
Pagi ini Kala datang lebih pagi dari pada biasanya. Karena pagi ini adalah kali pertamanya ia berangkat ke sekolah sendirian naik motor.
Ya meskipun Kala sudah lihai dalam hal mengendarai sepeda motor sejak duduk di bangku SMP, tapi tetap saja dia baru pertama kali naik motor ke sekolah saat duduk di bangku SMA ini.
Dan lagi sebenarnya dia belum memiliki surat izin mengemudi. Tapi ya mau gimana lagi, Kala tidak bisa selamanya bergantung pada orang tua atau kakak-kakaknya.
Jadilah Kala setelah selesai menunaikan sholat shubuh tadi, ia berusaha keras untuk tidak memejamkan matanya. Supaya bisa berangkat ke sekolah sepagi mungkin.
Ruang kelas X IPS 1 masih sepi. Sepertinya Kala adalah sosok manusia pertama yang memasuki ruang kelas pagi ini.
Oh tidak! Sudah ada yang masuk kelas tadi pagi-pagi sekali. Bahkan tidak hanya kelas X IPS 1 saja. Tapi kelas-kelas yang lain juga.
Orang itu adalah Pak Kasirun dan Pak Jono. Beliau merupakan cleaning servis sekaligus penjaga sekolah.
Hal ini terlihat dari bersihnya kondisi kelas. Tidak seperti kemarin saat ditinggalkan oleh para penduduknya, kelas ini tampak tak karuan. Seperti kapal pecah yang usai melakukan perang dunia.
Kala menjatuhkan bokongnya di kursinya. Siswi X IPS 1 itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri bergantian. Matanya mengitari melihat seisi kelas. Belum ada siapapun selain dia. Kemudian Kala meletakkan kepalanya di meja, dengan bertumpukan kedua tangannya yang dilipat.
Kala memejamkan matanya, karena merasa sedikit mengantuk. Ia berniat untuk terlelap sebentar saja. Barang dua sampai lima menit. Sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Pastilah nanti kalau temannya sudah ada yang datang akan membangunkannya.
"Tumben tumbenan jam segini udah di kelas aja lo Kal. Merem-merem lagi." kata seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah tempat duduk Kala.
"Astaghfirullah! Setan!" Kala mengangkat kepala, kaget dibuatnya. Sampai hampir lompat dari tempat duduknya.
"AANGGIIIIIII....!!!" Teriak Kala begitu tau siapa yang datang mengagetkannya barusan.
Anggi tertawa melihat tingkah teman sekelasnya itu.
Iya, orang itu adalah Anggi, teman sekelas sekaligus sahabat baru Kala di SMA 1 Raga Nusantara ini.
Anggi meletakkan tas di atas mejanya dan kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi tepat di sebelah tempat dimana Kala duduk.
"Untung gue nggak jantungan. Untung gue nggak punya penyakit jantung. Kalau jantung gue copot gimana? Kalo gue mati gimana? Lo mau tanggung jawab?" Kala nyerocos protes.
"Hahaha. Nggak mungkinlah Kal. Itu kan cuma kiasan aja. Ya kali jantung Lo copot, jatuh. Sini gue bedah dulu dada lo, biar jantung Lo bisa jatuh dengan leluasa." Anggi menoyor kepala Kala.
"Ya habisnya elo ngagetin gue. Masih deg-degan nih gue." Kala memegangi dadanya dan masih memasang ekspresi wajah shock.
"Alhamdulillah.. berarti lo masih hidup. wleee.." Anggi menjulurkan lidahnya.
Kala balas menoyor kepala Anggi. Dan akhirnya mereka melakukan obrolan ringan.
Tak lama setelah itu para manusia penghuni kelas X IPS 1 ini, satu persatu mulai berdatangan. Kina dan Tika datang bersamaan. Langsung menempatkan diri duduk di kursi tepat di belakang Kala dan Anggi.
Saat pertama masuk SMA ini dan tahu bahwa mereka sekelas, Kala dan Kina memang memutuskan untuk tidak sebangku lagi seperti saat masih duduk di bangku SMP.
Karena memang di SMA ini satu meja satu kursi untuk satu murid. Alias menggunakan single table and chair. Berbeda dengan ketika mereka di SMP. Satu meja terdapat dua kursi.
Tapi Kala dan Kina tidak duduk bersebelahan. Mereka juga ingin mengenal lebih dekat teman-teman sekelas yang lain.
Jadilah saat ini Kala dan juga Kina mempunyai sahabat baru di kelas, yaitu Tika dan Anggi. Namun begitu, tetap saja mereka tidak bisa duduk berjauhan. Hanya depan belakang saja.
