
"Dil, uang perusahaan hanya cukup bertahan sampai bulan ini aja. Sorry gue ngga bisa bantu banyak."
Fadil yang sedang membereskan berkas itu menoleh. Dia menghembuskan napasnya panjang. Dia tau fakta tadi.
Memimpin perusahaan baru dengan banyak pesaing tentu tidak mudah. Banyak rintangan yang pria itu hadapi. Tapi, sekarang mungkin belum rezekinya.
"Gue akan tutup toko sementara. Lo udah siapin gaji bulan ini, kan?"
Riko --asisten Fadil-- mengangguk. "Semua pengeluaran juga pemasukan udah gue croscheck. Ini berkasnya."
Fadil menerima berkas itu melihatnya sekilas. Dia percaya dengan Rico.
Sekarang tinggal menunggu pengumuman pembekuan perusahaan sebentar. Ah, atau lama? Fadil belum tau pastinya. Dia harus menambah investor agar permodalan kuat baru kembali lagi menjalankan perusahaan kecil ini.
"Kita umumkan nanti siang, Ko. Thanks ya untuk semuanya."
Riko meringis.
Fadil tidak berwajah sedih atau minimal tidak senyumlah. Tapi ini malah sebaliknya.
"Lo mau nangis, ngga papa kali Dil. Gue tau gimana perjuangan toko lo. It's hurt for announcement."
Fadil malah terbahak.
"Pengin sih Ko. Tapi nyatanya gue ngga bisa. Terbiasa manipulatif jadi kebawa sampai sedalam ini."
"Bad answer, Dil. Tapi, itu pilihan lo, gue cuma bisa dukung dimana pun lo berpijak."
Fadil tersenyum. Dia juga merasakan tepukan kecil pada bahunya. Dia tau Rico sedang menyemangati walau itu tidak akan mengubah segalanya.
Fakta tokonya tutup, sudah di depan mata.
"Thanks Bro. Besok-besok mau kerja sama gue lagi nggak?"
Riko mengangkat alisnya.
"Ya kalau ngga diajak ngulang gulung tikar bareng kaya gini, gue si mau aja."
Fadil tergelak.
Ah, gulung tikar.. rasanya lebih baik gulung sushi dibanding gulung tikar begini.
***
Di malam dengan pencahayaan bulan. Fadil berusaha untuk memutar otak mendapatkan modal kembali.
Tadi siang dia sudah mengumumkan penutupan sementara perusahaan.
Banyak yang sedih. Mereka mengeluh soal keluarga juga, menjadikan Fadil tidak tega melarutkan masalah ini lama-lama.
Dia harus segera mendapatkan investor malam ini juga.
"Dil, lo jangan sok kuat ya! istirahat dulu, baru besok lo cari! gue nggak mau urus lo kalau ada apa-apa ya!"
"Iya. Udah dulu, Ko."
"Tap--"
Tut.
Sambungan di matikan.
Fadil bukan membangkang. Dia hanya ingin semua segera kelar. Baru dirinya bisa tenang dan tidur sampai lupa pagi sekalian.
"Oke, kita ke pasar aja. Siapa tau Koko Koko mau ikut investasi."
Fadil melangkah dengan mantap. Ini bukan kali pertama dia menjajakan proposal guna mengumpulkan modal. Saat awal berdiri FaMart juga begitu. Jadi, sudah terbiasa untuk hal macam ini.
Sampai di deretan kios besar pasar Fadil mencoba peruntungan pada satu toko sembako besar.
"Lu orang punya perusahaan atau toko macam oe?"
"Toko otw ke perusahaan, Ko."
Koko itu tergelak. "Lu orang aja udah bodo. Mana ada status otw, heh?"
Ya Fadil tau. Tapi dia memilih diam saja.
"Maafin oe ya anak muda. Kalo liat lu orang ambisi banget sama nama perusahaan. Lu orang jadi kagak jujur. Oe tau banget pasti lu orang ngerti perbedaan kata itu."
Sebenarnya memang Fadil hanya punya satu toko, seperti minimarket. Tapi cita-citanya untuk membangun perusahaan dengan memperluas sebaran tokonya, itu tidak salahkan?
"Oe ngga bisa, anak muda. Oe rasa lu orang masih kudu mikir siap-siap tanpa angan yang terlalu muluk untuk saat ini. Kalau Oe boleh saran, jangan mimpi dulu sebelum lu orang ada pondasi yang menjanjikan."
