
Perkenalkan namaku Amara, aku baru saja menyelesaikan kuliah ku di London.
Sekarang waktunya aku untuk pulang, entah kejadian apalagi yang akan terjadi selanjutnya.
Sebelumnya, mereka pernah meminta ku untuk pulang lebih cepat dengan alasan mereka merindukan ku.
Baiklah hari ini aku akan pulang …
“ Kamu yakin Mar, mau pulang hari ini?.”
“ Iya gimana lagi bisa-bisa mereka nelpon terus.”
“ Ya udah, safe flight ya.”
Penerbangan ku hari ini ke Jakarta.
Memakan waktu cukup lama, rasanya badan ku sudah pegal-pegal.
Setiba nya aku di Jakarta, seorang asisten datang untuk menjemputku.
“ Non Amara ya?.”
“ Iya, yang jemput siapa?.”
“ Saya non, Ibu sama Bapak lagi meeting.”
Orang-orang sibuk itu menyuruh ku pulang lalu sekarang mereka tidak ada? Yang benar saja…
Sore hari ketika aku sedang bersantai di ruang tamu, Mama datang menemui ku.
“ Bagaimana urusan kamu di London sudah selesai kan?.”
“ Udah, kenapa Ma?.”
“ Mama mau ngasih tau kamu sesuatu, jangan bilang ke Papa..”
“ Apaa?..tapi Amara gamau Ma, gamau Amara mending balik ke London aja lagi.”
Di rumah ini, banyak orang yang tidak bisa menyimpan rahasia. Termasuk .. Mama.
“ Pa, Ama ga mau ya. Masa aku baru balik udah di suruh nikah.”
“ Amara ga kenal sama orangnya, apalagi temannya Papa?.”
“ Amara kamu diam ya, Papa punya alasan sendiri kenapa mau menikahkan kamu dengan teman Papa.”
“ Ya tapi ga yang seumuran sama Papa dong, masa Amara sama om-om.”
3 hari kemudian, kedua orang tua ku mengajak untuk bertemu dengan teman kerja Papa di restoran.
Sesampainya disitu, ada satu pria yang menarik perhatian.
Dari caranya berbicara, berjalan, dan pengetahuan nya luas.
Pria itu tampan sekali..
“ Selamat malam, terima kasih sudah mau hadir. Saya mau memperkenalkan anak perempuan saya.”
“ Oh iya maaf, perkenalkan nama saya Amara dan umur saya baru 21 tahun ya om.”
Dengan muka ku yang judes dan agak ngegas, ku harap om itu tidak mau menikahi ku.
“ Kita langsung saja atur tanggal nya, saya tertarik dengan anak bapak.”
“ Apa?..No No No, Pa..Amara gamau ya.”
“ Amara, ini terakhir kalinya papa kasih peringatan ke kamu.”
Aku hanya duduk terdiam dan tidak menikmati makanan yang sudah di pesan.
Ku harap ini semua segera selesai.
Keesokan harinya, aku coba bertanya kepada asisten Papa.
“ Pak, saya mau nanya ini ada apa ya sudah pasti bapak tau juga alasan Papa saya apa kan.”
“ Nanti non juga bakal tau secepatnya.”
Pria ini seumuran Papa, namanya om Tio duda anak 2. Tidak pernah terpikirkan oleh ku mau dinikahi oleh duda.
Siang ini adalah tanggal yang sudah di tetapkan untuk lamaran.
Tapi karena aku menolaknya…
“ Pa, Amara ga ada di kamarnya..”
“ Kalian cepat cari dimana dia.”
“ Anak itu selalu saja membuat masalah.”
“ Telepon dia sekarang.”
Aku melarikan diri dari rumah, hanya membawa 1 koper, uang secukupnya dan 2 kartu kreditku.
“ Sekarang kemana ya, sewa apartemen aja kayaknya ya.. ahaa kan ada Shiren.”
Tinggggg…
Ini Shiren, satu-satunya teman dekat yang ku punya.
Gadis ini baru saja menyelesaikan pendidikannya di Jepang.
Kami berteman sejak SMA dan masih awet ternyata sampai hari ini, hihi..
“ Shiren, bantuin aku ya pleasee..”
“ Kenapa? Loh, kok pake baju batik gini.”
“ Boleh nginep di tempat kamu kan beberapa hari aja deh.”
“ Pasti ada masalah lagi ni anak, ya udah masuk dulu.”