
"Gue mau awasin lo everytime. So, gue mau tidur di sini."
Reyya menganga. Fadil gila, dia memang benar-benar gila!
Reyya menyipitkan tajam netranya, berusaha mengintimidasi si Fadil agar takut dan mengurungkan niatannya. Tapi dasar orang gila ya responnya di luar nalar manusia normal macam Reyya.
"Bhahaha.. lo kalau mau nakutin gue ngga akan mempan! gue itu anti kena mental sama sindiran orang. So, lo lebih baik nurut aja Reyya burik."
Satu kedipan mata Reyya dapatkan dari Fadil. Reyya malah melotot lebar-lebar. Benar-benar menjengkelkan mulut si Fadil ini. Bisa-bisanya dia di panggil burik.
Ya, walau kulitnya memang belang tapi dia putih bersih kok, cantik lagi. Cuma gegara alergi aja jadi begini.
Dengan masih mendelik Reyya menumpahkan semua amarahnya, "Gue sumpahin lo cinta gila sama gue!!"
Fadil ngakakk.
"Ngga akan ada. Ngga usah halu, gue udah punya calon!"
Kembali lagi Fadil ngakak. Sedangkan Reyya mendesis sebal, dia baru ingat juga fakta lama soal Fadil yang gay.
Hih! dia jadi sebal sekarang. Mana Fadil cekikikan tidak berhenti dan membuatnya benar-benar kesal.
Reyya menghentakkan kaki keras-keras lalu balik kanan keluar kamar. Moodnya tadi yang bagus sehabis berendam kini langsung anjlok sebab satu manusia menyebalkan.
Reyya bahkan membanting pintu keras-keras supaya Fadil sadar. Persetan dengan pintunya yang bisa saja copot, itu mah gampang di ganti, ketimbang hatinya yang susah di bikin mood lagi.
Brakkk
Fadil yang mendengar itu kaget bukan main.
Dia yang sedang tertawa tiba-tiba bahkan langsung lompat sebab saking kagetnya.
Fadil mengusap dadanya supaya bisa lebih tenang jantung di dalam sana. Dia juga menggeleng-geleng pelan sambil memandang pintu yang kasihan sekali habis di banting tadi.
Memang benar-benar kelakuan perawannya ini.
"Anak perawan jaman sekarang emang suka baperan!"
Idihhh sok tau banget si Fadil tentang perawan.
Fadil menghembuskan napasnya panjang. Dia tentu tau kondisi panas sekarang jadi dia segera membereskan semua hal yang sebenarnya sebentar lagi rampung.
Di kamar Reyya, tidak banyak yang Fadil renov. Hanya tambahan kasur fleksible plus meja dan lemari kecil untuk menunjang dirinya hidup di kamar ini.
Aslinya disini ada satu set sofa kecil tapi itu Fadil keluarkan dan di ganti dengan barang-barangnya tadi. Jadi selain itu semuanya tetap sama. Mulai dari tempat tidur Reyya pun semua barang-barang anak perawan itu.
Reyya saja yang alay, sok kaget macam dia mebubrak total kamar tercintanya ini.
"Selesai!"
Setelahnya Fadil cuci kaki cuci tangan dan berencana akan menyusul Reyya. Fadil tau perawannya itu pasti sedang marah sebab hal tadi.
So dia perlu menenangkan, plus mengarahkan dia ke arah yang benar untuk masa depan yang lebih cerah.
"Dia pasti belum pake baju." Fadil bergegas mengambil satu set pakaian untuk Reyya.
Fadil kemudian keluar untuk mencari keberadaan Reyya. Filing Fadil sih dia kayaknya ada di ruang kerja. Perawan itu pasti gatal untuk tidak menyentuh PC nya satu hari saja.
Tanpa basa basi busuk, Fadil langsung menuju ke ruangan itu.
Dan benar saja Reyya ternyata memang ada di sana. Dia sedang fokus pada PC nya dan juga masih dengan kostum jubah mandinya.
Sesuai dengan apa yang Fadil pikirkan.
"Lo udah janji ngga kerja satu hari ya, Rey. Jadi please jangan sentuh PC walau hanya lima menit!"
Reyya memutar bola matanya malas. Dia benar-benar di buat dongkol oleh Fadil. Semakin lama, manusia ini semakin cerewet saja.