Fadil mengangguk. "Terimakasih, Ko. Saya permisi."
Fadil terlalu berekspektasi tinggi.
Oke baiklah. Dia akan menghilangkan itu pada kertas proposalnya.
Tidak patah semangat kini Fadil melangkah pada toko kedua.
"Hemm.. saya terkesan dengan penyampaian anak muda tadi. Tapi saya punya tawaran lebih menarik dari sekedar investor."
Fadil mengeryit, bingung. Maksud lebih dari investor, itu bagaimana.
"Akan saya coba dengar dulu."
Koko di depannya kini mengangguk sambil tersenyum.
"Saya akan cerita agak panjang."
Fadil mengangguk.
"Saya punya anak. Dia belum menikah sampai sekarang usianya 27 tahun. Dia mandiri. Hanya saja terlalu cuek pada semua hal kecuali pekerjaannya. To the point aja. Saya mau kamu urus dia jadi lebih baik sampai menemukan jodohnya nanti."
Fadil tentu bingung. Ini, masalah urusnya, itu urus apa?
Tapi kalau dia banyak tanya, bisa-bisa bayangan investor utuh ini akan hilang.
Persis ketika orang mencari pekerjaan dan yang ditanya pertama kali adalah gajinya dulu, maka kadang si pemilik malah langsung enggan dan menolak si pencari kerja ini.
Fadil harus hati-hati. Dia tidak boleh menyinggung perasaan si Koko ini.
"Emm apa Koko mau menunjang penuh toko saya nanti?"
"Saya akan jadi investor mutlak. Satu orang dengan kamu saja."
Netra Fadil berbinar.
Ah, dia tidak mungkin menolak kan?
Kalau malam ini dia bisa menemukan investor mutlak, mungkin lusa atau beberapa hari lagi tokonya otw perusahaan ini akan bisa buka kembali.
Dia bisa menyelamatkan segelintir karyawannya juga dompetnya dan Riko yang mulai kering.
Tapi, ini masuk ranah jual diri tidak ya?
Fadil ingin tanya tapi, dia tidak mau ambil risiko.
"Hanya merawat sampai dia siap bertemu jodohnya kan Ko? seperti suster?"
"Iya, sebelas dua belas dengan suster. Hanya ini anak perempuan usia 27 tahun."
Yah, ini mudah. Fadil pasti bisa. Dia juga tidak melakukan hal jelek di dalamnya. Membantu orang yang mungkin tanda kutip sedang sakit, kan malah jadi tambah pahala.
Bisa dapat modal plus nambah pahala, itu hal baik kan?
"Oke Ko, saya terima. Kita kerjasama. Koko jadi investor saya dan saya jadi perawat anak Koko sampai dia ketemu jodohnya," ucap Fadil sambil tersenyum.
Koko menyipit.
"Tapi kamu nggak bisa mundur. Sekali mundur saya tarik semua dana saya, dan untuk misal dana yang sudah di pakai saya anggap hutang. Deal?"
Ah, Fadil jadi takut. Tapi dia sudah kepalang ingin. Iming-iming fantasi perusahaan besar dengan namanya kini berputar di kepala. Nanti jika dia tidak ambil maka sama saja dia membuang kesempatan emas.
Dilema Fadil akhirnya menghasilkan juga kesepakatan batin.
Fadil memejamkan mata meyakinkan is hati juga otaknya.
"Deal!!"
Sepasang tangan kini saling berjabat. Senyum juga tersuguh di antara raut masing-masing pihak.
Fadil meyakinkan jika semua hal di awal pasti butuh perjuangan. Dia tentu harus berjuang untuk mempertahankan investor mutlaknya ini.
"Oke. Kamu bisa datang ke rumah saya besok. Hari ini sudah malam, Putri saya pasti sudah tidur."
Fadil mengangguk.
"Oh iya, saya akan kirimkan semua berkas mengenai putri saya ke kamu. Kamu harus pelajari itu. Untuk investor, kamu kirim rekening saja, nanti saya akan kasi uang muka dulu. Baru kalau kamu sungguh-sungguh akan saya lanjutkan."
Fadil mengangguk.
Dia harus bersiap untuk hari esoknya. Yah, hari esok perusahaannya akan tiba.
.
.
.
Bersambung..
Holaaa
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa
Love all