
Mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah angel.
"Terima kasih, sudah mengantarku ke supermarket dan juga pulang"
"Iya, mobil kamu sudah di bengkel. Besok baru bisa di ambil"
Angel mengangguk.
"Aku pulang dulu"
"Iya, hati hati. Sekali lagi terima kasih"
Theo mengangguk, melajukan kembali mobilnya dan pergi dari area rumah angel. Setelah mobil tersebut tak terlihat lagi, angel langsung masuk dan berpapasan dengan pak dirman.
"Non, sudah pulang. Kok jalan kaki? Mobilnya kemana?"
"Di bengkel, mobil tiba tiba berhenti dan mati"
"Astaga, kenapa non angel tidak hubungi orang rumah? Nanti biar non angel di jemput"
"Saya gak bawa ponsel, lupa. Tapi tadi saya bertemu teman di jalan dan mengantarku pulang"
Dirman mengangguk mengerti, setelahnya angel permisi untuk masuk ke dalam rumah. Tiba di dalam, adam bergegas menghampiri angel.
"Permisi Non angel, kata Bi surti tadi Non angel pergi keluar, apa Non angel pakai mobil biasa kuliah?"
"Iya Pak, tapi mobilnya sekarang ada di bengkel karena tiba tiba berhenti dan mati"
"Ya tuhan, pak adam minta maaf. Pak adam lupa kasih tahu Non angel kalau mobil itu sedang bermasalah. Maafin pak adam Non"
"Gapapa pak, besok juga mobil selesai. Nanti bisa ambil atau minta di kirim langsung ke rumah"
"Baik Non, saya permisi dulu"
"Iya"
Setelah itu angel melangkahkan kakinya menuju dapur, tapi baru beberapa langkah Ia berhenti.
"Astaga... Aku lupa menanyakan di mana bengkelnya. Angel, angel, bagaimana bisa kamu lupa. Ya sudah, besok aku tanyakan padanya. Karena kalau pun di chat atau telepon juga, aku tidak punya nomornya "
Angel melanjutkan kembali langkahnya.
Di tempat lain,
Theo sekarang sudah berada di rumah, tepatnya di kamar. Ia masih memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu saat bersama angel. Apalagi itu pertama kali bagi theo pergi berdua dengan angel dan mengetahui rumahnya.
"Astaga, tadi kita seperti sepasang kekasih. Sampai jantungku terus berdebar saat bersamanya. Rumahnya juga terlihat besar, di lihat dari pintu gerbangnya yang menjulang tinggi dan besar.
Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, bisa bertemu dan berjalan berdua dengannya. Terima kasih atas insiden yang terjadi, yang akhirnya malah membawaku berkah tak terduga"
Theo merasa sangat senang, bahkan sampai lupa memberitahu alamat bengkel mobil tersebut.
"Gara gara ini, aku jadi lupa memberitahu alamat bengkel itu pada angel. Sudahlah, nanti bisa besok di kampus. Karena kalau sekarang, aku tidak punya nomornya"
Pagi hari,
Angel turun dari lantai atas.
"Morning honey"
"Morning mom, dad"
"Anak mommy ternyata sudah besar bahkan sudah memiliki cowok" goda hanna, membuat angel binggung.
"Boyfriend? Siapa mommy?"
"Kamu dong honey, masa iya mommy sih"
Angel masih terlihat binggung dan belum mengerti maksud ibunya.
"Maksud mommymu, kemarin malam kita melihat CCTV , saat kamu keluar dari mobil seseorang dan mommymu menebak bahwa itu adalah seorang laki laki"
"Oh astaga, kenapa mommy menyimpulkan seperti itu. Kemarin angel pergi keluar untuk ke supermarket, tapi saat di jalan tiba tiba mobil yang angel pakai berhenti, mati.
Dan teman kampus angel tak sengaja lewat dan melihat angel yang sedang binggung, kesusahan. jadi Dia menghampiri, menawari bantuan dan tumpangan.
Dia mengantar angel pergi ke supermarket dan juga pulang. Seperti itu ceritanya, angel juga kalau punya boyfried pasti akan cerita pada mommy dan daddy"
"Iya iya, tapi lain kali ajak ke sini kerumah. Mommy ingin mengenalnya, kan mommy hanya tahu imel saja"
Angel mengangguk, kemudian mereka memulai sarapannya.