"Alay banget lo."
Reyya berdiri hendak keluar dari ruang kerja. Tapi Fadil dengan sigap mencegahnya.
"Ya ampun Rey, masa lo ngambek sih. Lagian kan lo duluan yang mulai, harusnya gue dong yang marah."
Eh kok malah Reyya yang salah?
"Eh, lo yang duluan! ngapain segala mau tidur satu kamar? syukur udah gue iyain tinggal satu rumah, eh malah ngelunjak minta satu kamar?"
"Bacot lo."
"Ih mulutnya anak perawan!"
Reyya mendelik. Dia sebal hihh sama si Fadil! ada aja ya dia jawabannya.
"Udah jangan marah mulu. Ini sana ganti baju. Boleh deh lo mau kerja, yang penting pake dulu baju itu, dan nanti kalau udah selesai panggil gue."
Sok misterius! Reyya aslinya mau protes tapi dia tegaskan sekali lagi bahwa dia tidak suka berdebat. Jadi, dia ambil baju langsung keluar saja dari ruang kerjanya.
Pendengarannya sudah sesak dengan ocehan Fadil.
Fadil yang sudah keluar dulu dari ruang kerja Reyya kini mengambil sesuatu dari tas bawaannya.
Tapi tiba-tiba suara teriakkan dari belakang sana membuat Fadil dengan cepat menuju sumber suara.
Sampai di depan kamar mandi sudah terlihat Reyya yang sekarang mendelik dengan wajah garangnya.
Kenapa lagi ini perawannya. Fadil padahal baru lega menghela napas tapi kini sudah di suguhkan ketegangan lagi.
"Kenapa Rey?"
"Maksud lo apa kasih setelan teng top sama hotpents aja?!"
Fadil mengerutkan keningnya. Memangnya kenapa?
Reyya yang sedang marah tidak sabar mendengar jawaban Fadil. Dia melanjutkan saja sesi mencak-mencaknya tadi.
"Lo mau tinggal serumah, terus maju satu tingkat lagi sekamar, terus maju lagi lebih gila dengan buat gue pake pakaian seksi! apa hah?! maksud lo apa?!"
Ooh jadi begitu pemikiran Reyya. Fadil tau sekarang.
"Lo kok kotor amat pikirannya sih, Rey. Gue kan udah pernah bilang juga gue ini gay," amit-amit --dalam hati Fadil meneruskan.
"Jadi lo jangan khawatir, right?"
Reyya memincing sengit. Apaan jangan khawatir. jelas-jelas dia itu wanita cantik ya, mungkin aja gitu si Fadil khilaf.
"Awas lo ya! kalau macem-macem!"
"Nggak sama sekali Rey. Yuk, duduk dulu geh. Nanti gue jelasin semuanya sedetail mungkin supaya lo ngga salah tafsir lagi."
Reyya agak ragu. Tapi dia tetap menuruti perkataan Fadil.
Jadilah sekarang Fadil dan Reyya duduk di kursi makan yang ada di dapur.
Fadil mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya sebelum menjelaskan hal yang sedari tadi disalah tafsirkan oleh perawannya ini.
"Nih ya gue itu mau tinggal serumah sebab, jujur aja lo ngga becus tinggal sendiri. Pola hidup lo salah. Lo kalau sendiri pasti cuma mantengin PC aja saben hari. Dan itu akan buat status perawat gue makin lama tinggalnya."
"Kedua, gue mau satu kamar sebab, lo kadang ngga kerasan garuk-garuk ngga inget kulit kan? buktinya sampe belang-belang gitu semua kulit lo. Kalau ada gue, gue bisa terus cerewet buat cegah lo."
"And the last reason, for hotpants with teng top, gue mau kasih lo salep pemudar bekas luka. Kan kalau lo pake celana with kaos panjang itu bakal susah Rey, jadi ya ginilah enaknya. Cepet kering, ngga belibet juga lo nya."
"Lo paham?"
Huh, Reyya memalingkan muka. Jujur dia sekarang malu hampir kaya ngga punya muka. Jadi niatan Fadil itu baik semua ya.
Oke dia yang salah.
Ih otak Reyya kok jadi kemana-mana ya mikirnya?
.
.
.
Bersambung...
Semoga suka yaaa
Jangan lupa tinggalkan jejakk
Love all.