
Kala melepas helm berwarna biru miliknya. Kemudian ia mengelap keringat yang muncul di dahi dan pelipisnya. Baru 200 meter dari sekolah, ban motor Kala bocor. Jadilah gadis remaja itu menuntun motor mencari bengkel tambal ban.
Entah sudah berapa jauh Kala mendorong motor matic nya. Yang jelas keringat sudah menguasai hampir seluruh tubuhnya. Sudah lelah dengan kegiatan seharian di sekolah, ditambah lagi harus mendorong motor dengan jarak yang cukup jauh dengan cuaca yang terik. Membuat tenaganya banyak terkuras hari ini.
Tiiinnn...!!!
Tiba-tiba sebuah motor sport berwarna merah berhenti tepat di depannya. Kala menghentikan langkahnya menuntun motor. Memperhatikan dengan seksama motor sport merah itu beserta dengan pengendaranya.
"Hai" sapa pengendara motor sport merah itu.
"Eh, hai juga." Balas Kala, menautkan kedua alisnya.
Laki-laki itu melepas helm full face-nya. Sedetik kemudian tersenyum manis memamerkan lesung pipinya. Kala membalas senyuman itu.
Oh my God! ini kan.. mata itu.. eh, aduh senyumnya.. duh, meleleh adek nih, bang.. batin Kala.
"Hei.. Hallo!!" Laki-laki itu menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Kala, dengan mengernyitkan dahinya. Sedetik kemudian matanya menatap Kala tajam.
"Eh, iya. Ada apa, Kak Elang?" Kala balas tersenyum. Ya, walaupun sedikit terlambat responnya.
"Lo masih inget gue ternyata." Ujar Elang.
"Ingat, Kak.. kan kakak yang jadi pemandu kelas saya waktu MPLS kemarin." kata Kala tersenyum pada Elang lagi.
"Jangan resmi gitu ah ngomongnya. Lo gue aja, biasa aja. Panggil aja gue El." Ujar Elang.
"Hehe iya, kak El. Ada apa ya, Kak?" Tanya Kala dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Harusnya gue yang tanya kenapa. Ban motor lo bocor, ya?" Tanya Elang sambil melihat ke arah Kala dan motornya secara bergantian.
"Iya kak ban motor saya. Eh, ban motor gue bocor. Hehehe" Kala menggaruk-garuk bagian belakang lehernya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.
"Sini gue bantuin lo dorong motor." Elang menyetandarkan motornya dan hendak mengambil alih motor Kala.
"Eh, nggak usah, Kak. Lagian lo kan juga bawa motor." Kala menolak.
"Motor gue ditinggal di sini dulu aja. Aman kok." Kata Elang sedikit memaksa.
"Eh, jangan dong! Nanti kalo diambil orang gimana? Mana mahal banget nih motor." Kata Kala memperhatikan setiap sisi motor Elang dengan seksama.
"Hahaha ada-ada aja deh lo.." Elang tertawa.
Ya Allah, Ya Tuhanku.. fix gue takut kena diabetes. Manis banget ini senyum dan tawanya, Ya Allah.. batin Kala.
"Yaudah, lo terusin jalan aja." Ujar Elang lagi.
"Kalau gitu gue duluan ya, Kak.." Ujar Kala hendak melanjutkan perjalanan.
Kala melanjutkan aktivitasnya mendorong motor. Sementara itu, ternyata Elang mengikuti di belakang Kala.
"Loh, kakak ngapain? Motornya kenapa? Perasaan tadi nggak kenapa-kenapa deh kak." Kala menoleh ke belakang, ke arah Elang dan motornya.
"Gue ikutin lo dari belakang." Jawab Elang.
Akhirnya Elang melakukan aksi solidaritas dengan cara menuntun motornya juga, sama seperti Kala. Dan tak berselang lama kemudian mereka sampai di sebuah bengkel.
"Ban motor saya bocor, Pak." Kata Kala kepada sang montir.
"Siap, non.." jawab montir itu.
Tak perlu menunggu aba-aba, perintah, atau apapun lagi dari Kala, bapak montir itu langsung mengerjakan apa yang harus dikerjakan pada motor Kala.
"Mau gue anterin balik nggak?" Tawar Elang setelah motor Kala selesai ganti ban dan sekalian servis ringan pada beberapa part atas saran dari montir.
"Ya elah, kak.. kan gue bawa motor." Kala tertawa sembari memukul pelan lengan Elang.
Kala menghabiskan waktu ngobrol dengan Elang di bengkel, sambil menunggu motornya selesai dikerjakan. Ternyata waktu sekitar 1 jam cukup membuat mereka sedikit lebih akrab dari sebelumnya.
