Love You Burik!!

Love You Burik!!
Kutukan Yang Mujarab



Setelah pers konferens antara dua belah pihak di meja bundar dapur Reyya, baik Reyya maupun Fadil resmi jadi satu rumah plus satu kamar! Untung tidak satu kasur.


Reyya awalnya masih ngotot tidak mau menuruti Fadil,  tapi argumen Fadil lebih kuat dengan alibi gay nya.


Fadil emang gila, jadi biarkan saja.


Yang terpenting bagi Fadil adalah status perawatnya lebih cepat. Bukan lebih ngaret dari patokannya.


"Iya gue nurut lo aja! Puas?!"


"Nah begitu Rey. Kan kalau semua luka belang lo udah sembuh gue jadi bisa keluar dari pekerjaan perawat ini. Dan itu lah The end yang bahagia.."


Begitulah akhir dari pertemuan siang tadi. Ditutup ocehan Fadil yang lagi-lagi membuat Reyya pusing.


Perawan itu keluar dan memilih healing dengan PC nya saja. Memang semua mahluk bumi tidak ada yang mengerti dirinya. Cuma PC nya saja yang tau semua hal tentang hatinya.


"Gue pengin nangis tau Sarang. Gue benci banget sama si Sadil!"


Reyya berucap nelangsa, curhat sama Sarang --nama PC nya.


"Gue telpon Ayah aja apa ya Sarang? Biar si Sadil di usir?"


Sekitar lima menit menimbang Reyya akhirnya memutuskan untuk merealisasikan pemikirannya. Hatinya benar-benar dongkol saja bawaannya kalau liat Fadil apalagi denger suara laki-laki itu.


Tapi baru akan mengangkat ponselnya suara Fadil kembali terdengar.


Sumpah rasanya dia ingin sekali mencekik satu orang itu supaya tidak memanggil namanya lagi.


"Reyya! Kalau di panggil itu nyaut Rey. Nanti kalau lo di rumah mertua, bisa di ghibahin satu RT kalua sikap lo begini. Remember ya Rey, ngga boleh begitu. Lo haru--"


"Diem bisa ngga si Dil? Gue capek denger plus liat lo terus di sini."


Fadil mulai resah.


Tadi suara Reyya benar-benar macam orang lagi di sandra satu minggu yang ngga dapet makan sama sekali, dan di tambah perawan itu mulai mewek dengan iskan kecilnya.


"Eh, eh kenapa Rey? Kok malah mewek gini? Gue kan bener, nasehatin lo. Rumah tangga di luar sana ngga semanis gula biang, Rey. Lo kalau ketemu jodoh jadi harus siap mental bukan cuma ngangkang."


Reyya tambah mewek.


Si Fadil tambah panik dong.


"Yaudah yaudah. Gini-gini kita jalan-jalan aja ya? Keluar deh. Tapi tetep harus sama gue walaupun lo capek liat muka gue, deal?"


Entah bagaimana Reyya malah mengangguk. Dia melupakan tujuan awalnya untuk menelpon sang Ayah guna memecat Fadil.


Korslet mungkin otak Reyya sebab ocehan Fadli? Bisa juga.


Tapi baru berdiri dari duduknya, Fadil menginterupsi pergerakannya lagi.


"Tunggu Rey, tapi kan, lo belum pakai salepnya. Nanti kalau ke luar sekarang lagi panas-panasnya matahari nanti tambah item dong? Sama aja ngga ada perubahan. Gimana kalau pakai dulu salepnya?"


Alis Fadil naik turun mencoba meyakinkan Reyya soal pendapatnya ini.


Reyya yang kesekian kali merasa di kibulin sama si Fadil hanya bisa menghembuskan napasnya dalam-dalam.


Dia janji kalau kulitnya udah mulus lagi langsung dia usir Fadil dari sini.


"Terserahlah."


Fadil meringis. Walau cuek tapi perempuan ya tetep perempuan, jawaban Reyya tetep sama kaya cewek ngambek lainnya di luar sana.


Singkat, padat, bikin Fadil pengin ngakak.


Masalahnya baru kali ini dia lihat Reyya sepasrah ini. Ya, selain kalau dia lagi sakit.


"Janji deh, nanti malam aja kita jalan-jalan Rey. Gue traktir lo deh nanti malam, sebagai perayaan malam pertama kita!" ucap Fadil dengan bangga sambil nyengir lebar pake banget.


