
Pagi ini murid-murid penghuni kelas X IPS 1 tengah disibukkan dengan pembagian kelompok untuk mata pelajaran geografi. Bu Retno sang guru pengampu mata pelajaran tersebut sedang keluar kelas.
"Kaki tinggi..! Kalian jangan satu kelompok dooongg! Mendingan kita undi aja ya pembagian kelompoknya." Kemal berteriak di depan kelas.
"Kaki tinggi apaan, Mal?" Tanya Adiba.
"Iya, apaan sih lo Mal? Nggak ngerti gue." Afen menambahi.
"Kaki tinggi. Kala, Kina, Tika, Anggi. Mereka curang tuh barengan terus. Diacak lah kelompoknya"
"Ya Tuhan! Sejak kapan elo ikut-ikutan Pak Budi bikin singkatan begitu?" Anggi menimpuk Kemal dengan bukunya.
"Begini nih anaknya Pak Budi." Ujar Iqbal.
"Sa ae lo kaleng biskuit!" Wildan meremas kertas membentuk bola, lalu melempar ke arah Kemal.
"Ah! Pening pala gue dengerin ocehan nggak jelas kalian semua." Kina memijit pelipisnya.
"Ya daripada gue panggil satu persatu kepanjangan. Kaki tinggi aja cepet." Kemal tak peduli.
Kala yang sedang malas berdebat, justru langsung menggunting kertas kecil-kecil, membuat undian untuk penentuan kelompok. Setelah semua murid mengambil kertas mereka bergabung dengan kelompok masing-masing.
"Amal Baiq!" Teriak Kemal sambil berdiri memancing perhatian seluruh warga kelas.
"Apaan sih lo, Mal? Duduk ga lo!" Kina setengah membentak.
Sejak pagi memang Kina sudah terlihat tidak fit. Pusing sekali rasanya kepalanya. Tapi apa boleh buat, dia nggak mau izin sakit karena di rumah juga tidak ada yang menemani.
"Amal baik, amal baik. Apaan lagi?" Dika melipat tangannya sebatas dada.
"Lah.. kumat lagi dia.." Rindu menggerutu.
"Amal Baiq. Anggi, Kemal, Adiba, Iqbal." Kemal tersenyum bangga mengenalkan kelompoknya.
"Bah! Apa pula itu." Ujar Sarah dengan logat bataknya.
Meskipun bukan lahir di Medan, tapi darah Batak mengalir deras di tubuhnya. Sesekali ia berbicara dengan logat moyangnya. Karena sebenarnya hanya sedikit sekali bahasa Batak yang dimengerti. Maklum, lahir dan besar bukan di tanah Batak. Ditambah lagi mamanya juga orang Jawa.
"Ada baiknya nama lu diganti Kemal Budiono deh. Lama-lama mirip banget lo sama Pak Budi" usul Mella.
"Oh, jadi gini sekarang mainnya.." Indra mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Kalau gitu kelompok gue namanya Kain Batik." Lanjutnya.
"Apaan tuh??" Tanya Tika yang tergabung di dalam kelompok Indra.
"Azka, Indra, Bara, Tika" jawab Indra sambil tersenyum mengangkat sebelah bibirnya.
Suasana kelas menjadi riuh. Mereka kemudian sibuk membuat nama untuk kelompok masing-masing. Entah apa motivasinya. Padahal Bu Retno sendiri selaku guru geografi yang sedang mengajar di kelas ini tidak membutuhkan nama-nama kelompok itu.
"Ayolah, Kina.. bantuin mikir nama kelompok kita." Putra tak mau kalah dengan yang lain.
"Tau ah.. bodo amat sama nama kelompok. Gue pusing banget. Pengen tidur aja." Kina tidak perduli.
Di sisi yang lain Kala juga lebih memilih menundukkan kepalanya di meja.
"Nama kelompok kita Rasa Medan. Selain karena dia punya darah Medan.." Wildan menunjuk Sarah. "Tapi juga singkatan dari Ragil, Sarah, Mella, Wildan." Lanjutnya sambil bertepuk tangan bangga.
"Agak maksa sih ya.. Tapi nggak apa-apalah, patut diapresiasi." Kata Kemal sambil memberikan tepuk tangan.
"Kelompok gue namanya dilanda rindu. Dika, Kala, Nanda, Rindu." Dika berdiri memperkenalkan anggota kelompoknya satu persatu.
Nanda bertepuk tangan, dan meminta Kala serta Rindu untuk ikut bertepuk tangan juga. Rindu tertawa dan bertepuk tangan juga akhirnya. Sedang Kala bertepuk tangan dengan ogah-ogahan.
"Bagus bro, gue bangga sama Lo." Nanda menepuk pundak Dika.
"Thanks, bro.. kita harus berjuang demi kelompok kita." Dika membalas, yang entah kemana arahnya. Dan tidak tahu berjuang untuk apa.
Seketika kelas itu menjadi senyap. Tapi hanya terjadi beberapa detik. Setelah itu kembali riuh.
"Nama kelompok Lo apaan, Fen?" Tanya Kemal pada Afen.
"Tau lah.. gue nggak ikut-ikut yang begituan deh" jawab Afen.
"Ah! Bilang aja kelompok Lo minim ide. Nggak bisa dibikin singkatan ya?" Wildan menimpali dengan muka sedikit mengejek.
"Iya, pake sok nggak ikut-ikutan lagi." Nanda menimpali.
"KIPAS!" Kina setengah berteriak.
"Apaan sih lo, Kin?! Kaget gue!" Protes Satria yang duduk di samping Kina.
"Iya, apaan sih Lo, Kin?! Elo kepanasan? Perasaan AC-nya udah nyala dari tadi kok." Putra turut protes sambil menutup telinganya.
