
"Kok ketawa? Apanya yang lucu? Gue serius, Kak." Kala memasang wajah super seriusnya.
"Tapi gue juga serius." Senyuman hilang dari wajah Elang. Sedetik kemudian Elang ikut menampilkan wajah seriusnya.
"Serius apa, Kak?" Tanya Kala bingung.
"Gue serius, gue nyaman sama lo. Gue pengen hubungan kita lebih dari sekedar temen." Kata Elang.
DEG!!!
Jantung Kala terasa seperti ingin mencuat, terlempar dari tempatnya dan jatuh ke lantai kantin.
Apa-apaan ini? Kok jadi obrolannya? Maksudnya apa sih pengen lebih dari sekedar temen? Apa kak Elang pengen gue jadi pacarnya? Ah, mana mungkin. Ngaco banget sih lo, Kal.. Kala bermonolog dalam hatinya.
Kala merasa orang-orang yang berada di kantin saat ini sedang menatap tajam ke arahnya. Meskipun sebenarnya Elang tadi berbicara dengan pelan. Tapi siapa yang tahu orang-orang bisa mendengar perkataan Elang atau tidak.
"Gimana, Kal?" Pertanyaan Elang memecahkan lamunan Kala.
"Eh, gimana apanya, Kak?" Kala balik bertanya.
"Gue mau lebih dari sekedar temen." Elang mengulang pernyataannya tadi.
"Oh iya, Kak. Kita bisa sahabatan kok." Balas Kala tersenyum meski salah tingkah.
"Bukan itu. Gue mau lo jadi pacar gue." Netra Elang tertuju pada netra milik Kala. Elang menatap Kala dengan tajam. Tentunya dengan mata elangnya.
"Hah???" Kala kaget.
Demi apapun jantungnya kini seperti sedang marathon. Kala berusaha menguasai dirinya dan mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Elang.
"Hahaha. Kok jadi begini sih bahasannya?" Kala tertawa dipaksakan. "Kak Elang kalau bercanda jangan begini dong. Ini nggak lucu tau, Kak. Makin jadi santapan Elang lovers gue nanti." Kala menunduk sambil meremas kedua tangannya yang kini berada di bawah meja. Gadis itu salah tingkah. Bingung harus merespon seperti apa lagi.
"Sayangnya gue nggak lagi bercanda." Elang menatap manik Kala dalam.
"Kita kan baru kenal juga, Kak." Kala menimpali lagi. Gadis itu mulai berani melihat ke arah Elang lagi.
"Gue percaya love at the first sight. Lagian kita udah kenal dari waktu MPLS kan? Waktu itu gue jadi pemandu di kelas lo. Lo inget kan? Mulai saat itu gue udah tertarik sama elo." Ujar Elang.
Beberapa siswa siswi yang duduk tak jauh dari mereka semakin penasaran dan heran. Bagaimana tidak. Elang yang notabene merupakan manusia yang masuk ke dalam jajaran lima besar siswa tertampan dan charming, biasanya irit bicara dan terkesan cool. Sedangkan yang mereka lihat secara live saat ini adalah siswa most wanted itu mengobrol panjang lebar bersama Kala. Meski mungkin tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan.
Ya Allah! Hamba nggak mau mati saat ini juga. Elang lovers ngeliatin gue semua. Gue nggak mau jadi santapan mereka. Bundaaaa! Tolong anakmu ini. Anakmu ini berbunga-bunga denger omongan Kak Elang barusan. Tapi nggak mau dimakan Elang lovers. Kala menggigit bibir bawahnya. Bermonolog dalam hatinya.
Trriiiiiiingggg...!!!
"Eh, udah bel masuk tuh, Kak! Gue masuk dulu ya. Habis ini Bu Mawar, gue takut telat." Ujar Kala. Kali ini ia merasa terselamatkan oleh bel masuk.
"Tapi lo belum jawab pertanyaan gue, Kal." Elang menahan tangan Kala yang hendak berdiri.
"Gue nggak bisa jawab sekarang, Kak." Jawab Kala.
"Oh iya, tolong gue titip bayarin baksonya sekalian ya, Kak." Lanjut Kala mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari saku seragamnya.
"Nggak usah, biar gue bayarin. Gue tunggu jawaban lo aja secepatnya." Elang menolak lembaran biru dari Kala.
Kala langsung beranjak dari posisinya lalu berjalan menuju ke kelasnya dengan segala tanya berkecamuk di pikirannya. Kala berjalan tanpa melihat sekitarnya hingga tanpa sadar ia menabrak seorang siswa yang berpapasan dengannya.
Bruuukk!!!
Aduh, mampus gue! Pake acara nabrak orang segala. Tapi tunggu! Parfumnya kayak gue kenal. Ah, apaan sih lo, Kal malah ngelantur? Ayo hadapi! Ini salah lo yang nggak lihat-lihat. Batin Kala yang masih menunduk karena hampir terjatuh.
"Mata lo dimana sih!!" Bentak seseorang. Terdengar seperti suara seorang perempuan.
"Ma-maaf. Saya nggak sengaja." Kata Kala sambil mendongakkan kepalanya.
"Ah! Apaan sih lo, maaf maaf. Dikira dengan lo minta maaf semua selesai?" Kata murid perempuan itu mendorong Kala.