Si Reyya merinding mendengar perkataan malam pertama. Benar-benar ya, mulut Fadil emang ngga ada filternya.


"Mana salepnya? Gue aja sendiri yang olesin."


Agak lama, sampai terasa pegal tangan Reyya yang mau minta salep, jadinya Reyya mendelik pada perawatnya itu.


"Yakin mau sendiri?"


Reyya mengeryitkan keningnya. Memang kayaknya ngga akan bisa kalau bicara sama Fadil alurnya itu mulus macam pidato presiden.


Si Fadil itu, adaa aja jawabannya yang buat Reyya mulai dongkol.


"Tangan gue pegel Sadil. Cepet atau gue tonjok lo sekarang."


Fadil refleks bergeser duduknya. Kalau suara Reyya sudah menyeramkan begitu dia jadi was-was juga.


Protes apaan sih?!! Hihh pengin Jambak si Fadil jadinya.


Reyya merebut salep ngga sabar. Timbang salep aja drama si Fadil sampai lima menit sendiri. Dia kan dongkol bin kesal jadinya.


Herman deh.


Reyya sambil mendelik lirik-lirik Fadil galak juga supaya si Fadil ngga mengacaukan lagi sesi oles salep kali ini.


Tapi saat tutup salep di buka bau semerbak khas salep yang entah apa namanya membuat Reyya lebih dongkol jadinya.


"Ya ampun Sadil!! Lo beli salep apaan baunya nyengat begini?!"


"Ya namanya obat slaep tradisional Rey, kan begini baunya. Ngga enak, tapi cepet kok khasiatnya dari pada yang di apotek."


Ooh, jadi ini bukan obat yang ada di apotek? Dengan kata lain ini obat abal-abal tanpa merk?


Wah, minta di bacok ini si Fadil.


"Lo ya Dil, gimana sih, gue kan pengin sembuh bukan pengin jadi kelinci percobaan obat abal-abal gini. Nanti kalau luka gue tambah parah lo juga yang susah! Lo maunya paa si?!"


Fadil menggeleng tidak terima.


"Ini obat dari dulu kalau keluarga gue gatel-getal juga pake ini Rey. Tenang aja, ini satu toko sama bubuk anti gatel yang lo pake tadi. Ampuh kan? Nggak getel lagi kan? Nah itu bisa jadi acuan."


Reyya diam sebentar.


Dia ingin berpikir guna menepis apa yang Fadil ucapkan, tapi nyatanya itu benar.


Sial. Dia kalah argumen lagi.


Sebab kesal Reyya jadi ngga mood lagi. Dia mengurungkan niatnya untuk jaga jarak dari Fadil.


Tadi pernyataannya yang lelah mendengar suara plus wajah Fadil di real life kayaknya malah sebaliknya.


Sekarang dia justru mau di grape-grape Fadil lagi. Hahh sudhalah. Reyya lelah dengan satu orang ini plus jalan hidupnya.


"Lo jangan nething lagi ya. Gue pure one thousand persen cuma mau olesin ini aja."


Reyya tidak menyahut. Dia diam saja sambil menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.


"Tapi kalau khilaf gue yakin lo bakal ketagihan kok."


Plakkk


Inginnya si Reyya denger suara itu tapi nyatanya dia cuma nampar angin aja.


Si Fadil kini yang ngakak.


Ngakak bisa buat Reyya kesal lagi. Ternyata Refleksnya bagus juga untuk menghindar dari tamparan maut Reyya.


"Bhahaha, ih emosinya banget si anak perawan. Gue cuma selingan stand up komedi aja kali. Jangan di bawa hati."


Reyya mencebik. Dia kesal, pengin maki-maki juga capek. Nanti pasti si Fadil mulai jahil lagi kalau dia lagi kumat.


Dah lah terserah. Reyya jadi diam saja setelah kembali ke posisi awalnya.


Hening agak lama. Tiba-tiba suara Fadil terdengar lagi.


"Ih Reyya mah. Kalau lo diem gini malah jadi horor tau Rey. Nyinyirin gue kek, apa kek, kan lebih mending timbang diam-diam aja."


Reyya membuka matanya mendengar ucapan Fadil tadi.


Dia tersenyum miring.


"Oh, Lo udah mulai kangen omelan gue gitu? Mujarab juga kutukan gue."


Netra Fadil mengerjap pelan. Kok dia jadi blank gini ya?


.


.


.


Bersambung...


Semoga suka yaaa


Jangan lupa dukung othornya...


Love all.