Me And My Secret Husband

Me And My Secret Husband
Eps 9.



Aku tahu ini keliatannya aneh, dan mendadak.


Tapi aku tidak tau harus meminta tolong sama siapa lagi, aku juga tidak punya alasan lain.


Setiap aku menolak pasti Papa selalu membawakan pria baru untuk menjadi calon menantunya.


“ Pak, saya tau ini aneh. Tapi tolong bantu saya untuk beberapa minggu saja.”


“ Aduh, Amara jangan kayak gini.”


Dan pria yang aku ketemui hanya Bara saja.


“ Bisa di ceritakan dulu? Ada masalah apa ini.”


Aku mengajak nya untuk bertemu keesokan harinya.


“ Kamu mau kemana? Ini kan hari minggu.”


“ Aku mau pergi sebentar.”


Mobil hitam itu terparkir tepat di depan caffe, dia turun mengenakan stelan jas berwarna biru tua.


Kali ini aku tidak melihat sekretaris nya yang setia.


“ Halo pak.”


“ Iya iya, duduk dulu.”


“ Iya pak.”


“ Jadi ada apa?.”


Ini kali pertamanya aku bertemu dengan pria yang sesuai dengan kriteria ku, kami berbicara dan melakukan kesepakatan.


Dia mau membantu ku asal aku menemani nya ke perpustakaan yang baru.


“ Kamu pernah bekerja di perpustakaan kan?.”


“ Saya? iya pernah pak.”


“ Kalau begitu harusnya kita pernah bertemu.”


Aku hanya tersenyum kecil saja dan langsung memakan makanan yang sudah di pesan.


Keadaan di rumah sekarang menjadi hening.


Ketika Sandra mengetahui tentang hal ini hanya dua saja pilihan nya.


Mau tetap berdiam diri atau ikut memberitahukan kepada Papa.


“ Sandra, kemana adikmu?.”


“ Dia lagi bantuin Sandra buat bikin jadwal baru minggu depan.”


“ Kalau kamu lihat dia, kasih tau Papa cari.”


17.00 sore.


Bara masih menemani ku, kali ini aku membawa Bara ke perpustakaan yang jaraknya tidak jauh dari kantornya.


“ Bapak kayaknya sering banget ya ke perpustakaan?.”


“ Iya, dulu saya sering pergi dengan mantan saya.”


“ Kenapa udah ga pergi bareng lagi?.”


Dia duduk di dekat jendela besar yang cahaya matahari nya terhalang dengan pohon di depan.


Aku seperti melihat pria tampan yang turun dari langit.


Kelihatannya dia sangat senang dan tenang berada di sini.


Kita bercerita banyak hal sebelum pulang, aku juga sempat tertidur di pundaknya sebentar.


“ Makasih banyak pak.”


“ Dimana hp mu?.”


“ Hp saya ya..ini pak.”


“ Kalau kamu kenapa-kenapa hubungi saja nomor itu.”


Pipppp..


Beberapa pelayan melihat dari balik gorden.


Bahkan mereka menertawakan dan mengejekku.


“ Cie non.”


“ Udah ga jomblo lagi non, hihi.”


“ Besok-besok kita udah ga bangunin lagi dong.”


“ Shut, kalian diam-diam aja ya.”


Pagi harinya, aku terlambat untuk bekerja.


Aku menyusul Sandra dengan terburu-buru.


“ Aduh kak, sorry banget.”


“ Gapapa tapi kamu cerita dulu itu gimana.”


“ Gimana apanya? Oh HAHAHA, dia setuju tapi kita membuat kesepakatan.”


Sementara itu Bara yang masih menikmati sarapan paginya, di temani dengan Papa dan sekretarisnya yang setia.


“ Bara, kamu belum punya pacar kan?.”


“ Uhuk..uhuk..Mending besok Papa sarapan nya sendiri aja.”


Bara selalu saja menghindari pertanyaan itu.


Papa Bara yang selalu menginginkan cucu, dan Bara yang selalu menghindari kencan dengan wanita.


“ Saya lanjut sarapan di kantor saja.”


Flashback 2 tahun yang lalu.


Siang itu, Bara dan kekasihnya baru saja pulang dari perpustakaan.


Dia berniat untuk mengantar kekasihnya pulang.


Tapi ketika setengah jalan, mereka berhenti di dekat toko.


Dan sebuah truk dari arah berlawanan menabrak mobil mereka, sayangnya kekasihnya itu langsung meninggal di tempat sedangkan Bara mengalami luka berat di bagian kepala dan lengan.