Miss Cupid & Mas Cupid

Miss Cupid & Mas Cupid
Bab 16



Bab 16


Hari ini merupakan hari terakhir ujian tengah semester. Seluruh siswa siswi SMA 1 Raga Nusantara merasa lega telah melewati ujian tengah semester ini. Tak terkecuali Kala, Anggi, dan Tika. Mereka bertiga keluar kelas dengan wajah berseri ceria.


"Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga ya, guys.." ujar Anggi memeluk kedua sahabatnya, Kala dan Tika.


"Alhamdulillah. Terimakasih, ya Allah. Engkau telah memberi hamba otak yang cemerlang. Sehingga hamba dapat menyelesaikan ujian tengah semester ini dengan baik." Kala mengucap syukur.


"Alhamdulillah. Gue punya sahabat, support system yang baik kayak kalian berdua." Tika turut mengucap syukur.


Mereka bertiga duduk di kursi yang berada di depan kelas. Berhenti sejenak untuk sekedar mengobrol sebelum pulang.


"Kal, gue minta tolong sama elo dong." Kemal yang baru saja keluar kelas dengan terburu-buru, segera menghampiri tiga sahabat itu.


"Minta tolong apa, Kems?" Kala melepas pelukan Anggi.


"Ada undangan rapat perwakilan tiap kelas di ruang OSIS pulang sekolah ini. Ada agenda bahas event apa gitu, gue lupa. Tapi gue nggak bisa ikut sekarang. Saudara gue ada yang meninggal. Gue udah ditungguin sama bokap gue di depan nih." Kemal tidak bisa menutupi wajah sendunya.


"Innalillahi wa innailaihi roji'uun. gue turut berdukacita ya, Kems." Kala turut berbelasungkawa.


"Gue turut berduka cita ya, Mal." Ujar Tika dan Anggi bersamaan.


"Iya. Thank you, guys. Gue minta tolong banget ya, Kal." Kemal mengulangi permintaannya lagi.


"Sekarang banget nih rapatnya?" Tanya Kala.


"Iya lah, Kal. Masa nunggu kita lulus dari SMA ini." Kemal masih sempat-sempatnya bercanda di tengah-tengah perasaan berdukanya.


"Hehe iya iya, Kems. Sorry, sorry." Kala nyengir. Memamerkan deretan giginya yang rapih, dan putih bersih.


"Sebagai wakil ketua kelas yang baik hati, gue bersedia wakilin elo di rapat kali ini." Jawab Kala pada akhirnya.


"Thanks a lot, Kal. Gue balik dulu." Kemal menepuk pundak Kala. Kala membalas tepukan di pundak Kemal.


"Hati-hati ya elo. Salam buat bokap. Sampaikan salam gue, dan turut berduka cita." Seru Kala sambil melambaikan tangan.


Kemal yang sudah berjalan menjauh hanya mengacungkan jari jempolnya, dan kemudian melambaikan tangannya.


"Nah, gengs! Berhubung gue dapat mandat dari pak ketua kelas buat gantiin dia rapat. So, kali ini gue nggak bisa ikut jalan sama kalian dulu." Kala menepuk pundak kedua sahabatnya.


"Iya nggak apa-apa, Kal. Itu lebih baik. Dari pada gue yang disuruh gantiin Kemal buat ikut rapat." Anggi cengengesan.


"Nah! Gue juga sepakat tuh. Hahaha." Tika menambahi dengan tawanya yang renyah.


"Ah, dasar kalian berdua. Ngeselin. Untung gue sayang." Kala menoyor pelan kedua temannya.


"Terus elo mau nunggu waktu rapat di sini aja atau mau nunggu dimana, Kal?" Tanya Anggi.


"Gue tunggu di sini dulu aja deh. Kalian duluan aja nggak apa-apa kok." Jawab Kala.


"Beneran nggak apa-apa?" Tika bertanya meyakinkan.


"Iya. Beneran." Kala mengangguk mantap. "Gue udah gede kali." Lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe oke deh. Kita duluan ya, cantikku." Anggi menoleh dagu Kala.


"Sorry ya, beb. Kita duluan ya. Udah laper banget nih. Hihihi" kata Tika.


"Oke sip. Santai." Kala mengacungkan jempolnya.


Anggi dan Tika berjalan menjauh meninggalkan Kala sendirian duduk di kursi depan kelasnya.


Rapat perwakilan kelas? Berarti kan tiap-tiap kelas diwakili ketua kelasnya kan? Gue tunggu Fandy si ketua kelas X IPS 2 deh. Nanti pasti dia juga lewat sini. Setidaknya ada temen yang gue kenal, jadi nggak cengo cengo banget di sana nanti. Kala bermonolog dalam hatinya.


Fandy merupakan ketua kelas X IPS 2. Dia pernah menjadi klien Kala saat bulan pertama mereka menjadi murid baru. Grady dan Mahen yang memberikan rekomendasi kepada Fandy, karena mereka sekelas. Jadi, Kala sudah sedikit mengenal Fandy.


"Udah selesai, beb?" Ujar seorang murid perempuan yang baru saja datang.


Kala menoleh, memastikan bahwa yang diajak bicara murid perempuan itu dirinya atau bukan.


"Udah dong. Yuk, jalan sekarang." Ujar Kina yang baru saja keluar kelas. Sambil menutup tasnya, Kina berjalan menghampiri Rani.


"Yuk kita cus! Ntar biar Mahen sama my baby G nyusulin kita." Rani merangkul Kina.


