Miss Cupid & Mas Cupid

Miss Cupid & Mas Cupid
11. Jari Kelingking



Bel pulang sekolah membaha di seluruh penjuru sekolah SMA 1 Raga Nusantara. Kala sudah berdiri di depan kelas X IPS 2, karena memang kelasnya sudah selesai terlebih dahulu.


"Ada apa ya kamu nyariin bapak?" Tanya Pak Budi begitu membuka pintu kelas dan mendapati Kala tengah berdiri seperti sedang menunggu.


"Hah? Nyariin bapak? Enggak kok, Pak.." jawab Kala.


"Nggak usah bohong." Ujar Pak Budi. "Nah terus ngapain kamu berdiri di sini?" Beliau melanjutkan.


"Saya cariin temen saya kok." Jawab Kala jujur.


Sementara murid-murid kelas X IPS 2 sudah mengantre panjang di belakang Pak Budi, karena Pak Budi masih berdiri di pintu kelas.


"Kalian pada ngapain sih ngekor di belakang bapak?" Pak Budi menoleh ke arah belakang.


"Bapak yang ngapain berdiri di depan pintu. Kami mau keluar, Pak." Ujar salah seorang siswa bernama Davin.


"Ya sabar dong, budayakan antre. Jangan grusa grusu. Anak zaman sekarang kok sukanya grusa grusu." Kata Pak Budi masih tetap belum beranjak.


"Awaaasss!!! Gue kebelet bokeeerrr!!!" Teriak Tofa menerobos antrean dan lari keluar kelas menuju ke kamar mandi.


Pak Budi terdorong dan hampir jatuh. Untung saja langsung berpegangan tiang di depan kelas.


"Astaghfirullah.. bocaaahh.." Pak Budi mengelus dadanya. Kemudian berjalan menuju ke ruang guru.


Murid-murid penghuni kelas X IPS 2 berhamburan keluar kelas.


"Ge.. Grady!" Panggil Kala.


Grady menoleh sambil mengernyitkan dahinya. Kala berjalan menghampiri Grady.


"Hehe. Anu, ini gue kasih lo gift card vouchers, bisa untuk all menu buat lunch atau dinner di Senja Cafe. Siapa tau lo mau pakai buat makan sama Rani." Ucap Kala sambil menyerahkan sebuah kartu berwarna biru.


Grady mengangkat sebelah alisnya lalu menerima kartu itu. Grady memandang kartu biru itu dan Kala secara bergantian dengan wajah datar, kemudian membuang muka.


"Heh! Apa apaan ini godain pacar orang. Dan itu, apaan itu sembarangan ngasih barang ke pacar orang!" Rani yang tiba-tiba datang langsung membentak dan merebut kartu berwarna biru dari tangan Grady.


"Pacar? Oh, sudah ya ternyata.. cepet amat.." gumam Kala pelan tapi masih bisa terdengar oleh Grady. Entah dengan Rani.


Rani meletakkan paperbag yang sedari tadi dibawanya, lalu membolak-balik melihat kartu apa yang diberikan Kala kepada Grady.


"Senja Cafe? Kartu apa ini? Kenapa lo kasih ke pacar gue?" Rani memandang Kala sinis.


"Aduh sebelumnya maaf ya, Ran.." Kala menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya sebatas dada tanda minta maaf.


"Pertama, gue ngasih ini bertujuan untuk bikin moment buat kalian berdua. Tapi ternyata kalian udah pacaran aja. Syukurlah. Selamat ya, gue ikut seneng." Kala melanjutkan.


"Iya. Makasih. Tapi ini apa?" Tanya Rani lagi masih dengan muka sinisnya.


"Itu gift card vouchers, Ran. Di dalamnya udah ada deposit saldo satu juta lima ratus ribu rupiah. Bisa kalian pakai buat order all menu di Senja Cafe." Kala tersenyum menjelaskan.


"Oh, boleh juga. Kebetulan kita emang mau makan bareng. Sama Mahen dan Kina juga. Iya kan, my baby G?" Rani bergelayut manja di lengan Grady.


