
"Baik anak-anak, pertemuan hari ini ibu tutup sampai di sini. Jangan lupa PR-nya dikerjakan. Lusa dikumpulkan." Bu Yeni sang guru matematika yang sedang berdiri di muka kelas X IPS 1 mengakhiri pelajaran hari ini.
"Baik, Bu.." jawab murid-murid serentak.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.." tutup Bu Yeni.
"Kalian sekarang boleh istirahat." Pungkasnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.." jawab seluruh penghuni kelas X IPS 1 serentak.
Kala segera mengemasi buku matematika miliknya dan memasukkan ke dalam tas.
"Kin, ke kantin yuk." Kala mengajak Kina untuk ke kantin bersama.
Kina tak menyahut. Masih dengan kegiatannya mengemasi alat tulisnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam kotak pensil.
"Kin, kita ke kantin yuk.." gantian Tika kini yang mengajak Kina ke kantin.
"Aduh maaf, gue nggak bisa bareng kalian nih.." jawab Kina.
"Lo kenapa sih Kin? Akhir-akhir ini jadi nggak asik lagi. Semenjak punya pacar jadi berubah." Ujar Anggi.
"Enggak kok. Biasa aja." Ujar Kina.
"Biasa aja? Tapi elo sekarang nggak mau kita ajak jalan. Nggak pernah makan ke kantin bareng kita. Udah hampir seminggu elo selalu nolak kalau kita ajakin makan atau jalan bareng." Kata Anggi lagi.
"Duh, sebenernya gue males bahas ini karena gue males ribut. Tapi ternyata kalian maksa gue buat bahas ini." Ujar Kina lagi sambil terus mengemasi buku-bukunya yang masih berantakan di meja.
Kala, Tika, dan Anggi menatap Kina heran. Dan tentunya menunggu jawaban dari Kina.
"Gue males temenan sama orang jahat. Gue nggak sudi temenan sama orang jahat." Kina melirik ke arah Kala.
"Hah? Maksud lo apa sih, Kin?" Anggi tak mengerti.
"Lo tanya aja sama orang yang katanya sahabat lo. Gue sih nggak mau celaka karena dia. Gue nggak mau dibunuh sama dia. Ups!" Kina menutup mulutnya jengah. Kemudian berdiri membawa serta tasnya. Dan berjalan ke belakang.
Kina berjalan menuju sudut kiri belakang kelas. Kina berbicara serius dengan Ragil. Seperti sedang melakukan sebuah negosiasi. Dan akhirnya Ragil berdiri beranjak dari duduknya, dengan membawa serta tasnya juga. Sedangkan Kina saat ini sudah meletakkan tasnya di tempat duduk milik Ragil dan keluar kelas dengan buru-buru.
Sementara itu, Kala Tika, dan Anggi yang tak mengerti apa yang diucapkan Kina tadi hanya bisa saling pandang. Mereka bertiga hanya melihat Ragil terduduk di belakang Kala. Di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Kina.
"Kalian kenapa sih? Kalian yang ribut gue yang kena imbasnya. Gue jadi nggak bisa leluasa tidur di belakang kan jadinya!" Kata Ragil sedikit ketus.
Ragil menyisir rambut depannya yang sedikit panjang itu ke belakang dengan menggunakan jari-jarinya.
Gils! Ganteng juga rupanya dia kalo kelihatan wajahnya gitu. Aduh, jadi lumer deh hati gue. Batin Anggi.
Eh, eh.. fokus, Nggi.. fokus.. ini lagi ada masalah, malah salah fokus ke muka ganteng Ragil. Lanjut Anggi berceloteh dalam hatinya lagi.
"Kenapa sih? Ada apa?" Adiba mendekat. Sedari tadi rupanya Adiba juga memperhatikan adegan demi adegan yang terjadi di kelas.
"Cuma masalah kecil. Salah paham. Ntar juga baik sendiri." Jawab Kala mencoba untuk tenang.
"Hey, Kal! Ke kantin yuk!" Ajak seorang siswa yang baru saja masuk ke kelas dan langsung mendekat ke arah Kala.
