
Suasana di kelas X IPS 1 siang ini sangat ramai. Sudah lebih dari tiga puluh menit dari dering bel tanda masuk setelah istirahat pertama membahana di seluruh sudut SMA 1 Raga Nusantara. Dua puluh orang penghuni yang berada di dalam kelas itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Kemal sang ketua kelas X IPS 1 sedang malas untuk mencari Bu Nani, guru mata pelajaran Matematika yang seharusnya masuk mengajar jam pertama. Kemal lebih memilih asyik bermain catur bersama Wildan, si ambisius untuk menjadi atlet catur nasional.
Sekitar enam orang mengelilingi pertandingan sengit itu. Keenam orang yang mengelilingi pertandingan catur tersebut sebagian berperan menjadi supporter dan sebagian lagi haters.
Di sudut belakang sebelah kiri terdapat Ragil, si manusia setengah kukang yang hampir selalu memanfaatkan waktu luang atau jam kosong untuk tidur. Sebenarnya dia tampan, akan tetapi ketampanannya tidak begitu terekspose karena hobi tidurnya yang menutupi beberapa kelebihan yang ia punya.
Di sudut depan pojok dekat meja guru, Afen dan Dika sedang adu panco dengan Nanda sebagai wasitnya. Sedangkan delapan manusia penghuni kelas lainnya yang berjenis kelamin perempuan berada di tengah-tengah kelas sedang berkumpul membentuk sebuah lingkaran.
"Eh, si Zizi anak kelas X IPA 3 pacaran sama Jovan X IPS 3 dong." Rindu membuka sesi ghibah pagi menjelang siang ini.
"Oh ya? Udah pacaran aja mereka. Bukannya baru beberapa hari yang lalu Jovan minta tolong ke elo ya, Kal?" Anggi menoleh ke sebelah kirinya dimana Kala berada.
"Hah? Iya, tapi sayangnya bukan gue yang berhasil comblangin mereka. Mungkin si Jovan udah usaha sendiri. Gue baru di tahap awal ngenalin mereka. Karena mereka sama-sama belum kenal dari awal MPLS." Jawab Kala.
"Jadi bukan elo, Kal?" Tanya Tika memastikan.
"Bukan. Memang mereka udah berjodoh kali." Jawab Kala lagi.
"Grady tau yang comblangin mereka berdua." Tak ingin kalah, Adiba pun turut serta dalam obrolan.
"Grady? Anak X IPS 2 itu maksud Lo?" Tanya Anggi memastikan.
"Ya siapa lagi? Seinget gue, nama Grady di sekolah ini kan juga cuma dia doang." Rindu mengetuk-ngetuk pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
"Oh, syukurlah kalau gitu. Berarti itu belum rezeki gue." Kata Kala.
"Kok gitu sih, Kal? Nggak bisa begitu dong. Itu kan kliennya elo." Tika tidak terima.
"Eh, tunggu tunggu.. tapi bukannya Jovan itu deketnya sama elo ya, Mel?" Sarah melirik ke arah Mela.
"Eh, enggak kok. Gue sama Jovan temen SMP doang. Pas awal masuk sini yang gue kenal cuma dia doang. Jadi ya keliatannya aja deket." Jelas Mela yang sedikit panjang, padahal sebenarnya ia termasuk siswi yang cenderung pendiam.
Berita Grady yang mulai jadi cupid alias comblang pun dengan cepatnya menyebar hampir seantero sekolah.
Ting tong ting!!
Speaker di tiap-tiap ruang kelas berbunyi, tanda bel pengumuman.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang anak-anakku sekalian! Saat ini di sekolah sedang ada rapat yayasan yang sifatnya urgent, mendadak. Jadi dengan sangat amat terpaksa murid-murid dipulangkan lebih awal. Dan sekarang kalian boleh pulang. Mohon maaf atas pengumuman yang mendadak ini. Atas perhatiannya kami ucapakan terimakasih." Suara seorang guru memberi pengumuman terdengar di speaker yang berada di tiap-tiap ruang kelas.
