
Aku menarik koper ku sekitar 15 menit perjalanan.
Cukup jauh bukan?.
“ Berat sekali..isi apa si ini.”
“ Batu kali ya.”
Tingggg..
Orang-orang di rumah menatapku, seakan akan aku adalah orang asing.
“ Kenapa kalian ngeliat kayak gitu?.”
“ Amara, Papa udah tunggu kamu di kantor.”
Dan ini terjadi lagi ..
Papa ingin aku menikah dengan orang yang dia pilih, ini karena Papa mau mengambil sebagian saham besar yang mereka punya.
“ Kamu udah buat Papa malu, kenapa kamu seperti ini terus?.”
“ Papa yang kenapa kayak gini ke Amara? Kenapa Papa ga kayak gini juga ke kakak?.”
Ya, aku mempunyai satu saudari lagi. Dia bahkan lebih cantik dan menawan daripada ku.
“ Kamu ga usah ngurus kakak kamu.”
“ Papa ga usah ngurus hidup aku.”
Aku keluar dari ruangan dengan suara yang tersendak karena menangis.
Kenapa harus aku dan bukan kakak.
Namanya Sandra, wanita karir dan paling judes.
Dia hampir tidak pernah menyapa dan tersenyum ketika sedang bekerja.
“ Selamat pagi bu.”
“ Pagi.”
Sandra cocok memerankan wanita jahat di film lain.
Kami berdua juga tidak pernah akur dari kecil.
Sandra adalah orang yang paling di sayang, di rumah ini.
“ Amara, kamu kenapa nak? Jangan seperti itu sama Papa mu.”
Mama selalu membujuk ku untuk berbaikan dengan Papa, tapi apa gunanya kalau nanti kita akan bertengkar lagi seperti ini.
“ Gamau, untuk sementara biar seperti ini dulu Ma.”
“ Kalau kamu butuh apa-apa, ada pelayan di depan kamarmu.”
“ Pelayan, pelayan terus kalian kemana? Ga pernah ada kalau Amara butuh.”
Mama hanya terdiam dan berjalan keluar dari kamar.
Tentang pria yang aku lihat di restaurant itu,
Wawasannya yang luas membuat wanita- wanita lain terpanah.
Bara juga menguasai 5 bahasa, dan lulusan terbaik di universitasnya.
Betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi istrinya nanti.
“ Pak, ini laporan data-data yang di minta kemarin.”
“ Baik, apakah setelah ini saya ada jadwal lagi?.”
“ Untuk hari ini sudah tidak ada pak.”
“ Bagus, saya akan pulang lebih cepat hari ini.”
Sementara itu aku yang sedang merenung di teras rumah.
“ Amara.”
“ Ada alasan kenapa Papa kamu seperti itu, dan tidak memperlakukan kakak mu seperti itu juga.”
“ Amara udah gamau dengar itu lagi.”
“ Kamu mau kemana? Amara? Dengar Mama dulu.”
“ Aku mau pergi, mau jalan-jalan. Aku sumpek Ma di rumah terus.”
17.00 sore.
Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, duduk dan membaca beberapa buku disana.
Lalu tanpa sengaja aku bertemu dengan pria itu lagi.
Sepertinya dia menyukai tempat ini.
“ Selamat sore.”
“ Iya.”
“ Maaf pak, disini hanya bisa membawa 3 buku saja.”
“ Saya sudah biasa membaca disini, kamu siapa?.”
“ Saya pekerja disini, eh pak..ngeyel banget ya.”
Karyawan lain yang melihat pertengkaran ini langsung melerai dan menjelaskan.
“ Amara, dia pak Bara. Kebetulan pak Bara ini sering kesini jadi tidak apa-apa ya hehe.”
“ Ohh, namanya Bara. Ya udah kalau gitu.”
Aku harap Bara tidak kenal dengan keluargaku.
Karyawan itu juga menceritakan padaku kalau Bara adalah CEO dari perusahaan yang sudah dia bangun sejak 4 tahun yang lalu.
“ Pak Bara itu dulu sering kesini sama pacarnya.”
“ Oh ya? Terus sekarang kok cuma sendiri aja?.”
“ Kata orang si mereka udah putus, makanya dia selalu sendiri sekarang.”