
Entah keajaiban dari mana, Kala dan Kina masuk di kelas yang sama, yaitu kelas X IPS 1. Sementara Grady dan Mahen masuk di kelas X IPS 2.
Mereka memang tak sekelas. Tapi jika bel istirahat telah berkumandang, mereka akan mencari satu sama lain dan makan bersama di kantin.
Seperti istirahat pertama kali ini, empat sahabat ini makan bersama di kantin.
Banyak bahan obrolan yang mereka bicarakan. Dari mulai pelajaran sampai dengan sepatu sebelah kiri Pak Herman, sang bapak kepala sekolah yang tadi pagi menginjak kotoran hewan.
Sangat random dan absurd banget kan. Ya tapi seperti itulah mereka. Seperti tak akan pernah kehabisan bahan obrolan empat sahabat ini.
"Lagian lo juga kayak nggak ada kegiatan berfaedah lainnya deh Hen, sepatu Pak Herman lo liatin." Grady tertawa kecil sambil menikmati batagor miliknya.
"Lah, gimana gue nggak liat. Orang ada jejaknya di depan lobby." Ujar Mahen.
"Hieekkss!!" Kala dan Kina bersamaan menampilkan ekspresi jijik di wajah mereka berdua.
"Beneran. Kalau nggak percaya coba habis ini kita ke lobby ya. kita buktiin." Mahen menarik tangan Kala.
"Oh, tidak perlu. Terimakasih kakak Mahen. Saya percaya kok." Kala menarik tangannya dari genggaman Mahen.
"Atau elo mau liat?" Mahen gantian menarik tangan Kina.
"Uhuukk!!" Kina tersedak. Reflek menarik tangannya kembali dan memukul tangan Mahen.
Mahen buru-buru memberikan minuman kepada Kina.
"Pelan-pelan aja minumnya. Nggak akan gue rebut kok." Ujar Mahen.
"Gue keselek ogeb!" Kata Kina setelah selesai dengan kegiatan minumnya.
Obrolan demi obrolan mereka lalui. Tentunya dengan diiringi mengunyah makanan. Iya memang, sepertinya kali ini mereka lebih mengutamakan kegiatan ngobrolnya, daripada menyantap makanan mereka masing-masing.
Batagor dan bakso seolah hanya menjadi pemanis meja yang mereka tempati di kantin. Biar nggak kosong-kosong banget mejanya. Supaya nggak sungkan juga sama para penjual makanan di kantin.
Kalau cuma nongkrong duduk-duduk sambil ngobrol kan nggak enak, sungkan jadinya.
"Hai, Kala!" sapa seorang murid perempuan yang tiba-tiba menghampiri meja mereka.
"Eh.. hai juga, Ran!" Sapa Kala balik dengan ekspresi kagetnya.
Rani langsung meletakkan sepiring siomay dan segelas es jeruk di meja itu.
Sementara ketiga sahabat Kala terdiam seketika.
"Boleh gue gabung di sini?" Rani mengembangkan senyumnya kepada keempat orang di depannya.
"Oh, boleh, boleh.." Kala menggeser badannya, berniat memberikan space duduk untuk Rani.
Ya, siswi perempuan yang barusan datang itu bernama Rani. Terlihat dari name tag yang tertera di seragam yang ia kenakan.
Tapi bukannya duduk di samping Kala yang sudah memberinya space, Rani justru memilih duduk di depan Kala, berhadapan dengan Kala. Tepat di sebelah Grady.
Secara reflek Grady menggeser posisi duduknya, merapat ke arah Mahen. Mahen yang kaget, juga reflek menggeser duduknya ke arah kanan.
Kina menyikut pelan lengan Kala sambil melirik dan memberikan kode seperti bertanya. Kala melihat Kina dan hanya menganggukkan kepalanya saja, seperti memberikan jawaban iya.
"Hai, nama gue Rani. Gue kelas X IPA 3." Rani memperkenalkan diri sambil mengajak bersalaman Grady, Mahen, dan Kina secara bergantian.
"Gue Mahen. Kelas X IPS 2" Ujar Mahen.
"Grady, X IPS 2." Ucap Grady singkat.
"Gue Kina. Kelas X IPS 1, sekelas sama Kala." Kata Kina memperkenalkan dirinya.
Sementara Kala sibuk berkutat dengan sendok dan garpu. Demi misi menghabiskan batagornya yang sempat tertunda akibat obrolan dan guyonan absurd dengan sahabat-sahabatnya tadi.
Kala tak turut serta dalam sesi perkenalan ini, karena memang Kala sudah mengenal Rani sebelumnya.
