
Ketika aku masih kecil, aku dan Sandra mengikuti les piano.
Hampir setiap hari guru les kami datang ke rumah.
Dan kalau aku yang tidak bisa bermain, kakak lah yang di pukul di depanku.
Katanya itu sebagai contoh kalau aku tidak bisa bermain piano, dia akan memukulku juga.
Sejak saat itu Sandra menolak untuk mengikuti les piano bahkan dia menyibukkan dirinya sendiri dengan kegiatan di sekolah.
Karena perbedaan umur yang tidak jauh, aku sempat satu sekolah dengan Sandra.
Ketika ada orang yang membully ku, dia juga mengikuti mereka.
Tapi lihatlah sekarang …
“ Jadi kamu mau bekerja dengan Sandra atau ikut dengan Papa?.”
“ Kalau aku ikut Papa, kita mau kemana?.”
Beberapa jam kemudian..
Papa membawa ku ke tempat restaurant yang baru dibuka.
Disana, aku kembali di pertemukan dengan para pria.
Seperti ini tidak ada habisnya.
“ Hmm, ga.”
“ Next.”
“ Ga suka.”
“ Bukan tipeku.”
“ Ups, sorry.”
1 minggu kemudian.
Aku kembali bekerja seperti biasa, menemani dan mengatur jadwal.
Tapi ketika aku sedang melihat jadwal, aku sepertinya melihat 3 tanggal merah yang di lingkari Sandra disini.
Dia menuliskan hari ku untuk berlibur sebentar.
3 hari cukup bagiku untuk berbaring sebentar di kamar, dan kasur yang empuk itu.
“ Ini serius? Jadwal libur ku?.”
“ Serius, kamu sudah bekerja keras beberapa bulan ini.”
“ Aa, makasih makasih makasih.”
Ok, hari pertama liburan ku.
Aku mematikan kembali alarm yang sudah berbunyi dari jam 06.00 pagi.
Aku bahkan memasak sendiri sarapan dan berjalan pagi sebentar.
Tanpa ku sadari, aku baru saja berpapasan dengan mobil hitam milik Bara.
“ Sepertinya perpustakaan ini tidak akan kembali lagi.”
“ Aku bahkan tidak jadi membeli apartemen sendiri.”
Dari seberang jalan, Bara baru saja turun dari mobil nya dan berjalan masuk ke kantor Sandra.
“ Maaf,,Chiko…”
Anjing itu berlari kencang ke arah ku dan aku terjatuh.
“ Maaf, tadi ikatan di leher chiko terlepas.”
“ Ah haha tidak apa-apa, apa dia jenis Golden?.”
“ Iya benar, kamu juga pelihara anjing?.”
“ Itu dulu, aku punya yang sama persis dengan Chiko.”
“ Oh baiklah, aku pergi dulu maaf banget ya.”
“ Gapapa-gapapa.”
Bara melihatku dan tersenyum kecil.
Kami saling menatap sebentar sebelum dia berjalan masuk ke kantor.
Hari kedua libur, ku habiskan di rumah.
Seperti kemarin, aku membuat sarapan sendiri dan bangun lebih siang.
“ Lihat anakmu sedang tidur.”
“ Nanti saja kita bicara dengannya.”
10.00 pagi.
Salah satu pelayan, membangunkan ku.
Dia berkata jika hari ini akan banyak kegiatan yang melibatkan ku.
“ Kegiatan?.”
Aku di bawa ke tempat bermain golf untuk menemani Papa, ikut Mama untuk berbelanja.
Bahkan aku harus belajar memasak juga.
17.00 aku pergi ke kantor kakak.
Aku mengatakan padanya kalau libur 2 hari saja sudah cukup bagiku.
“ Hari liburmu masih ada lagi besok, sudah nikmati saja.”
“ Iya aku tau tapi tolong..”
19.00 malam.
Makanan yang aku buat tadi di taruh di meja, kali ini mereka yang akan memberikan nilai.
“ Bagaimana rasanya?.”
“ Rasanya, apa aku harus berkata jujur Ma?.”
“ Beritahu saja pada adikmu.”
“ Apa kamu mau menikah?.”
“ Apa? Kenapa? Asin? …. Aduh hehe maaf.”
“ Sepertinya aku terlalu banyak menaruh garam tadi.”