Tak lama setelah itu bel masuk pun berdering dengan nyaringnya, terdengar di seluruh penjuru sekolah. Seorang guru memasuki ruang kelas X IPS 1, dan memimpin doa bersama sebelum memulai pelajaran.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.." Guru tersebut mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.." jawab murid-murid X IPS 1 serempak.
"Anak-anak, ketua kelas di sini siapa ya? Bapak lupa." Kalimat pertama yang keluar dari mulut Pak Budi sang wali kelas X IPS 1, tentunya setelah mengucap salam tadi.
"Kala, Pak!" Celetuk Kemal.
"Ah! Ngaco lo!" Bantah Kala.
"Bukan, Pak.. bukan saya. Si Kemal tuh, Pak!" Lanjutnya menunjuk balik Kemal.
"Tapi waktu MPLS kemarin dia captainnya, Pak." Afen ikut menyahut.
"Iya, Pak. Kemarin pas MPLS Kala ditunjuk jadi captain sama kak Elang. Sekarang tunjuk aja dia jadi ketua kelas, Pak!" Wildan ikut menambahi.
"Udah.. elo aja deh, Kal. Nggak apa-apa.." Nanda ikut-ikutan.
"Iya. Pokoknya Kala aja." Iqbal menyahut.
"Iya. Dia bisa handle semuanya kok. Pokoknya Kala. Hidup Kala! Merdeka!" imbuh Dika sembari mengepalkan telapak tangannya dan menghentakkan ke atas, meniru gaya politisi yang sedang berorasi.
"Eh, eh! Kok main keroyokan sih!" Kala mulai panas dan ngegas.
"Nggak bisa gitu dong. Lagian ini cewe-cewenya kenapa pada diem. Belain gue woy!" Kala memukul mejanya pelan.
Coba tidak ada Pak Budi. Pasti Kala sudah berteriak kencang atau bahkan menantang mereka satu persatu.
"Kemal aja, Pak!" akhirnya Kina angkat bicara.
"Iya, Pak.. Kemal aja, Pak.." Tika ikut menunjuk Kemal.
"Iya, Pak.. Kemal aja, Pak.." Kata Anggi yang hanya menirukan ucapan Tika.
"Bukankah sebaiknya jika seorang pemimpin itu adalah laki-laki, Pak?" Adiba turut angkat bicara.
"Nah! Betul sekali itu, Pak!" Anggi menyahut lagi.
"Iya tuh, Pak!" Tika turut memberi dukungan.
"Iya, Pak!" Rindu dan Mella berusaha mendukung pula.
"Oh, tidak bisaaaa!" Protes Kemal.
Keadaan kelas sudah mulai sedikit chaos.
"Sudah, sudah.. bapak pusing.." Pak Budi akhirnya menengahi.
"Ketua kelasnya kamu, Kemal!" Pak Budi kemudian menunjuk Kemal.
Kala menjulurkan lidahnya. Mengejek Kemal.
"Dan wakilnya kamu, Kala.." pak Budi kemudian menunjuk Kala sebagai wakil ketua kelas.
"Yaaahh.. Pak.. kok gitu sih.." Kala kesal.
"Keputusan sudah mutlak ya. Untuk sekretaris, bendahara, dan lainnya kalian yang menentukan sesuai dengan kebutuhan." Tegas Pak Budi.
"Kalau kalian butuh sie bidang ekonomi dan kreatif ya bikin. Kalo enggak ya enggak usah. Kalau butuh sie bidang kemaritiman juga boleh." Lanjut Pak Budi tertawa sambil membenarkan letak kacamatanya.
Murid-murid di kelas itu hanya tersenyum masam mendengar garingnya lelucon Pak Budi.
"Yang jelas kelas ini pemimpinnya kekal." Tegas Pak Budi lagi.
"Kok kekal pak? Nanti naik kelas ganti dong!" Kemal protes.
"Kekal. Maksud bapak Kemal Kala." Pak Budi tersenyum bangga, lagi-lagi sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Lah! Nge-jokes dia." gerutu sebagian murid di kelas X IPS 1.
Pelajaran Sosiologi yang diampu oleh Pak Budi kemudian dimulai. Beberapa dari mereka antusias.
Tapi di antara mereka ada yang terlihat lesu, kurang bersemangat karena kecewa dengan keputusan pemilihan pengurus kelas tadi. Kala orangnya.
Awas aja kalo posisi gue jadi wakil ketua kelas mempengaruhi kinerja dan eksistensi gue sebagai Miss Cupid. Batinnya Kala.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))