"Hmm.." Grady hanya berdehem.


Kina? Tapi tadi dia gue ajakin pulang bareng katanya udah ada janji. Apa mungkin janjinya sama mereka? Batin Kala.


"Kina! Mahen!" Rani melambaikan tangan memanggil Kina dan Mahen.


Dua orang yang dipanggil segera menghampiri sumber suara tersebut.


"Kina? Katanya tadi elo ada janji?" Tanya Kala pada Kina.


"Eh, iya. Anu, Kal.. gue udah ada janji sama Mahen." Kina menggaruk-garuk belakang telinganya.


"Oh.." Kala hanya ber-oh saja.


Rani mengambil paper bag yang tadi ia letakkan begitu saja, dan memberikannya kepada Kala.


"Apa ini, Ran?" Tanya Kala yang sebenarnya kurang lebih sudah tau isinya apa. Terlihat dari logo yang tertera pada paper bag.


Kala masih enggan menerima paper bag berwarna putih itu.


"Iya. Ini buat elo. Sesuai permintaan Lo kan?" Rani mengeraskan suaranya.


"Hah? Enggak, Ran. Gue bahkan ngga minta apa-apa dari elo. Gue ikhlas ngelakuinnya buat lo." Balas Kala sambil menyerahkan kembali paperbag putih bergambar buah apel digigit.


"Hehehe. Iya, gue tau. Tapi ini janji gue ke elo. Nih, ambil aja." Rani menarik tangan Kala kemudian menyerahkannya setengah memaksa.


"Lo emang teman.. eh, sahabat yang baik.." katanya kemudian sambil melirik pada Grady.


Rani kemudian memeluk Kala selama beberapa detik. Mereka terdiam sejenak.


"Nah! Ini dia anaknya. Gue cari kemana-mana juga. Ikut gue ke music studio yuk." Rizal tiba-tiba datang dan berdiri di samping Kala.


"Hah? Ada apa, Kak?" Kala bingung.


Saat ini Kala sedang serba bingung. Bingung dengan status Grady dan Rani yang berubah secepat ini. Bingung dengan pemberian Rani. Bingung dengan Grady yang berubah sikap. Dan bingung dengan kemunculan kakak kelas most wanted secara tiba-tiba.


"Elo udah janji kan sama gue." Ujar Rizal.


"Janji? Kan gue bilang pikir-pikir dulu, Kak.." jawab Kala.


"Udah, pokonya gue kenalin dulu sama anak-anak di sana. Supaya nanti lo udah terbiasa." Rizal menarik tangan Kala.


"Okay, kalau gitu kita duluan ya, Kal.. thank you buat kartunya." Rani tersenyum dan menarik tangan Grady untuk berjalan menjauh. Tak lupa mengajak Kina dan Mahen untuk turut serta.


Sedangkan Kala terpaksa mengikuti Rizal berjalan menuju music studio. Interaksi antara Miss cupid dengan kakak kelas most wanted itu tak luput dari perhatian orang-orang di sekitar. Termasuk Grady, Rani, Mahen, dan Kina.


"Kak, bukannya ekskul band itu besok ya Kak?" Tanya Kala di tengah perjalanan menuju music studio.


"Ya kalau di schedule emang besok. Tapi hampir setiap hari sepulang sekolah anak-anak pada latihan di studio." Rizal menoleh pada Kala tanpa menghentikan jalannya.


Mereka berdua meneruskan jalan menuju ke music studio.


"Loh, kemana mereka? Kenapa pintunya dikunci begini sih?" Kata Rizal sambil terus berusaha membuka pintu sebuah ruangan yang cukup besar bertuliskan 1RN Music Studio.


Saat Rizal dan Kala sudah sampai di ruang music studio ternyata pintu terkunci. Rizal berusaha sekuat tenaga membuka pintu studio. Tapi percuma, sepertinya memang tidak ada kegiatan di dalam sana.