"Horeee!!!" Teriak hampir seluruh penghuni kelas X IPS 1.
"Yah, kok diberantakin sih.. kan belum selesai." Wildan protes pada Satria yang tidak sengaja menyenggol papan catur saat berteriak heboh.
"Sorry gue nggak sengaja. Lagian lo nggak denger apa, itu tadi ada pengumuman?" Satria minta maaf.
"Iya gue denger, tapi ini pertandingan belum selesai. Harga diri gue nih." Wildan tetap tidak terima.
"Yaudah sih, besok kita ulang pertandingannya." Kata Kemal akhirnya menengahi.
Satu persatu para penduduk kelas X IPS 1 berhamburan keluar dari kelas setelah mendengar pengumuman dari kantor tata usaha sekolah.
"Kin, Kal, kita makan seblak Mang Udin dulu yuk. Gue pingin banget nih. Anggi juga mau katanya." Tika mengajak Kala dan Kina untuk makan seblak bersama.
Keempat orang sahabat itu masih berada di dalam kelas. Bersiap untuk pulang.
"Boleh. Gue juga laper. Tadi istirahat pertama kan gue nggak makan." Jawab Kala sambil membenarkan posisi tas ransel di punggungnya.
"Emm.. sorry ya, gue nggak bisa. Gue udah ada acara lain." Jawab Kina.
"Acara apa, Kin?" Anggi menoleh pada Kina, menautkan kedua alisnya menelisik.
"Acara-" Ucap Kina terputus.
"Ayok, Kin. Mumpung masih jam segini. Kita bisa nonton ambil jam siang, biar nggak kemalaman." Kata seorang murid perempuan yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu kelas, bersama dengan dua murid laki-laki di belakang dan sampingnya.
"Oh, jadi yang lo bilang barusan ada acara itu acara sama Rani, Kin?" Tanya Anggi lagi dengan nada sedikit tidak suka.
"Emm.. sorry ya, girls. Gue duluan." Kina langsung berdiri tanpa menjawab pertanyaan dari Anggi.
Kina berjalan ke arah Rani, Grady, dan Mahen yang berada di depan pintu kelas X IPS 1. Bukannya langsung pergi, Rani mengajak Kina, Grady, dan Mahen untuk duduk sebentar di kursi depan kelas.
"Loh, kita nggak langsung pergi?" Tanya Mahen yang suaranya samar-samar terdengar sampai ke dalam ruang kelas.
"Sebentar. Tunggu dulu. Ada yang mau ketemu." Jawab Rani.
"Aww!!" Keluh Kala.
"Eh.. So-sorry, Kal. Gue nggak liat." Ujar Jovan, siswa laki-laki itu.
Kala hanya diam, tak merespon. Lebih tepatnya sedang malas untuk berdebat.
Jovan berjalan ke arah Kina, Rani, Grady, dan Mahen. Tapi sedetik kemudian membalikkan badan mengarahkan pandangan pada Kala.
"Sorry ya, Kal.. gue batal jadi klien lo. Gue udah jadian sama Zizi." Ujar Jovan.
"Oh, iya. Sans ajalah. Gue ikut seneng dengernya. Selamat ya, Jo!" Jawab Kala sambil mengacungkan jempolnya.
"Thank you, Kal." jawab Jovan tersenyum.
Jovan kemudian berlalu begitu saja. Berjalan menuju Grady dan yang lain.
Baru dua langkah Kala, Tika, dan Anggi meneruskan perjalanan pulang, ada seorang siswa yang mendekat.
"Hai, Kal!" sapa siswa yang memakai name tag bertuliskan Vano di seragam sekolahnya.
"Hai, Van.. baru aja gue mau kabarin elo. Target udah ada respon. Besok kita temuin." Kata Kala sambil tersenyum antusias.
