Love You Burik!!

Love You Burik!!
Rahasia Pertama Reyya



"Balik Sadil! Masuk rumah! Gue sekarang yang jadi investor lo!"


Jelas sekali Reyya berkata demikian membuat suasana diantara Ayahnya, Fadil dan juga diri Reyya sendiri menjadi tambah panas.


Fadil melirik bapak anak itu. Keduanya sekarang saling pandang. Reyya dengan tatapan sengitnya pun sebaliknya, sang Ayah juga.


Benar ternyata dugaan Fadil. Hubungan orang tua dan anak itu memang tidak biasa. Seperti ada hal kebencian di dalamnya?


Tiba-tiba suara Koko membuat Fadil sadar lagi.


"Reyya! Ayah bilang sama kamu untuk jadi keputusan yang terbaik. Lihat kelakuan dia orang! Dia tinggalin kamu sendiri di tengah jalan dan hampir celaka! Ayah cuma--"


Reyya tidak mendengarkan ucapan Ayahnya dia malah masuk saja ke dalam rumah.


Nah sekarang Fadil yang bingung. Dia harus apa? Masa langsung lari ikut masuk dengan Reyya?


Fadil menilik raut Koko yang nampak masih geram. Fadil pikir ini sebenarnya harus di luruskan.


Dari pertengkaran tadi, sepertinya Reyya tidak konfirmasi tentang faktanya sampai Koko murka begitu.


Oke baiklah. Jika nanti di maki, maka Fadil hanya tinggal diam saja. Dia sudah streaching makian sebelum ini kan, jadi pasti biasalah ketika menerima itu lagi.


"Emm, Ko, maaf Ko, Sebenarnya tadi saya sama Reyya terus Ko. Kami habis lihat kembang api dan mampir ke toko saya. Nah tadi itu sebenarnya Reyya pulang juga sama saya, tapi entah kendala apa kami jadi terpisah. Saya sangat menyesal dengan kejadian kejam yang  hampir terjadi tadi."


Koko masih diam. Lurus memandang arah pintu utama rumah Reyya.


"Tapi sepertinya tadi jalanan lenggang saja Ko. Apa Koko tidak salah mengira kasus Reyya tadi? Pelakunya seperti apa? Mungkin saya bisa bantu cari tau."


Hening agak lama. Kemudian Koko berbalik. Saat itu aslinya Fadil ingin sekali meninggalkan lelaki tua itu sebab saking lamanya menungggu jawaban, api tidak, dia masih waras sedikit ketimbang Reyya.


"Oe udah suruh orang buat interogasi dia. Nanti kalau oe tau orangnya, sampe anak cucunya pun oe ngga akan bakalan biarin hidup."


Setelahnya ayah Reyya meninggalkan Fadil sendirian kembali bersama para nyamuk nakal.


Fadil kelamaan mencerna kata-kata itu.


"Berarti Koko udah tangkap orang yang mau apa-apain Reyya?" Fadil manggut-manggut masih mencerna kata itu, dan tiba-tiba dia tersentak kaget.


"Lah ya ampun! Reyya korbannya kan kasian!"


Buru-buru Fadil masuk rumah yang syukurnya masih bisa di buka dengan tenaga umum tidak sampai mendobraknya.


Fadil buru-buru ke kamar Reyya.


Pikirannya Reyya sedang mengunci diri dan menangis tersedu-sedu dengan semua hal yang telah terjadi, nyatanya kamarnya masih bisa di buka dengan tenaga biasa. Sama seperti pintu utama tadi.


Fadil masuk, barulah dia melihat Reyya yang kini bersandar sambil memainkan ponselnya.


Fadil meringis. Dia melihat perawan itu bahkan biasa saja wajahnya. Reyya entah sebab terlalu cuek atau terlalu manipulatif membuat masalah ini seolah langsung hilang di telan bumi.


Tidak ada jejak sama sekali.


"Rey." Fadil duduk di samping kasur. Reyya hanya melirik sekilas lalu kembali fokus ke ponselnya.


Fadil sangat tau Reyya minim sekali bicara apalagi merespon obrolan. Jadi dia yang harus melanjutkan sampai di tanggapi oleh perawatnya itu.


"Sorry buat yang tadi. Gue bener-bener ngga tau kalau lo terpisah dan ada orang jahat begitu."


Reyya masih bungkam, walau sudah Fadil beri ruang cukupp panjang.


Duh susah memang, sama Reyya begini. Tapi Fadil menggeleng. Dia tetap sayang kok sama perawannya satu ini.


"Boleh gue peluk lo? Ngga akan macem-macem kok. Gue cuma ngerasa kalau berhadapan sama lo harus lebih banyak aksi dari pada bacot panjang kayak tadi dan ngga di tanggapi sama sekali."


Di luar dugaan Reyya tertawa.


Lalu sesaat kemudian bukan Fadil yang memeluk justru Reyya yang lebih dulu memeluk Fadil.


