
Beberapa hari berlalu, tahun ini aku sudah berhasil memberi apartemen sendiri.
Aku kembali bekerja di perpustakaan, dan tentang teman ku Shireen.
Dia sekarang berada di luar negri ketika Papa mengetahui kalau aku tinggal bersama Shireen, dia menyuruh beberapa orang kepercayaan nya untuk mengusir Shireen.
Papa juga sudah menceritakan alasan dia selalu menjodohkan ku, ternyata Papa ingin ada yang menjaga ku kalau mereka sedang berpergian dinas bisnis seperti ini.
Mama juga bercerita kalau di umur mereka yang sekarang, mereka ingin mengendong cucu.
Mereka tidak bisa mengharapkan Sandra, karena sifat nya yang terlalu susah untuk di atur dan selalu sibuk.
Aku sedang berada di balkon, duduk, mengetik dan menikmati secangkir kopi.
Tinggg…
Seseorang yang mirip sekali dengan Bara membunyikan bel di dekat pintu.
“ Bara?.”
“ Maaf, saya bukan Bara.”
Dia bercerita banyak tentang Bara pada sore itu.
Dan pria ini adalah saudara kembar Bara.
“ Lalu dimana Bara?.”
“ Bara menitipkan box ini untuk kamu, kamu bisa menemuinya kapan pun kamu mau.”
Sambil tersenyum, Tara memberikan box itu padaku.
Di dalam nya, ada sepucuk surat permintaan maaf dari Bara.
Hatiku cukup tersentuh karena aku baru mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“ Kenapa Bara ga pernah cerita?.”
“ Amara, Bara pengen cerita ke kamu tapi udah ga ada waktu lagi.”
Bara meninggal akibat overdosis obat-obat an.
Dia meminum banyak sekali obat akibat stress dengan pekerjaan dan keluarganya.
Keluarga yang bahkan terlihat harmonis.
Tara akhirnya mengantarkan aku ke tempat peristirahatan Bara.
Aku semakin menangis menjadi-jadi, aku juga belum sempat memberitahukan perasaanku padanya.
“ Obat-obatan yang kamu lihat di mobil, dia meminum itu setelah pulang bertemu dengan seseorang.”
Aku mencoba mengingat kembali, di dekat pintu mobil Bara..
“ Aku belum sempat kasih tau ke Bara, aku menyukai dia kenapa secepat ini?.”
“ Ini semua terlalu mendadak..”
Tara mencoba untuk mencengangkan ku.
3 hari kemudian.
Aku sering bertemu dengan Tara, dia memiliki semua yang ada di Bara.
Dari caranya berbicara bahkan melihatku.
Air mataku menetes lagi.. aku merindukan Bara.
“ Amara, aku mau bicara serius sama kamu.”
“ Iya kenapa Tara?.”
“ Aku tau kamu mungkin masih menyukai Bara, dan mungkin juga kamu belum bisa membukakan hati kepada orang lain.”
“ Tapi bisakah kamu membukakan hati untukku?.”
Suasanya tiba-tiba berubah, aku menjadi sangat canggung.
“ Aku berjanji di depan Bara, akan menjaga mu dan tidak akan meninggalkan mu.”
Aku hanya terdiam dan melihat ke arah jendela.
19.00
Sandra kembali menemuiku, malam ini kami memutuskan untuk makan di sebuah caffe.
Sandra bertanya heran melihat wajah ku yang kelihatan pucat.
“ Kamu gapapa?.”
“ Aku gapapa.”
“ Itu loh, kok pucat banget..”
“ Eh kok nangis?.”
Aku menceritakan semua kejadian tentang Bara, dan kembaran nya yang sudah beberapa hari ini selalu bertemu denganku.
“ Kalau menurut ku ya, kamu suka Bara tapi kamu tau kalian berdua tidak bisa bersama.”
“ Jadi Tuhan mengirimkan Tara buat kamu, dan kamu nolak? Amara..”
“ Amara, kalau kamu juga suka sama seseorang ungkapin dulu aja masalah dia juga sama kita atau ga itu urusan belakangan.”
“ Percaya sama kakak.”
2 bulan kemudian, aku tidak sengaja kembali bertemu dengan Tara di taman.
Tara melihat ku dari arah jauh dan tersenyum.
Sekarang aku sudah belajar menerima keadaan.
Kami kemudian berjalan meninggalkan Taman bersama-sama.
- TAMAT -