Love You Burik!!

Love You Burik!!
Menjerit Dalam Hati



"Lo gila!"


Suara Riko kini meninggi dengan disusul bantingan benda nyaring.


Fadil sontak menoleh. Dan sekarang dia lihat apa yang membuat emosi Riko tersulut.


Ah, berkas anak Koko investornya tadi malam ternyata.


Fadil ingin menjelaskan tapi dia tidak mood. Sebenarnya dia juga tidak mau ada yang tau.


Fadil jadi bingung mau mulai dari mana.


Dia menghembuskan napas panjang. Kalau tidak di jelaskan nanti Riko pasti memandangnya melas. Dia sudah cukup di bantu Riko. Fadil tidak mau merepotkan ke sekian kali.


"Gue kerja halal ya, Ko. Ngga usah alay. Gue ngga papa kok. Ini juga imbalannya sama dengan investor mutlak, Ko. Seimbang kok."


Riko memincing tajam, "jadi perawat perawan umur 27 tahun? itu di sebut halal?"


Alis Fadil terangkat. Dia bingung dengan ucapan Riko.


Maksudnya gimana?


"Halah! gue tau sepak terjang lo di dunia girls ya. Dan itu pekerjaan nggak akan pernah cocok sama lo. Lebih cocok di sebut perusak tau timbang perawat."


Ah, Fadil salah bicara. Dia berhadapan dengan orang yang mungkin lebih kenal dirinya dari pada dia sendiri.


Oke, Fadil akui masa lalunya memang suram. Tapi masa lalu biarlah masa lalu ya kan?


Diungkit masa lalu, Fadil jadi ikut emosi juga.


"Itu dulu ya, gue juga ngga seharfiah itu dengan kata perusak. Gue cuma gampang bosen aja."


"Ngeekk, bengek! perusak mental itu baru bener gitu?"


Fadil memutar bola matanya malas. Kalau umurnya masih bisa main tangan kaya anak SMA gitu kalau di ledek, sudah sedari tadi dia hadiahi Bogeman si Riko ini. Tapi sayangnya, umur 27 sekarang tidak pantas main pukul begituan.


"Kalau ngga inget umur gue bogem perut lu, Ko."


Riko ngakak. "Syukur lah, lo masih inget umur berapa sekarang."


"Gue gampang bosen juga karena semua perempuan cerewet banget. Gue penginnya mereka tuh diem, Ko. Nggak usah sok tau, gitu."


Idih! Riko aslinya ingin mengumpat tapi dia ingat umur plus statusnya yang kini sudah jadi Ayah.


"Kalo gitu lo sama tembok aja, gampang Dil. Ngga usah kasih makan, cukup kasih bolongan aja, udah mirip tuh, sama kriteria lo."


Bjir! kok omongan Riko nyesekin ya?


"Manusia punya mulut ya buat bicara lah! lo nya aja yang aneh! dapet yang lebih cerewet baru tau rasa lo."


Fadil mengambil kembali berkas anak Koko tadi. Lalu tanpa permisi menghilang meninggalkan Riko sendiri di roof top rumahnya.


Entahlah, dia agak sensitif jika mengungkit masalah perempuan dan masa lalunya.


Sebenarnya tadi itu mereka sedang mendiskusikan langkah selanjutnya untuk bakal toko Fadil yang tidak jadi gulung tikar. Eh tapi naasnya berkas tentang anak calon investornya malah terbawa.


Dan memang hari sialnya, Riko seperti sudah ditakdirkan untuk membaca itu malam ini. Padahal niatannya Fadil akan diam-diam saja menjalankan pekerjaannya sebagai perawat.


Sampai kamarnya Fadil langsung membuka kembali berkas tadi. Dia membaca sedetail mungkin.


Untuk masalah kemarahan Riko tadi jujur Fadil malah baru tau kalau anak Koko investornya itu seumuran dia. Fadil kira dia akan menjadi perawat anak umur tujuh tahun. Dengan kata lain dia belum sama sekali membaca berkas itu dan salah dengar kemarin malam.


