Miss Cupid & Mas Cupid

Miss Cupid & Mas Cupid
3. Burung Elang



Pagi ini Kala sarapan dengan lahap, bersama dengan ayah, bunda, dan dua orang kakak laki-laki dan perempuannya.


"Kamu sudah siap ke Saturnus, sayang?" Tanya bunda sembari mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk ayah.


"Hah? Saturnus? Fajar suruh nganter Kala ke planet lain gitu?" Fajar kaget.


Karena pagi ini kakak laki-laki Kala ini mendapat amanah dari ayah untuk mengantar Kala hari pertama masuk SMA.


"Itu singkatan." Ucap ayah masih tetap dengan posisi baca korannya. "Saturnus itu singkatan dari SMA Satu Raga Nusantara." Lanjut ayah Jamal melipat korannya.


"Dih, ayah alay." Timpal Pelangi, kakak perempuan Kala.


"Ayah tau tauan aja deh. Hahaha." Kala tertawa, karena berhasil menebar virus singkatan alay di meja makan pagi ini. "Kok ayah tau?" Kala bingung.


"Bunda lah yang cerita ke ayah. Bunda cerita dari Saturnus sampai Pluto. " Terang ayah sebelum memulai melahap makanan di piringnya.


"Apa lagi tu Pluto?" Fajar sudah selesai makan.


"SMA Pelita Budi Utomo." Bunda tertawa geli.


Kala yang telah menyelesaikan suapan terakhir sarapannya kali ini tertawa kecil.


"Bunda, ih.. gara-gara keseringan nemenin Kala main sama temen-temennya jadi ikutan alay juga." Protes Pelangi.


Keceriaan mendominasi sarapan keluarga Kala pagi ini. Karena hal sepele. Iya, jokes-jokes dan singkatan alay Kala dan teman-temannya yang terus melekat di memori otak bunda Deti.


Setelah selesai menunaikan sarapan paginya, Kala segera berpamitan, mencium tangan kedua orang tuanya, kemudian berangkat ke sekolah diantar oleh Fajar kakaknya.


_______


"Nama gue Nina Pramudya. Panggil gue Nina. Gue di OSIS sebagai wakil ketua divisi HMKS, hubungan masyarakat dan kesejahteraan siswa." Nina memperkenalkan diri di depan para adik kelas yang baru saja masuk di SMA 1 Raga Nusantara, tentunya di kelas X IPS 1.


"Jadi kalau ada yang mau cari beasiswa bisa hubungi divisi gue, nanti bisa dibantu. Gue adalah panitia MPLS sebagai pemandu kelas X IPS 1 untuk 3 hari ke depan." Nina melanjutkan.


"Hai, Kak Nina" sapa murid X IPS 1 bersamaan.


"Gue Elang Putra Prakosa. Panggilan Elang. Sebagai Kadiv OKE, olahraga kesenian dan entertainment. Gue pemandu kelas X IPS 1." Elang, kakak kelas laki-laki yang dari tadi menyita perhatian siswi-siswi itu pun turut memperkenalkan diri.


Halo kak, boleh kali liat ke kita!


Cool banget kak Elang, tipe gue banget nih.


Kak Elang, bawa aku terbang bersamamu dong!


Kak Elang munduran dikit dong, cakepnya kelewatan.


Fix, ini mah most wanted di SMA ini


Cakep bener Ya Tuhan.. pusing gue..


Begitu kira-kira isi hati dan pikiran para siswi di kelas X IPS 1.


"Sekarang persiapkan diri kalian, pakai semua atributnya untuk mengikuti opening ceremony" perintah Elang pada adik kelasnya.


Sebagian dari mereka masih bengong terpana dengan pesona Elang. Termasuk Kala dan Kina, yang ternyata mereka sekelas.


"Elo! Lo jadi captain X IPS 1 untuk MPLS!" Elang menunjuk Kala yang masih bengong.


DEG!


Ditunjuk begitu Kala makin bengong. Makin jadilah muka cengo nya.


Sedetik kemudian wajahnya jadi memerah. Mata Elang yang tajam menusuk sampai ke batang hati Kala.


Hal ini juga berpengaruh terhadap cara kerja jantung Kala. Jantungnya berdetak dua kali lipat dari sebelumnya.


Siapapun tolong gue! Tatapannya bikin gue takut sekaligus meleyot. Mirip banget kayak mata burung elang. Apa ini sebabnya dia dikasih nama Elang? Batin Kala.


