
"Kok elo keluar sendirian? Kina nya mana?" Tanya Grady sesaat setelah bel istirahat pertama berbunyi.
"Masih nyelesaiin catatan di kelas. Tadi telat nyatet dia, gara-gara nggak fokus. Lagian nggak mau ke kantin dia katanya. Mau makan roti aja, di kelas sama Tika dan Anggi. Maklum, perempuan kalo lagi kedatangan tamu bulanan begitu, jadi rada mager." Jawab Kala menjelaskan.
Kala dan Grady tidak sengaja keluar dari kelas masing-masing dalam waktu yang bersamaan. Dan langsung berjalan menghampiri satu sama lain.
Kala celingak celinguk melihat sekelilingnya.
"Mahen ke mana?" Tanya Kala kemudian. Karena gadis itu tidak melihat seujung pun rambut Mahen sahabatnya.
"Tadi langsung ke ruang OSIS. Katanya mau daftar ekskul basket dia." Jawab Grady sambil berjalan.
"Elo ngga ikut daftar juga, Ge? Kan elo secinta itu sama bola basket." Tanya Kala lagi mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Grady. Karena langkahnya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan langkah kaki Grady.
"Nantilah gampang. Gue pikir-pikir dulu. Lagian masih ada dua hari lagi pendaftarannya." Grady menjatuhkan bokongnya di kursi kayu.
Mereka berdua sudah sampai di kantin. Suasana kantin tidak terlalu ramai di waktu jam istirahat pertama sekarang ini.
Tiga hari kedepan memang sedang diadakan display Ukesi atau unit kegiatan siswa. Event tersebut merupakan pameran hasil karya atau foto-foto kegiatan beberapa unit kegiatan siswa atau ekstrakurikuler yang ada di SMA 1 Raga Nusantara.
Mungkin karena itulah banyak siswa-siswi kelas X yang antusias mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan atau ekstrakurikuler. Ataupun hanya mencari informasi tentang ekstrakurikuler yang ingin diikuti. Ada pula yang hanya ikut-ikutan demi melihat kakak kelas yang mereka kagumi.
"Elo nggak mau ikut ekskul apa gitu, Kal?" Lanjutnya bertanya pada Kala.
"Ekskul apa, Ge? Emang gue bisa apa? Menurut lo gue punya bakat apa? Gue mau buka jasa Mak comblang aja di sekolah. Hahaha." Kala tertawa sambil berjalan menjauh dari Grady. Mendekat ke arah Pak Sabar sang penjual bakso di kantin.
Tak lama kemudian Kala kembali duduk di samping Grady dengan membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua gelas es jeruk.
"Eh, gue tadi lupa belum nanya lo mau makan apa. Tapi udah terlanjur gue pesenin bakso. Duh, sorry ya.. Lo mau makan apa?" Kala menepuk jidat.
"Iya, ngga apa-apa kok. Siniin baksonya. Gue makan apa aja yang Lo pesenin. Lo kan tau gue juga pemakan segala, sama kayak elo." Grady mengambil alih salah satu mangkok berisikan bakso komplit.
"Bedanya gue nggak makan bakso pakai bawang goreng satu toples gitu." Lanjut Grady menunjuk mangkok bakso milik Kala.
"Hehehe. Kan biar greget. Biar makin berasa gurihnya." Kala meringis, memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi.
Kala dan Grady mulai menikmati bakso masing-masing dalam keheningan.
"Ada yang mau gue omongin" ujar Kala dan Grady bersamaan.
Suasana tiba-tiba menjadi kikuk. Grady menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.
"Lo dulu aja deh. Mau ngomong apa?" Tanya Kala mempersilakan.
"Eh, engga. Lo dulu aja. Ladies first, right?" Ucap Grady.
"Are you sure? Beneran? Yakin? Siapa tau lo mau ngomong sesuatu yang sangat penting." Ucap Kala lagi.
"Of course! Beneran. Lo duluan aja nggak apa-apa." Balas Grady.
Mereka berdua diam sejenak. Lebih tepatnya Grady menunggu Kala menghabiskan terlebih dahulu potongan bakso terakhir yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
"Ehem.." Kala menyeruput es jeruknya. "Lo masih inget kan kalo gue Miss cupid?" Kala memegang lengan kiri Grady.
