, cari masalah denganku, tiap ingin bersama theo. Mereka semua sangat menyebalkan.


Tapi, siapa dua perempuan itu? Kenapa bisa bersama mereka? Sejak kapan mereka dekat? Ada hubungan apa mereka? Apa jangan jangan dua perempuan itu sengaja ingin mendekati theo?


Mencari perhatian?


Kalau benar, tidak akan aku biarkan mereka atau siapa itu mendekati theo sedikit pun. Theo hanya milikku dan harus jadi milikku apa pun caranya" monolog Naura.


Dia akan memikirkan kembali cara untuk theo bisa menjadi miliknya, menjadi kekasihnya.


**


Sekarang mereka sedang berada di luar, berjalan untuk pulang karena selesai kuliah.


"Benar tidak mau aku antar pulang"


"Aku sudah di jemput. Mungkin sekarang lagi di jalan"


"Baiklah, aku pulang duluan"


"Hati hati"


Imel masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pergi, meninggalkan angel. Sedangkan angel pergi berjalan kaki ke arah halte untuk menunggu jemputan.


Theo yang melihat angel duduk di halte depan kampus sambil memakai handset di telinganya, terukir senyum di wajahnya entah mengapa theo sangat suka menatapnya.


Mungkin di mulai sejak insiden waktu lalu.


Theo menepikan mobilnya tak jauh dari tempat angel berada. Menatap angel yang masih asik dengan handsetnya. Hingga sebuah mobil berhenti di depannya dan seorang pria paruh baya keluar menghampirinya.


Angel pun berjalan dan masuk ke dalam mobil, saat itu pula theo kembali melajukan mobilnya. Selama perjalanan wajah cantik angel terus terukir jelas di benaknya.


Membuat theo menggeleng dengan senyum manis di wajah tampannya.


"Gila, kenapa terus memikirkannya"


Di mobil angel,


Angel menyenderkan kepala, menatap jalanan kota yang sangat padat, bangunan tinggi menjulang membuat semakin terlihat indah walau cuaca sangat panas.


"Kenapa pak?"


Angel merasa mobil yang sedang di tumpanginya berhenti dan sesekali berlaju pelan seperti tersendat.


"Macet non di depan"


Angel mengangguk, kemudian kembali menatap keluar jendela namun matanya melihat seorang nenek tua yang sedang berjualan di pinggir jalan.


"Pak tono, tolong berhenti ke tepi jalan"


"Baik non"


Mobil pun berhenti di pinggir jalan.


"Non angel mau kemana?"


Saat tono melihat anak majikannya membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


"Pak tono tunggu sebentar, saya mau ke sana"


"Baik non"


Angel berjalan menghampiri nenek tua yang sedang berjualan, duduk berjongkok dan mengajak nenek tua itu mengobrol.


"Non angel memang gadis yang sangat baik seperti tuan dan nyonya. Mereka tidak memandang status atau pun kasta"


Tidak berbeda jauh,


Theo pun sama terjebak macet, menatap ke samping kiri dan tak sengaja pandangannya melihat seseorang yang di kenalnya.


"Itu bukannya angel, kenapa dia ada di sana?"


Theo melihat angel sedang bersama seorang nenek tua yang berjualan. Dia terus menatap, lalu mengeluarkan ponselnya untuk memotret, mengambil gambarnya.


Setelah itu kembali menyimpan ponselnya dan terus menatapnya. Rasanya sangat kagum, gadis cantik dan mau berpanas panasan untuk menolong orang bukanlah gadis biasa.


Tidak seperti orang orang yang berada di sekitarnya yang terlihat cuek, tidak peduli bahkan berpura pura tidak melihat, hanya mementingkan diri sendiri.


15 menit kemudian,


Akhirnya kemacetan selasai, sekarang jalanan sudah kembali lancar. Angel sudah kembali masuk ke dalam mobil setelah selesai dengan apa yang di lakukannya tadi.


Sama halnya dengan theo, kembali melajukan mobilnya yang sempat tertunda beberapa menit.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan vote😊


Mohon dukungannya🙏