"Eh, Kak El.." Kala kaget.
Semua pasang mata yang ada di dalam kelas X IPS 1 itu menatap kepada Kala dan Elang. Anggi dan Tika pun menatap penuh tanya. Sedangkan tatapan lain seperti heran dan tak suka.
Dalam perjalanan menuju kantin pun banyak pasang mata yang memandang kepada mereka berdua. Banyak yang kagum pada Elang. Tapi banyak juga yang menatap sinis dan tak suka.
"Eh, neng Kala.. sama mas Elang nih sekarang jalannya? Kok enggak sama empat sekawan?" Tanya Pak Sabar yang berpapasan dengan Kala dan Elang saat mengantarkan pesanan bakso ke salah satu meja.
Kala hanya tersenyum simpul menanggapi omongan Pak Sabar. Bingung, tidak tahu juga harus menjawab apa.
"Pak, baksonya dua ya!" Elang memesan bakso pada Pak Sabar.
"Siap, bosku! Yang satu tidak pakai bawang goreng, yang satu lagi bawang gorengnya segambreng. Betul?" Tanya Pak Sabar sambil tertawa kecil.
"Iya, bosku." jawab Elang sambil mengacungkan jempolnya.
Sebenarnya Elang tidak tahu seperti apa bakso yang biasa dipesan Kala. Tapi pasti Pak Sabar sudah lebih hafal. Kalau yang tidak pakai bawang goreng merupakan bakso favoritnya, maka yang pakai bawang goreng segambreng adalah bakso favorit Kala. Begitu pikirnya. Jadi Elang hanya asal meng-iya-kan saja.
"Minumnya es teh satu dan es jeruk satu gulanya sedikit?" Tanya Pak sabar lagi.
"Iya, Pak." Kali ini Kala yang menyahut sambil tersenyum. Meskipun Kala juga tidak tahu minuman favorit Elang. Gadis itu hanya asal menyahut saja.
"Siap, neng! Pesanan segera diantar." Sahut Pak Sabar.
Tak harus menunggu lama, bakso pesanan mereka berdua segera terhidang di atas meja. Kala dan Elang langsung melahap habis bakso di mangkok mereka masing-masing.
"Kal, gue mau ngomong sesuatu." Kata Elang sambil memegang tangan Kala yang duduk tepat di depannya, berhadapan langsung dengan Elang.
Kala menarik tangannya reflek. Kaget dengan perlakuan Elang yang sangat tiba-tiba.
"Eh sorry, Kak." ujar Kala canggung.
"Kenapa, Kal? Elo malu makan di kantin bareng gue?" Elang memicingkan matanya menelisik.
"Bukannya gue malu, Kak. Tapi kakak nggak lihat semua mata tertuju ke gue. Mereka siap-siap mau melahap gue hidup-hidup. Kak Elang kan most wanted di sekolah ini. Sedangkan gue cuma butiran debu. Bisa jadi bulan-bulanan para Elang lovers gue." Jawab Kala dengan jujur dan panjang lebar.
"Hahaha nggak gitu juga kali, Kal." Elang tertawa. Mendengar ucapan Kala barusan membuat Elang sedikit terhibur.
"Kok ketawa? Apanya yang lucu? Gue serius, Kak." Kala memasang wajah super seriusnya.
"Tapi gue juga serius." Senyuman hilang dari wajah Elang. Sedetik kemudian Elang ikut menampilkan wajah seriusnya.
"Serius apa, Kak?" Tanya Kala bingung.
"Gue serius, gue nyaman sama lo. Gue pengen hubungan kita lebih dari sekedar temen." Kata Elang.
DEG!!!
Jantung Kala terasa seperti ingin mencuat, terlempar dari tempatnya dan jatuh ke lantai kantin.
Apa-apaan ini?
* * * * *
Mohon maaf kalau masih banyak kurangnya. Ini karya pertama saya.
Kalau berkenan mohon like dan komennya yg membangun yah guisseee.. bantu othor biar semangat.
Thankyou 🤗