"Biasanya anak-anak pada latihan kok. Coba gue cari Acel sebentar ya, Kal.. Lo tunggu di sini aja dulu ya.." Ujar Rizal, meminta Kala untuk duduk di kursi yang tersedia di depan studio musik itu.


"Kak, kak, nggak usah, Kak.. besok aja ya.. mungkin temen-temen kakak lagi pada ada urusan yang lain." Kata Kala.


"Tapi kan gue pengen ngenalin elo ke anak-anak band dan ngasih tau ke elo tentang ekskul band ini." Kata Rizal lagi.


"Iya, Kak.. tapi.. emm.. gimana kalau besok aja, Kak? Kak memang schedule latihannya besok kan, Kak?" Kala menawar lagi.


"Tapi gue yakin kok mereka pasti latihan juga hari ini. Mungkin mereka lagi cari makan aja. Tunggu sebentar ya." Rizal masih berusaha menahan.


Kala bingung. Sebenarnya Kala belum siap untuk masuk di dalam ekstrakurikuler ini. Karena sedikit banyak pasti akan menganggu kegiatannya sebagai Miss cupid dan juga kaum mager rebahan sambil nonton series.


"Iya, Kak.. tapi hari ini aku belum bilang ke bunda kalau pulang terlambat. Jadi aku harus pulang tepat waktu, Kak.. maaf yah, Kak.." Kala mulai mengeluarkan satu di antara seribu satu alasan yang mungkin dia punya.


"Yaudah deh. Tapi elo harus janji besok pulang sekolah ke studio. Dan lo harus janji kalau Lo bakalan masuk ke band gue. Karena sebentar lagi bakalan ada event." Kata Rizal akhirnya merelakan Kala untuk pulang, meskipun sedikit berat.


"Iya, Kak.. Insyaa Allah.." jawab Kala.


"Janji dong!" Rizal menyodorkan jari kelingkingnya ke depan muka Kala.


"Insyaa Allah ya, Kak.." kata Kala lagi.


"Gue nggak terima sesuatu yang nggak pasti. Dan gue juga nggak mau terima penolakan dari elo." Rizal mulai memaksa.


"Mana jari kelingking lo?" Lanjut Rizal.


"Iya, Kak.." Akhirnya Kala mengaitkan jari kelingking tangan kanan miliknya dengan jari kelingking Rizal.


"Gue tunggu besok." Rizal berbisik tepat di dekat telinga Kala.


Kala merinding seketika. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Seperti ingin bersyukur dan mengeluh dalam waktu yang bersamaan.


Bersyukur karena dia bisa lebih dekat dan akrab dengan kakak kelas dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Jadi kalau terjadi apa-apa paling tidak sudah punya backing-an. Begitu pikirnya kira-kira.


Tapi di sisi lain juga mengeluh karena pemaksaan yang dilakukan oleh Rizal. Bukannya Kala tidak punya keinginan untuk menolak. Akan tetapi Kala merasa sungkan. Dan lagi, memang benar apa yang pernah dikatakan oleh Rizal kalau murid baru diwajibkan untuk mengikuti paling tidak satu kegiatan ekstrakurikuler.


Dan lagi lagi Rizal benar. Bahwa Kala sesungguhnya juga malas untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang membutuhkan kerja keras memeras keringat dan otak. Jadi memang ekstrakurikuler seperti band inilah yang mungkin akan diikuti oleh manusia semacam Kala.


Kala akhirnya bisa pulang ke rumah dengan tenang setelah mendapat izin dari Rizal.


Aneh banget hidup gue. Perasaan gue bukan siapa-siapa. Tapi kok tiba-tiba para kakak kelas ganteng nan charming pada deketin gue ya? Apa sebenernya mereka cuma mau minta tolong sama gue buat dicomblangin? Ah, gue nggak ngerti.. Kala bermonolog dalam hatinya.


_______


Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.


Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.


Mohon vote dan komennya yg membangun ya..


Terimakasih banyak banyaaakk :))