"Jadi gue ngurus anak umur 27 tahun?" gumam Fadil masih belum nyambung.


Fadil juga tidak membayangkan sih maksud Koko membutuhkan tenaga perawat untuk orang setua itu, untuk apa?


Jika besok pagi dia mengundurkan diri, maka Koko pasti akan sangat kecewa. Lagian juga ini salah dirinya sendiri bukan Koko investornya.


"Lah nggak papa. Gue nggak mungkin suruh yang aneh-aneh juga kan?"


Fadil meyakinkan diri.


Tapi agak lama dia malah masih ragu juga. Kembali dia melihat berkas tadi. Membacanya detail dan meresapi apa yang mungkin saja terjadi.


Sedikit saja informasi perempuan yang akan dia rawat besok. Fadil jadi tidak bisa menyimpulkan seperti apa situasi sebenarnya.


Fadil menghela napas panjang. Dia rebahan, semoga saja pikirannya bisa sedikit pudar.


Dia sudah membuat kesepakatan. Walau belum ada bukti, tapi secara kode etik dia sudah terikat. Kata orang membuat kepercayaan orang lain itu sulit namun mematahkannya gampang. Jadi Fadil tidak boleh mematahkan kepercayaan seenaknya kan?


"Rejeki gue. Udah, ngga usah di pikiran lagi."


***


Pagi hari menyambut. Pikiran Fadil langsung menuju ke tugas pekerjaan pertamanya yang penuh perdebatan batin.


Kali ini dia mau tidak mau ya harus mau sebab nanti kalau dia tidak mau hal yang dia tidak mau pasti akan terjadi, nanti kalau menyesal dia sungguh tidak mau.


Intinya sekarang tidak maunya Fadil itu banyak. Lebih baik dia berangkat cepat.


"Kamu ngapain ke sini?"


Eh, kok begini?


"Saya yang lamar tadi malam Ko. Kan saya mau kerja jadi ya kesini."


Agak kesal si Fadil. Dia itu kerja tapi kaya tidak dia anggap. Dia kan sudah bersepakat, uang investor itu juga sudah dia dapat, nah sekarang tinggal dia yang kerja, malah di tanya begini.


"Lu orang ngga baca saya punya kertas kemarin? biodata anak saya alamatnya jelas berbeda dengan disini."


"Jadi maksudnya saya langsung ke rumah anak Bapak?'


"Ke rumah tetangga!! ya iya dong!"


Duh, Fadil jadi heran. Perasaan Koko tadi malam baik. Ucapannya juga lembut dan nampak orang sabar. Tapi kok sekarang jadi pemarah begini.


"Sabar Ko." Fadil hanya berani mengucapkannya itu lirih.p


Dia tidak mau rugi. Jadi niatan ingin menghibur dengan sedikit gurauan kini dia lipat kembali dalam hatinya.


"Udahlah, lebih baik langsung ke rumah anaknya aja."


Fadil mengikuti maps yang syukurnya sangat membantu. Jika dilihat jarak dari kios Koko ke rumah anaknya itu hanya lima belas menitan saja. Itupun jalan kaki.


Fadil bukannya pelit tapi dia lagi ngirit. Kalau dia naik Ojoi atau angkot lagi nanti ongkosnya double bahkan malah triple.


Tidak lama perjalanan Fadil menyusuri jalanan dengan cuaca yang agak panas ini membuahkan hasil.


Di depan rumah agak megah dengan tingkat dua, model modern ini Fadil memastikan lagi alamat yang dia dapat di berkas dengan di maps.


"Bener ini."


Agak ragu, Fadil masuk dan mencoba menekan bel beberapa kali tapi tidak ada jawaban.


Kembali dia mencoba dan tidak lama barulah pintu utama terbuka.


Tapi saat dia lihat siapa yang membuka pintu Fadil menjerit.


'Aaaaa!' dalam hati.


Netranya melotot. Disiang bolong begini. Kenapa pemandangan macam ini yang dia lihat?


.


.


.


Bersambung...


Hayoo pemandangan apa??


Jangan lupa tinggalkan jejak guys..


Love all