Kalo memang dia beneran titisan burung elang. Ampunn.. gue bukan mangsa lo. Gue ga mau dimakan. Gue maunya disayang-sayang. Jiwa jomblo Kala semakin meronta.


"Denger nggak sih lo?" Ujar Elang dengan wajah coolnya.


"Captain? Emang main bola ada captainnya? Tsubasa kali ah." Ceplosnya asal tak terkontrol.


"E-eh.. iya, Kak.. saya minta maaf.." Kala menundukkan kepalanya.


Apa apaan sih nih mulut, ngomong seenaknya aja. Batinnya sambil menepuk-nepuk mulutnya.


Siswi baru itu berusaha mengatur irama detak jantungnya. Tapi percuma karena si kakak kelas bermata elang mengekori di belakangnya.


"Cepetan, dek.. cepet baris di lapangan kalau nggak mau dapat hukuman!" Tegas Nina.


Kala sudah berada dalam barisan rapih siswa-siswi baru SMA 1 Raga Nusantara. Pagi ini mereka semua akan mengikuti MPLS alias masa pengenalan lingkungan sekolah.


Mereka semua sudah siap dengan seragam sekolah dan atribut lengkap ala masa orientasi siswa.


Termasuk Kala, ia sudah mengenakan pakaian seragam lengkap dan menggunakan name tag serta co card bertuliskan namanya, dan pita berwarna merah di rambutnya yang dikuncir dua.


Terlihat juga Kina yang memakai atribut serupa dengan Kala berada satu barisan dengan Kala, namun di bagian belakang.


"Kinakuuu" Kala membentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Kina, sesaat setelah komandan upacara membubarkan barisan apel pulang MPLS.


Bukannya Kina yang dipeluk, tapi ternyata Grady dan Mahen menghalanginya. Sehingga saat ini Kala memeluk Grady dan Mahen.


"Kalakuuu." Mahen turut menghambur.


"Hiih! Apaan sih kalian." Kala ketus.


"Loh? Kalian? Grady? Mahen? Kalian jadinya sekolah di sini?" Lanjutnya yang baru menyadari bahwa yang ia peluk adalah dua sahabat laki-lakinya saat di SMP.


Mahen tersenyum lebar. Sementara Grady hanya tersenyum seperti keripik tempe abang-abang gorengan. Tipis.


"Kalian nggak jadi ke Pluto?" Kina menautkan kedua alisnya.


"Engga. Gue di sini aja. Kan ada kalian berdua juga." Jawab Mahen.


"Elo bukannya pengen banget jadi atlet ya, Ge? Kenapa ga jadi masuk Pluto?" Kala bertanya pada Grady.


"Engga lah, gue ngerasa di olah raga gue ga jago-jago amat. Mending gue di sini, gue pengen jadi insinyur." Grady beralasan.


"Yeee.. begimane ceritanye, lu pengen jadi insinyur tapi masuk IPS." Timpal Kina.


"Tau Lo. Aneh." Mahen menambahi.


Mereka asyik ngobrol berempat sampai tak sadar kalau mereka sudah sampai di parkiran motor.


"Lo dijemput, Kal?" Tanya Grady.


"Iya nih, gue dijemput kak Fajar." Jawab Kala.


"Mau bareng gue aja apa gimana?" Mahen menawari untuk pulang bareng.


"Ngga usah. Bentar lagi juga kak Fajar jemput." Jawab Kala lagi.


"Gue bareng lo sampai minimarket depan ya, Hen." Kina langsung naik ke atas jok motor Mahen bagian belakang.


"Siap, boss." Mahen memberi sikap hormat.


"Kalo gitu, Kala sini gue boncengin sampe gerbang depan. Lumayan kan dari pada lo jalan." Grady menepuk-nepuk tangki motor sportnya.


"Ya keleus gue bonceng di depan begitu." Kala mengerucutkan bibirnya sambil naik ke atas boncengan motor Grady.


"Gue cabut ya, nganterin Kina ke minimarket depan dulu." Mahen pamit begitu mereka sampai di gerbang depan sekolah.


"Iya. Hati-hati ya kalian." Kata Grady.


"Pegangan yang kenceng." Kala menambahi.


"Byeee..." Teriak Mahen dan Kina bersamaan.


Kala turun dari boncengan motor Grady.


Tak selang berapa lama Fajar datang dengan mobil sedan kesayangannya. Dan Kala pun pulang ke rumah bersama Fajar.


_______