
Mimpi buruk itu baru saja di mulai.
Tepat pukul 03.00 malam.
Aku bermimpi kalau Papa mengenali Bara, dan mengetahui tentang kebohongan ini.
“ Aku mimpi buruk lagi, untung aja cuma mimpi.”
Sebuah pesan masuk dari Bara.
Tinggg..
“ Test.”
“ Apa? Dia cuma mengirim pesan se singkat ini? Besok saja di balas.”
Tingggg..
Tinggg..
Krrringg..
“ Halo, iya pak ada apa?.”
“ Kamu sudah tidur?.”
“ Saya? Baru saja mau tidur lagi.”
“ Oh ok.”
Hari ini aku bangun agak lebih siang daripada biasanya, semua badanku sakit seperti baru saja mengangkat beban yang paling berat.
Akhirnya, Mama dan aku membuat janji di salah satu tempat spa yang biasa kita datangi.
“ Kalian sedang bersenang-senang tanpa ku?.”
“ Apa menurutmu ini sedang bersenang-senang? Hah, kaki ku pegal sekali.”
“ Sandra, kamu tunggu di bawah saja. Mama mau bicara sama Amara dulu.”
Sandra hanya menatapku dan meledek dari jauh.
“ Amara, siapa suami mu? Apa dia seorang pekerja kantoran juga?.”
“ Atau mungkin dia seorang pengusaha? Kenapa kamu tidak bercerita?.”
“ Nanti Mama tau juga, dia orangnya baik kok.”
Aku belum siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan semua ini di lakukan karena aku ingin menghindari semua rekan kerja Papa.
Sampai sekarang, Papa belum memberitahu apa alasannya selalu menjodohkan ku dengan para pengusaha itu.
H-3 semakin di depan mata, Bara sedang sibuk menyusun beberapa bisnis yang akan dia luncurkan dengan para pengusaha Go green lainnya.
“ Sepertinya bapak menyukai Amara.”
“ Saya? Tidak saya tidak menyukai dia, saya hanya mau membantu dia.”
“ Tapi bapak selalu menyempatkan diri ke perpustakaan ini, padahal masih banyak yang lebih dekat lagi.”
Bara selalu berdiri di depan perpustakaan setiap kali dia pulang dari kantor.
“ Amara sangat mirip dengan mantan saya dulu, mereka sama-sama menyukai perpustakaan dan bisa membuat saya nyaman.”
18.00
Beberapa pelayan membantu ku untuk memindahkan pakaian ke dalam koper, aku hanya bisa menghela nafas.
Sepertinya memang mereka sudah terlalu percaya.
Mama juga memperhatikan dari balik pintu.
Aku mengirimkan beberapa pesan kepada Bara.
“ Maaf pak mengganggu.”
“ Ada apa.”
* Amara send a photo *
“ Semangat.”
Bahkan Bara menambahkan emot di bagian belakang.
Para pelayan itu juga bercerita tentang rumah tangga mereka masing-masing.
Bibi mengatakan kalau dia iri setelah melihat ketampanan Bara.
“ Non, non harusnya senang. Mas Bagus aja yang muka nya pas-pasan tapi saya tetap senang juga.”
“ Atau jangan-jangan kamu di pelet kali.”
“ Ga mungkin lah, Mas Bagus itu ga tau yang kayak gitu-gituan.”
Kami melanjutkan berbincang-bincang dan tertawa bersama.
Foto pernikahan itu terpajang di atas ranjang kasurku.
Aku memakai gaun putih dan memegang bunga, sementara Bara memakai kemeja putih dan celana panjang hitam.
Wajah nya sangat bahagia, seakan-akan kami adalah seorang pasangan.
Aku memandangi sebentar foto itu dan menyadari kalau aku menyukainya.
Sandra bertanya padaku, apa aku mempercayai dengan reinkarnasi.
“ Semua tergantung dari kita saja, nih kak tolong bayarin belanja online ku ya.”
“ Amara..”
“ Ga banyak kok kak, ga sampe sejuta juga.”
“ Besok-besok suruh suami kamu aja tuh yang bayarin haha.”
“ Suami? Suami dari mananya, nanti aku cari dulu.”
Sementara itu Bara yang sedang duduk makan malam dengan Papa dan sekretarisnya yang setia.
“ Bara, apa kamu punya jadwal yang kosong besok lusa?.”
“ Saya sibuk.”
Sekretaris itu berbisik kepada Bara dan mengingatkan, kalau besok lusa adalah peringatan kematian Mama nya.