"Kipas. Kina, Putra, Afen, Satria." Jawab Kina tanpa ekspresi.
"BAGUS! MANTAP! KEREN!" Teriak Kemal. Lagi-lagi sambil bertepuk tangan. Tanda apresiasi terhadap ide teman sekelasnya.
"Oh, jadi elo pusing karena mikirin nama kelompok itu kali, Kin.." ujar Anggi sambil tertawa kecil.
Yang lain tertawa. Beberapa mulai membuka buku pelajaran. Ada juga yang sedang ghibah.
Tiba-tiba Bu Retno kembali masuk kelas. Dan suasana kembali tenang.
_______
"Baksonya empat ya, Pak." Kala memesan bakso ke Pak Sabar.
"Yang satu mienya yang putih aja, nggak pake seledri, dibanyakin bawang gorengnya." Pak Sabar melanjutkan.
"Hehehe.. Pak Sabar udah hafal aja." Kala tertawa senang, karena si penjual bakso sudah hafal pesanan bakso kesukaannya.
"Hafal dong, neng.. siapa lagi yang makan bakso pakai bawang gorengnya segambreng? Hahaha" Pak Sabar ikut tertawa.
"Es jeruk gulanya dikit? Yang lain?" Bu Isti ikut menimpali.
"Yes, Bu.. si ibu juga udah hafal.. hehe. Tambah es jeruk satu lagi dan es teh dua ya, Bu.. yang tiga manis." Kala tersenyum, merasa tersanjung.
Ya walaupun sebenernya Pak Sabar dan Bu Isti nggak cuma hafal kesukaan Kala, tapi beberapa murid yang lain pun beliau hafal.
"Tumben mas Ge dan mas Mahen belum kelihatan." Kata Pak Sabar lagi.
"Hehe.. iya nih, Pak.. mereka belum keluar kelas kayaknya." Jawab Kala.
"Pak, baksonya tiga ya!" Suara ngebass yang familiar terdengar seperti di belakang Kala.
"Eh, ini dia mas Ge. Kok nggak bareng aja tadi pesennya?" Tanya Pak Sabar.
"Iya, saya baru keluar kelas, Pak.." jawab Grady.
"Iya, neng Kala tadi juga bilang gitu." Bu Isti menyahuti.
"Loh, kok tiga? Yang satu untuk siapa, mas Ge? Neng Kala dan teman-temannya udah pesen ini." Pak Sabar penasaran bin kepo.
"Ada, buat temen saya, Pak.." jawab Grady.
"Oh, mbaknya yang duduk di depan mas Mahen itu ya?" Tanya Bu Isti.
"Iya, Bu.." jawab Grady singkat.
Kala diam-diam mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan Mahen.
Oh, Rani. Syukurlah kalau Ge udah mulai bisa lebih deket sama Rani. Gue tinggal atur moment buat mereka. Semoga gue berhasil bikin mereka jadian. Batin Kala.
Grady dan Kala bertemu pandang sesaat. Kemudian keduanya terlihat canggung nan kikuk. Kala masih tidak enak hati atas permintaannya tempo hari. Tapi melihat Rani yang sepertinya sudah dekat dengan Grady dan Mahen, Kala lalu berpikiran bahwa mereka sudah akrab dan kenal baik.
"Ini mbak Kala, minumnya sudah. Mau dibawa atau ibu antar aja?" Tanya Bu Isti memecah keheningan antara Kala dan Grady.
Kala memberikan selembar uang berwarna merah kepada Bu Isti. Kemudian Bu Isti memberikan beberapa lembar uang sebagai kembalian, sembari membawakan nampan berisi minuman untuk Kala CS.
"Udah, saya bawa sendiri aja, Bu.. seperti biasa.." Kala mengambil alih nampan dari tangan Bu Isti.
"Nanti baksonya saya antar aja, neng.. sekalian.." ujar Pak Sabar.
"Oh, boleh deh Pak sekali sekali.. hehehe" jawab Kala.
Kala memang hampir selalu membawa pesanan makanan dan minumannya sendiri. Selain supaya tidak terlalu merepotkan penjualnya, Kala juga selalu senang berbincang sebentar dengan si penjual.
"Ini yang bawang gorengnya segambreng. Hahaha.." canda Pak Sabar sambil memberikan mangkok berisi bakso khusus untuk Kala.
"Terimakasih, Pak Sabar.." Kala mengembangkan senyumnya saat Pak Sabar mengantarkan bakso pesanannya.
"Tumben, neng.. duduknya kok nggak bareng sama mas Ge dan mas Mahen." Tanya Pak Sabar melihat ke arah meja Kala CS dan Grady secara bergantian.
Tempat duduk mereka juga tak begitu jauh, jadi Grady CS juga sebenarnya mendengar pertanyaan Pak Sabar barusan.
"Hehe iya, Pak.. biar ganti suasana aja." Jawab Kala sekenanya.
Kemudian Pak Sabar menghampiri Grady, Mahen, dan Rani untuk mengantarkan pesanan bakso mereka.
Tidak ada acara saling sapa antara Grady dan Kala. Begitu pula dengan Mahen dan Kina. Mereka hanya saling pandang dan mengangkat bahu. Tika dan Anggi yang tidak mau mencampuri urusan mereka berempat lebih memilih menikmati bakso dalam keheningan.
"Gue duduk sini boleh ya? Boleh dong?" Ujar seorang siswa yang tiba-tiba datang dan mengambil posisi duduk di samping Kala.
Kata seorang murid laki-laki yang tiba-tiba mendekatin Kala CS. Membuat keempat sahabat itu membelalakkan mata. Kaget.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))