Me And My Secret Husband

Me And My Secret Husband
Eps 8.



2 tahun yang lalu, ketika aku masih berkuliah.


Aku banyak bertemu dengan orang-orang disana, dan aku juga bertemu dengan Alex.


Pria tinggi, bertato dan tampan itu.


Sayangnya setelah satu tahun kami berkenalan, dia harus pergi duluan.


“ Permisi pak, ini daftar nama yang ikut meeting dengan kita beberapa hari yang lalu.”


“ Tolong carikan saja, siapa perempuan itu.”


“ Baik pak.”


Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari terakhir aku libur.


Jadi aku mau memanfaatkan nya dengan sebaik mungkin.


“ Kamu udah gamau masak lagi nak?.”


“ Mama, ga dulu deh aku gatau masak.”


“ Nanti mama ajarin makanan kesukaan kamu waktu masih kecil, kamu ingat kan?.”


Aku mengangguk dan tersenyum ke Mama.


Sekitar setengah jam kemudian, sekretaris Bara memberitahukan kalau dia sudah mengetahui identitas perempuan ber helm itu.


“ Dia adik perempuan Sandra, anak kedua dan lulusan terbaik di universitasnya.”


“ Sangat menarik, apalagi yang tertulis disitu?.”


“ Dia pernah bekerja di perpustakaan tempat bapak biasa datang.”


“ Apa? Ya sudah, nanti saya hubungi lagi.”


Ketika identitas ku terbongkar aku tidak mengetahui kalau resiko nya akan seberat ini.


Hari pertama aku bekerja kembali setelah libur, aku tanpa sengaja bertemu dengan Bara di lift.


Dia memperhatikan ku seolah-olah mengenalku.


“ Setelah meeting ini apalagi jadwal saya?.”


“ Sudah kosong pak, setelah ini tidak ada lagi.”


“ Meeting?.”


Aku terburu-buru mengecek noted di tab, dan berjalan cepat ke ruangan Sandra.


“ Kak, kakak ga bilang kalau ada rapat hari ini.”


“ Harusnya kamu tau dong.”


“ Tapi jadwal rapat hari ini ga ada, terus kenapa rapat nya sama Bara lagi Bara lagi.”


“ Cie ah, habis ketemu sama Bara kan hahaha. Ya udah ayo udah telat nih jam nya.”


Karena tidak ada persiapan, aku tidak membawa selendang dan kacamata hitamku.


Jadi aku memutuskan untuk memakai helm.


Sebuah surat kecil di sodorkan ke dekat tanganku.


“ Saya sudah tau kamu siapa, di buka saja helm nya.”


“ Tau darimana?.”


Sandra melihatku dan memaksa ku untuk membuka helm.


Rambut panjang gelombang yang terurai kelihatan, dan mata sipit serta badan yang ramping.


Membuat sekretaris Bara terpesona.


“ Bisa kita lanjut meetingnya ibu dan bapak?.”


“ Bisa.”


“ Baik terima kasih.”


Sementara itu Papa yang sedang mengatur tentang bisnis nya juga.


“ Saya tertarik dengan anak bapak.”


“ Amara?.”


“ Iya anak perempuan bapak, apakah saya boleh bertemu dengan dia?.”


Semenjak SMA, setelah Sandra, aku kemudian menjadi primadona di sekolah.


Semua orang ingin bertemu denganku, padahal menurutku aku tidak secantik itu.


“ Kak, kayaknya aku udah tua ya sekarang.”


“ Tua? Kamu baru mau 22 tahun hei.”


“ Tapi kak, aku udah ada kerutan sekarang.”


Kemudian lift terbuka dan aku berbalik badan.


“ Ah, ada pak Bara ternyata. Ayo Amara.”


Sandra menarik tangan ku dan memaksa untuk ikut dengannya.


“ Aku naik tangga aja.”


“ Amara..”


“ Amara..”


“ Iya kenapa lagi.”


“ Tekan tombolnya..”


Seketika seisi lift menjadi hening, hanya ada kami berempat.


Tingggg..


Notifikasi pesan masuk ke hp ku.


Papa memberitahukan jika ada seorang pria yang ingin menemui ku lagi.


“ Kak, gimana ini?.”


“ Gimana apanya?.”


“ Kata Papa ada yang mau ketemu lagi sama aku.”


Muka ku seketika menjadi pucat karena tidak mempunyai alasan apapun lagi untuk menolak itu.


Kemudian aku melihat Bara dan tiba-tiba meminta tolong padanya.


“ Amara, apa yang kamu lakukan?.”