"Oke, beb." Kina membalas dengan senyuman.


Rani dan Kina melintas di depan Kala. Rani melirik dengan tersenyum sinis pada Kala. Sedangkan Kina pandangannya menatap lurus ke depan. Sebenarnya keduanya sempat melihat Kala, tapi mereka seolah tidak melihat keberadaan Kala di situ.


Kala hanya mengelus dadanya. Mengucap sabar dalam hatinya untuk dirinya sendiri. Tak lama kemudian ada seorang siswi yang berjalan menghampiri Kala dengan menenteng sebuah paper bag berwarna putih berlogokan sebuah brand yang cukup terkenal.


"Hey Miss cupid cantik!" Sapanya. "Nunggu siapa sih? Nunggu pacarnya ya?" Tanyanya melanjutkan.


"Eh, hey juga Riana cantik!" Sapa Kala balik. "Menghina aja deh lo. Tau kan kalau gue nggak punya pacar." Kala pura-pura ngambek.


"Hahaha. Sorry, sorry. Tapi masa cupid cantik kayak elo belum punya pacar sih?" Kata siswi kelas X IPS 3 yang bernama Riana itu.


"Udah deh, nggak usah menghina gue terus. Berantem nih kita." Kala mengepalkan tangannya di depan Riana sambil tertawa.


"Hahaha iya, iya. Ampun, cupcan!" Riana menangkupkan kedua tangannya sambil tertawa juga. "Nih, buat elo. Dari Davin dan gue. Thanks ya, cupcan." Riana menyerahkan paper bag tadi pada Kala.


Lagi-lagi Kala mendapatkan 'upah' untuk jasa Mak comblangnya.


"Thanks ya, Ri. Gue doain hubungan Lo sama Davin langgeng. Tapi, cupcan apaan sih?" Kala menerima paper bag dengan senyum tulusnya.


"Aamiin. Cupcan, cupid cantik. Hihihi." Riana tertawa kecil.


"Pokoknya thanks banget karena elo, gue dan Davin jadi ngerti perasaan kita masing-masing yang sebenarnya sama." Kata Riana dengan senyum yang terkembang di bibirnya, mengingat moment indah saat Davin menembaknya kemarin di Senja Cafe.


"Thank you juga atas treatment yang luar biasa. Lo emang the best deh." Sambung Riana memuji.


"Duh, terbang kan gue jadinya kalau dibilang cantik sama cewe cantik begini." Senyum Kala merekah lebar menjadi sebuah tawa.


Sebenarnya Kala juga heran. Padahal Davin yang menjadi kliennya satu kelas dengan Grady. Tapi Davin tidak memakai jasa comblang Grady, dan justru memakai jasa comblangnya. Tapi yasudah, mungkin ini memang rezeki. Kalau sudah rezeki pasti nggak kemana. Dan kita tidak boleh menolak rezeki, bukan? Begitu pikirnya.


"Ternyata lo orangnya asik banget ya, Kal. Mulai sekarang apa boleh gue jadi temen deket lo? Sahabat lo mungkin?" Tanya Riana yang mulai nyaman ngobrol dengan Kala.


"Boleh dong. Boleh banget malah. Gue seneng punya banyak temen ataupun sahabat." Jawab Kala dengan senyum yang terukir di wajah cantiknya. Sedetik kemudian Kala dan Riana berpelukan.


"Jadi sahabatan nih kita sekarang?" Senyum Riana belum pudar juga dari wajahnya.


"Iya. Sahabatan banget dong kita." Kala tak kalah sumringah.


Dari jarak beberapa meter segerombolan siswa kelas sebelah atau kelas X IPS 2 berjalan menghampiri Kala dan Riana. Salah satunya adalah Davin, yang kini sudah resmi menjadi pacar Riana.


"Asik bener peluk-pelukan gitu. Ada apa sih?" Tanya Davin kepada Riana begitu ia sampai di depan tempat dimana Riana dan Kala sedang duduk.


"Eh kamu, by.. Aku seneng bisa ngobrol sama Kala. Cupcan ini ramah, humble, dan baik banget" jawab Riana melepas pelukannya dengan Kala.


"Wah, asiknya yang punya temen baru. Any way, udah lama keluarnya, by?" Tanya Davin lagi.


"Bukan temen. Kita sahabatan dong!" Riana tersenyum sumringah. "Belum terlalu lama kok. Lagian untung ada Kala, jadi aku ada temen, by." Lanjutnya.


"Thank you, Kal. Udah comblangin gue dan Riana. Dan thanks juga udah temenin dia sambil ngobrol, udah mau jadi temen barunya. Dia orangnya sedikit introvert, jadi elo termasuk orang yang spesial karena bisa ngobrol panjang lebar sama dia." Kata Davin panjang lebar.


"Apa sih, by? Kamu ini lebay." Riana tersenyum malu.


"Eh, iya sama-sama." jawab Kala salah tingkah.


Kala tiba-tiba menjadi salah tingkah. Kala salah tingkah mendengar ucapan Davin tadi yang berterimakasih karena sudah mencomblangkan Davin dan Riana. Padahal di belakang Davin sudah berdiri Grady dan Mahen.


Wajah Kala menjadi pucat seketika.


* * * * *


Mohon maaf kalau masih banyak kurangnya. Ini karya pertama saya.


Kalau berkenan mohon like dan komennya yg membangun ya sobat. Bantu othor biar terus semangat nulis.


Terimakasih 🤗