Me And My Secret Husband

Me And My Secret Husband
Eps 6.



“ Kamu yakin pakai kacamata kayak gini?.”


“ Yakin kak, atau aku tunggu di depan aja?.”


“ Eh ga, kamu ikut masuk juga.”


Kali ini aku berhasil bertemu dengan nya lagi, tapi dengan situasi yang agak rumit.


Aku menemani Sandra untuk meeting dengan 3 perusahaan lainnya.


Mereka akan bekerja sama untuk membuat bisnis baru.


“ Hacuuuu..”


Orang-orang ini menatapku, termasuk Bara.


“ Maaf- maaf kita lanjut lagi.”


Mengapa dia memperhatikan ku, apakah penyamaran ini terlalu gampang untuk di kenal?.


“ Terima kasih, saya sudah membawa laporan juga agar bisa di tanda tangan..Amara..Amara..”


“ Maaf, ini laporan nya.”


14.00


Setelah menyelesaikan tugas, aku akan pergi untuk mencari beberapa makanan di dekat kantor.


Cuaca siang ini panas sekali, matahari ada dimana-mana.


Suara hujan…


“ Apa ini? Kenapa hujan nya tiba-tiba sekali, dimana ya payungku.”


Dari seberang jalan, mobil hitam milik Bara masih terparkir. Bahkan pemiliknya juga tidak ada disana.


“ Sepertinya perpustakaan ini sudah di tutup.”


“ Saya carikan perpustakaan yang di dekat sini lagi pak.”


“ Tidak usah, saya akan kembali ke kantor sekarang..dimana handpone saya?.”


Krrringggg…


Salah satu karyawan menemukan handpone milik Bara yang tertinggal di ruangan meeting, dia kemudian memberikan nya padaku.


“ Halo?.”


“ Halo, saya Bara pemilik hp ini.”


“ Apa? Ini hp nya pak Bara?.”


“ Saya tunggu di depan, tolong di kembalikan.”


Oh tidak, aku tidak memakai kacamata. Kalau dia mengenalku bagaimana?.


“ Maaf pak, ini hp nya tadi ketinggalan.”


“ Terima kasih, tapi kenapa muka mu di tutup?.”


“ Ah, ini supaya.. tidak kena panas pak, permisi.”


“ Ini semua di lakukan agar ada yang menjaga Amara, dia pasti akan mengerti suatu hari nanti.”


“ Tapi sayang, Amara masih terlalu muda.”


20.00 malam.


Aku pulang dengan keadaan yang tidak seperti biasanya.


Dengan muka lelah, dan membawa heels.


Aku berjalan menuju kamar dan tertidur.


“ Apalagi yang kamu lakukan ke adik mu?.”


“ Dia sudah bekerja keras hari ini, aku ke kamar dulu.”


Sikap Sandra yang tidak seperti biasa membuat orang rumah menjadi keheranan, termasuk aku.


Karena selama beberapa tahun belakangan kami sering berkelahi, maka aku di putuskan untuk berkuliah di London.


Namun sayang, itu hanya bertahan sekitar 3,5 tahun saja.


Setelah itu, disini lah aku..di kamar yang luas dan hanya aku sendiri.


Kebiasaan ku bangun ketika tengah malam kelihatan nya masih belum bisa di hentikan.


03.00 subuh.


“ Aduhh, pinggangku..”


Ini sudah ketiga kali nya aku terjatuh dari kasur.


“ Air dimana ya..”


Klikkkk..


“ Ternyata habis, hoaaam..”


Aku berjalan ke dapur dan terduduk sebentar di meja makan.


Aku memikirkan kejadian yang tidak terduga tadi siang.


“ Harusnya aku tadi memakai aksesoris yang lebih bagus lagi..”


Sementara itu Bara yang sedang menyelesaikan pekerjaan nya juga memikirkan tentang kejadian yang sama.


Bara bertanya-tanya siapa perempuan di balik helm besar itu.


“ Kenapa dia memakai helm? Heh..”


“ Aku malu sekali, ini sudah ke sekian kalinya bertemu dengan Bara tapi dengan kejadian yang memalukan.” Sambil tepuk jidat.


Pagi hari nya, aku meminta izin ke Sandra untuk tidak bekerja.


“ Kaki ku sakit sekali, aku tidak bekerja dulu hari ini. Akan ku kirim jadwal mu lewat email di cek saja.”


“ Bagus kalau kamu tidak ikut dengan kakak mu, kamu pergi dengan Papa saja.”


“ Lagi???.”