
"Gue duduk sini boleh ya? Boleh dong?" Ujar seorang siswa yang tiba-tiba datang dan mengambil posisi duduk di samping Kala.
Seorang murid laki-laki tiba-tiba mendekat ke meja Kala dan teman-temannya, membuat kaget keempat orang sahabat itu. Laki-laki itu membawa serta piring berisikan satu porsi batagor di tangan kanannya dan segelas es teh di tangan kirinya.
"Oh.. iya.. silakan" jawab Kala singkat, yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya.
Sebenarnya jawaban dari Kala itu tidak terlalu penting. Toh buktinya tanpa jawaban dari Kala pun, Rizal sudah langsung mengambil posisi duduk manis di situ. Tepat di sebelah kanan Kala.
Kala reflek menggeser tubuh dan posisi duduknya beberapa senti ke kiri. Untung kursi kayu yang ada di kantin ini desainnya cukup panjang. Sehingga Kala bisa menjaga jarak aman. Sebenarnya masih banyak meja kursi yang kosong di kantin, tapi entah mengapa Rizal memilih duduk di dekat Kala.
Oh my Gosh! Gantengnya.. tapi kok tiba-tiba duduk di sini? Ada apa ya? Apa ada yang salah sama kita? Batin Kala.
Ini kan Kak Rizal si anak band yang tampil pas penutupan MPLS kemarin. Aaakkk!!! ganteng bangeett Ya Tuhan.. Batin Kina.
Demi apa ini disamperin kakak kelas most wanted. Mimpi apa gue semalem? Perasaan nggak mimpi apa apa deh. Batin Anggi.
Eh, gue blepotan ngga ya? Ada yang nyempil di gigi gue ngga ya? Takut banget kalau sampai kak Rizal lihat. Batin Tika sambil meraba-raba wajahnya sekitar bagian mulut. Memastikan bahwa tidak ada makanan yang tercecer di sana.
Jiwa jomblo keempat gadis muda belia ini mulai meronta-ronta.
"Hallo, nama gue Rizal. Kelas XI IPS 3." Rizal memperkenalkan dirinya pada Kaki Tinggi, alias Kala Kina Tika Anggi. Seperti singkatan yang diberikan oleh Kemal pada mereka.
"Nama saya Kala, Kak.." Kala memperkenalkan diri.
"Saya Anggi." Kata Anggi sambil tersenyum manis. Memamerkan deretan gigi depannya.
"Saya Tika, Kak." Tika turut serta memperkenalkan diri dengan tersenyum memamerkan deretan gigi depannya.
"Nama saya Kina, Kak.." Kina tidak mau ketinggalan dalam sesi perkenalan ini.
Mereka berempat memperkenalkan diri masing-masing secara bergantian. Dan sangat berharap Rizal mengingat selalu nama mereka.
"Gue lihat waktu penutupan MPLS kemarin elo nyanyi, Kal.." Rizal membuka obrolan sambil menyantap makanannya. Dan beralih pandangan pada Kala.
"Hehe iya, kak.. waktu itu saya terpaksa nyanyi karena jadi captain, Kak." Kala nyengir seadanya. Kemudian kembali menyantap baksonya dengan perlahan.
Begitupun dengan Kina, Tika, dan Anggi. Tiba-tiba saja mereka bertiga memakan bakso yang ada di depannya dengan sangat pelan. Supaya terlihat sedikit lebih anggun.
"Tapi suara Lo bagus kok." Ujar Rizal.
Kala mematung untuk beberapa detik. Tersanjung tersipu malu. Karena suaranya dianggap bagus oleh Kak Rizal.
"Kal, Lo ikut ekskul band ya.. jadi vokalis di band gue ya. Harus mau ya? Oke?! Sipp!" ujar Rizal yang entah bernada bertanya, meminta, memaksa, atau menodong.
"Uhuk!!" Kala tersedak. Kaget.
"Eh, ini diminum. Jangan kaget gitu, ah.." Rizal buru-buru menyodorkan minuman untuk Kala. Seperti paham dengan apa yang terjadi pada Kala barusan.
