Me And My Secret Husband

Me And My Secret Husband
Eps 2.



“ Jadi kira-kira gitu.”


“ HAHA, Amara mau nikah sama om-om.”


“ Jangan di ketawain dong, aku tu lari dari rumah dan kemungkinan besar kartu kreditku akan di block.”


Satu-satunya tempat untuk curhat selain Mama adalah sahabatku ini.


Aku memutuskan untuk menginap beberapa hari di tempatnya, dan kebetulan juga Shiren tinggal sendiri.


Sore hari ini sedang hujan deras di tempat kami.


Aku sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir teh.


“ Kamu gamau cari kerja aja dulu Mar?.”


“ Ya mau, tapi besok aja kamu tau kan teman-teman Papa itu ada dimana-mana.”


“ Iya juga ya, nih makan dulu ada nasi goreng cobain deh.”


19.00


Mereka masih terus mencari keberadaanku.


Karena aku tau keberadaanku pasti akan di lacak juga maka..


“ Apa itu yang di bakar?.”


“ Oh ini? Kartu telepon.”


“ Bar bar banget si.”


Aku membakar beberapa barang dari Papa.


Sudah kuduga pasti akan terjadi drama lagi kalau aku balik ke Indonesia.


Bahkan ini bukan kali pertama ku melarikan diri.


Beberapa tahun yang lalu setelah aku selesai SMA, aku di bawa ke salah satu tempat untuk menyewa gaun pengantin.


Gaun nya bagus dan cantik.


“ Bagus banget yang ini, tapi kenapa aku di suruh coba?.”


Tiba-tiba seorang pria datang bercerita bahwa Papa ku memaksa seorang anak dari rekan kerja nya untuk menikah dengan ku.


Pria itu mau membatalkan pernikahan ini, di karenakan umur ku yang waktu itu masih terlalu muda.


Aku bahkan belum siap untuk menjadi seorang Ibu.


2 hari kemudian, aku memutuskan untuk mencari kerja.


Mereka memblokir semua akses kartu kredit.


Dan uang cash yang aku pegang bahkan tidak cukup untuk sampai beberapa bulan kedepan.


Aku melihat di perpustakaan yang mencari seorang karyawan untuk merapikan dan menjaga buku-buku itu.


“ Permisi, apakah kalian sedang mencari karyawan?.”


“ Iya benar sekali..”


Orang-orang ini memperhatikan pakaianku, ada apa?.


Apa karena aku memakai kacamata hitam, masker dan topi ini?.


“ Maaf maaf, aku lepas topi nya dulu.”


“ Woaah, kamu anaknya perusahaan ternama itu kan kenapa kamu mencari kerja disini?.”


“ Kalian mengenalku? Ceritanya panjang, jadi apa aku boleh bekerja disini?.”


“ Aku rasa orang jaman sekarang banyak yang mengenalmu, baiklah silahkan bekerja hari ini.”


“ Terima kasih, tolong jaga identitasku.”


Aku di terima bekerja, karena ini mendadak dan aku menghargai Shiren sebagai tuan rumah.


Jadi aku memutuskan untuk segera mencari rumah sendiri.


“ Shiren…rggggh.”


“ Cie seneng kenapa ni.”


“ Aku udah dapat kerja, dan tenang aja aku bakal segera cari tempat tinggal sendiri.”


Keadaan di rumahku sepertinya berjalan seperti biasa, tidak ada yang mencariku lagi.


Satu kartu kreditku pun telah di terima lagi.


Malam itu, aku mencoba menghubungi salah satu pelayan di rumah.


Dia mengatakan jika mereka sudah baik-baik saja tidak seperti hari pertama aku menghilang.


Baiklah, ini saatnya aku kembali ke rumah.


“ Kamu ga jadi beli rumah sendiri dong.”


“ Jadi lah, tapi.. tapi aku harus balik dulu.”


“ Terus masih kerja di perpustakaan?.”


“ Hooh masih, udah nyaman kerja disana makasih ya Shiren makanannya enak..”


“ Hati-hati.”


Di balik telinga Shiren, dia memang alat yang dapat mendengarkan obrolan dari jarak jauh.


Tentu alat itu tidak dia pasang sendiri.