"Iya. Taulah kan kita udah sahabatan 3 tahun, Kal. Udah banyak yang gue tau tentang elo." Grady menganggukkan kepala.
"Termasuk elo yang dilarang bunda pacaran pas SMP. Dan tentang elo yang jarang mandi kalau hari libur." Lanjutnya.
"Hehehe, iya ya.." Kala nyengir.
Kala mengubah posisi duduknya, memutar tubuhnya 90° ke kanan. Grady juga ikutan memutar tubuhnya 90° ke kiri. Sehingga saat ini mereka berdua duduk saling berhadapan. Kala kembali memegangi lengan tangan Grady.
"Ge, elo mau nggak gue comblangin?" Kala bicara hati-hati sekali.
"Sama.. emm.. sama.. Rani.." jawab Kala masih penuh dengan kehati-hatian dalam setiap kata yang diucapkan.
Grady tak menjawab. Remaja laki-laki itu hanya menatap Kala datar. Entah apa yang tengah ada dipikirannya saat ini.
"Jadi gini.. Rani kan suka sama elo. Dia minta tolong ke gue buat deketin dia sama elo." Kala perlahan mulai menjelaskan.
"Nggak bisa!" jawab Grady singkat padat jelas dan tegas.
"Dicoba dulu aja ya, Ge. Coba jalan dulu sekali sama dia. Rani baik orangnya. Kalau nggak dicoba dulu, kita nggak akan tau cocok atau enggaknya. coba dulu ya.. Please.." Kala menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya sebatas dada. Pertanda memohon.
"Nggak bisa, Kala. Gue nggak suka sama Rani." Tegas Grady.
Kala menggigit bibir bawahnya. Dia tahu Grady tidak suka dengan perkataan Kala barusan, terlihat jelas dari ekspresi di wajahnya.
"Demi gue. Demi ketenangan hidup gue. Coba dulu ya.." Kala menunduk takut. Tapi juga masih berusaha untuk membujuk.
"Demi elo gimana?" Grady menautkan kedua alisnya.
"Supaya hidup gue tenang. Nggak dihantui perasaan bersalah terus." Kala masih menunduk.
Grady yang sudah mendengar sekelumit cerita dari Kina tentang Rani setelah dia bergabung makan di kantin tempo hari, sedikit banyak jadi mengerti posisi Kala. Di satu sisi ia ingin sekali membantu Kala. Ibaratnya apapun yang bisa ia lakukan untuk sahabatnya, maka akan ia lakukan. Tapi kali ini tidak. Ini tidak sesuai kata hatinya.
"Please ya, Ge.. sekali aja, coba jalan dulu sama dia. Nanti terserah deh ke depannya mau gimana." Kala memohon lagi.
"Kal, gue bilang nggak mau ya nggak mau." Kata Grady menatap tajam ke arah Kala.
Kala menunduk lagi. Jarang sekali ia melihat ekspresi marah Grady.
Ya memang ini kesalahannya, tapi kan apa salahnya mencoba. Kita tidak pernah tau cocok atau tidak sebelum mencoba, bukan?
Kala masih menunduk. Dia merasa bersalah. Kala tidak tahu harus berkata apa lagi. Sementara Grady masih menatap tajam Kala. Sesekali ia menarik nafas dalam-dalam.
"Gue coba. Tapi jalan dulu aja." Grady luluh pada akhirnya.
"Hah? Serius?" Kala mendongakkan wajahnya, masih takut takut untuk menatap mata Grady.
"Ini kan yang elo mau?" Ujar Grady dengan ekspresi datar.
Kala mengangguk-anggukkan kepalanya seperti burung pelatuk.
"Ya. Demi elo." Grady membuang muka.
"Alhamdulillah.. aaakkk! Makasih, Ge." Kala memeluk erat lengan Grady.
Grady mengusap kasar wajahnya, kemudian beralih mengusap puncak kepala Kala.
"Elo tadi mau ngomong apa, by the way?" Kala melepaskan pelukannya pada Grady.
"Oh, anu, itu.. Ng-nggak terlalu penting sih. Cuma mau minta tolong tanyain ke kak Fajar bengkel yang bagus dimana. Tapi ntar gue nanya sendiri aja, kapan-kapan kalau ketemu." Jawab Grady.
Mereka menghabiskan minuman masing-masing, sebelum bunyi bel yang memberi tanda bahwa mereka harus segera kembali ke kelas.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))