Me And My Secret Husband

Me And My Secret Husband
Eps 11.



Saat itu Bara berusia 7 tahun, malam yang dingin karena hujan deras.


Bara sedang berada di mobil dengan Mama nya, berjalan menuju rumah.


Namun sayang, mobil mereka miring dan menabrak pembatasan itu.


Bara terlempar dari mobil sedangkan Mama nya terjebak di dalam.


Sejak saat itulah, Bara tidak berani membawa mobil nya sendiri.


“ Ada yang mau ulang tahun nih, mau hadiah apa dek.”


“ Aku? Tumben banget, hmm..aku mau pesen online shop tolong di bayarin ya.”


“ Kalau banyak mending ga jadi di bayarin.”


“ Kok gitu..”


“ Kalian masih pagi udah berantem aja.”


“ Aku pergi dulu Ma, bye Amara.”


Hari ini, aku kembali menjadi seorang pengacara.


Iya, pengangguran banyak acara.


Pagi ini aku bangun lebih dulu, berjalan keluar sambil menikmati udara pagi.


Lain hal nya dengan Bara..


“ Permisi pak, ini list yang anda minta beberapa hari yang lalu.”


“ Kenapa lama sekali, baik saya baca dulu..”


“ Nomor 1. Berbicara dengan sopan dan seadanya dan nomor 2…”


Aku menerima pesan singkat dari Bara setelah dia membaca list itu.


Dia menanyakan kapan bisa bertemu untuk membicarakan hal penting ini.


Keesokan harinya pukul 7 malam, mobil putih itu terparkir tepat di seberang jalan.


Bara memakai stelan jas berwarna biru tua dan jam tangan yang baru di beli.


“ Kita mau kemana pak?.”


Sesampainya kita disitu, aku terkejut karena itu adalah tempat dimana pertama kali aku melihat dia.


Dan ternyata restaurant mewah itu adalah milik keluarga Bara.


Bagaimana aku tidak terkejut.


“ Kamu mau pesan apa? Pesan saja.”


“ Loh, saya pesan steak saja.”


Rambut model bowl cut dan gaya modern style, wanita siapa yang tidak jatuh hati pada Bara.


“ Kemarin kamu minta tolong sama saya untuk berpura-pura menjadi suami kamu.”


“ Apakah pengantin palsu juga memerlukan foto pengantin?.”


“ Foto apa? Uhukk..uhuk..”


Sementara itu para pelayan yang sedang bergosip di dapur.


“ Suami non Amara cakep juga ya.”


“ Iya, keren banget gayanya mirip oppa-oppa.”


“ Andai aja mas Bagus juga mirip kayak suaminya non Amara.”


Dan Mama yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dari balik pintu.


Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja kita melihat kembang api.


“ Wah, kembang api nya bagus sekali.”


Bara hanya tersenyum, dan mengalihkan pandangannya.


“ Terima kasih pak.”


“ Sama-sama.”


Para pelayan itu tetap melihat dari balik gorden.


“ Sedang apa kalian disini?.”


“ Eh nyonya, ini kita lagi bersihkan jendela.”


“ Kalian sudah membersihkan jendela ini 10 kali.”


“ Aku pulang..”


Aku tau ketika aku berbohong seperti ini, maka aku harus bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


“ Amara, duduk dulu disini.”


“ Ada apa?.”


“ Kamu sudah bukan anak-anak lagi, kamu ingat kan tepat di hari ulang tahun mu nanti bawa suami mu itu.”


“ Amara ga lupa kok, Am..Amara udah siap juga.”


Beberapa hari sebelum aku mempertemukan mereka, aku akhirnya menyetujui untuk berfoto pengantin.


Kamu bahkan menyewa studio dan beberapa gaun untuk berfoto layaknya seorang pengantin.


“ Tolong di pegang pinggang mempelai wanitanya.”


“ Agak lebih dekat lagi.”


Dan entah kenapa, aku menikmati hari itu.


Aku bisa melihat Bara tertawa meski awalnya kamu sangat canggung.


Beberapa foto kami cetak dan membeli 2 bingkai besar untuk menaruh foto itu.