Untung saja ada seseorang yang sigap menangkap tubuhnya. Tiba-tiba Rizal sudah ada di belakang Kala, dengan sigap menangkap tubuh Kala yang hampir jatuh ke belakang.
"Ada apa sih?" Tanya Rizal menelisik.
"Eh, ada pahlawan kesiangan. Sebenernya pacar lo yang mana sih, Kal? Elang atau Rizal? Jangan semuanya lo embat. Murahan banget sih lo." Kata Rani, murid perempuan yang tadi dengan sengaja mendorong tubuh Kala.
Kala menatap kepada Grady. Begitu juga dengan Grady yang menatap tajam pada Kala.
"Lain kali kalau jalan matanya dipakai. Ini bukan jalan milik moyang lo!" Grady setengah membentak sambil menunjuk ke muka Kala.
"Murahan." Lanjut Grady berbisik di dekat telinga Kala.
Kala membelalakkan matanya. Tak menyangka ucapan seperti itu ditujukan kepadanya. Apalagi dari seseorang yang pernah dekat dengannya dan menjadi sahabatnya. Sebenarnya Kala bisa saja melawan dan berdebat, tapi Kala lebih memilih untuk diam. Tidak ada gunanya juga kalau diteruskan. Mengingat di samping Grady juga ada seonggok daging yang menyerupai nenek sihir. Iya, dia seolah menyihir semuanya hingga keadaan berubah menjadi seperti sekarang ini.
Kala yang tak mau terjebak lebih lama lagi di situasi tak penting ini langsung berlalu, berjalan menuju ke kelasnya.
"Dari mana aja lo? Kok masuknya lama banget sih? Perasaan udah lama cabut dari kantin." Tanya Anggi begitu Kala duduk di kursinya.
"Tadi si nenek sihir ngapain elo? Lo nggak diapa-apain kan?" Tanya Tika yang tadi sempat melihat Kala mendapatkan masalah dengan Rani.
"Kok lo tau? Lo lihat gue ya? Kenapa nggak nyamperin gue?" Kala mengajukan pertanyaan beruntun pada Anggi dan tidak menanggapi pertanyaan Tika.
"Kita nggak enak kali gangguin orang lagi pacaran. Eh, pedekate ding." Anggi senyum menggoda Kala.
"Tadi si nenek sihir ngapain?" Tika memutar pekan kepala milik Kala agar menoleh padanya, mengulangi pertanyaannya yang tidak digubris Kala.
"Biasa. Gue malas bahasnya. Nggak penting juga," Kala mengangkat bahunya dan mengibaskan tangan di depan mukanya.
"Elo pacaran ya sama Kak Elang?" Anggi memicingkan matanya penuh selidik.
"Gue nggak pacaran sama kak Elang kok." Jawab Kala jujur.
"Eh, tadi pas elo sama kak Elang ke kantin bareng ada yg ngamuk-ngamuk nggak jelas deh." Ujar Anggi.
"Ngamuk nggak jelas? Siapa yang lo maksud?" Tanya Kala.
"Psssstttt!!!" Tika memerintahkan Kala dan Anggi untuk mengecilkan volume bicaranya.
"Adiba. Dia kayaknya suka deh sama kak Elang." Kata Anggi setengah berbisik.
"Hah? Serius Lo?" Kala kaget. Penasaran.
"Lagian elo pacaran kenapa nggak bilang. Bilang aja dong, biar nggak bikin orang salah paham." Kata Tika.
"Sumpah. Gue belum pacaran sama kak Elang." Jawab Kala sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
"Ciee.. berarti ada kemungkinan pacaran doong." Kata Anggi dengan suara yang sedikit keras.
Braaakkk!!!
Tiba-tiba ada suara meja digebrak oleh seseorang.
"Kenapa lo, Diba?" Tanya Rindu pada Adiba.
Semua anak yang ada di kelas itu pun memperhatikan Adiba.
"Kenapa sih lo, Adiba?" Tanya Dika penasaran.
"Nggak apa-apa kok. Gue cuma nggak suka aja kalau ada yang nusuk gue dari belakang." Jawab Adiba mungkin berniat menyindir.
"Nusuk apa coba? Gue juga kaget kok tadi langsung ditarik tangnnya." Keluh Kala pelan. Gadis itu memejamkan matanya dan menarik nafas dalam dalam, lalu membuangnya perlahan.
Anggi dan Tika yang berniat akan menginterogasi lagi, dengan terpaksa mengurungkan niatnya kali ini. Karena terlihat dari kejauhan Bu Yeni berjalan ke arah kelas X IPS 1.
Suasana kelas mendadak menjadi tenang. Semua siswa-siswi penghuni kelas X IPS 1 sudah duduk di tempatnya masing-masing saat Bu Yeni masuk ke kelas. Diikuti oleh Kina di belakangnya.
Kina kenapa sih? Dia sampai sengaja masuk belakangan biar nggak papasan sama gue. Salah gue apa sebenernya? Tanya Kala dalam hati.
* * * * *
Mohon maaf kalau masih banyak kurangnya. Ini karya pertama saya.
Kalau berkenan mohon like dan komennya yg membangun yah guisseee.. bantu othor biar semangat.
Thankyou 🤗