Kala segera meminum es jeruknya, dan mengatur nafasnya. Mengatur detak jantungnya. Mengatur segala yang berubah pada dirinya sejak kedatangan Rizal tadi.
Ketiga teman Kala yang sedari tadi ada di situ hanya diam menyaksikan Kala dan Rizal.
Bahkan Tika sampai tak sadar kalau mulutnya menganga. Yah, cukuplah kalau hanya untuk masuk lalat. Tapi sayang sedang tidak ada lalat di situ. Coba kalau ada, pasti ada lalat yang mau masuk ke dalam sana karena dikira goa.
Sepertinya memang Kala yang menjadi tujuan Rizal duduk di sini. Mereka hanya sebatas figuran saja. Tapi menjadi figuran saja rasanya sudah sangat bahagia bisa melihat kakak kelas charming ini dengan jarak yang cukup dekat.
"Maaf, kak.. saya kaget." Kala telah berhasil mengkondisikan tenggorokan dan nafasnya.
"Nggak usah kaget. Gue tau kok elo belum ikut ekskul apapun." Rizal tersenyum. "Bukannya setiap murid baru itu harus ikut minimal satu ekstrakurikuler ya?" Lanjutnya lagi.
"E-eh.. iya, kak.. nanti saya pikir-pikir dulu ya, kak.. soalnya saya pemalu anaknya." Jawab Kala sedikit terbata.
"Gue nggak percaya. Elo kan Miss cupid, mana mungkin lo pemalu." Rizal tersenyum untuk ke sekian kalinya.
"Tapi kalau untuk jadi anak band, kayaknya saya nggak bisa deh, Kak.." ujar Kala.
"Setiap murid baru itu wajib ikut minimal satu ekstrakurikuler. Dan kayaknya elo nggak akan suka ekstrakurikuler yang terlalu memeras tenaga. Apalagi yang mengharuskan otak bekerja keras." Kata Rizal dengan tenangnya dan dengan senyum super ramahnya.
Untuk ke sekian kalinya pula ke empat gadis muda belia ini dibuat terpesona oleh kakak kelas tampan itu. Bahkan Kina yang tadinya mengeluh pusing sakit kepala, saat ini sudah lupa dengan keluhannya itu.
Apa ini yang orang-orang sering bilang hipnoterapi? Karena terhipnotis dengan ketampanan kak Rizal, sakit kepala gue jadi hilang. Sekarang jantung gue yang nggak santai. Kata Kina dalam hati.
"Gue duluan ya.. jangan lupa, besok gue tunggu di studio musik." Rizal berdiri dari duduknya hendak kembali ke kelasnya.
Kala terdiam. Menyerah. Seperti tak ada lagi alasan yang bisa dia ajukan.
Pemaksaan ini namanya! Tapi kok gue sepertinya nggak keberatan ya dipaksa begini sama kak Rizal? Eh, aduh.. Jomblo ngenes amat sih gue. Begini aja lemah banget. Batin Kala. Jiwa jomblo Kala meronta.
"Tapi, Kak.." ujar Kala yang masih berusaha membuat alasan namun tertahan.
"Gue nggak terima tapi tapian." Lagi-lagi Rizal tersenyum ramah.
"Insyaa Allah. Saya usahakan." Jawab Kala akhirnya.
"Oh, satu lagi." Rizal membalikkan badan, kembali menghadap ke Kala. "Kalau sama gue jangan formal gitu bahasanya. Gue bukan Pak Herman, gue bukan kepala sekolah." Rizal tersenyum dan balik badan lagi menjauh dari Kala CS.
Kala bengong dengan mulut sedikit menganga. Tanpa sengaja pandangan matanya bertabrakan dengan Grady. Grady menatap dengan sorot mata dingin. Sedetik kemudian laki-laki itu memalingkan wajahnya.
"Kal, Lo nggak apa-apa kan?" Tanya Anggi.
"Are you okay, Kal?" Kina menggeret tangan Kala.
"Keajaiban apa ini, Kal? Gue bisa liat kak Rizal dari deket. Oh em ji.." Tika masih tak percaya.
Kala menggelengkan kepala.
"Lemes gue." Ucapnya pelan.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))