
Saat ini Kala dan juga Kina sudah berkumpul bersama teman-teman sekelasnya yang lain.
Mereka asik berswafoto dan berfoto bersama di depan papan nama sekolah, di depan gerbang utama sekolah, juga di depan beberapa karangan bunga ucapan selamat yang dikirim oleh orang tua wali mereka.
Mereka mengambil beberapa foto.
Kala, Kina, Grady dan Mahen berdiri berjajar dengan teman-teman yang lain sambil berangkulan.
Mereka berempat teman dekat satu kelas, duduknya pun selalu berdekatan selama 3 tahun ini.
"Agak mepet sini Ge, nanti lo ga keliatan." Kata Kala menarik tangan Grady, untuk lebih mendekat kepadanya. Karena Grady berdiri di pojok paling kanan.
Grady kemudian merangkul Kala.
Di pose berikutnya, Grady sedikit membungkukkan badannya kemudian Kala menyandarkan kepalanya di bahu Grady. Grady meletakkan tangannya di atas kepala Kala.
Pose berikutnya Kala masih menyandarkan kepalanya di bahu Grady, dengan tangan kanannya memegang leher Grady. Mereka berdua menghadap ke arah Kina dan Mahen.
Sedangkan Kina menyandarkan kepalanya di bahu Mahen, dan mereka berdua menghadap ke arah Kala dan Grady.
Mereka saling menjulurkan lidah. Sementara teman-teman mereka yang lain ada di sebelah kiri Mahen, ada yang duduk bersimpuh, jongkok, bahkan tiduran di atas rumput. Keempat sahabat itu tertawa kemudian, bersama teman-teman yang lainnya.
_______
"Terimakasih ya, Bi Sumi.." kata Bunda Deti dengan senyum tulusnya kepada Bi Sumi yang tengah menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Sama-sama, nyonya." Jawab Bi Sumi dengan senyum yang tak kalah tulusnya.
Sementara Bunda Deti dan Bi Sumi sedang menata makanan di meja makan, Kala, Kina, Grady, dan Mahen sedang asyik mengambil makanan sambil ngobrol.
"Lo serius mau sekolah di Pluto, Ge?" Tanya Kala pada Grady, memastikan sahabatnya itu akan melanjutkan sekolah dimana.
"Belum tau. Tapi kemungkinan sih iya." Jawab Grady.
"Pluto? Dimana itu? Itu nama sekolah?" Tanya bunda Deti, bundanya Kala yang ikut nimbrung obrolan para ABG ini.
"Itu singkatan, Bun." Kina menjelaskan.
"Singkatan dari SMA Pelita Budi Utomo." Lanjutnya.
"Astaga. Ada-ada aja kalian ini." Balas bunda Deti lagi. Kali ini sambil tertawa.
Sepulang acara wisuda kelulusan tadi Kala, Kina, Grady, dan Mahen pergi ke studio foto untuk foto bersama dan mengajak serta keluarga mereka masing-masing juga.
Setelah acara mengabadikan momen kelulusan itu selesai, Kina, Grady, dan Mahen berpisah dengan orang tuanya masing-masing. Mereka ikut Kala pulang ke rumahnya.
Empat sekawan itu sudah membuat janji untuk makan bersama selepas acara wisuda. Dan makannya di rumah Kala.
Selain karena supaya ngirit, rumah Kala juga sudah seperti basecamp mereka selama 3 tahun ini.
Meskipun mereka sering juga ke rumah yang lain, tapi tetap saja rumah Kala yang sering mereka datangi.
Mereka sering kali mengunjungi rumah Kala untuk belajar kelompok, main, numpang makan, bahkan Kina pernah kabur ke rumah Kala saat sedang berselisih dengan orang tuanya.
Empat sekawan ini dikawal alias disopiri oleh Bunda Deti, bundanya Kala. Kina, Gardy, dan Mahen memang sudah cukup dekat dengan bundanya dan juga anggota keluarga Kala yang lainnya.
Sebenarnya keempat sahabat ini masing-masing sudah bisa mengendarai mobil sendiri. Hanya saja memang bunda Deti tidak mau kalau nanti terjadi apa-apa pada mereka.
Sementara orang tua Kina, Grady, dan Mahen segera kembali ke pekerjaan masing-masing usai menghadiri acara wisuda kelulusan anaknya hari ini.
Begitu juga dengan ayah Kala, yang segera kembali ke kantor setelah menyempatkan hadir di acara penting bagi anaknya itu.
"Halah.. emang dasar elonya aja yang suka gratisan." Grady menimpuk Mahen dengan bantal.
Saat ini mereka sudah duduk bersama di sofa ruang keluarga.
"Emang enak, Ge.. sumpah dah" Mahen mengangkat tangan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Iya emang enak. Tapi lo dari tadi udah berkali-kali ngomong begitu. Penjilat banget sih lo. Biar bisa makan gratis terus." Timpal Kala.
"Iya nih.. tau diri dikit dong.." Kina ikut-ikutan.
"Heh elo kan juga suka numpang makan di sini." Mahen tak terima.
"Sudah.. sudah.. biarin dong, kan bunda juga seneng dipuji masakannya enak. Jadi makin semangat buat nyoba resep-resep baru."
"Tuh, dengerin!" Mahen senang merasa dibela.
Bunda Deti tersenyum melihat tingkah keempat anak remaja ini.
"Nanti kalau sudah SMA kalian masih mau main ke sini nggak?" Tanya bunda Deti.
"Insya Allah, Bunda.." jawab Grady.
"Pasti dong, Bun.." jawab Mahen.
"Iya dong, Bun.. kalo aku minggat dari rumah, mau kemana lagi aku berteduh kalo nggak ke sini hehehehe" Kina turut menjawab.
Kemudian mendapat serangan timpukan bantal dari tiga manusia bar-bar.
"Ampuuunn" keluhnya.
"Bun, nanti kalo SMA Kala boleh pacaran nggak?" Tanya Mahen.
Kala yang sedang minum tiba-tiba tersedak mendengar pertanyaan Mahen. Meskipun begitu ia juga penasaran dengan jawaban bunda.
"Kenapa? Kamu mau jadi pacarnya Kala? Kamu suka sama anak gadis bunda yang males mandi ini?" Bunda tertawa.
"Ah, Bunda.." Kala cemberut.
"Engga, Bunda. Dia makannya banyak. Nanti rebutan makanan terus lagi sama aku." Mahen tertawa lalu mendapat jitakan dari Kala.
Semua tertawa.
"Bukannya nggak boleh. Tapi, hmm.. nggak usah pacaran pacaran segala lah ya.. nggak ada untungnya. Temen deket aja ya.. nggak usah pacaran, besok langsung nikah aja.." jawab bunda Deti.
"Ya pokoknya terserah Kala lah. Kala sudah besar, seharusnya sudah tau mana yang baik dan tidak untuk dirinya sendiri. Jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Jangan sampai menganggu sekolah juga. Pilih teman dekat juga yang baik. Kalau memang positif dan bisa jadi motivasi dalam belajar oke lah. Jangan sampai salah pergaulan. Ini juga pesan untuk kalian bertiga."
"Baik, bunda.." jawab empat remaja itu bersamaan.
_______
Ini karya pertama saya kakak kakak sekalian.
Mohon jangan dibully. Kasih saran saran yang membangun ya, biar othor semangat nulis dan belajarnya.
Terimakasih banyak banyaaakk :))