"Wah, udah berani mukul ya elo sekarang." Kata Elang memegangi lengannya yang dipukul Kala barusan.
"Eh, aduh.. maafin saya, Kak.." Kala menundukkan kepalanya.
"Hehehe iya, kak.." kata Kala salah tingkah.
Eh? Apa? Wait.. seneng bisa akrab sama gue begini? Ah, gue rasanya melayang.. Bunda.. anakmu terbang loh ini, lagi main sama burung blekok. Batin Kala.
Elang hanya geleng-geleng kepala melihat Kala yang lagi asyik bengong dan mungkin sedang bergelut dengan imajinasinya.
"Makasih ya, Kak Elang. Udah mau repot-repot nemenin gue." Ucap Kala setelah tersadar dari kebengongannya.
"Sama-sama. Eh, tapi ini nggak gratis loh." Balas Elang.
"Eh, aduh maaf.. aku harus bayar berapa, Kak?" Tanya Kala dengan muka serius.
Kala membuka tasnya dan mencari keberadaan dompet miliknya.
"Bukan duit. Gue nggak mau dibayar pakai uang." Ujar Elang.
"Terus pakai apa, Kak? Oh, gue transfer saldo jopy pay? Atau yopay?" Kata Kala masih dengan muka seriusnya.
"Bayar pake traktiran makan kek, ngopi kek, atau nonton juga boleh. Hahaha." Jawab Elang sambil tertawa melihat ekspresi wajah Kala.
"Oalah.. iya baik, Kak. Ayok.." ujar Kala.
"Hahaha engga, gue becanda. Tapi kalo Lo serius mau ngajakin gue juga boleh. Tapi nggak sekarang, gue ada urusan." Kata Elang masih dengan tawanya.
"Oke, Kak.. kapan-kapan gue traktir lo makan atau ngopi atau nonton deh.." Kala antusias.
Jelas lah antusias. Siapa coba yang ngga mau makan, ngopi, atau nonton bareng sama makhluk Tuhan setampan ini.
"Kalo gitu boleh dong gue minta nomor Lo? Biar gampang gue nagihnya." Elang mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menyerahkannya pada Kala.
"Ini, Kak.." ucap Kala setelah selesai mengetikkan nomor ponselnya di telepon pintar milik Elang.
"Itu yang missedcall gue. Save nomor gue ya!" Kata Elang.
Kala langsung mengambil ponselnya dari dalam tas. Gadis itu buru-buru membuka kunci ponselnya dengan password, dan melihat missedcall yang masuk barusan.
Ya Tuhan! Mimpi apa gue semalem? Perasaan ngga mimpi apa-apa deh. Gue bisa sedeket ini sama kak Elang. Bisa ngobrol, bahkan gue punya nomornya. Dan dia duluan yang minta nomor gue. Gue pengen pingsan, tapi kok ini aspal keras ya. Enggak deh, gue takut sakit nanti pas jatuh. Kala bermonolog dalam hatinya.
"Yaudah, gue balik duluan ya." Ujar Elang yang sudah duduk di atas jok motornya.
"Eh, iya hati-hati ya, Kak.." balas Kala.
Kala juga segera menaiki dan melajukan motor matic miliknya dengan kecepatan sedang.
"Loh, Kak Elang?" Kala kaget ketika sampai di depan pagar rumahnya, ada suara motor sport di belakangnya. ternyata Elang mengikutinya dari tadi.
"Bukannya tadi pulang duluan? Bukannya tadi keburu ada urusan ya, Kak?" Lanjut Kala.
Elang melajukan motornya mendekati Kala.
"Gue cuma mau pastiin elo selamat sampai di rumah. Sekalian pengen tau rumah lo. Siapa tau kapan-kapan gue boleh main." Kata Elang tanpa melepas helmnya. Hanya terlihat matanya yang menatap tajam.
"Eh, bo-boleh kok kak, kalau mau main." Kala setengah mati menahan kegugupannya.
Memang tadi di bengkel mereka sudah ngobrol sekitar 1 jam. Jantung Kala sudah mulai terbiasa dengan pesona Elang. Tapi kali ini jantungnya berdegup kencang lagi. Gadis itu tak menyangka Elang ingin memastikan dia selamat sampai di rumah. Dan juga ingin tau rumahnya.
Apa mungkin kak Elang mau main ke rumah gue? Duh, kalo gue sih ya.. mau banget lah.. Bunda, kalo calon mantunya yang ini aja boleh nggak sih? Batin Kala.
"Yaudah gue balik dulu ya! Jangan lupa save nomor gue yang tadi." Elang melambaikan tangannya kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Sedangkan Kala masih mengatur detak jantungnya. Gadis itu memasukkan motornya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))