"Sadil...." Reyya berkata demikian sambil memeluk Fadil.


Fadil membalas pelukan itu tidak kalah erat, dia melirik Reyya yang tidak biasanya memanggilnya dengan nada begitu. Agak seperti orang yang aneh, bukan type Reyya lah yang suka bentak-bentak.


"Hem? Lo mau muji gue? Ngga papa Rey. Gue emang always handsome, everytime sweet and always pay attention. Full good very very good, buat lo yang ngga good tanpa day."


Tapi setelah suara tawa itu Fadil mendengar helaan Reyya yang panjang. Itu tertanda seseorang punya beban pikiran.


"Coba lo beneran yang jadi bokap gue. Ngga tempramen, ngga egois selalu ingin di dengar sendiri dan ngga menghargai pendapat orang lain. Dia selalu memaksa keinginannya juga sampai, Mama pun ngga ada sebab secara ngga langsung karena ulah dia."


Hening.


Sumpah kali ini Fadil merinding beneran, dia tertegun.


Pertama karena Reyya yang panjang bener omongannya dan kedua isi ucapan Reyya tadi.


Jadi Reyya bukan terbebani dengan masalah orang yang mencoba kurangajar sama dia, tapi dia terbebani sama sikap ayahnya?


Tidak lama Fadil mikir dia merasakan pelukan Reyya mengencang dan perawan itu terisak pelan.


Huhh, kalau boleh jujur, Fadil kasihan dengan diri Reyya. Sosok yang harus dia sayang malah membuat hatinya penuh kebencian.


Fadil tidak bicara apapun, dia tau Reyya butuh ruang untuk menumpahkan itu.


Fadil memeluk Reyya lebih erat, dia mengusap kapala perawannya itu pelan.


Mereka berdua sama-sama meresapi pikiran masing-masing. Reyya yang menumpahkan semua bebannya pada tangis yang kali ini memiliki teman dalam setiap isakannya, dan Fadil yang masih terus berpikir perilaku-perilaku Reyya.


Fadil sadar sekarang. Hampir satu minggu kurang dia disini ibu dan bahkan ayah Reyya tidak pernah menjenguk Reyya walau dia tinggal dengan laki-laki asing.


Reyya juga seolah tidak pernah memiliki keluarga hanya di rumah megah ini sendirian. Dan jika ada apapun semacam alergi yang kambuh kemarin, Fadil juga baru ngeh kesana, soal, kenapa Reyya tidak minta bantuan orang tuanya ketika gatal itu benar-benar menyiksa?


Jadi semuanya sebab semua alasan tadi. Dia membenci ayahnya.


Huhh, makin miris Fadil dengan sosok Reyya. Diam-diam dalam cueknya ada andil sikap sang ayah yang membuat putrinya begitu.


Tapi Fadil tidak boleh membuat otak Reyya begitu terus. Bagiamana pun Koko ada sisi baiknya kok.


"Rey lo tau nggak si perkataan satu titik hitam di atas kertas putih pasti lebih mencolok dan mengundang perhatian dari pada si kertas putih itu sendiri?" Fadil berucap pelan sambil masih mengusap halus rambut Reyya.


Reyya menggeleng dalam dekapan Fadil masih sambil terisak.


"Artinya satu keburukan yang di perbuat seseorang akan menutupi semua pandangan orang lain dari kebaikan orang tersebut. Kita ngga boleh lihat itu Rey, kita ngga boleh hanya fokus pada satu kesalahan orang lain."


"Semua manusia punya salah. Tapi.. lo juga harus ingat kebaikan dia juga. Ngga mungkin manusia selalu hitam Rey. Dalam hidupnya tuhan ngga akan buat dia sia-sia begitu aja tanpa satu titik putih yang tersisa. Gue percaya itu."


"Dan untuk Ayah lo, itu pun sama. Coba deh lo open mind, pasti banyak titik putih itu di diri Ayah lo dari pada titik hitam. Sebab sejatinya laki-laki itu sangat menyayangi keturunannya."


Fadil mengurai pelukan dan kini mengambil wajah Reyya supaya menghadap pada dirinya.


"So.. gue mau lo jangan nangis," ucap Fadil sambil mengusap bekas air mata Reyya.


"Coba buat ngertiin ayah lo Rey. Semua orang selalu punya cara tersendiri menyampaikan rasa kasih sayang mereka. Dan untuk titik hitam itu, gue rasa apapun yang terjadi sama Mama, itu adalah kehendak Tuhan. Ngga ada yang bisa tentukan umur."


"Lo paham?" Fadil tersenyum. Dia lega bisa membuat satu statement panjang yang semoga bisa membuat hubungan ayah anak itu kembali baik-baik saja.


Dan Reyya buka menjawab dia malah bertingkah diluar dugaan Fadil.


Cup.


Dia mengecup Fadil!


Memang dasar si Reyya.


.


.


.


Bersambung...


Holaaa


Semoga suka yaa


Love all.