Seketika suasana menjadi berubah drastis. Meja itu menjadi tenang. Tidak lagi ada obrolan sepatu Pak Herman lagi. Tidak lagi ada obrolan jejak sepatu Pak Herman di lobby lagi.
Masing-masing dari mereka sibuk berkutat dengan sendok garpu serta piring mangkok masing-masing. Di antara bepuluh meja kursi yang ada di kantin ini, mungkin hanya meja mereka saja yang terlihat tenang tidak ada obrolan.
Mahen dan Grady saling melirik dan kemudian beradu pandang. Mereka bingung kenapa tiba-tiba suasana menjadi berubah. Beberapa kali kedua laki-laki itu mencoba mencairkan kembali suasana.
Tapi sampai bel masuk kelas berbunyi pun keadaan masih tetap sama.
_______
Saat tengah berada di depan rak paling ujung untuk memilih makanan ringan, Kala dikejutkan oleh seorang perempuan yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Hai, Miss cupid!" Sapanya dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Eh, hai.." Jawab Kala berusaha menutupi rasa kagetnya. Meski begitu, senyuman tak luput dari wajahnya.
Kala tetap melanjutkan aktivitasnya memilih makanan untuk cemilan menonton series di rumah nanti.
Perempuan itu mengikuti ke arah manapun Kala bergerak. Kala bingung. Meski begitu, ia tetap tak mempermasalahkannya.
Mungkin emang dia lagi bingung milih makanan juga. Batin Kala.
"Lo harus comblangin gue." Katanya tiba-tiba.
Kala menautkan kedua alisnya. Mencerna kata-kata perempuan yang mengenakan seragam persis seperti yang dipakai Kala.
"Kenapa malah bengong? Katanya Miss cupid, Mak comblang keren. Buktiin dong. Gue mau jadi klien pertama lo di SMA." Kata perempuan itu tadi.
"Gue bayar pakai handphone terbaru. Yang kameranya ada tiga, empat, lima, sepuluh, atau berapapun itu." Lanjutnya dengan senyum.
Kini perempuan itu menatap Kala.
Kala menatap balik.
"E-elo serius minta bantuan gue, Ran?" Tanya Kala terbata-bata.
Ya, perempuan yang meminta bantuan jasa Miss cupid Kala adalah Rani. Siswi SMA 1 Raga Nusantara yang beberapa hari ini mencoba mendekatinya dan sahabat-sahabatnya.
"Iya. Gue serius." Rani tersenyum, menepuk lengan Kala.
Kala yang tak menyangka hal itu akan terjadi langsung berhambur memeluk Rani. Rani reflek memundurkan tubuhnya. Tapi tetap terjangkau oleh Kala.
"Iya. Gue akan bantu lo. Nggak usah lo bayar." Kata Kala masih dalam pelukan Rani.
"Tetep gue akan bayar. Gue ngga mau punya hutang double. Hutang budi dan hutang fee elo sebagai Miss cupid." Jelasnya.
Mereka kini telah duduk di tempat duduk yang sengaja disediakan di minimarket tersebut.
"Jadi siapa cowok yang mau lo pacarin?" Kala memegang lengan Rani antusias.
"Grady" jawab Rani dengan senyuman. "Grady Raizel Baskara." Lanjutnya masih tersenyum.
"Grady?" Tanya Kala memastikan.
"Iya. Ge. Grady. Grady Raizel Baskara." Rani menegaskan.
"Kenapa? Lo keberatan?" Rani melirik ke arah Kala.
"Hah? E-enggak lah.." Kala menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin gue keberatan. Lagian gue juga akan seneng kalo nantinya Ge punya pacar." Lanjutnya.
"Lo bisa? Yakin?" Rani mengangkat sebelah bibirnya.
"Insyaa Allah gue yakin. Gue seneng kalo sahabat-sahabat gue bisa bersatu. Apalagi kalo ada yang pacaran." Ucap Kala dengan senyum tulusnya.
"Sahabat?" Rani menautkan kedua alisnya.
Kala terdiam.
Oke sepertinya memang tak bisa lagi seperti dulu. Tapi tak apalah. Setidaknya dia bisa bersikap lebih baik. Batinnya.
"Oke. Gue akan coba anggap lo sebagai sahabat lagi, kalau lo bisa bikin gue jadian sama Ge. Grady Raizel Baskara." Pungkasnya sambil berdiri, kemudian berjalan menjauhi Kala.
Kala melihat punggung Rani yang semakin menjauh dengan segudang pertanyaan di otaknya.
_____
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))