
Alunan piano itu kembali terdengar, dari lorong ruang tamu ke tempat kami biasa latihan.
Saat itu aku memainkan lagu twinkle twinkle liitle star, Mama menepuk tangannya dan tersenyum lebar.
Sementara kakak, hanya melihat ku dengan tatapan sinis.
Pagi ini Bara pergi ke museum, dia sedang bertemu dengan pelukis terkenal dari Korea.
Pelukis itu sangat cantik dan terlihat lebih muda dari Bara.
08.00 alarm pagi berbunyi seperti biasanya, kali ini aku melewatkan sarapan ku dan langsung menuju kantor.
Keliatan nya aku sudah menikmati pekerjaan yang agak menyiksa ini.
Jadwal siang ini tertulis kalau Sandra dan aku akan bertemu dengan Papa.
“ Jadi bagaimana pekerjaan mu Sandra?.”
“ Beberapa hari ini kami terus mengadakan meeting.”
“ Lalu kamu Amara.”
“ Aku? Pekerjaan ku baik-baik saja.”
“ Amara, tolong dengarkan Papa dan jangan menolak lagi..”
“ Aku juga mau kasih tau Papa sesuatu..”
Sandra memberikan ku kode agar aku tidak memberitahukan tentang suami bohonganku itu.
“ Sebenarnya, kemarin waktu di London..”
“ Mar..jangan coba-coba deh.”
Beda lagi dengan Bara, dia sedang jalan menuju kantornya.
Di mobil, Bara terus tersenyum dan bertanya apakah hari ini mereka punya jadwal untuk rapat bersama lagi.
“ Tidak ada pak, kemarin bapak sudah mentanda tangani kerja sama itu.”
“ Lalu kenapa dia tidak menghubungi ku, sebentar sore kosongkan jadwal saya.”
“ Baik pak.”
17.00 sore.
Bara menuju perpustakaan tempatku membawa nya waktu itu.
Setiba nya disana, seorang karyawan bertanya kenapa Bara tidak datang dengan kekasihnya.
“ Maaf pak, apa saya boleh bertanya?.”
“ Iya.”
“ Pak Bara jomblo ga.”
“ Saya? Ga ga.”
“ Terus pacarnya yang kemarin mana pak?, kalau udah putus sama saya aja hihi.”
“ Itu istri saya.”
Lain lagi dengan ku yang sekarang sedang di sidang di ruang tamu.
Mereka terus bertanya siapa suamiku dan alasan ku menikah diam-diam disana.
“ Minggu depan, oh tidak. Papa akan mengkosongkan jadwal minggu depan.”
“ Buat apa?.”
“ Ajak suami mu itu untuk bertemu dengan Papa.”
“ Apa?.”
“ Kenapa? Kamu takut?.”
“ Hah? Tidak, siapa yang takut.”
“ Bagus kalau begitu.”
Setelah kami makan malam, aku mengirim kan pesan singkat kepada Bara.
“ Malam pak, saya Amara.”
“ Oh iya, ada apa Amara?.”
“ Jadi begini pak, minggu depan keluarga saya mau bertemu dengan bapak.”
“ Saya lihat jadwal saya dulu minggu depan.”
“ Baik, terima kasih banyak pak.”
Di malam itu juga, Bara mengkosongkan jadwal nya di hari Kamis. Tepat di hari ulang tahunku.
3 hari berlalu, aku akhirnya di berhentikan bekerja oleh Sandra.
Dia sudah mendapatkan sekretaris baru hari ini.
“ Baguslah, jadi aku bisa di rumah terus badan ku pegal-pegal.”
“ Kata siapa kamu di rumah terus?, kamu ga ingat udah bilang apa sama Papa?.”
Flashback kejadian malam itu.
“ Sebenarnya, Amara udah menikah di London Pa.”
Papa tidak mengeluarkan sepata kata pun pada kita.
Dia hanya menundukkan kepala nya.
“ Kenapa kamu tidak bicara sama Papa dari kemarin?.”
“ Ah, itu haha. Pasti Papa cuma pengen ketemu doang sama Bara.”
“ Tapi bukan cuma sekali, apalagi kalau Papa ingat siapa Bara itu. Amara dengar kakak, Bara bukan orang sembarangan.”
Bara baru saja tiba di rumahnya, dengan beberapa tentengan di tangan nya.
“ Pak, bagaimana kalau tuan besar tau tentang ini?.”
“ Jangan beritahu dia dulu.”