***
Hari semakin siang, semua kelas sudah selesai. Namun angel masih di perpustakaan karena masih mengerjakan tugas yang memang di berikan dosen hari ini.
Hari ini imel tidak masuk kuliah, karena sedang ada urusan, makanya seharian ini angel pergi sendiri kemana pun dirinya pergi.
Angel mencari, menyusuri lorong tiap rak yang berjajar. Lalu tersenyum saat melihat buku yang di carinya ketemu.
Kemudian mengambilnya, namun tangannya tidak bisa menjangkau karena rak yang lebih tinggi dari tubuhnya. Dengan kaki yang berjingjit angel mencoba untuk mengambilnya, namun matanya menatap tangan yang lebih dulu mengambilnya.
"Itu buku ak,,," terputus saat menatap theo lah yang ternyata mengambilnya.
"Kenapa tidak minta tolong?"
"Aku kira bisa ambil sendiri, tapi ternyata tidak karena bukunya berada di atas"
"Terima kasih sudah membantu ambil bukunya"
Theo mengangguk
"Apa sedang mengerjakan tugas?"
"Iya, tugas pak haris. Kamu sendiri sedang apa?"
"Sama sepertimu, tapi sudah selesai dan tak sengaja melihatmu"
Angel mengangguk mengerti, lalu berjalan menuju meja. Theo mengikutinya di belakang. Dan mereka duduk bersampingan.
"Mana tugasnya, sini aku lihat"
"Ini" memberikan bukunya.
Theo mengangguk, mengambil buku yang baru di ambil. Lalu langsung mencari salah satu jawaban dan memberikannya pada angel.
Angel mengernyit
"Untuk ini, semua jawaban ada di bab ini. Kamu bisa baca dan menyimpulkannya"
Angel mengerti, mulai membaca dan menulisnya.
Theo terus memperhatikan angel yang sedang fokus mengerjakan tugas. Dirinya begitu senang bisa menemaninya mengerjakan tugas dan hanya berdua saja dengannya.
Hampir setengah jam mereka berada di perpustakaan, sesekali theo membantu mencarikan jawaban untuk angel.
"Selesai"
Theo tersenyum melihat tingkat angel yang begitu menggemaskan.
Angel membereskan peralatan belajarnya.
"Terima kasih sudah membantuku tadi"
"Sama sama"
"Terima kasih sudah mengantarkan mobilku ke rumah, padahal nanti bisa supirku yang ambil ke bengkel"
"Tidak apa apa, itu sudah bagian tugas dari bengkel"
Angel menatap kesekeliling kampus yang sudah mulai sepi.
"Sepertinya semua sudah pada pulang, kita juga harus segera pulang"
"Ayo"
Angel mengangguk, kemudian mereka berjalan beriringan dan tidak ada percakapan di antara mereka, hanya ada suara dari langkah kaki mereka yang berjalan.
***
Theo berjalan keluar mobilnya, Ia sudah sampai di kampus. Bagaimana pun penampilan theo selalu saja membuat banyak mata yang menatapnya kagum.
Namun mereka hanya bisa sebatas mengagumi, karena siapapun tidak bisa dekat atau menarik untuk theo. Theo bersikap dingin, cuek dan hanya bicara seperlunya.
Matanya menatap angel yang sudah bersama imel, mereka sedang berjalan. Mata theo tidak teralih dari angel gadis yang baru di kenalnya beberapa bulan lalu, namun berhasil masuk di hatinya.
"Theo tunggu" ucap seseorang dari belakang.
Theo menghela nafasnya, Ia tahu jika nauralah yang memanggilnya.
"Theo,,, kamu belum jawab pertanyaanku"
"Pertanyaan?"
"Siapa perempuan yang kamu maksud itu?"
"Bukan urusanmu" ucap theo berjalan.
"Tapi itu urusanku, aku harus tahu siapa perempuan itu" ucap naura mengejarnya. Theo mengabaikan naura yang terus bicara. Sampai theo menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan angel juga imel.
"Hai" ucap mereka.
"Thanks ya, udah anterin mobil aku kerumah"
"Sama sama"
"Ya udah kita duluan ya"
"Iya"
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan vote😊