"Tapi sorry, Kal.. gue udah mau ketemu sama doi. Gue nggak jadi minta bantuan elo. Gue udah dibantu sama Grady." Ujar Vano menyatukan kedua telapak tangannya dan diangkat sebatas dada.
"Hah?" Kala kaget namun tidak mau menunjukkannya. Gadis itu berusaha menampilkan ekspresi wajah yang biasa saja.
"Gue minta maaf banget ya, Kal. Setelah ini gue mau ketemu sama dia." Kata Vano sambil berlalu.
Kala berdiri mematung. Di sisi sebelah kiri berjarak sekitar lima meter, Grady memberikan tatapan dingin yang ditujukan untuk Kala. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Setelah sadar dengan tatapan Grady yang kurang bersahabat, Kala membuang muka.
"Kok bisa jadi begini sih, Kal?" Tanya Tika kesel sendiri.'
"Jadi gini gimana? Jadi berantakan? Jadi hancur? Udah nggak ada lagi yang mau jadi klien lo?" Sederet pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan oleh mulut seorang siswi yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kala, Tika, dan Anggi.
Kala menatap siswi itu. Siswi yang semenjak kehadirannya lagi membuat kondisi persahabatan Kala sedikit berbeda. Ya, semua terasa berubah dengan cepat.
"Kenapa? Elo udah nggak punya klien lagi ya sekarang? Udah nggak bisa pamer punya barang-barang bagus hasil dari comblangin orang? Udah miskin? Nggak ada uang jajan? Uang jajannya kurang? Atau habis?" Serentetan pertanyaan kembali lolos dengan indahnya dari mulut seorang Rani.
Ya, Rani yang tadi duduk manja di sisi Grady kini sudah berdiri di dekat Kala.
"Maksud Lo apa, Ran?" Tanya Tika jengkel dengan pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh Rani.
"Temen Lo jadi Mak Comblang nggak laku ya sekarang? Udah pensiun aja deh." Ujar Rani.
"Ups, canda pensiun." Lanjutnya sambil menutup mulut.
"Kenapa sih, Ran? Gue pernah sakitin elo?" Tanya Kala menatap Rani heran.
Sebenarnya tanpa Rani jawab pun Kala tahu apa yang mungkin menyebabkan sikap Rani menjadi demikian. Permasalahan di masa lalu yang masih ia bawa-bawa sampai saat ini.
"Ran, ada apa?" Tanya Grady yang kini sudah mendekat pada Rani. Yang diikuti oleh Kina dan Mahen.
"Enggak apa-apa sayangku my baby G. Kala sedih aja kliennya pada kabur semua. Aku cuma pengen hibur dia." Ujar Rani yang kemudian bergelayut manja di lengan kiri Grady.
Tika dan Anggi membelalakkan matanya kaget atas ucapan Rani barusan.
"Hibur?" Anggi menajamkan pandangannya pada Rani.
"Udah, udah.. kita duluan." Kala tak mau memperpanjang. Kala, Tika, dan Anggi melangkahkan kaki menjauhi Rani.
"Sorry." Ujar Grady. Membuat Kala sesaat menghentikan langkahnya. Diikuti kedua temannya yang kemudian mematung.
"Sorry kalau klien Lo pada kabur dan malah milih gue saat ini." Sambungnya sambil mengangkat sebelah bibirnya, tersenyum penuh arti. Yang Kala sendiri tidak bisa mengartikannya.
Yang jelas dari tatapan Grady beberapa hari ini saat mereka bertemu, sudah menunjukkan ketidakbersahabatan.
Kenapa tatapan yang dulu selalu bikin gue nyaman, sekarang berubah banget? Sekarang seperti setan. Ya Allah! Apa salah hambamu ini. Batin Kala.
Kala dan dua sahabatnya melanjutkan langkah. Sebelumnya Anggi menatap tajam pada Kina. Kina yang tahu ditatap seperti itu hanya membuang muka lalu menundukkan kepalanya.
_______
Kalau berkenan mohon like dan komennya yah guisseee.. bantu othor biar semangat.
Thankyou 🤗